Jatuh Bangun Asmara

Jatuh Bangun Asmara
Bab 9 : mati lampu


__ADS_3

Ara tiba di rumah kontrakannya sesaat sebelum adzan maghrib berkumandang. Ara kemudian mengetuk pintu kayu yang berwarna coklat pudar, karena catnya yang sudah mulai luntur, dengan perasaan bahagia, setelah tadi bertemu dengan Hanna dan bercerita banyak hal dengan wanita muslimah itu.


tok..


tok..


tok..


Tidak butuh waktu lama pintu tersebut pun terbuka dari dalam, menampilkan sosok Mama Bella dengan ekspresi datar andalannya beberapa Minggu ini.


"Assalamualai...


belum sempat Ara menyelesaikan salamnya, sang mama telah lebih dulu mencecarnya dengan berbagai pertanyaan


"dari mana saja kamu? kamu sengaja ya mau bikin Mama sama papa kamu mati kelaparan di rumah kumuh ini dengan pulang jam segini?" berondong mama Bella memaki tepat di depan wajah Ara, (karena Bella sedikit lebih tinggi darinya) membuat perempuan itu hanya mampu terdiam seraya menunduk.


Senyum yang tadi mengembang sempurna di bibir merah Cherry milik Ara pun perlahan memudar "apa maksud mama?" tanya Ara dengan nada bingung sesaat setelah sang mama menyelesaikan perkataannya.


"tidak usah pura-pura tidak tahu kamu" bentak Bella yang sudah maju untuk menyerang Ara yang masih setia berdiri di hadapannya.


Namun Arga dengan sigap menangkap tubuh sang istri "sudahlah ma, malu diliat sama tetangga" ucap Arga yang tiba-tiba datang dari dalam rumah dan menengahi keributan yang terjadi antara istri dan anaknya "dan kamu Ara" tunjuk papa "kamu cepetan masak sana, kami sudah kelaparan sejak tadi karena menunggumu" perintahnya tegas kepada anak perempuannya satu-satunya.


"baik pa" ucap Ara seraya mengangguk dengan patuh, setelah itu ia berlalu dari hadapan kedua orangtuanya, menuju dapur, sambil menenteng belanjaannya tadi.


"hei.. mau kemana kamu hah? mama belum selesai bicara" teriak Bella nyaring, namun lagi-lagi Arga menghalangi niat istrinya "ma sudahlah, biarkan Ara memasakkan makan malam dulu untuk kita" usulnya, membuat Bella melirik sinis kearahnya.


"baiklah kali ini mama yang mengalah, tapi tidak lain kali" ujar mama lalu berjalan meninggalkan Arga sambil menghentakkan kakinya keras, karena kesal dengan suaminya yang malah membela Ara bukan dirinya.


Sementara Arga hanya menatap kepergian sang istri sambil menghela nafas panjang, barulah kemudian menyusul setelahnya.


Setelah sekitar satu jam Ara berkutat di dapur, akhirnya masakannya telah matang semua. Ara lalu menghidangkannya diatas meja makan berbentuk persegi kecil yang hanya muat untuk dua orang saja, tidak seperti meja makannya dirumah yang lama, yang muat untuk 12 orang sekaligus.


Selesai dengan pekerjaannya, Ara kemudian berjalan ke arah kamar kedua orangtuanya untuk mengatakan bahwa makanannya telah dia siapkan diatas meja makan.


Di ketuk nya daun pintu yang menjulang dihadapannya seraya berkata dengan sedikit berteriak, takut kedua orangtuanya tidak dengar panggilannya "Ma..Pa.. makan malamnya udah siap"


Mendengar ucapan sang anak membuat Arga dengan cepat membuka pintu kamarnya akibat rasa laparnya "baguslah.. papa memang sudah sangat lapar" ucapnya lalu berlari kecil menuju meja makan, tanpa menghiraukan Ara yang masih berdiri disana.


Perempuan itu hanya mampu menghela nafas karena kelakuan kedua orangtuanya, setelah itu Ara pun memilih masuk kedalam kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian.

__ADS_1




Sementara itu ditempat lain, tepatnya di rumah yang dulu ditempati oleh Ara dan keluarganya, terlihat Ariz bersama Sandra dan beberapa orang pria dan wanita tengah berjoget dan mabuk-mabukan diruang tamu. Ariz sengaja mengundang para sahabatnya untuk party, sebagai bentuk perayaan atas keberhasilannya menjadi pemilik Corp Danurdara dan berhasil menyingkirkan Asmara dari perusahaan tersebut.



Alunan musik disko menggema di seluruh ruangan, membuat para pekerja dirumah tersebut tidak bisa beristirahat dengan tenang setelah lelah bekerja seharian dirumah tersebut.



Salah satu satpam yang sudah sakit kepala dan sakit kuping mendengar musik sekeras itu mengalun tengah malam seperti ini pun memberanikan dirinya untuk mematikan lampu dengan cara menarik meteran listriknya kearah bawah.



Terdengar suara gaduh dari dalam rumah, tepatnya dari para manusia-manusia yang tidak memiliki otak, siapa lagi jika bukan Ariz, Sandra dan para teman-temannya, mungkin mereka berteriak karena gelap "rasain" gumam Satpam tersebut dengan suara yang sangat kecil, takut ada yang dengar.



Tidak berapa lama terlihat Ariz sedang berjalan dari dalam dan mendatangi pak Yudi (nama satpam tadi) untuk mengecek penyebab kenapa lampu tiba-tiba padam.




"saya juga tidak tahu pak, mungkin mati lampu, ini baru saya coba cek" ucap Pak Yudi berusaha agar tidak gugup, beruntung keadaan sedang gelap, jadi Ariz tidak terlalu memperhatikan ekspresi satpam tersebut yang sudah ketakutan.



"aahh sial\*n kenapa harus pake mati lampu segala sih" geram Ariz sambil mengacak rambutnya dengan kasar. Ariz mengedarkan pandangannya, dan ia melihat bahwa rumah yang berada diseberang jalan lampunya masih menyala.



"terus itu lampu tetangga kenapa masih nyala?" tanyanya.



"ohh itu pak anu.. mereka.. mereka pake genset pak" ucap pak Yudi dengan gugup, untunglah otaknya cepat bekerja mencari jawaban, jika tidak bisa bisa ia ketahuan telah mengerjai Ariz dan kawanannya.

__ADS_1



"apa dirumah ini juga ada genset?" Ariz kembali bertanya.



"ii..iyaa pak"



"yasudah sana kamu nyalain" perintahnya lalu berbalik arah, untuk masuk kedalam.



"tapi pak.." seru satpam tersebut



"tapi apa lagi?" sentak Ariz yang memang sudah setengah sadar.



"gensetnya belum sempat dibenerin pak" ujar Yudi lagi.



"dasar bod\*h, rumah sama perusahaan saja yang gede, tapi otaknya kosong. masa rumah se mewah ini tidak memiliki genset, apa kata orang-orang nanti" dumel Ariz seraya berjalan terhuyung-huyung memasuki rumah.



Pak Yudi mengusap-usap dadanya lega "selamat..selamat" ucapnya setelah melihat bos barunya itu pergi.



Sesampainya didalam Ariz mendapati para teman-temannya sudah terkapar di sofa, dengan berbagai bentuk, laki-laki itu pun berjalan menuju kamar utama untuk tidur.



Akhirnya pesta itu pun berakhir cepat, akibat mati lampu yang disabotase oleh pak Yudi.

__ADS_1



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...


__ADS_2