Jalur Kegilaan

Jalur Kegilaan
Bab 9: Kekhawatiran Keluarga


__ADS_3

Sarah White saat ini sedang bercakap-cakap dengan rekan kerjanya di sekolah. Mereka baru saja selesai rapat dengan kepala sekolah dan guru-guru lainnya. Mereka membahas tentang ujian, kurikulum, jadwal, dan kegiatan-kegiatan sekolah.


Sarah adalah seorang guru yang mengajar mata pelajaran sejarah dan geografi. Dia selalu berdedikasi dengan pekerjaanya dan tidak menganggapnya sepele. Dia selalu menjadi penganut yang taat bagi dewa pengetahuan dan menurutnya pengetahuan adalah kunci menuju masa depan yang lebih cerah. Seperti api yang terus berkobar, pengetahuan akan menjadi sumber kebijaksanaan yang akan membimbing langkah-langkah dalam menghadapi dunia yang terus berubah di masa mendatang.


Dia selalu menunjukkan dedikasi yang tulus terhadap pekerjaannya. Sikapnya yang selalu tegas terhadap siswa-siswanya selalu terpancar dalam setiap pelajaran yang dia berikan. Walaupun dia terkenal tegas, Sarah juga dikenal sebagai sosok yang sabar dan bijaksana, selalu siap mendengarkan dan membimbing siswa-siswanya dengan penuh perhatian. Keberhasilan siswa-siswanya bukan hanya hasil dari pengetahuannya yang luas, tetapi juga karena sikapnya yang penuh perhatian dan pengertian terhadap perkembangan setiap siswa.


Dimata muridnya dia adalah seorang guru dengan sikap tegas, dewasa dan sabar dalam mengajar. Dia selalu menjadi teladan bagi mereka dalam bersikap.


Tapi hari ini, dia tampak lesu dan murung. Wajahnya pucat dan ekspresinya memiliki segala kerumitan seperri lelah, sedih, marah, dan khawatir. Dia tidak bisa tetap fokus saat rapat. Dia sering melamun dan menghela napas.


Rekan kerjanya dan temannya, seorang guru matematika bernama Jane Percival, merasa khawatir melihatnya. Dia adalah seorang wanita yang baik hati, ramah, dan humoris. Dia sering bercanda dengan Sarah dan membuatnya sedikit tertawa. Walaupun sulit karena sikapnya.


"Sarah, apa kamu baik-baik saja?" Jane bertanya dengan suara lembut.


Sarah tersentak dari lamunannya dan menoleh ke Jane.


"Aku baik-baik saja, Jane?" Sarah menjawab dengan senyum palsu.


"Jangan bohong padaku, Sarah. Aku bisa melihat ada sesuatu yang mengganggumu. Apa karena keponakanmu? Apakah ada yang bisa aku bantu?" Jane berkata dengan suara tulus.


Sarah menggelengkan kepalanya dengan lemah.


"Tidak ada yang perlu di bantu, Jane. Terima kasih. Aku hanya sedikit lelah saja. Aku tidak bisa tidur nyenyak semalam," Sarah berbohong sambil menunjuk ke wajahnya.


Jane tahu, Sarah sudah menceritakan masalahnnya padanya. Beberapa hari yang lalu, Aldric tidak pulang kerumah hingga pagi hari, hal itu membuat Sarah khawatir. Setelah itu polisi datang kerumah mereka di malam hari dan mengatakan Aldric ditangkap karena dituduh sebagai pembunuh Victor, seorang rekannya yang ditemukan tewas dengan cara mengerikan di rumahnya. Sarah sangat terpukul dan tidak percaya bahwa Aldric bisa melakukan hal seperti itu. Dia yakin bahwa Aldric tidak bersalah dan bahwa ada kesalahpahaman besar di balik semua ini.


Tapi polisi mengatakan kepada Sarah bahwa kasus ini masih diselidiki. Dan mereka sedang mencoba meminta kesaksian kepada keluarga Aldric. Mereka juga tidak bisa membebaskan tersangka sebelum terbukti sepenuhnya tidak bersalah.


Mereka pergi setelah mendengar kesaksian dari Sarah dan Alice. Mereka mengatakan akan pergi meminta kesaksian lain di tempat kerja Aldric. Mereka Meminta mereka untuk tenang karena Aldric saat ini hanya sebagai tersangka.


Sarah mengatarkan mereka keluar menuju pintu. Dia merasa putus asa dan tidak berdaya. Dia tidak tahu bagaimana cara menyelamatkan Aldric. Dia hanya bisa berdoa kepada dewa pengetahuan agar memberinya kebebasan.


Mendengar nama Aldric, Sarah merasakan sesak di dadanya. Dia menunduk dan menahan air matanya.


"Jena, aku tidak bisa membicarakan hal ini sekarang. Aku mohon maaf," Sarah berkata dengan suara tercekat.


Jena merasa kasihan melihatnya. Dia memeluk Sarah dengan lembut dan mengusap punggungnya.

__ADS_1


"Sarah, aku mengerti. Aku minta maaf jika aku membuatmu tidak nyaman. Aku hanya ingin membantumu. Aku yakin Aldric tidak bersalah. Aku yakin dia akan bebas segera. Aku yakin dewa pengetahuan akan memberinya keadilan," Jena berkata dengan suara menghibur. Sama seperti Sarah dia adalah penganut gereja pengetahuan.


Sarah mengangguk dengan lemah. Dia berterima kasih kepada Jena atas dukungannya.


"Terima kasih, Jena. Kamu adalah seorang teman yang baik. Aku beruntung memilikimu," Sarah berkata dengan suara lirih.


Jena tersenyum dan melepaskan pelukannya.


"Sarah, kamu juga adalah seorang teman yang baik. Aku juga beruntung memilikimu. Jika kamu butuh apa-apa, jangan ragu untuk menghubungiku. Aku akan selalu ada untukmu," Jena berkata dengan suara hangat.


Sarah tersenyum dan mengangguk.


"Terima kasih, Jena. Kamu sangat baik," Sarah berkata dengan suara tulus.


Mereka berpisah dengan saling berpamitan. Sarah berjalan menuju kelasnya. Dia mencoba menghapus wajahnya yang sedih menjadi wajah yang tegas.


...****************...


Alice White saat ini sedang bekerja di toko roti milik Nyonya Clara. Biasanya dia adalah seseorang yang sangat rajin dan serius saat bekerja.


Nyonya Clara, pemilik toko roti itu, merasa khawatir melihatnya. Dia menyuruh Alice untuk pulang kerumah hari ini. Tetapi Alice mengatakan tidak apa-apa dan meminta istirahat untuk mengobati lukanya.


"Alice, bagaimana kabarmu?" Nyonya Clara bertanya dengan suara khawatir.


Alice tersadar dari lamunannya dan menoleh ke Nyonya Clara.


"Aku baik-baik saja, Nyonya Clara. Lukaku sudah di obati?" Alice menjawab dengan linglung.


"Jangan bohong padaku, Alice. Aku bisa melihat ada sesuatu yang mengganggumu beberapa hari ini. Apa masalahnya? Apakah ada yang bisa aku bantu?" Nyonya Clara berkata dengan suara tegas.


Alice tersenyum mendengarnya. Dia sangat berterima kasih kepada nyonya Clara karena peduli padanya.


"Tidak ada masalah, Nyonya Clara. Aku hanya sedikit lelah saja." Jawab Alice melihat ke jendela di balik dapur.


Nyonya Clara tidak percaya dengan jawabannya. Dia tahu bahwa Alice memiliki sesuatu yang disembunyikannya.


"Alice, apa kamu benar-benar tidak ingin pulang dahulu hari ini?" Nyonya Clara bertanya dengan hati-hati.

__ADS_1


"Tidak apa-apa nyonya Clara." Jawab Alice dengan suara kecil.


"Seorang anak kecil sepertimu harusnya tidak menyembunyikan masalah sendirian. Kamu harus menceritakan kepada orang dewasa agar mereka dapat membantu menyelesaikannya." Kata nyonya Clara dengan tegas. Dia mengambil tangan Alice dan mengusapnya dengan lembut.


Keheningan memenuhi sekitarnya. Tidak ada seorangpun disekitarnya selain nyonya Clara. Para karyawan sedang bekerja di dapur. Dan mereka sedang berada di ruang istirahat.


Alice menatap tangannya yang dipegang oleh nyonya Clara. Nyonya Clara masih mengusap tangannya dengan lembut. Dia memiliki banyak hal untuk dikatakan, dia mencoba menahannya.


Alice tidak memberi tahu nyonya Clara mengenai Aldric yang menjadi tersangka. Dia takut membuat seseorang yang tidak ada kaitannya khawatir. Saat polisi datang ke rumah mereka dan mengatakan Aldric menjadi tersangka hal itu membuatnya ingin pingsan. Dia mencoba berpegangan pada dinding disampingnya. Dia sangat sedih hingga ingin menangis. Setelah itu dia linglung tidak bisa memikirkan apa-apa hingga bibinya memegangnya dan mengatakan polisi meminta kesaksian padanya. Dia menggambarkan kejadian yang dia alami dengan Aldric dengan detail. Dia mengatakan bahwa setelah Aldric mengatarnya pulang. Dia pergi kerumah rekannya untuk menjenguknya. Karena diminta oleh atasannya. Dia mengatakan bahwa Aldric tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Dia bahkan mengatakan bahwa Aldric takut dengan serangga dan tidak berani membunuhnya. Bagaimana anak seperti itu berani membunuh manusia.


Polisi hanya mengangguk mendengarnya dan mecatat semua kesaksiannya. Lalu mereka berpamitan padanya dan bibinya. Bibinya mencoba mengatarkan mereka pergi keluar. Saat itu lah tangis yang dia tahan tidak bisa tidak keluar lagi. Dia mencoba untuk pergi ke kamar mandi, tetapi seluruh tubuhnya lemas memikirkan nasib Aldric. Dia mencoba menghentikan tangisannya yang masih keluar, sebelum membuat bibinya melihatnya dan membuatnya lebih khawatir.


Alice masih menatap kosong tangannya yang diusap. Dia mencoba membuka mulutnya. "Aku bukan anak kecil lagi."


Alice merasakan sesak di dadanya saat mengatakan sesuatu. Dia menunduk dan menahan air matanya. Namun air matanya akhirnya keluar.


Nyonya Clara merasa kasihan melihatnya. Dia memeluk Alice dengan lembut dan mengusap punggungnya.


"Tidak apa-apa Alice, semuanya akan baik-baik saja." Nyonya Clara memcoba menghibur Alice sambil memeluknya.


Saat Alice di pelukan nyonya Clara, mendengar perkataannya. Tangis yang dia keluarkan menjadi lebih keras.


Nyonya Clara hanya terus menghiburnya sambil memeluknya. Meredakan kesedihan seorang anak kecil yang sudah dewasa.


...****************...


Aldric sedang membuka kunci pintu rumahnya dan masuk ke dalamnya. Dia memiliki kerumitan di pikirannya karena sudah menganggap rumah dan keluarga ini menjadi rumah dan keluarganya sebenarnya. Dia mulai menuju kamarnya mengambil pakaian dan menuju kamar mandi dan mandi. merenungkan pikirannya. Dia masih memikirkan tentang pembunuh yang belum di tangkap. Walaupun pendeta itu mengatakan lebih baik baginya untuk tidak ikut campur sama sekali. Namun dia tahu bahwa dia telah terseret dalam masalah ini. Dia tidak tahu apa yang direncanakan pembunuh, tapi dia berhasil membuat dirinya terseret dalam hal ini. Selagi pembunuh yang membuat victor menjadi mayat seperti itu masih hidup. Dia masih memiliki kekhawatiran di pikirannya. Namun yang membuatnya paling khawatir adalah jika pembunuh itu mengincar keluarganya. Dia tidak ingin keluarganya terseret dalam hal ini. Setelah hari ini dia akan akan mempersiapkan bebebrapa hal untuk antisipasi.


Aldric berpikir bahwa dia sudah memiliki banyak kekhawatiran yang perlu di atasi dan sekarang bertambah lagi. Dia menghela nafas. Dia akan mencoba mengatasi masalah pembunuh dan menyelidiki kasus bunuh diri Aldric dan hilangnya ingatan akan pengetahuan secara bersamaan. Dia tahu ini bukan hal bagus, namun dia sudah mempertimbangkan benerapa hal. Namun prioritasnya tetap mempersiapkan antisipasi untuk pembunuhan terlebih dahulu lalu dia bisa dengan lebih nyaman mengatasi lainnya.


Saat sudah selesai mandi, dia mengenakan pakaian bersih dan keluar dari kamar mandi. Dia melihat jam dinding di ruang tamu menunjukkan pukul 3 sore. Harusnya Alice dan bibinya segera pulang.


Dia berjalan menuju dapur untuk memasak. Dia ingin menenangkan hati mereka dengan hadiah dan masakannya.


Dia mencoba mencari bahan masakan di dapur yang dapat dia gunakan. Dia tidak terlalu percaya dengan masakannya dimakan orang lain. Tapi dari sebelum kehidupannya dia selalu hidup sendiri. Dan menurutnya masakannya tidak terlalu buruk.


Dia mulai berpikir makanan apa yang cocok dimasaknya. Mungkin sebuah sup menjadi pilihan yang bagus. Ini harus memiliki cita rasa makanan modern, jadi harusnya keluarganya belum pernah merasakannya. Dia ingin membuat mereka mencicipi rasa masakan modern.

__ADS_1


__ADS_2