Jebakan Cinta Gadis Penari

Jebakan Cinta Gadis Penari
Mencari Ratu


__ADS_3

Justin segera berlari ke arah mobilnya dan mengejar taksi yang di tumpangi oleh Ratu. Tapi sayang, Justin sudah kehilangan jejak.


"Sial!" Maki Justin.


Kemudian Justin memilih untuk pulang dan berharap Ratu sudah sampai di rumah. Justin yang sudah sampai rumah, dengan cepat melangkah ke kamarnya.


Tiba di kamar, Justin tidak menemukan keberadaan Ratu.


"Ratu pergi kemana ya? Apa jangan-jangan Ratu pergi ke club lagi." Lalu Justin turun dan melangkah keluar ke arah pos satpam.


Justin meminta salah satu security untuk mencari Ratu di club.


"Pak Untung, aku mau minta tolong. Tolong cari Ratu di club malam."


"Baik, Tuan."


"Satu lagi. Jika kamu menemukan Ratu segera hubungi aku secepatnya."


"Iya...."


"Cepat pergi."


Pak Untung segera menjalankan perintah Justin dan menuju club malam yang sudah diberitahukan alamatnya.


Justin menunggu kabar dari Pak Untung dan berharap Pak Untung menemukan Ratu, tapi sampai beberapa jam Pak Untung belum juga mengabarinya.


Karena lama menunggu, akhirnya Justin memilih menelpon Pak Untung lebih dulu.


"Halo... Bagaimana. Apa Ratu ada di sana?"


"Maaf, Tuan. Saya belum menemukan, Non Ratu," jawab Pak Untung.


"Kamu terus cari Ratu sampai ketemu."


"Baik, Tuan."


Justin mematikan telponnya dan merebahkan diri di atas kasur.


"Sebenernya Ratu pergi kemana sih?"


Justin menatap langit-langit kamarnya. Justin memang tidak suka dengan Ratu, tapi Justin sangat mengkhawatirkan Ratu. Apalagi hari semakin larut.


Tempat yang berbeda. Ratu memilih untuk menginap di hotel. Ratu benar-benar tidak mau bertemu dengan Justin dulu. Hatinya kesal sama Justin.


"Katanya nggak peduli, nggak tertarik. Tapi kenapa dia mengejarku. Dasar cowok sok jual mahal." Kesal Ratu seraya memukul bantal. Seolah bantal itu adalah Justin.


Kemudian Ratu segera tidur. Ratu malas memikirkan Justin yang nyebelin. Sedangkan Justin, tidak bisa tidur dan terus menunggu kabar dari Pak Untung.


Drrtt Drrtt

__ADS_1


Dering handphonenya bunyi. Justin buru-buru mengangkat telponnya.


"Bagaimana, Pak Untung?" cecar Justin.


"Maaf, Tuan. Sampai saat ini saya tidak menemukan keberadaan, Non Ratu."


Justin menghela nafasnya. " Ya sudah, kamu pulang," suruh Justin dan langsung mematikan teleponnya.


"Kamu dimana sih Ratu. Kenapa nggak pulang."


***


Hampir semalaman, Justin tidak bisa tidur. Pikirannya terus tertuju kepada Ratu. Meski sudah berusaha membuang kekhawatirannya, Justin tetap tidak bisa menepikan Ratu dari pikirannya.


Dengan lesu, Justin sarapan. Mama Risti menatap heran melihat anaknya yang tidak ada semangatnya.


"Kamu kenapa? Terus Ratu kenapa belum turun?"


"Ratu nggak ada di rumah," jawab Justin.


"Kamu mengusir Ratu!" Tuduh Mama Risti.


"Nggak, ma. Ratu lagi marah sama aku."


Tiba-tiba Mama Risti memukul lengan Justin dan menatap tajam wajah Justin, yang pagi ini memiliki mata panda.


"Bisa nggak sih, kamu itu jangan galak-galak sama Ratu!" Marah Mama Risti.


"Pokoknya kamu harus cari Ratu. Jangan pulang kalau Ratu belum pulang ke rumah!"


Lalu Mama Risti meninggalkan Justin di meja makan dengan perasaan marah.


Justin menghela nafasnya dan akhirnya Justin tidak selera makan dan memilih berangkat ke kantor. Sepanjang perjalanan menuju kantor, Justin terus memikirkan Ratu.


"Kenapa otakku di penuhi oleh Ratu, sih. Sampai-sampai aku nggak bisa tidur." Geramnya pada diri sendiri.


Tiba di kantor, Justin segera menuju ruangannya dan seperti biasa, sekretaris Mala akan membacakan jadwal meeting Justin.


"Mala, bisa kamu panggilkan Ratu kesini," suruh Justin dan berharap Ratu masuk kerja.


"Baik, Pak."


Sekretaris Mala pamit undur diri dari hadapan Justin dan segera memanggil Ratu.


"Mudah-mudahan Ratu masuk kerja."


Cukup lama menunggu, akhirnya sebuah ketukan terdengar. Justin segera bangkit dari kursi, tapi saat pintu di buka ternyata bukan Ratu melainkan sekretarisnya. Justin kembali duduk dan sedikit kecewa.


"Maaf, Pak. Ratu tidak masuk kerja," lapor sekretaris Mala.

__ADS_1


"Ya sudah, kamu kembali bekerja."


"Baik, Pak." Sekretaris Mala segera keluar dari ruangannya Justin.


Justin menyenderkan punggungnya dan mengadahkan kepalanya menatap langit-langit ruang kerjanya.


"Ratu beneran marah sama aku. Terus aku harus cari Ratu kemana."


"Zaki...." Tiba-tiba Justin ingat Zaki dan Justin segera mencari Zaki.


Setelah bertanya dimana Zaki berada, Justin segera menemuinya.


"Zaki. Kamu tahu dimana Ratu?" Tanya Justin tanpa basa-basi.


"Maaf, Pak. Sejak semalam Ratu tidak mengabari saya lagi."


"Jangan bohong kamu!"


"Beneran, Pak. Saya tidak bohong."


Justin kecewa, ternyata Zaki juga tidak mengetahui keberadaan Ratu.


Apa aku telpon Ratu saja. Oke deh, aku coba telpon Ratu.


Justin segera menelpon Ratu, tapi ternyata nomornya Ratu tidak aktif.


"Dimana aku harus cari Ratu? Apa aku minta bantuan Hadi." Gumam Justin dan segera menemui Hadi di ruangannya.


"Di, aku minta tolong sama kamu."


"Minta tolong soal apa?"


"Tolong lacak keberadaan Ratu. Semalam Ratu marah sama aku dan pergi dari rumah."


Hadi mengangguk dan meminta bantuan kepada temannya yang ahli IT. Lama menunggu, akhirnya temannya Hadi memberitahukan keberadaan Ratu.


"Gimana?"


"Katanya Ratu ada di hotel Byson."


"Aku segera ke sana."


Justin segera berangkat dan menemui Ratu di hotel Byson. Berharap Ratu memang benar ada di sana.


Tiba di hotel, Justin bertanya kepada resepsionis hotel dan Ratu memang ada di hotel tersebut. Justin segera mencari kamar hotelnya Ratu.


Justin mengetuk pintunya saat sudah di depan pintu kamar hotelnya Ratu.


Tok tok tok

__ADS_1


Pintu hotel pun di buka oleh Ratu.


"Justin?"


__ADS_2