
Saat ini Justin tengah memegang bukti-bukti kejahatan Pak Toni dan Justin sudah memegang saham terbesar di perusahaan Uniselver.
Justin juga sudah bekerjasama dengan perusahaan lain yang ikut bekerjasama dengan perusahaan Uniselver. Justin meminta kepada perusahaan tersebut untuk mencabut sahamnya dari perusahaan Uniselver dan perusahaan Uniselver langsung mengalami pailit.
Justin yakin kalau Pak Toni akan datang dan meminta bantuannya untuk membantu perusahaannya dan benar feeling Justin, Pak Toni datang meminta bantuannya.
Disinilah sekarang, Pak Toni tengah duduk dengan wajah muram nan lesu. Sedangkan Justin tersenyum samar melihat wajah kusut Pak Toni.
"Jadi gimana? Apa Pak Justin mau membantu perusahaan saya?"
"Saya bisa saja membantu perusahaan anda yang mengalami pailit, tapi dalam waktu satu bulan perusahaan anda tidak ada kemajuan dan membuat saya rugi, maka saya akan mengalihkan perusahaan anda atas nama saya."
Pak Toni terdiam dan dilema. Setelah cukup lama berpikir, akhirnya Pak Toni mengangguk kecil.
"Jadi...." Ucap Justin.
"Baiklah, demi perusahaan saya dan saya pastikan dalam waktu sebulan perusahaan saya bisa kembali stabil lagi."
Justin mangut-mangut dan tersenyum smrik menatap Pak Toni yang terlihat sekali dilema. Dari sini Justin bisa merebut perusahaan milik papanya Ratu.
Setelah itu Pak Toni pamit undur diri dan Justin memanggil Hadi ke ruangannya.
"Kamu pastikan perusahaan Uniselver terus goyah dan semakin pailit. Kamu juga harus pastikan tidak ada perusahaan lain yang mau kerjasama dengan Pak Toni."
"Baik, Tuan. Akan saya laksanakan perintah Tuan."
"Silahkan, kamu balik lagi ke ruangan kamu." Hadi mengangguk dan keluar dari ruang kerjanya Justin.
Justin kemudian menyenderkan punggungnya di kursi dan tersenyum dengan apa yang akan di derita Pak Toni.
Selamat menikmati kesusahan mu Pak Toni. Kini giliran kamu yang harus merasakan getirnya hidup dan saat itu juga hidup kamu berserta keluargamu hancur.
Justin melirik jam di pergelangan tangannya dan sudah satu jam lebih Ratu belum juga menelponnya.
"Kenapa Ratu belum menelponku?"
Karena Ratu tidak menelponnya, akhirnya Justin yang menelpon Ratu. Pada panggilan pertama tidak di angkat, lalu Justin menelpon lagi dan tetap tidak di angkat juga.
"Kenapa nggak di angkat-angkat sih!" Gerutu Justin, lalu Justin mencoba menelponnya lagi, tapi tetap saja tidak di angkat oleh Ratu.
Karena tidak di angkat-angkat, Justin memilih menelpon lewat telpon rumah.
"Halo, Mba Tuti. Ratu kemana?"
"Ini, Tuan. Non Ratu sakit, dari tadi muntah-muntah terus dan katanya kepalanya pusing."
"Apa?! Kenapa nggak mengabari aku kalau Ratu sakit!" Bentak Justin.
Justin jelas langsung mencemaskan keadaan Ratu dan tidak mau sampai kenapa-napa.
"Aku akan segera pulang."
__ADS_1
Justin langsung melangkah keluar dan bergegas menuju lift. Tiba di lobby, Justin langsung melajukan mobilnya. Selama perjalanan menuju pulang, pikiran Justin terus tertuju kepada Ratu dan mengkhawatirkan kondisi Ratu.
Sampai di rumah, Justin segera menuju kamarnya dan ingin melihat keadaan Ratu.
"Ratu...! Kamu nggak apa-apa kan? Apa masih pusing dan muntah-muntah? Bagian mana lagi yang sakit?" Cecar Justin yang begitu cemas.
"Aku nggak apa-apa. Nanti juga hilang sendiri," ucap Ratu lemas.
"Mana ada sakit terus hilang sendiri. Bagian mana lagi yang sakit?"
"Ini," tunjuk Ratu ke perutnya. "Terus aku juga mual."
"Mual? Sebentar-sebentar. Yang kamu rasakan pusing, muntah-muntah dan mual. Apa jangan-jangan...." Justin menatap lekat wajah Ratu dan sebuah senyuman terbit dari bibirnya.
"Jangan-jangan apa?" Bingung Ratu.
"Jangan-jangan kamu... Aahh," jerit Justin yang terlihat sangat bahagia. Justin kemudian memeluk Ratu, sedangkan Ratu bingung dengan kegembiraan Justin.
Justin langsung menciumi seluruh wajahnya Ratu dengan rasa bahagia yang membuncah, lalu Justin mengelus perutnya Ratu.
"Kenapa kamu mengelus perutku?" Tanya Ratu dengan rasa heran.
"Nggak apa-apa. Bagaimana kalau kamu di periksa saja."
"Nggak perlu. Sakitku ini sudah biasa, yang penting obatnya harus rajin diminum."
"Obat apa? Jangan sembarangan minum obat. Pokoknya kita ke dokter saja." Kekeuh Justin dan tidak mau ada penolakan.
Justin langsung menggenggam tangan Ratu dengan senyum terus terukir di bibirnya.
Justin kenapa sih dari tadi senyum-senyum terus, padahal kan aku cuma sakit asam lambung. Tapi kenapa dia terlihat bahagia.
Justin langsung mendaftarkan Ratu ke petugas medis. Setelah itu Ratu dan Justin langsung menuju ruangan Obygin. Ratu mengernyitkan dahinya ketika sudah didepan ruangan Obygin.
"Kenapa kita kesini?"
"Kamu kan harus di periksa. Bukannya kalau hamil itu datangnya harus ke dokter kandungan," jawab Justin.
"Ha...! Hamil? Siapa yang hamil?"
"Ya kamulah, masa aku. Bukannya tadi kamu bilang pusing, mual dan muntah-muntah."
"Iya, tapi bukan--."
"Sudah, jangan banyak bicara. Sebentar lagi giliran kita masuk." Potong Justin.
Ratu menatap wajah Justin dengan perasaan tak enak hati. Padahal sakitnya bukan karena hamil tapi karena asam lambungnya yang sedang naik.
Kini giliran Ratu yang di panggil. Ratu dan Justin masuk, kemudian duduk di depan meja dokter.
"Dengan ibu siapa?" Tanya dokter kandungan.
__ADS_1
"Ratu, dok." Jawab Justin penuh antusias.
"Ini kehamilan yang ke berapa?" Tanya dokter lagi.
"Yang pertama, dok." Lagi-lagi Justin yang menjawab.
"Kapan terakhir menstruasi?"
"Kapan kamu menstruasi," tanya Justin kepada Ratu.
"Mm... Maaf dok, sebenarnya saya tidak sedang hamil." Jawab Ratu dengan nada tak enak hati. Bagaimana tak enak hati, Justin begitu antusias.
"Nggak hamil gimana? Kamu kan belum di periksa dan lagian sakit yang kamu alami seperti orang yang hamil," ucap Justin.
"Dok, tolong langsung di periksa saja," sambung Justin.
Dokter pun mengangguk dan menyuruh Ratu untuk berbaring di atas ranjang. Ratu langsung di periksa dan dokter menempelkan alat USG di perut Ratu.
Justin terus tersenyum lebar, ketika dokter meletakkan alat USG di perut Ratu.
"Bagaimana, dok? Mana calon anak saya," ucap Justin antusias dan tatapan matanya terus tertuju ke layar monitor.
Dokter menatap wajah Ratu dan Justin bergantian. Sebab di dalam rahim Ratu tidak terlihat adanya kehidupan di perutnya Ratu.
"Istri bapak tidak sedang hamil," ucap dokter.
"Ah... Dokter, jangan bercanda deh." Sanggah Justin.
"Saya tidak sedang bercanda dan disini tidak ada janin. Bapak bisa lihat sendiri, kosongkan tidak ada tanda-tanda kehamilan."
"Jadi istri saya tidak hamil."
"Iya. Kemungkinan sakit yang di alami istri bapak karena hal lain, seperti asam lambung atau masuk angin," ucap dokter.
Justin langsung tertunduk kecewa, senyumnya langsung memudar. Justin pikir Ratu memang tengah hamil tapi ternyata zonk. Ratu tidak hamil.
Selesai pemeriksaan, Justin terus menunjukkan wajah sedihnya. Ratu menggenggam tangan Justin dan mengusap lengan Justin dengan lembut.
"Sudah, jangan sedih. Memang kita belum waktunya di kasih momongan. Lagian hubungan kita juga belum genap sebulan dan masih banyak waktu untuk kita menghabiskan waktu."
"Iya, aku tahu. Padahal aku sudah bahagia tapi ternyata kamu nggak hamil."
"Kita bisa buat lagi dan lagi, sampai benar-benar jadi."
"Kalau gitu kita lakukan saja sekarang."
Ratu langsung memukul lengan Justin. "Ngaco kamu. Masa iya kita melakukannya disini, di rumah sakit."
"Bukan disini tapi di tempat lain. Ayo kita ke hotel saja. Aku akan garap kamu sampai kamu hamil."
Justin dan Ratu segera mencari hotel terdekat dari rumah sakit. Keinginannya memiliki seorang anak, sangatlah besar dan Justin akan terus dan terus menggarap ladangnya Ratu, sampai benar-benar tumbuh benih cintainya.
__ADS_1