Jatuh Bangun Asmara

Jatuh Bangun Asmara
Bab 2 : Tidak gratis


__ADS_3

Keesokan paginya saat sang fajar masih malu-malu menampakkan sinarnya gadis yang masih tertidur di bangku pinggir danau itu yang tidak lain adalah Asmara, terlihat menggeliat akibat udara dingin yang terasa menusuk kulit putihnya.


Namun alangkah terkejutnya dia ketika membuka mata dan mendapati seorang pria yang terlihat masih sangat muda duduk di sampingnya dan menjadi kan bahunya sebagai sandaran untuk Asmara ketika tidur.


Sontak saja Asmara langsung berdiri dan berteriak "aaaahhh siapa kamu" ujarnya.


mendengar ada orang yang berteriak membuat laki laki itu mau tidak mau membuka matanya dengan malas. "ck apa sih teriak teriak sepagi ini" keluh laki laki tersebut.


"kamu siapa kenapa tiba-tiba ada disini" tanya Asmara cepat.


"oh kenalin nama gue Fabian biasa di panggil Leon" ujarnya memperkenalkan diri sembari menyodorkan tangannya untuk bersalaman.


meskipun terlihat masih ragu tapi Asmara tetap membalas uluran tangan dari bian tersebut sambil menyebutkan namanya "Asmara" ucapnya singkat.


"sudah tau" balas laki laki itu singkat sambil meraih ponsel yang ada di saku celana dan mengutak-atik nya.


Ara mengangkat sebelah alisnya tanda bertanya. Bian hanya menggoyangkan ponsel yang ada ditangannya "gue tau nama lo dari sini" ujarnya.


"maksud kamu?" tanya Ara penasaran.


"nih baca" ucap Bian memberikan ponselnya dan menarik Asmara untuk duduk kembali di bangku yang semalam mereka tempati untuk tidur.

__ADS_1


Asmara hanya menuruti laki laki tersebut dan mulai membaca sebuah artikel tentang dirinya yang merupakan seorang pebisnis wanita termuda yang sukses kini harus gulung tikar dan juga gagal menikah.


sesaat perempuan itu terdiam namun tidak lama kemudian kembali tersenyum sambil menitikkan air mata "secepat itu, miris ya" ucapnya sangat pelan namun masih bisa didengar oleh Bian yang duduk tidak jauh darinya.


Bian menoleh kemudian kembali menatap lurus ke arah danau tanpa mengatakan apapun. Sementara itu Asmara masih tetap menangis disebelahnya.


melihat perempuan itu masih terus menangis membuat Bian merasa tidak tega juga, akhirnya mendekat dan menawarkan bahunya untuk Aluna.


"menangis lah sepuasnya aku tidak akan mendengar mu" ujar Bian sambil memasang headset di kedua telinganya.


setelah puas menangis Asmara lalu mengangkat kepalanya dari bahu Bian dan menghapus sisa-sisa air matanya kemudian menepuk bahu pemuda itu pelan, membuat Bian menoleh dan melepas headset nya dari telinga.


"sudah puas nona?" tanyanya dengan nada bercanda.


"tidak masalah, apa sudah merasa baikan?" tanya Bian lagi. Asmara hanya mengangguk.


"baguslah kalau begitu aku harus pergi" kata Bian sembari melihat jam yang bertengger dipergelangan tangannya.


"selamat tinggal nona" ucap Bian sambil melambaikan tangan kearah Asmara.


ketika beberapa langkah Bian kembali menoleh dan berteriak "ingat nona yang tadi itu tidak gratis" ujarnya dari jauh sambil tersenyum dan berlalu pergi begitu saja.

__ADS_1


'Apa maksudnya bocah itu' gumam Ara bingung.


"sudahlah aku juga harus pulang" ucapnya pada diri sendiri.


setelah lama menunggu kendaraan yang lewat namun belum ada karena masih terlalu pagi akhirnya mau tidak mau Ara harus berjalan kaki menuju rumahnya. syukurlah jaraknya tidak terlalu jauh sehingga tidak sampai membuat kakinya sakit hanya sedikit merasa pegal namun itu tidak masalah bagi Ara.


Melihat rumah masih sepi membuat Ara bisa bernafas lega. berarti orang-orang belum bangun pikirnya.


buru-buru gadis itu mengambil kunci serep yang selalu ada di tas nya itu dan membuka pintu utama.


kriiieeeett


bunyi pintu yang menandakan bahwa pintu telah terbuka cepat-cepat Aruna masuk dan segera mengunci kembali pintunya. namun saat ingin berbalik alangkah kagetnya gadis itu saat seseorang yang sangat di hindari telah berdiri di belakang nya dan menatap tajam penuh amarah.


.


.


.


hayo siapaa yaa kira-kira yang telah menciduk Aruna..

__ADS_1


penasaran gak? sama author juga penasaran kira-kira siapa yaaa..😰😰


Happy Reading 💕💕💕


__ADS_2