Jalur Kegilaan

Jalur Kegilaan
bab 4: Perasaan Baru


__ADS_3

Saat Aldric melangkah keluar dari rumah dia memiliki hati yang berdebar - debar. Dia masih tidak bisa percaya bahwa dia hidup di dunia ini, dunia yang sangat berbeda dari dunia asalnya. Di dunia asalnya, dia adalah seorang tentara bayaran di wilayah konflik.


Di dunia ini sekarang, dia adalah seorang pelayan di sebuah pub sederhana di dekat dermaga. Di dunia ini, dia harus bekerja keras untuk bertahan hidup dengan damai sekarang.


Dia menarik napas dalam-dalam dan memandang sekelilingnya. Dia melihat jalan-jalan yang berdebu dan berlubang, rumah-rumah yang memiliki gaya eropa era victorian, orang-orang yang berpakaian dengan gaya era yang sama, dengan pria kebanyakan mengenakan kemeja atau setelan jas, dan para wanita mengenakan gaun sederhana dengan korsase atau tidak, kereta - kereta beroda dua dan empat, asap-asap yang mengepul dari cerobong - cerobong pabrik, bersihnya udara. Dia merasa seperti masuk ke dalam sebuah film sejarah atau novel klasik yang pernah ia baca.


Dia mulai berjalan menuju pub tempat dia bekerja, sambil mencoba menyesuaikan diri dengan suasana dunia baru. Dia merasa seperti orang asing di antara orang-orang yang lewat. Dia mendengar mereka berbicara dengan logat dan bahasa yang berbeda dari yang biasa dia dengar. Dia melihat mereka menatapnya dengan aneh. Mungkin karena dia bersikap aneh. Dia merasa sedikit malu.


Dia mencoba mengalihkan perhatiannya dengan memperhatikan hal - hal yang menarik di sekitarnya. Dia melihat toko-toko yang menjual barang - barang seperti perhiasan, pakaian, buku, mainan, alat - alat musik, dan lain - lain. Dia merasa tertarik dengan barang-barang itu, tetapi dia tahu bahwa dia tidak punya banyak uang untuk membelinya. Dia juga tahu bahwa barang-barang itu mungkin tidak sebagus yang terlihat. Dia pernah mendengar bahwa banyak barang-barang yang dijual di toko-toko itu adalah barang-barang palsu atau bekas, yang dibuat dengan bahan - bahan murah atau diambil dari orang-orang kaya. Ya itu tidak bisa disangkal alasan utamanya tetap dia tidak memiliki uang. Dia hanya seorang pelayan di pub dengan gaji perminggu 18 REPL.


Aldric mendengar bunyi lonceng gereja bergema melewati kota. Dia melihat gereja - gereja yang megah dan indah dengan gaya gothik tempat asal bunyi berada, dengan menara - menara menjulang tinggi dan jendela - jendela dengan kaca patri yang simbolis. Dia merasa kagum dengan arsitektur dan seni dari bangunan gereja itu. Dia mulai menikmati ketenangan saat bunyi lonceng masih bergema. Dia diam sambil mengingat keraguannya untuk menyelidiki kematian Aldric. Menurut buku catatan Aldric ada satu uskup yang mungkin berhubungan dengan kematiannya. Yaitu uskup Theodore, namun dia tidak tahu bagaimana menemukannya, apakah dia uskup gereja pengetahuan atau sejarah.


Dia masih memikirikan nasihat Aldric White, untuk tidak menyelidiki kematiannya. Dia benar - benar tidak keberatan jika hidup dengan tenang seakan tidak terjadi apa - apa. Hanya jika mereka tidak tahu siapa Aldric White, dan alasan bunuh dirinya hanya masalah internal tanpa campur tangan pihak eksternal. Namun jika mereka terlibat atas bunuh diri Aldric White, maka dia hanya akan berada di genggaman mereka seperti boneka yang dapat diputus talinya kapan saja. Dia tidak ingin masuk ke dalam gengaman seseorang yang dapat menyingkirkannya kapan saja. Dia ingin mencoba menyelidiki untuk berjaga - jaga dan menentukan jalan keluar jika dia terbelenggu.


Keraguan masih ada di kepalanya, jika dia menyelidiki mungkin dia akan membawa keluarga Aldric White dalam bahaya. Dia tidak masalah, mereka hanya orang asing baginya. Namun perasaan asing saat bertemu dan berbicara dengan mereka membuat keraguan selalu mengikutinya. Dia sadar bahwa dia masih hidup berkat Aldric White. Dia juga sadar bahwa dia adalah seorang sampah, namun dia tidak akan pernah tidak membalas hutang yang pernah dia miliki. Jika Aldric White meninggal maka hutangnya akan dibayarkan pada keluarganya. Ini adalah garis dasar moralnya. Jika dia melewatinya dia hanya akan lebih rendah dari sampah.


Aldric melihat banyak penganut masuk dan keluar dari gereja. Ini adalah bagian barat kota bagian gereja pengetahuan. Jika mereka ingin pergi ke gereja sejarah maka mereka perlu menuju timur kota. Di dalam kota ini ada dua gereja, yaitu gereja pengetahuan dan sejarah. Hampir semua wilayang benua tengah memiliki 2 gereja yang berdiri disetiap wilayahnya.


Dalam perjalanan menuju pub di dermaga dia melewati daerah kumuh. Aldric melihat hal-hal yang tidak terlalu berbeda dengan wilayah konflik. Dia melihat anak - anak jalanan yang mengemis atau mencuri untuk bertahan hidup. Dia melihat wanita - wanita malam yang menjajakan diri di sudut - sudut gelap. Dia melihat pengemis dan gelandangan di pinggir jalan. Dia melihat polisi yang mencoba mentertibkan mereka. Yang membedakan hanya alasannya saja.


Dia merasa kesamaan dan dejavu melihat hal-hal itu. Ini membangkitkan memorinya yang masih belum terlupakan. Dia hanya memandang pemandangan itu saja. Dia tidak ingin melakukan sesuatu yang membuatnya terlibat masalah.


Setelah berjalan sekitar beberapa menit, dia menemukan kios koran dan menuju kesana. Dia menyebrang dan menabrak seorang anak perempuan. Sebelum dia dapat memeriksa anak itu. Anak itu sudah pergi.


Dia diam mengamati anak itu pergi. Syalnya jatuh saat menabrak anak itu, dan diambil olehnya. Dia hanya berfikir bahwa itu bukan apa - apa dan mencoba menghindari masalah. Lagipula lukanya sepertinya sudah membaik dan tidak memiliki bekas jelas seperti tadi malam. Dia hanya melanjutkan menuju kios koran.


Dia melihat seorang pria tua yang duduk di belakang meja kayu, sambil membaca sebuah koran besar.


Aldric memutuskan untuk membeli sebuah koran dari pria tua itu. Dia ingin mengetahui apa yang terjadi di dunia ini, apa saja berita-berita penting atau menarik yang ada di koran itu. Dia juga ingin lebih mengenal dunia ini.


Aldric mendekati pria tua itu dan menyapanya.


“Selamat pagi, pak. Boleh saya beli satu koran?” tanya Aldric.


Pria tua itu menoleh dan memandang Aldric dengan tatapan bosan dan malas.


“Koran mana yang Anda mau? Ada banyak koran di sini. Ada The Times, The Daily Telegraph, The Guardian, The Sun, dan lain-lain. Mana yang anda inginkan?” tanya pria tua itu dengan nada acuh.


Aldric merasa bingung dan canggung. Dia tidak tahu mana koran yang bagus atau buruk, mana yang netral atau berpihak, mana yang informatif atau sensasional. Karena Aldric White menurut ingatannya tidak suka membaca koran. Dia mencoba membeli apa saja, lagipula apapun koran akan tetap memuat berita.


“Err… Saya akan beli The Times, pak. Berapa harganya?” kata Aldric dengan nada ragu.

__ADS_1


Pria tua itu mengangguk. Dia tampak acuh dan bosan. Namun masih memberikannya.


Pria tua itu menunjuk ke sebuah papan kayu yang bertuliskan harga-harga koran.


“Satu REPL,” jawab pria tua itu singkat.


Mulut Aldric sedikit berkedut, dia melihat bahwa harga koran antara 0,5 - 2 REPL. Bukankah penjual hanya ingin menipunya. Bagaimana bisa harga koran sebanding dengan harga makanan sekitar 2 REPL, Itu pun yang paling murah.


Penjual itu mengernyit saat melihatnya diam. "Itu harga standar karena merupakan koran yang keluar dihari sebelumnya. Jika kau tidak punya uang maka pergilah!"


"Aku akan beli The Guardian." Jawab Aldric memilih surat kabar paling murah.


Aldric mengambil sebuah koin perak yang bertuliskan 0,5 REPL disakunya. REPL adalah mata uang resmi Republik Monarki Ronian. Aldric hanya tau REPL dan ZEPL. ZEPL adalah mata uang Republik Lumina. Mereka terdiri dari satuan 0,5, 1 untuk koin dan 1, 2, 5, 10, 20, 50, 100 untuk uang kertas. Di benua tengah hanya ada 2 mata uang yang beredar. Karena hampir semuanya wilayah di kuasai oleh Republik Monarki Ronian dan Republik Ronian. Baik secara damai maupun kolonisasi. Republik Monarki Ronian dan Republik Lumina berdiri satu setengah abad yang lalu.


Pada masa awal terbentuknya Republik Monarki Ronian dan Republik Lumina. Sebelumnya, wilayah ini adalah bagian dari Kekaisaran Ronian yang telah memerintah selama berabad-abad. Kekaisaran Ronian dikenal dengan ambisi kolonisasinya yang kuat, dan semua wilayah bagian benua tengah pernah menjadi bagian dari jajaran koloni mereka. Namun, ketika kekuasaan Ronian merosot, wilayah - wilayah ini mulai mencari jalan untuk kemerdekaan mereka sendiri. Lumina muncul pertama kali sebagai kekuatan dominan di wilayah ini dan mengambil alih kontrol diwilayah utara benua dengan dukungan rakyat, membentuk Republik Lumina yang mencerminkan keinginan dan aspirasi rakyat. Seiring berjalannya waktu, Republik Lumina tumbuh menjadi kekuatan yang kuat yang merebut setengah benua tengah bagian utara, membawa bersama warisan kolonial masa lalu dan menggabungkannya dalam sistem politik yang inklusif dan kuat.


Sedangkan Wilayah selatan mulai terjadi keributan dan ketidakpuasan rakyat. Dan para eselon atas kekaisaran Ronian mulai gelisah. Para bangsawan mulai merumuskan rencana untuk menggulingkan Kekaisaran dan membangun negara baru. Mereka tidak ingin bernasib sama dengan saudara mereka di wilayah utara. Para bangsawan yang cerdas mulai berkumpul dan membangun rencana dan untuk melakukan kudeta. Rencana ini berakhir dengan keberhasilan. Mereka masih menjadikan keluarga kekaisaran sebagai pemimpin negara, untuk mengekang rakyat jelata dalam simbol kesatuan. Dan mereka mulai berganti menjadi anggota parlemen atau anggota senat. Dengan dipilihnya pemimpin negara oleh rakyat. Nyatanya mereka masih memegang kekuasaan yang besar. Namun hal itu membuat rakyat diam akan perubahan. Karena para bangsawan harus memenuhi kesejahteraan rakyat untuk pemilihan. Mereka mulai mengembangkan fasilitas untuk pendidikan, lingkungan, sosial, dan lain - lain untuk rakyat jelata. Hal ini sangat didukung oleh pihak gereja.


Aldric memberikan koin perak itu kepada pria tua itu dan menerima sebuah koran besar yang bertuliskan The Guardian di bagian atasnya. Dia mengucapkan terima kasih kepada pria tua itu yang masih memiliki ekspresi acuh diwajahnya dan berjalan menjauh dari kios koran itu.


Aldric membuka koran itu dan mulai membaca halaman depannya. Dia melihat beberapa judul berita yang menarik perhatiannya, seperti:


Tahun 1895


• Ketua Senat William Charles Wentworth Merayakan Ulang Tahun kedewasaan putrinya ke-18


• Pembakaran gedung museum seni di Herford


• Penemuan Mesin Terbang oleh Orville Nort dan Wilbur Wright


• Ledakan Besar di Pelabuhan Hailberg


• Pembunuhan Berantai di Whiteford


• Kebakaran besar di kota Locwood


Aldric merasa tertarik dengan berita-berita itu. Dia mencari apakah ada hal lain selain beberapa berita utama, disana dia menemukan banyak iklan dan lowongan pekerjaan. Menurut pedagang koran, berita ini dikeluarkan kemarin, mungkin mereka memakai teknologi seperti telegram untuk menyampaikan berita.


Dia melipat koran itu dan memasukkannya ke dalam sakunya. Dia melanjutkan perjalanannya menuju pub tempat ia bekerja. Dia berharap bahwa hari ini akan menjadi hari yang baik dan menyenangkan bagi dia.


Dia sampai di pub tempat ia bekerja. Pub itu bernama The Golden Lion, walaupun ramai itu memiliki bangunan yang usang. Pub itu terletak di sebuah jalan sempit dan bising, di mana orang - orang sering lewat untuk bekerja.

__ADS_1


Aldric masuk ke dalam pub dengan gugup. Dia disambut oleh suara-suara keras dan bau-bau tidak sedap dari dalam pub. Dia melihat orang-orang yang merokok-rokok atau sarapan. Lagipula ini masih pagi hari. Siapa yang cukup gila untuk berjudi atau mabuk.


Dia mencari-cari tuan Arthur, pemilik pub. Tuan Arthur adalah seorang pria sedikit tua yang tinggi dan kekar, dengan rambut dan jenggot mulai putih, mata yang biru, dan kulit yang kusam. Dia mengenakan setelan jas yang lusuh dan topi bowler yang usang. Dia adalah teman bibinya Sarah. Dia adalah seorang pensiunan angkatan laut, dia memiliki sikap yang tegas namun lugas.


Aldric menemukan tuan Arthur di belakang meja kasir. Tuan Arthur sedang sibuk menghitung uang dan mencatat buku catatan. Dia tidak menyadari kedatangan Aldric sampai Aldric mendekat untuk menyapanya.


“Selamat pagi, tuan Arthur. Aku datang untuk bekerja hari ini,” kata Aldric dengan tenang.


Tuan Arthur menoleh dan memandang Aldric dengan tatapan ramah. Dia tampak senang dengannya


“Selamat pagi, Aldric. Kau datang tepat waktu. Aku senang kau kembali setelah cuti.” kata tuan Arthur dengan nada puas.


Aldric tersenyum canggung dan mengangguk. Dia merasa sedikit malu dengan tuan Arthur. Jika dia tahu bahwa Aldric mencoba keluar dari pekerjaannya selamanya. Mungkin dia akan mendapat masalah dengan bibinya.


“Terima kasih, tuan Arthur. Saya senang bisa bekerja di sini kembali,” kata Aldric dengan nada sopan.


tuan Arthur mengulurkan tangannya dan menepuk bahu Aldric.


“Anda adalah keponakan yang baik, Aldric. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan bibimu jika kamu berhenti,” kata tuan Arthur sambil tertawa terbahak - bahak.


Aldric merasa lebih canggung.


“Baiklah, sekarang mari kita mulai bekerja. Hari ini akan menjadi hari yang sibuk. Banyak pelanggan yang akan datang ke sini untuk minum-minum atau makan-makan. Anda harus siap melayani mereka dengan penuh semangat,” kata tuan Arthur dengan nada lugas.


Aldric mengiyakan dan bersiap-siap untuk bekerja. Dia mengambil nampan dari meja kasir dan berjalan menuju bar. Di bar, dia bertemu dengan dua pelayan lain yang bekerja di pub itu, yaitu Frank dan Tom.


Frank adalah seorang pria berusia awal tigapuluhan , dengan rambut pirang, mata biru, dan kulit sedikit gelap. Dia mengenakan kemeja katun dengan celana hitam serasi dan topi flat cap berwarna hijau.


Tom adalah seorang pria muda seumuran kakaknya, dengan rambut hitam pendek, mata cokelat. Dia mengenakan kemeja linen dengan rompi coklat dan celana hitam bewarna hitam.


Aldric mencoba menyapa mereka.


"Pagi, Frank, Tom apa kalian baik baik saja hari ini." Kata Aldric dengan nada ramah


"Pagi, Aldric, kukira kamu tidak akan masuk lagi hari ini". Kata Frank dengan sinis.


"Jangan buat dia pergi lagi Frank, kita cukup kerepotan kemarin." Kata Tom untuk dengan marah.


"Aku tidak membuatnya pergi, sialan." Jawab Frank dengan ekspresi mengernyit. "Apa kau ingin bertengkar".


Aldric hanya diam mengamati mereka bertengkar. Sekarang dia tahu perasaan Alice saat menonton masalah. Ini mungkin bukan perasaan yang buruk.

__ADS_1


"Hai anak - anak bekerjalah, sebelum aku memotong gaji kalian!" Suara tuan Arthur terdengar di belakang meja kasir.


"Ya pak!" Mereka bertiga mulai menjalankan tugas masing - masing.


__ADS_2