Jebakan Cinta Gadis Penari

Jebakan Cinta Gadis Penari
Mulai merasa sepi


__ADS_3

"Justin?" Ratu terkejut dengan kedatangan Justin dan tak menyangka kalau Justin bisa menemukannya.


Justin langsung menerobos masuk dan menutup pintunya. Justin mendorong tubuh Ratu ke tembok dan mengukung Ratu.


"Kenapa nggak pulang?"


"Malas aku ketemu sama kamu," jawab Ratu, sembari membuang mukanya. Hatinya masih sedikit dongkol dengan kelakuan Justin.


"Minggir!" Ketus Ratu, sambil mendorong tubuh Justin, lalu Ratu memilih naik ke kasur dan menutupi seluruh tubuhnya.


Justin mendekati Ratu dan duduk di samping Ratu. "Aku minta maaf."


Akan tetapi Ratu tidak menggubris permintaan maafnya Justin. Ratu tetap diam di balik selimutnya, sambil terus berpikir cara apa yang bisa meluluhkan hati Justin.


"Ratu, Mama menyuruhku untuk membawamu pulang. Kalau aku tidak membawamu pulang, maka aku nggak boleh diperbolehkan pulang sama Mama," ujar Justin, mencoba membujuk Ratu.


Di balik selimutnya, Ratu tiba-tiba memiliki cara untuk meluluhkan hati Justin. Mungkin dengan berpura-pura mengalah, Justin mau menerimanya.


"Oke. Aku akan pulang, tapi setelah itu aku akan balik lagi tinggal di kontrakan ku dan mulai hari ini aku berhenti bekerja di kantormu," jawab Ratu, yang kini membuka selimutnya.


"Kamu tidak mau tinggal di rumahku lagi?"


"Iya. Lagian buat apa aku tinggal di rumahmu, kalau aku tuh nggak di hargai sama kamu. Aku juga bersedia menandatangani surat kontrak pernikahan yang kamu ajukan."


Justin terdiam dan bukankah itu yang di inginkannya, tapi kenapa sekarang dirinya merasa tidak rela melepaskan Ratu. Egois kah jika dirinya ingin mempertahankan Ratu, meski dirinya sendiri tidak mencintainya.


Ratu bangun dari tiduranya dan bersiap untuk keluar dari hotel.


"Ayo pulang. Biar aku secepatnya keluar dari rumah kamu."


Ratu membuka pintunya, tapi Justin tetap terdiam di tempatnya. Ratu menoleh dan mendengus melihat Justin tidak bangun dari duduknya. Ratu mendekati Justin dan menarik tangan Justin.


"Ayo! Bukannya tadi kamu ngajakin aku pulang." Ratu terus menarik tangan Justin yang tetap bertahan di posisinya.


Tanpa diduga, Ratu justru yang ditarik Justin dan menubrukkan ke tubuhnya. Justin menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dengan Ratu berada di atas tubuhnya. Justin mengunci tubuh Ratu dan menatapnya.


"Jika aku bersedia memberikan benih unggulanku, apa kamu akan tetap tinggal bersamaku?" ucap Justin, yang begitu lekat menatap kedua bola matanya Ratu.


"Tergantung?"

__ADS_1


"Maksudnya, tergantung gimana?"


"Aku akan tetap bersamamu kalau kamu memberinya dengan ikhlas dan tidak terpaksa. Tapi kalau kamu mau melakukannya dengan terpaksa, maka aku tetap memilih pergi dari kamu." Lalu Ratu berusaha menarik diri dari tubuh Justin, tapi Justin semakin mengunci tubuh Ratu.


"Kalau gitu beri aku waktu."


"Baiklah, aku akan memberimu waktu. Sekarang lepaskan aku."


Justin melepaskan Ratu dan bangkit dari ranjang. Ratu dan Justin segera ke luar dari hotel dan langsung pulang ke rumah.


Kurang lebih tiga puluh menit, Justin dan Ratu sampai di rumah. Ratu bergegas masuk ke rumah dan betapa senangnya Mama Risti melihat Ratu sudah balik ke rumah.


"Ratu, semalam kamu tidur dimana?" Tanya Mama Risti, yang sangat mengkhawatirkan Ratu.


"Di hotel, ma."


"Lain kali kalau Justin bikin kamu marah, laporin aja ke Mama," pungkas Mama Risti melirik sinis wajah Justin. Sedangkan Justin hanya memutarkan bola matanya.


"Iya, ma. Kalau gitu Ratu ke kamar dulu." Mama Risti mengangguk dan Ratu segera ke kamar. Begitu juga dengan Justin yang ikut menuju kamarnya.


Ratu meletakkan tasnya dan berjalan menuju lemarinya. Ratu mengeluarkan pakaiannya dan memasukkan ke dalam kopernya. Justin menatap heran melihat ratu mengemasi pakaiannya.


"Kenapa pakaianmu di masukkan ke koper?"


Setelah semuanya beres, Ratu keluar dari kamarnya Justin dan melangkah turun menuju kamar tamu.


Ratu berharap dengan cara begini, dirinya bisa meraih hatinya Justin. Mungkin kemarin-kemarin caranya meluluhkan hati Justin terlalu terburu-buru dan kali ini Ratu akan sedikit jual mahal.


Siang pun berganti malam. Justin yang malam ini sendiri di kamarnya, merasa sepi karena tidak adanya Ratu., yang biasanya mengganggunya jika akan tidur. Justin memandangi kasur yang biasanya ditiduri oleh Ratu. Justin meraba kasur yang terasa dingin itu.


Biasanya kalau mau tidur, Ratu selalu memeluknya yang memang menganggapnya guling. Tapi kini, orang yang biasanya memeluknya tidak ada di sampingnya.


"Ternyata nggak enak juga tidur nggak ada kamu," gumam Justin.


Tok tok tok


"Jas, apa kamu sudah tidur."


Justin sumringah mendengar suara Ratu. Dengan semangatnya Justin membukakan pintunya.

__ADS_1


"Apa kamu akan tidur disini?"


"Nggak. Aku kesini mau ambil sabun cuci mukanya aku. Tadi aku lupa mengambilnya," jawab Ratu, lalu Ratu masuk dan mengambil facial foam miliknya.


Justin kecewa. Ternyata Ratu datang ke kamarnya bukan untuk tidur dengannya, melainkan mengambil barang yang ketinggalan.


"Maaf ya, aku sudah ganggu tidur kamu. Aku balik lagi ke kamarku."


Ratu meninggalkan Justin yang menatapnya lesu. Dengan langkah gontai, Justin langsung merubuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Seharusnya Justin senang tidak ada Ratu di sampingnya saat tidur, tapi kenapa malah sebaliknya.


"Aku pikir kamu berubah pikiran," ucapnya lesu.


Waktupun terus bergerak semakin larut, tapi sampai detik ini Justin tidak bisa tidur. Justin sudah membolak-balikkan tubuhnya mencoba untuk tidur, tapi nyatanya Justin tidak bisa tidur semenit pun.


"Susah banget sih untuk tidur."


Justin bangun dan memilih keluar dari kamarnya. Justin melangkah menuju kamar yang ditempati oleh Ratu.


"Mudah-mudahan nggak di kunci sama Ratu."


Justin menekan handle pintunya dan Justin tersenyum, karena Ratu tidak mengunci pintunya. Justin pelan-pelan masuk ke dalam kamar yang tamaram itu.


Justin melambaikan tangannya di depan wajah Ratu. Justin tersenyum lega karena Ratu sudah terlelap. Pelan-pelan Justin naik ke atas ranjang, setelah itu Justin melingkarkan tangannya di pinggang Ratu.


Ratu terbangun karena merasakan ada sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Ratu membalikkan badannya dan Ratu membulatkan matanya melihat Justin ada di sampingnya.


"Kenapa kamu tidur disini?"


"Maaf, aku ganggu tidur kamu. Aku nggak bisa tidur, makanya aku pindah kesini," jawab Justin.


"Bolehkan aku tidur disin?" Sambung Justin.


"Gimana ya... Bukannya aku nggak mau, tapi selama kamu meminta waktu kepadaku. Aku nggak bisa tidur sama kamu," jawab Ratu.


"Aku mohon untuk malam ini saja."


"Baiklah. Hanya malam ini saja."


"Terima kasih," ucap Justin, tersenyum senang.

__ADS_1


Justin dan Ratu memejamkan matanya untuk tidur dan kali ini Justin lah yang memeluk Ratu dan menganggap Ratu adalah gulingnya.


Justin menatap Ratu yang sudah kembali tertidur pulas. Justin mengelus pipinya Ratu


__ADS_2