Jebakan Cinta Gadis Penari

Jebakan Cinta Gadis Penari
Mengancam Pak Bambang


__ADS_3

Sayup-sayup terdengar suara burung yang berkicau. Matahari menerobos masuk lewat celah jendela. Justin mengernyitkan dahinya meraba kasur di sebelahnya kosong. Justin membuka matanya dan Ratu tidak ada disampingnya, lalu Justin mengedarkan pandangannya mencari Ratu.


Justin turun dari kasur dan mencari Ratu di kamar mandi, tapi ternyata Ratu tidak ada di kamar mandi.


"Apa Ratu di dapur?"


Justin bergegas menuju dapur dan tiba di dapur Ratu tidak ada di dapur. Cuman ada Mba Tuti seorang diri.


"Mba, lihat Ratu nggak?"


"Tidak, Tuan. Dari tadi saya tidak lihat Non Ratu."


Justin pergi meninggalkan dapur dan Justin mencoba mencari ke kamarnya. Justin membuka pintunya dan lagi-lagi Ratu tidak ada di kamarnya.


"Ratu pergi kemana ya?"


Justin mengambil handphonenya dan mencari nomor Ratu di kontak telpon. Justin segera menelpon Ratu.


Cukup lama Ratu mengangkat telpon dari Justin, membuat Justin sedikit gelisah dan juga kesal.


"Halo...." Akhirnya Ratu mengangkat telpon dari Justin.


"Kamu dimana?"


"Aku lagi diluar. Kenapa memangnya?"


"Diluar dimana dan lagi ngapain?"


Samar-samar terdengar suara seorang lelaki memanggil Ratu, tapi Justin tidak begitu jelas lelaki itu berbicara apa sama Ratu.


"Jas, nanti aku telpon balik."


"Tunggu, kamu dimana?"


Tut... Tut... Tut....


Ratu mematikan teleponnya sepihak, membuat Justin curiga dan hatinya mulai terbakar api cemburu.


"Siapa lelaki yang memanggil Ratu?" Gumam Justin penasaran.


Justin mencoba menelpon Ratu lagi, tapi kali ini telponnya tidak di angkat-angkat. Membuat hati Justin kesal.


*


Sampai siang Ratu belum juga pulang, membuat Justin uring-uringan dan Justin beberapakali menelpon Ratu tapi Ratu tidak mengangkat telponnya.


"Ratu...!" Kesal Justin.


"Masa iya aku harus minta bantuan Hadi lagi. Nanti yang ada Hadi curiga lagi dan menganggap aku tuh suka sama Ratu."

__ADS_1


Gara-gara Ratu tidak mengabarinya, Justin jadi enggan berangkat ke kantor. Padahal kerjaan di kantor sangat menumpuk dan beberapa meeting dengan kliennya di batalkan. Moodnya Justin benar-benar buruk karena Ratu.


Hadi datang menemui Justin di rumah, karena beberapa dokumen harus segera di tanda tangani Justin.


"Kamu sakit, Jas?" Tanya Hadi, sembari menerima dokumen yang sudah di tanda tangani oleh Justin.


"Nggak."


"Terus kenapa nggak ke kantor."


"Lagi males aja," jawab Justin asal.


Hadi terkejut mendengar jawaban Justin. Setahunnya Justin akan tetap bekerja walau seburuk apapun kondisinya dan ini pertama kalinya Justin mengatakan malas untuk berangkat ke kantor.


"Sejak kapan kamu jadi orang pemalas," ujar Hadi, yang belum percaya dengan perkataan Justin.


"Lebih baik kamu balik lagi ke kantor dan tolong kamu gantikan aku meeting dengan klien."


"Baiklah. Aku balik ke kantor."


"Hmm...."


***


Saat ini Ratu tengah bersama Zivan. Dia berhasil menculik anak dari Pak Bambang. Ratu tersenyum menyeringai melihat anak Pak Bambang yang terikat di kursi.


Ratu memvideokan anak Pak Bambang, setelah itu Ratu mengirimkan videonya ke Pak Bambang.


Tidak lama sebuah panggilan telepon masuk. Ratu tersenyum saat tahu yang menelponnya adalah Pak Bambang.


"Ternyata anda ketakutan juga kalau anakmu di culik." Gumam Ratu tertawa sinis.


Ratu tidak mengangkat telponnya. Ratu sengaja tidak mengangkat telpon dari Pak Bambang. Ratu ingin merasakan seperti apa cemasnya saat orang yang kita sayang menghilang.


Berkali-kali Pak Bambang menelpon Ratu, tapi berkali-kali juga Ratu tidak mau mengangkatnya.


"Memang enak. Itu yang aku rasakan saat dulu, bahkan lebih menyakitkan aku." Ratu menatap handphonenya dengan tatapan marah.


Lalu Ratu mengirim pesan ke Pak Bambang.


'Jika anakmu ingin selamat. Temui aku di dekat gedung tua.'


*


Hampir satu jam lebih. Pak Bambang akhirnya sampai juga di tempat yang sudah di share. Pak Bambang meluaskan pandangannya mencari orang yang telah menculik putrinya


Karena tidak menemukan keberadaan orang yang sudah menculik anaknya. Pak Bambang menelponnya dan langsung di angkat Ratu.


"Dimana kamu! Aku sudah ada di tempat yang kamu maksud.

__ADS_1


"Oke. Sekarang lihatlah kebelakang," suruh Ratu dan Pak Bambang pun membalikkan badannya.


Pak Bambang membulatkan matanya, sekaligus terkejut saat melihat Ratu yang berdiri di belakangnya.


"Jadi kamu yang menculik anakku?!" Geram Pak Bambang.


"Iya, kenapa Om? Kaget ya...." Ujar Ratu tertawa kecil.


"Kenapa kamu menculik anakku?"


"Kenapa Om bilang! Harusnya Om tahu kenapa aku melakukan ini. Sekarang aku tanya sama Om. Kenapa Om tega mengkhianati papaku dan kenapa Om membantu Om Toni merebut harta peninggalan papaku."


Pak Bambang terkejut dengan perkataan Ratu. Selama ini dirinya sudah berusaha menutupi kebusukannya.


Dari mana Ratu soal ini. Batin Pak Bambang.


"Kenapa Om diam saja. Kaget ya... Kalau aku tahu kebusukan Om atau jangan-jangan selama ini Om orang yang telah membunuh orang tuaku?" Ratu curiga dan menatap tajam wajah Pak Bambang.


"Bukan aku orang yang telah membunuh orang tuamu!"


"Kalau bukan Om. Kenapa Om membantu Om Toni merebut peninggalan papaku!"


Pak Bambang diam dan bingung mengatakannya. Jika dirinya jujur, pasti bakal ikut terseret dan bisa jadi dirinya masuk penjara.


Karena Pak Bambang diam saja. Ratu memberikan kode kepada Zivan dan kedua temannya.


Putrinya Pak Bambang diseret oleh Zivan dan berdiri tidak jauh dari Pak Bambang. Zivan menodongkan pisau di leher putrinya Pak Bambang.


"Sita...." Pak Bambang tertegun melihat putrinya yang diikat dengan mulut yang di sumpal. Bahkan putrinya itu menangis sesenggukan dan tatapan meminta tolong.


"Apa mau mu Ratu," geram Pak Bambang.


"Mudah saja. Aku cuma mau harta peninggalan orang tuaku kembali ke tanganku, tapi kalau Om menolaknya aku pastikan putri kesayanganmu ini hidupnya bakal hancur atau... Om tidak akan bertemu lagi dengan putrimu ini."


Tangan Pak Bambang terkepal erat. Pak Bambang sangat marah kepada Ratu. Ratu yang hanya bocah ingusan berani mengancamnya.


"Bagaimana? Apa Om mau membantuku merebut kembali harta peninggalan orang tuaku?"


"Baiklah, aku akan membantu kamu merebut kembali harta peninggalan orang tuamu, tapi lepaskan dulu putriku."


"Oh... Tidak. Aku nggak akan melepaskan putrimu ini, sebelum Om mengembalikan semuanya kepadaku." Tolak Ratu.


Ratu yakin kalau putrinya dilepaskan, Pak Bambang pasti akan melarikan diri dan kali ini Ratu tidak akan mudah dibodohi oleh seorang penghianat seperti Pak Bambang. Ratu harus lebih cerdik dari Pak Bambang. Sudah cukup baginya dibodohi sama penghianat.


"Aku nggak mau membantu kamu, jika kamu tidak melepaskan putriku!"


"Oke, jika Om tidak mau membantuku. Zivan, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan," ujar Ratu menatap Zivan.


Zivan menekan pisaunya ke leher Sita dan sedikit sayatan melukai kulit leher Sita.

__ADS_1


"Oke! Aku akan membantumu, tapi jangan sakiti putriku."


__ADS_2