
"Oke! Aku akan membantumu, tapi jangan sakiti putriku."
Pak Bambang jelas tidak mau melihat putrinya disakiti, apalagi di depan matanya. Apapun akan Pak Bambang lakukan demi menyelamatkan putri tercintanya, yang saat ini tengah terancam.
"Bagus. Lakukan secepatnya," ucap Ratu.
"Baik, tapi jangan kamu apa-apain putriku," mohon Pak Bambang.
"Tenang saja, putrimu tidak akan di apa-apain. Asalkan Om benar-benar menjalankan perintah ku merebut harta milik orang tuaku."
"Ayo, kita pergi dari sini," ajak Ratu kepada Zivan dan kedua temannya, sembari menyeret Sita meninggalkan Pak Bambang.
Setelah menjauh dari Pak Bambang. Ratu memerintahkan kedua temannya Zivan untuk mengawasi Pak Bambang. Ratu tidak mau kalau Pak Bambang menghianatinya, seperti yang pernah dilakukannya kepada papanya.
Setelah urusannya selesai, Ratu memilih pulang karena hari sudah sangat siang. Tiba di rumah, Ratu langsung di sambut dengan muka masam Justin dan membuat Ratu merasa heran.
"Tumben jam segini masih di rumah?" Tanya Ratu, tapi Justin tidak mengindahkan perkataan Ratu.
Justin kesal karena Ratu tidak bisa di hubungi, membuat hatinya uring-uringan tak jelas.
"Kamu kenapa? Kok cemberut?" Tanya Ratu lagi.
Justin hanya meliriknya saja dan tidak mau menjawab pertanyaan Ratu. Ratu jelas merasa heran dengan sikap Justin yang aneh.
"Ya sudah kalau nggak mau jawab." Kemudian Ratu memilih meninggalkan Justin ke kamarnya.
"Eerrr...!" Kesal Justin. Kemudian Justin mengikuti langkah Ratu ke kamar.
Ratu menoleh ketika Justin masuk ke kamarnya masih dengan wajah masamnya dan duduk di tepi ranjang.
"Kamu habis dari mana sih!" Kesal Justin.
"Aku habis ada urusan. Kenapa memangnya?" Jawab Ratu santai.
"Urusan apa?! Urusan ketemu cowok!" Ketus Justin.
__ADS_1
"Kalau iya kenapa? Apa masalah buat kamu?"
"Masalah lah! Kamu kan istri aku." Justin masih merengut kesal. Hatinya tidak suka ketika mendengar suara lelaki di ujung telepon berbicara kepada Ratu.
Ratu menyipitkan matanya menatap wajah Justin, bibirnya tersenyum tipis. "Apa kamu cemburu?"
"Apa kamu bilang. Cemburu?!" Justin tertawa sembari menggelengkan kepalanya. " Ngapain aku cemburu sama kamu. Pede banget sih. "
"Ck... Kalau nggak cemburu ngapain kamu mempermasalahkan aku ketemu sama cowok lain," balas Ratu.
"Aku kan pengen tau aja dan lagian aku punya hak untuk tahu."
"Jadi kamu pengen tahu aku ketemu sama siapa?"
Justin menganggukkan kepalanya. Sejak tadi Justin sudah sangat penasaran siapa cowok yang di dengarnya lewat telpon.
"Aku ketemuan dengan Zivan. Dia itu mantan pacar aku. Dia ngajak aku ketemuan karena dia ingin aku balik lagi sama dia."
Ratu sengaja membohongi Justin dan menganggap Zivan mantannya. Ratu ingin tahu seperti apa reaksi Justin.
"Terus kamu jawabnya apa? Jangan bilang kalau kamu terima mantan kamu lagi!" Ucap Justin sedikit sengit.
" Aku jawab...." Ratu menggantungkan kalimatnya.
"Jawab apa?!" Desak Justin. Hatinya semakin bergemuruh kesal. Justin tidak mau kalau Ratu balikan sama mantannya.
"Kepo ya...." Ledek Ratu.
"Jawab!" Bentak Justin, yang tak sabar mendengar jawaban Ratu.
Bukannya menjawab, justru Ratu tertawa. Justin yang melihat Ratu tertawa, membuatnya semakin kesal. Kemudian Justin menarik tangan Ratu dan menggulingkannya ke atas ranjang. Justin mengunci kedua tangan Ratu.
"Jangan bilang kalau kamu terima mantan kamu," ucap Justin yang menatap kedua manik Ratu.
"Kenapa memangnya kalau aku terima mantanku lagi. Bukankah selama ini kamu juga nggak pernah mencintaiku, justru kamu menginginkan aku pergi dari hidupmu."
__ADS_1
"Aku kan sudah bilang, beri aku waktu."
"Sampai kapan? Sampai aku benar-benar di ambil orang. Asal kamu tahu, perempuan itu butuh kepastian bukan butuh waktu yang tidak jelas sampai kapan."
Tiba-tiba dering handphonenya Ratu bunyi.
"Awas, aku mau angkat telepon." Tapi Justin tidak bergeming, Justin terus menatap lekat bola mata Ratu.
"Ajas, aku mau angkat telepon." Ratu berusaha melepaskan diri dari kungkungan Justin." Justin!!" Sentak Ratu.
Terpaksa Justin melepaskan Ratu. Buru-buru Ratu mengangkat telponnya.
"Halo, kenapa Zivan?"
Justin langsung menatap Ratu, saat telinganya menangkap nama Zivan. Justin langsung di landa api yang membakar hatinya.
"Bisa nggak ya. Oke deh, aku usahain," kata Ratu kepada Zivan.
Justin yang terlihat sangat kesal dan mengepulkan asap cemburu, langsung merebut handphone Ratu dan mematikan teleponnya begitu saja, tidak peduli dengan tatapan Ratu yang melototi nya.
"Kenapa kamu matikan telponnya?" Protes Ratu.
"Jangan angkat telpon dari dia, apalagi bertemu dengannya!" Tegas Justin.
Ratu mendengus. Mana mungkin dirinya tidak menemui Zivan, yang jelas-jelas ia sendiri ada urusan sama Zivan.
"Aku nggak bisa. Aku tuh sudah janji akan menemuinya sekarang," jawab Ratu, yang tidak peduli larangan Justin.
"Kamu nggak boleh pergi menemuinya!"
"Maaf, tapi aku harus menemuinya," kekeuh Ratu.
"Kalau kamu berani menemuinya. Aku nggak segan-segan menghukum kamu!"
"Sudahlah, aku harus pergi. Zivan sudah menungguku." Ratu mengambil tasnya yang tergeletak di atas meja rias, lalu melangkahkan kakinya keluar kamar.
__ADS_1
Justin yang sudah sangat marah, langsung mengejar Ratu dan mengangkat tubuh Ratu ke pundaknya, lalu membawanya ke kamarnya sendiri. Kali ini Justin benar-benar akan memakan Ratu habis-habisan. Perasaannya yang sudah terbakar rasa cemburu, membuat Justin tidak memperdulikan lagi harga dirinya yang selalu menolak Ratu.
Tiba di kamarnya, Justin langsung menjatuhkan Ratu di atas ranjang, lalu Justin menindih tubuh Ratu. Biasanya Ratu yang mencium bibirnya lebih dulu, tapi kali ini Justin lah yang mencium bibir Ratu.