
Selesai mandi dan mengganti pakaiannya dengan celana hotpants dan tank top agar tidak gerah, sebab di kontrakan ini ia tidak mempunyai AC hanya ada kipas angin kecil, itupun anginnya tidak terlalu kencang.
Ara meraih laptop yang dibawanya tanpa sepengetahuan siapapun. Perempuan itu lalu mengecek data perusahaannya. meskipun perusahaan itu sekarang atas nama Ariz, mantan calon suaminya yang br*ngsek itu, namun Ara tetap memantau perusahaan tersebut.
Ara tidak bisa melepaskan perusahaan yang dibangunnya dengan susah payah kepada orang seperti Ariz yang tidak tahu apa-apa. Sebab laki-laki itu hanyalah lulusan SMK yang tidak mengerti apapun soal masalah bisnis.
Ariz bisa memiliki jabatan di Danurdara corp semua itu berkat campur tangan Ara yang dulu dibutakan oleh cinta palsu laki-laki itu.
Mata Ara memicing saat melihat bahwa sahamnya yang kini atas nama Ariz hanya tinggal 5% saja, sedangkan dulu sahamnya ada 30%.
Jari jemari lentik itu menari-nari diatas laptop dengan sangat lincah, Ara nampak sangat serius.
Sementara itu di tempat lain, Dhika dan Rafly sedang berbicara di sebuah coffeshop.
Tadi usai mengantar istrinya pulang Rafly kembali menemui Dhika karena ada hal yang penting harus mereka bicarakan.
"gimana hasilnya?" tanya Dhika sambil meletakkan cangkir kopinya setelah meminum beberapa teguk.
"semua berjalan lancar, 30% saham dia sudah atas nama anda, dan saat ini anda adalah pemegang saham terbanyak kedua di perusahaan itu setelah tuan Sasongko yang memiliki saham 35%" jelas Rafly formal.
Meskipun mereka sahabat dekat, namun jika itu menyangkut pekerjaan maka mereka akan melakukannya secara profesional, tidak mencampur aduk antara pekerjaan dan urusan pribadi.
"kerja bagus, terus cari cara agar kita bisa menjadi pemegang saham tertinggi, dengan begitu kita bisa memegang kendali pada perusahaan itu." kata Dhika yang diangguki oleh sang sekertaris "baik pak" sahut Rafly.
"lalu bagaimana dengan kerjasama kita dengan perusahaan itu?" tanya Dhika lagi.
"kita sudah tidak memiliki kerjasama lagi dengan mereka, uang kompensasi juga sudah kita bayar"
Dhika terlihat mengangguk-angguk "saya tidak masalah dengan uang itu, yang jelas perusahaan kita tidak ada kontrak lagi dengan orang seperti dia" kata Dhika lagi. Dia yang dimaksud disini adalah Ariz.
"kalau soal itu Anda tenang saja" ucap Rafly. Terlihat Dhika tersenyum puas "saya percayakan semuanya sama kamu" katanya.
"baik pak, terimakasih atas kepercayaan anda"
"yasudah sana.. kamu sudah boleh pulang" usir Dhika datar membuat Rafly melongo tak percaya "saya diusir nih pak?" tanyanya dongkol
Dhika hanya mengangkat kedua bahunya seraya berdiri "gue mau pulang istirahat, kalau lo masih mau disini sih ya terserah" jawabnya dengan nada cuek.
Sebelum berlalu pergi meninggalkan Rafly yang masih melongo, tidak lupa Dhika meletakkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu diatas meja "lo yang bayar di kasir, kalo kurang lo yang tambahin gue gak ada uang cash lagi" ucap Dhika dengan enteng lalu pergi begitu saja.
Rafly tersadar setelah bosnya pergi "ck.. dasar sahabat lucknut" decaknya, namun tak urung dia tetap mengikuti perkataan bosnya itu.
Setelah membayar di kasir, Rafly pun melangkah keluar meninggalkan coffeshop tersebut. Sedangkan Dhika sudah dijalan, laki-laki itu ingin mengendarai mobilnya sendiri hari ini, tanpa sang sekertaris.
Pagi harinya Dhika dan keluarganya sedang sarapan bersama. Seperti hari-hari sebelumnya, mereka selalu sarapan ditemani dengan obrolan-obrolan ringan.
"Gimana sama kerjasama kita dengan Danurdara corp itu?" tanya sang ayah kepada Dhika ditengah-tengah sarapan.
"semua berjalan sesuai rencana Yah, kita sudah tidak ada hubungan lagi dengan mereka" jelas Dhika setelah menelan makanannya. Terlihat ayahnya hanya manggut-manggut, sedangkan sang ibu dan Bian hanya mendengarkan seraya menikmati sarapannya.
Mereka terus makan sambil mengobrol, karena hanya saat sarapan ataupun makan malam mereka memiliki waktu untuk berkumpul bersama, dan momen itulah yang di manfaatkan oleh sang ayah untuk menjaga kedekatan dengan kedua putranya.
__ADS_1
Usai sarapan, satu persatu dari mereka pun pamit kepada satu-satunya wanita yang ada disana, siapa lagi jika bukan sang ibunda tercinta.
"kalian semua hati-hati.." seru sang ibu mengantar ketiga laki-laki kebanggaannya hingga kedepan pintu utama.
Wanita itu baru masuk kedalam rumah saat ketiga laki-laki beda usia itu menghilang dari pandangannya.
Sementara itu dirumah Ara, setelah perempuan itu selesai dengan rutinitas barunya setelah pindah ke kontrakan, yaitu memasak untuk kedua orangtuanya, (hal yang tidak pernah Ara lakukan saat masih menjabat sebagai CEO Danurdara) pun berpamitan kepada kedua orangtuanya.
"mau kemana kamu?" tanya mama Bella dengan nada sinis nya.
"ada sesuatu yang harus Ara urus Ma, Pa" beritahu Ara menatap kedua orangtuanya secara bergantian.
"yasudah sana tapi ingat, jam makan siang makanan sudah harus ada di meja" kata mama Bella
"baik Ma.." ucap Ara menyanggupi, setelah itu Ara pun pergi dengan mengendarai mobilnya.
Tujuan utama perempuan itu adalah Danurdara corp, untuk bertemu dengan mantan calon suami yang telah menipunya, dialah Ariz.
Para security yang melihat kedatangan mantan bosnya tidak tahu harus melakukan apa, sebab mereka telah diminta oleh Ariz untuk mengusir Ara apabila dia berani datang.
Namun mereka tidak bisa melakukannya, mereka tidak bisa untuk mengusir seseorang yang telah berjasa dalam hidup mereka.
Jika bukan karena kebaikan hati Asmara, mungkin mereka tidak akan bekerja di perusahaan besar itu.
"selamat pagi Bu.." sapa salah satu satpam yang berjaga.
"selamat pagi juga.." jawab Ara dengan senyum tipis andalannya
"ada yang bisa kami bantu Bu?" tanya yang lainnya.
Ara tersenyum sebelum menjawab "kalian tidak perlu formal seperti itu, saya bukan bos kalian lagi.." ucap Ara dengan nada sendu
__ADS_1
"tapi Bu..."
Belum selesai ucapan mereka sebuah mobil mewah tiba-tiba muncul dari belakang sambil menekan klakson mobilnya berkali-kali.
Dia adalah Ariz
laki-laki itu pun langsung turun setelah melihat siapa yang sedang berbicara dengan satpam dan menghalangi jalannya.
BRUK..
suara dari pintu mobilnya yang ia tutup dengan keras membuat Ara terlonjak kaget sambil mengusap dadanya.
"wah..wah..wah.. lihat siapa yang datang pagi-pagi begini." ucapnya dengan gaya angkuh dan sombongnya.
"oh iya saya lupa..hemm..hemm..(pura-pura batuk) selamat pagi ibu Asmara yang terhormat, mantan CEO Danurdara corp" ucapnya lagi dengan nada mengejek
Namun Ara tidak merespon, perempuan itu hanya melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap Ariz dengan tatapan malasnya.
Melihat Ara tetap berdiri tenang membuat Ariz kesal sendiri.
"apa yang membuatmu datang menemui ku sepagi ini? apa kah kau merindukanku sayang?" tanyanya dengan ekspresi mesum, yang membuat Ara ingin sekali menghajarnya, namun berusaha ia tahan karena tidak ingin membuat keributan.
Ara mendengus dan menatap Ariz dengan tatapan dingin "ada hal penting yang ingin saya bicarakan" ucap Ara setelah beberapa saat, dengan formal.
Ariz terlihat berfikir "baiklah, aku tunggu di ruangan ku" ujarnya kemudian masih dengan senyum cabul yang dibenci oleh Ara.
Dengan langkah malas, Ara mengikuti Ariz setelah laki-laki itu memerintahkan seseorang untuk memarkirkan mobilnya.
Mereka berjalan menuju ruangan yang dulu adalah ruangan Ara.
'*jika bukan demi perusahaan* **ini** *aku malas sekali bertemu dengan pria ba\*\*\*gan sepertimu*' batin Ara menatap punggung Ariz yang berjalan didepannya dengan tatapan malas.
__ADS_1
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...