
Kini Ara telah sampai di rumah kontrakan kecil yang akan ditempati bersama kedua orangtuanya, karena hanya kontrakan itulah yang mampu di sewanya untuk saat ini.
Kedua orangtuanya terlihat tidak suka dan terkesan jijik untuk tinggal di kontrakan tersebut.
"apa gak ada kontrakan yang lebih besar?" celetuk mama yang terlihat jijik menginjakkan kakinya di kontrakan tersebut.
Ara menghela nafas panjang sebelum menjawab "untuk saat ini, hanya kontrakan ini yang Ara mampu" ucapnya mencoba sabar.
"lagian kamu sih, sok-sokan gak mau balikan sama nak Ariz, sengaja kamu mau buat mama sama papa menderita iya kan?" lagi-lagi mama mengungkit hal itu.
Ara hanya memutar bola matanya jengah mendengar perkataan mamanya yang selalu saja membahas Ariz, si lelaki brengsek itu.
Ara memilih masuk kedalam kamarnya setelah menunjukkan kamar milik kedua orangtuanya, bisa saja dirinya lepas kendali dan balik menyerang mamanya jika terus membicarakan Ariz Ariz dan Ariz yang membuatnya merasa kesal.
Setelah masuk kedalam kamar, Ara langsung mengunci pintu lalu merebahkan dirinya di atas ranjang yang tidak terlalu besar namun cukup untuk satu orang.
Tanpa sadar Ara tertidur dan baru bangun ketika mama menggedor pintu kamarnya dengan keras.
"iyaa.. Ma bentar" ucapnya berteriak dengan nada parau khas bangun tidur.
"ada apa?" tanya Ara setelah keluar dari kamarnya.
"kamu nanya ada apa? kami ini lapar dan kamu malah enak-enakan tidur seharian" maki mama dengan bola mata yang hampir keluar.
"kan mama bisa masak" celetuk Ara dengan suara kecil namun masih bisa didengar oleh sang mama.
"mau masak batu? kamu liat gak ada bahan makanan di dalam" sewot mama.
"yaudah pesan lewat ojol aja, nanti biar Ara belanja bahan makanan"
"kuota mama abis" celetuk mama yang memang benar adanya.
sekali lagi Ara menghela nafas panjang "yaudah pake handphone Ara, nanti biar sekalian Ara isiin kuota" ucap Ara sembari menyodorkan handphonenya.
Mama menerima handphone tersebut, setelah itu Ara kembali masuk kedalam kamarnya untuk mandi, dan bersiap untuk ke supermarket membeli bahan makanan.
Sementara itu di kantor Rafly dan Dhika bersiap untuk pulang.
Seperti biasa, Rafly yang mengemudi sedangkan Dhika hanya tinggal duduk manis di jok belakang.
__ADS_1
Saat melewati kantor Danurdara mereka tidak sengaja melihat Ariz yang beberapa hari ini viral di media sosial maupun di media cetak karena pernikahannya dengan CEO Danurdara yang gagal karena sang CEO berselingkuh dengan laki-laki lain.
Dhika mendengus melihat kelakuan laki-laki itu, yang sedang berjalan mesra dengan selingkuhannya setelah mengkambing hitamkan calon istrinya.
"Kenapa lo?" tanya Rafly melirik kaca spion dalam.
"lo lihat mereka?" tunjuk Dhika dengan pandangan matanya.
"iya terus?" tanya Rafly yang tidak mengerti maksud Dhika.
"itu lelaki yang viral karena gagal menikah dengan CEO Danurdara corp" pungkas Dhika.
Rafly mengerem mobilnya "seriusan? tapi kok kayak bukan korban perselingkuhan sih?" celetuknya sambil memandangi sepasang laki-laki dan perempuan itu hingga masuk kedalam mobil.
"maksud gue dia tuh kayak bahagia aja gitu, nggak terpuruk kayak lo dulu" seloroh Rafly tanpa menyaring ucapannya.
Dhika melotot tajam kearah sahabat sekaligus sekertarisnya itu "maksud lo apa ngomong gitu?" tanyanya dengan bola mata yang hampir keluar dari tempatnya.
Rafly menelan ludahnya sendiri setelah sadar akan ucapannya "ma..maksud gue dia gak keliatan tersakiti, gak seperti lo dulu" ujarnya takut-takut.
Dhika mendengus lalu kembali menatap kearah Ariz dan selingkuhannya yang sudah mulai menjalankan mobilnya meninggalkan halaman Danurdara corp.
__ADS_1
"ikuti mereka" titah Dhika dingin.
Rafly hanya mengikuti instruksi Dhika meskipun dalam hatinya dipenuhi tanda tanya besar.
Selesai mandi dan berganti pakaian Ara keluar dari kamarnya.
"mau kemana kamu?" tanya papa yang duduk di ruang tamu.
"mau belanja bahan makanan" sahut Ara.
"oowhh.. yasudah" balas papa cuek.
"Ara pamit dulu pa" pamit Ara sebelum pergi dan hanya dijawab anggukan kepala oleh sang papa.
Ara sampai di supermarket dan mulai mencari apa saja yang akan dibelinya.
Bian yang kebetulan sedang menemani mamanya ke supermarket yang sama dengan Ara tidak sengaja melihat Ara yang sedang kesulitan untuk mengambil sesuatu di rak yang tinggi.
"makanya tumbuh tuh keatas" celetuk Bian dengan nada bercandanya, lalu meraih alat kebersihan yang susah payah diraih oleh Ara.
Ara hanya mendengus mendengar celetukan Bian, pemuda yang tempo lalu menemaninya dipinggir danau.
"terimakasih" ucap Ara tulus.
"soal yang mana?" goda Bian menaik turunkan alisnya.
Membuat Ara memutar bola matanya jengah, sementara Bian tertawa keras melihat ekspresi Ara.
"soal waktu itu, sama ini" kata Ara lagi sambil mengangkat alat kebersihan yang tadi diambilkan oleh Bian.
"sama-sama" ujar Bian tersenyum tipis.
Handphone pemuda itu berbunyi "gue pergi dulu, sampai ketemu lagi" pamit Bian setelah mengecek sang penelpon, lalu pergi setelah mengusap kepala Ara yang hanya sebatas lehernya.
"woi gak sopan lo ya" teriak Ara sedangkan Bian hanya tertawa di kejauhan sana.
Ara menghentakkan kakinya karena kesal dengan pemuda yang bernama Bian itu "awas saja kalo ketemu lagi" gumamnya kesal.
Dari arah belakang seseorang menepuk bahunya "Ara..." sapa orang tersebut.
Ara menoleh untuk melihat siapa orang yang menyapanya.
__ADS_1
TBC~~~
****