
Ara baru terbangun saat langit telah berubah menjadi gelap. Perempuan itu bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju jendela untuk melihat apakah para wartawan kepo itu masih disana atau sudah pulang.
Ara meringis saat melihat kebawah dan masih ada sekitar 4-5 wartawan yang berjaga di depan gerbang rumahnya.
Karena merasa lapar Ara memutuskan untuk ke dapur mencari makanan yang bisa dimakan.
tap tap tap
Terdengar langkah kaki Ara yang berbenturan dengan lantai marmer, membuat mama dan papanya yang sedang bersantai di sofa ruang keluarga menoleh ke asal suara.
"baru bangun kamu? bukannya nyelesaiin masalah, kamu malah enak-enakan tidur" sarkas papa saat Ara sudah sampai kebawah.
"sudah punya calon suami bukannya jaga diri, malah selingkuh" bahkan mamanya pun kini ikut menyudutkannya tanpa mendengar penjelasan langsung dari anaknya.
Ara hanya menunduk seraya menutup kedua matanya saat mendengar papa dan mamanya yang lagi-lagi menyalahkan dirinya tanpa mau mendengar penjelasannya terlebih dahulu.
"Ma, Pa disini itu aku korbannya, tapi kenapa kalian malah memihak kepada Ariz, sebenarnya aku ini anak kalian atau bukan" setelah cukup lama terdiam akhirnya Ara memberanikan diri untuk membela dirinya.
"korban kok bisa tidur nyenyak seharian" dengus mama yang juga diangguki oleh papa.
Ara benar-benar tidak menyangka secepat ini Ariz berhasil merebut hati kedua orangtuanya hingga mereka lebih memihak kepada laki-laki brengsek itu daripada dirinya yang merupakan anak kandung.
Ara menggeleng lalu kembali berlari menaiki anak tangga satu-persatu menuju kamarnya tanpa mengucap sepatah katapun lagi.
Bahkan rasa lapar yang sedari tadi dirasanya pun seketika hilang terganti oleh rasa sakit di bagian hatinya karena sikap kedua orangtuanya yang lebih memihak kepada orang lain tanpa tahu kejadian yang sebenarnya.
Sementara itu Dhika yang baru sampai dirumahnya setelah seharian bekerja.
Laki-laki itu duduk sejenak diruang keluarga dimana kedua orangtuanya dan juga adik laki-lakinya sedang bersantai.
Sang mama yang melihat wajah lelah dari anak sulungnya itu bergegas ke dapur untuk membuatkan secangkir teh hangat.
"makasih Ma" ucap Dhika setelah menerima teh hangat yang telah dibuatkan oleh mamanya.
"makanya bang, cepetan nikah biar ada yang layani kalau pulang kerja" celetuk papa yang kini mengalihkan tatapannya kearah Dhika.
__ADS_1
"Papa.." tegur sang Mama.
"udah bang gak usah dengerin papa kamu" lanjut mama sambil mengusap bahu Dhika.
Dhika menoleh dan tersenyum karena mama selalu mengerti perasaannya tanpa Dhika beritahu.
Papa menghela nafas "bukan apa-apa, umur kamu sudah cocok untuk menikah, Rafly aja udah mau punya anak, masa kamu belum nikah" ujar papa lagi yang memang benar adanya.
Dhika tidak membantah karena apa yang diucapkan oleh sang papa memang benar, namu yang jadi masalah Dhika belum bisa membuka hatinya kembali setelah diselingkuhi oleh pacarnya setahun yang lalu.
"kamu harus move on bang" celetuk papa lagi.
Dhika hanya mengangguk kemudian menunduk mencoba untuk mendengarkan saran dari Papa yang memang ada benarnya.
"miris banget ya pergaulan sekarang, udah punya calon suaminya bisa-bisanya malah selingkuh" celetuk sang mama mengomentari.
"gak usah percaya berita bohong" ceplos Bian yang sedari tadi hanya diam.
Ketiganya menoleh ketika mendengar Bian ikut berkomentar "emang kamu tau dia siapa?" tanya papa.
"Taulah, Asmara panggilannya Ara" ucap Bian enteng.
__ADS_1
"kamu tau dari mana kalau berita itu bohong?" gantian Dhika yang bertanya kepada adiknya itu.
"aku lihat semuanya kemarin malam saat mereka bertengkar, perempuan itu korban yang sebenarnya, bukan si laki-lakinya" ujar Bian panjang lebar.
Mama mengernyit "lihat dimana kamu?" kemudian ikut bertanya karena penasaran.
"Didepan kantor Asmara, kalau gak percaya nih" ucap Bian sembari menyodorkan handphonenya "aku sempat rekam semalam" ucapnya lagi memberitahu.
Ketiganya kompak menyaksikan hasil rekaman Bian saat pertengkaran Ara dan Ariz, semua obrolan mereka terdengar jelas dalam vidio yang berdurasi sekita 12 menit itu. Bahkan selingkuhan si laki-lakinya ada didalam vidio tersebut yang ternyata adalah sahabat dari Ara.
Ya, Bian memang ada ditempat kejadian saat Asmara dan Ariz bertengkar hebat, karena khawatir dengan keadaan Ara, akhirnya Bian mengikuti perempuan itu secara diam-diam sampai di danau waktu itu.
"mama gak nyangka ternyata laki-lakinya yang playing victim" ujar sang mama yang tidak habis pikir.
"Pa, mama jadi pengen bantu perempuan ini deh, kasian Pa soalnya. Udah di selingkuhin, harta dan perusahaannya diambil alih, sekarang malah laki-lakinya memutar balikkan fakta" kata mama geleng-geleng kepala miris.
"iya papa juga kasihan melihatnya" ucap papa.
Dhika pun merasa bersalah karena siang tadi telah menjudge perempuan itu dengan tuduhan yang tidak pernah dilakukannya.
'*gue harus lakuin sesuatu*' batinnya
Setelah berfikir akhirnya laki-laki itu pamit untuk ke kamarnya.
\*\*\*\*\*
__ADS_1
Happy Reading 💞💞💞