
Saat jam sudah menunjuk angka 2 Rafly terbangun dari tidurnya dan meraba-raba ke sisi ranjangnya yang kosong.
"ehh..kok kosong.." laki-laki itu lalu berbalik dan memang kosong, istrinya sedang tidak ada di sebelahnya.
Rafly lalu bangkit kemudian mengecek kamar mandi, namun kosong. Pria itu menuruni tangga untuk mengecek dapur. Namun sesampainya di dapur, Rafly kembali tidak menemukan keberadaan sang istri.
Rafly lalu mencari ke kamar tamu namun juga kosong. Pria itu mulai panik saat tidak menemukan istrinya di manapun.
Bahkan pembantu rumah tangga dan juga security ikut bangun untuk membantu mencari keberadaan istrinya, namun hasilnya nihil istrinya itu tidak ditemukan di semua sudut rumah itu.
Pikiran-pikiran aneh mulai bermunculan saat Rafly menemukan Handphone dan dompet istrinya itu tergeletak diatas meja ruang tamu.
Pria itu mengambil kunci mobilnya yang masih ada dikamar, namun saat akan melangkah keluar kamar suara deru mobil terdengar.
Rafly berjalan ke jendela untuk melihat kebawah, dan pria itu mendapati istrinya yang turun dari mobil berwarna putih itu sambil melambaikan tangannya setelah mobil itu meninggalkan area rumahnya.
"mobil itu seperti tidak asing, tapi dimana aku pernah melihatnya" gumam Rafly.
Keesokan harinya Rafly datang kekantor dengan penampilan kusut karena kurang tidur sebab istrinya yang menghilang.
Setelah insiden itu Rafly sudah tidak bisa tidur karena merasa bersalah kepada sang istri karena sulit dibangunkan dan membuat istrinya itu pergi sendiri sambil berjalan kaki.
Pria itu hanya memeluk istrinya sambil mengusap-usap perut buncitnya hingga subuh menjelang dan baru kembali tidur setelah menjalankan kewajibannya sebagai seorang umat.
"kenapa loe?" tanya Dhika saat melihat sekertarisnya itu tidak secerah biasanya.
"ck.. gak usah ngeledek, lo pasti mau bilang kalau gue kusut iya kan" dengus Rafly kepada Dhika tanpa embel-embel formal seperti yang sering dilakukannya ketika sedang dikantor.
"Gue nanya baik-baik loh" sahut Dhika tanpa menoleh dari laptopnya.
"nih buruan tandatangani" seru Rafly sambil meletakkan berkas kehadapan Dhika.
Dhika mengerutkan kening melihat Rafly yang bersikap tidak sepeti biasanya. "duduk dulu, terus cerita ada apa sebenarnya?"
__ADS_1
Rafly mengikuti keinginan Dhika selaku atasannya di kantor "gue ngantuk abis begadang"
"bukannya lo seneng kalo begadang sama istri lu" Seloroh Dhika.
"ck..tapi ini begadangnya beda" Sahut Rafly berdecak kesal.
"apa bedanya?" seloroh Dhika lagi.
"semalam istri gue ngilang dari rumah" Rafly memulai cerita.
"ngilang? kok bisa?" Dhika kembali bertanya.
"terus?" tanya Dhika penasaran.
"lo kan tau sendiri kalau bini gue dari kampung dan sama sekali gak tahu seluk beluk kota ini, makanya gue panik banget takut dia kenapa-kenapa"
"tapi istri lu udah ketemu?"
"Alhamdulillah sudah, beruntung ada mba-mba baik katanya yang sudah membelikannya bakso dan mengantar dia pulang setelah muter-muter karena bini gue lupa jalan pulang" Rafly menyudahi ceritanya.
"Anjriiit, kasian banget bini lu punya suami kebo" kelakar Dhika menertawakan sekertarisnya.
"sialan lo" dengus Rafly setelah itu meninggalkan ruangan Dhika setelah laki-laki itu menandatangani berkas yang tadi dibawanya.
__ADS_1
"ada-ada aja" gumam Dhika kembali tersenyum mengingat cerita dari Rafly, sekertaris sekaligus sahabatnya.
Sementara itu Ara yang baru terbangun dibuat terkejut karena Ariz datang kerumahnya bersama 3 orang laki-laki berpakaian serba hitam.
"ada apa ini?" teriak Ara dari arah tangga saat melihat kedua orangtuanya berlutut dihadapan Ariz.
"sayang akhirnya kamu bangun juga" ucap Ariz sambil tersenyum mengejek.
"ngapain kamu dirumah saya, pergi!!" usir Ara kepada mantan calon suaminya itu.
"sayang kamu ngusir aku? aku kesini ingin meminta balikan sama kamu" ujar Ariz memulai aktingnya.
Ara tersenyum miring mendengar perkataan laki-laki brengsek itu "aku tidak sudi balikan dengan orang sepertimu"
"om sama Tante lihat sendiri kan? anak kalian lah yang telah meninggalkan aku" ucap Ariz dramatis. membuat Ara muak melihatnya.
"sudah selesai aktingnya? kalau sudah pintu keluar disebelah sana" kata Ara menunjuk pintu keluar.
Ariz mulai terpancing emosi mendengar Ara mengusirnya "kamu tidak bisa mengusirku dari rumahku sendiri sayang" ucapnya.
"apa maksud kamu?" tanya papa.
"om tidak tahu? kalau anak om ini sudah memberikan rumah dan perusahaan untukku sebagai balasan karena telah mengkhianatiku dengan berselingkuh" ucap Ariz menyeringai
"apa??" teriak mama tidak percaya.
"jangan percaya ma, dia berbohong" sela Ara.
"aku tidak berbohong sayang, aku punya buktinya" kata Ariz sambil memberikan fotocopy dari berkas perjanjian yang terdapat tanda tangan Ara.
"Tante sama bisa lihat sendiri bahwa tanda tangan itu adalah milik Ara"
"tidak mungkin" mama berucap sambil menggeleng.
"tapi jangan khawatir, kalian boleh tetap tinggal dirumah saya, jika anak kalian mau kembali kepada saya" ucap Ariz memberikan penawaran.
"benarkah? kalau soal itu kamu tenang saja nak, Ara pasti akan kembali padamu, iya kan?" ucap mama sambil menoleh kepada Ara meminta anaknya setuju.
"tidak.. sampai kapanpun aku tidak akan mau balikan sama kamu" kata Ara tegas.
"baiklah jika itu yang kamu mau, silahkan kalian angkat kaki dari rumah ini" ucap Ariz tersenyum menyeringai.
*****
Happy Reading 💞💞💞
__ADS_1