Jatuh Bangun Asmara

Jatuh Bangun Asmara
Bab 5 : Bakso pinggir jalan


__ADS_3

Selesai dengan rutinitasnya didalam kamar mandi, Dhika pun keluar kamar karena mama sudah memanggil untuk makan malam bersama.


Kini semua anggota keluarga telah berkumpul diruang makan untuk makan malam bersama.


Selama acara makan itu berlangsung tidak ada yang bersuara karna sang papa yang tidak suka apabila ada orang yang berbicara saat sedang makan.


Selesai makan papa mengajak Dhika untuk berbicara di ruang kerjanya.


"ada apa papa memanggil Dhika?" tanya laki-laki itu saat sudah berdiri dibelakang sang papa yang kini duduk di kursi kerjanya.


"duduk dulu bang" ucap papa menunjuk kearah sofa yang ada di bagian kanan ruangan itu.


Dhika mengikuti keinginan sang papa dan berjalan kearah sofa, setelah anak sulungnya duduk barulah papa ikut bergabung bersama Dhika di sofa panjang tersebut.


Belum sempat membuka obrolan suara ketukan pintu terdengar, ternyata itu adalah mama.


"Mama cuma mau nganterin kopi" ujar wanita paruh baya itu yang masih terlihat awet muda.


"makasih Ma" ucap Dhika dan papa bersamaan setelah Mama selesai meletakkan dua cangkir kopi tersebut dihadapan mereka.


Setelah itu mama berlalu dari ruangan tersebut karena tidak ingin mengganggu pembicaraan antara anak dan suaminya yang tidak jauh dari urusan pekerjaan.


Papa lantas meraih cangkir kopi buatan istrinya, menghirup aromanya sejenak kemudian menyeruput kopi yang selalu terasa nikmat jika dibuat oleh sang istri tercinta.


"papa mau membicarakan soal kerjasama kita dengan perusahaan dari PT. Danurdara" jeda pria yang berstatus sebagai papa dari 2 orang anak laki-laki itu.


"Bang, kalau menurut kamu langkah apa yang harus kita ambil, apakah kita mengakhiri saja kerjasama itu atau terus melanjutkannya?" lanjut papa meminta pendapat dari anak sulungnya tersebut.


Dhika terlihat berfikir sesaat sebelum menjawab pertanyaan sang papa "menurut Dhika akan lebih baik kalau kita mengakhiri saja kerjasama dengan perusahaan itu" ujar laki-laki itu tenang.


Sementara papa terlihat menyimak perkataan dari anak sulungnya itu tanpa berniat menyela.


"Karena dari awal kita bekerjasama dengan ibu Asmara selaku pemilik perusahaan, tapi sekarang perusahaan itu telah diambil alih, yang Dhika khawatirkan karena beda pemimpin maka visi misi perusahaan juga akan ikut berubah" lanjut Dhika menyampaikan pendapatnya.


Papa terlihat setuju dengan ucapan dari anaknya. Pria paruh baya itu mengangguk, sementara Dhika meraih cangkirnya dan ikut menyeruput kopi buatan mamanya yang sudah mulai dingin.


"kamu benar, tapi kita masih ada kontrak selama 1 tahun dengan mereka"


"kita tinggal bayar kompensasi sesuai isi kontraknya pa, apa papa tidak keberatan?" ucap Dhika setelah meletakkan kembali cangkir kopinya.


"tidak masalah, papa percaya sama keputusan kamu" kata papa sambil berdiri.


"terimakasih atas kepercayaan papa" kata Dhika ikut berdiri.


Papa mengangguk "papa mengantuk, kalau begitu papa duluan, tolong bersihkan cangkir kopi itu" ucap papa sambil menepuk bahu Dhika sebelum keluar dari ruang kerjanya.


Dhika hanya mengangguk kemudian mengikuti jejak sang papa, tidak lupa mengambil 2 cangkir kopi tersebut yang isinya sudah tandas.




Sementara itu kini Ara terlihat mengendap-endap keluar dari kamarnya saat para wartawan sudah tidak terlihat di depan pagar rumahnya.



Ara berhasil keluar dari rumahnya tanpa ketahuan oleh kedua orangtuanya. Kini perempuan itu mengendarai mobilnya untuk mencari makan.


__ADS_1


Mobil Ara berhenti didepan sebuah penjual bakso, entah kenapa perempuan itu lebih menyukai bakso pinggir jalan yang menurutnya lebih enak daripada bakso yang dijual di restoran.



Selesai memarkirkan mobilnya, Ara langsung saja duduk dan memesan 2 porsi sekaligus.



Selang beberapa menit bakso pesanan Ara datang, perempuan itu begitu lahap menikmati baksonya yang masih mengepul karena panas.



"ahh..kenyang" ucap Ara setelah 2 mangkok bakso itu tandas hanya dalam beberapa menit saking laparnya.



Perempuan itu menoleh karena tersadar bahwa ada seseorang yang memperhatikannya sedari tadi.



Dugaannya benar, ada seorang wanita hamil yang terus melihat kearahnya. Ara berdiri dan mendekati wanita tersebut.



"maaf mba apa ada yang bisa saya bantu? karena sedari tadi anda terus menatap kearah saya" tanya Ara.



wanita hamil itu menunduk "maaf mba saya tidak bermaksud.."




dengan malu-malu wanita hamil tersebut mengangguk.



Ara menarik tangan wanita itu dan membawanya ke meja yang tadi ditempatinya dan kembali memesan 2 porsi bakso kepada penjualnya.



Setelah beberapa menit bakso itu pun dihidangkan diatas meja. "ayo mba silahkan dimakan" ujar Ara.



"terimakasih mba" kata wanita tersebut kemudian mulai memakan bakso yang tersaji dihadapannya.



Selesai makan dan membayar semuanya Ara dan wanita hamil tersebut mengobrol "maaf mba kalau boleh tau mba kesini sama siapa?" tanya Ara lebih dahulu.



wanita hamil dihadapannya itu kembali menunduk "sebenarnya saya kesini sendiri karena sangat ingin memakan bakso tapi suami saya susah dibangunkan" katanya jujur.



"tapi setelah sampai kesini saya baru sadar kalau saya lupa membawa dompet dan hand.. handphone iya handphone" lanjut wanita itu sambil mengingat-ingat kata handphone.

__ADS_1



Ara merasa gemas melihat wanita polos yang ada dihadapannya itu. "terus mba kesini naik apa?" kembali Ara bertanya.



"jalan kaki mba" ucapnya menunduk malu.



Sementara Ara melongo mendengar ucapan wanita hamil tersebut, dia sedang hamil besar dan jalan seorang diri ditengah malam seperti ini, sungguh rasanya Ara ingin mengetuk kepala suami dari mba-mba dihadapannya ini.



"oh iya kita belum berkenalan, nama mba siapa?" tanya Ara lagi.



"nama saya Hana mba" ucapnya menyebutkan nama.



"tidak perlu panggil mba, nama saya Asmara panggil aja Ara"



"iya mba..ehh maksud saya Ara"



Ara merasa lucu melihat wanita itu, ini adalah kali pertama perempuan itu bertemu dengan wanita polos seperti Hana, dan Ara merasa ingin berteman dengan wanita tersebut.



"oh iya karena sudah malam, jadi ayo saya antar, kamu lagi hamil bahaya berkeliaran seorang diri" kata Ara.



"eemmm..itu mba eh Ara, sebenarnya saya..saya.." ucap Hana gugup.



"sebenarnya kenapa Han?"



"saya..saya tidak ingat jalan pulang kerumah suami saya" kata wanita itu sambil menunduk.



Ara rasanya ingin tertawa namun tidak tega juga melihat ekspresi dari wanita hamil itu. akhirnya Ara hanya mengajak wanita itu berkeliling untuk mengingat-ingat letak rumah suaminya.



\*\*\*\*



Happy Reading 💞💞💞

__ADS_1


__ADS_2