Jebakan Cinta Gadis Penari

Jebakan Cinta Gadis Penari
Perang-perangan


__ADS_3

Justin menggulingkan tubuhnya ke samping Ratu. Nafasnya masih terengah-engah, serta keringat membasahi kulit tubuhnya. Diliriknya Ratu, yang tengah mengatur nafasnya. Justin tersenyum lebar menatap wajah Ratu. Di usapnya wajah Ratu yang masih berkeringat, hatinya bahagia karena ternyata Ratu masih perawan.


"Capek ya?" Ucap Justin.


"Hmm...." Sahut Ratu, yang nafasnya masih naik turun.


"Istirahat dulu, habis itu kita mandi," ucap Justin dan di angguki oleh Ratu.


"Sini aku peluk, biar kamu cepat tidur."


Ratu menurut mendekati Justin yang langsung memeluk Ratu. Tangan Justin mengelus kulit punggungnya Ratu, hingga lama kelamaan Ratu pun tidur.


Justin tersenyum melihat wajah Ratu yang damai dalam tidurnya.


"Maaf, karena dulu aku menuduhmu sudah tidak perawan," gumam Justin, seraya mengelus pipinya Ratu.


"Kamu menang, Ra. Ternyata aku memang mencintai kamu." Lalu Justin mencium kening Ratu.


"Aku sayang kamu."


Setelah puas memandangi wajah Ratu. Justin memilih untuk mandi lebih dulu. Tiba di kamar mandi, Justin menatap pantulan dirinya di cermin. Justin tersenyum melihat sedikit noda merah yang sudah mengering di bagian senjatanya.


"Terima kasih, Ra. Kamu benar-benar menjaga kesucianmu," gumamnya, setelah itu Justin bergegas mandi.


Ratu bangun saat Justin baru keluar dari kamar mandi. Ratu tersenyum kepada Justin. Justin segera mendekati Ratu yang masih berbaring di tempat tidur.


"Mau mandi sekarang?"


"Iya," jawab Ratu, sembari mengangguk pelan.


Ratu bangun dan selimut yang menutupi tubuhnya merosot dan menampakkan tubuh bagian atas Ratu yang tidak mengenakkan apapun.


Justin yang melihat dadanya Ratu, membuat senjata laras panjangnya menggeliat bangun.


"Ra...."


"Hmm... Apa?" Sahut Ratu.


"Lihat, dia bangun lagi." Tunjuk Justin ke arah bawah perutnya.


"Jangan bilang minta nambah."


"Sekali lagi, boleh ya...." Mohon Justin.

__ADS_1


"Aahh...! Punyaku masih sakit." Rengek Ratu.


"Pelan-pelan deh," bujuk Justin. " Please...."


Ratu yang melihat Justin memohon, dengan berat hati Ratu menganggukkan kepalanya.


Senyum Justin langsung terbit dan Justin membuka handuknya yang melingkar di pinggangnya. Justin melempar handuknya ke sembarang arah.


Justin segera tancap gas dan memulai permainan panasnya yang akan membakar gairah bercintanya. Bahkan Justin melakukannya bukan hanya di tempat tidur saja, tapi juga saat mandi bersama. Justin benar-benar sudah ketagihan dengan seluruh tubuhnya Ratu.


***


Mama Risti yang baru saja pulang dari acara arisan bersama teman sosialitanya. Mencari keberadaan Ratu di kamar yang ditempati oleh Ratu.


"Ratu...."


Ratu tak terlihat di kamarnya, maupun di kamar mandi. " Apa Ratu belum pulang."


Mama Risti lalu keluar dan melangkah ke arah dapur dan bertanya kepada Mba Tuti, yang saat ini tengah memasak untuk makan malam.


"Tuti, Ratu sudah pulang belum?"


"Sudah, Nyonya. Tadi sih sama Tuan Ajas."


"Kalau tidak salah, tadi Tuan Ajas membawa Non Ratu ke kamarnya. Nyonya tahu, Non Ratu di panggul oleh Tuan Ajas ke kamarnya."


"Serius kamu, Tuti!"


Tuti pun mengangguk. Mama Risti langsung berpikiran hal buruk, apalagi tadi pagi Mama Risti melihat acara infotainment di televisi. Memberitakan tentang salah satu artis yang di KDRT oleh suaminya.


Cepat-cepat, Mama Risti menuju kamar Justin. Berbagai pikiran buruk merasuk ke dalam otaknya.


Tok tok tok


"Ratu...!" Teriak Mama Risti, sembari mengetuk pintu.


"Justin! Buka pintunya!"


Yang tadinya sebuah ketukan, kini berubah menjadi gedoran. Mama Risti semakin khawatir kepada Ratu, takut kalau Ratu benar-benar di apa-apain oleh Justin.


Lama Mama Risti mengetuk pintu dan akhirnya pintu dibuka oleh Justin. Mama Risti menatap geram kepada Justin.


"Mana Ratu! Kamu apain Ratu!" Cecar Mama Risti.

__ADS_1


"Rat--," ucapan Justin terpotong karena Mama Risti menerobos masuk ke dalam kamar.


Mama Risti terperangah melihat pakaian Justin dan Ratu berceceran dimana-mana, apalagi melihat tempat tidur yang sangat berantakan seperti terkena badai besar.


"Kamu dan Ratu habis ngapain?"


"Aku dan Ratu habis... Perang-perangan," jawab Justin sedikit kikuk.


Mama Risti mengernyitkan dahinya." Maksudnya perang-perangan gimana?"


"Itu... pokoknya main perang-perangan."


Ratu yang baru selesai mandi sedikit terkejut melihat Mama Risti ada di sini. Mama Risti yang melihat Ratu selesai mandi, apalagi melihat rambutnya yang basah langsung mengerti dengan perkataan Justin.


Mama Risti segera memeluk Ratu dengan perasaan bahagia.


"Kamu berhasil menaklukkan senjatanya Ajas?" Bisik Mama Risti.


Ratu langsung tersipu malu, lalu Ratu menganggukkan kepalanya. Dengan perasaan bahagia, Mama Risti meninggalkan Justin dan Ratu. Mama Risti berharap, semoga keinginannya memiliki cucu segera terkabul.


Setelah Mama Risti keluar, Justin menghampiri Ratu. " Apa itunya masih sakit?" Tanya Justin.


Ratu mengangguk dan memang bagian intimnya masih sakit. Bayangkan saja, Justin melakukannya sampai beberapa kali. Bahkan badannya Ratu terasa remuk.


Justin mengangkat tubuh Ratu dan membawanya ke tepi ranjang untuk di dudukan.


"Biar aku yang ambil pakaian kamu," ucap Justin.


Karena pakaian Ratu tidak ada di kamarnya, jadi Justin mengambil pakaiannya di kamar Ratu. Setelah menunggu beberapa menit, Justin datang membawa pakaian untuk Ratu.


"Biar aku bantu pakaikan bajunya."


Justin membuka bathrobe yang di kenakan Ratu. Justin berusaha menahan diri agar tidak tergoda dengan kemolekan tubuh Ratu lagi. Dengan penuh kasih sayang, Justin mengenakan pakaian kepada Ratu.


"Huft...." Justin membuang nafasnya, setelah selesai membantu Ratu mengenakan pakaiannya.


"Kenapa?" Tanya Ratu, yang heran melihat Justin membuang nafasnya.


"Nggak kenapa-napa."


"Kamu mau makan," tawar Justin dan Ratu menggelengkan kepalanya.


"Nggak, aku mau mengistirahatkan tubuhku. Badanku terasa remuk."

__ADS_1


Ratu segera berbaring, begitupun juga dengan Justin. Justin langsung memeluk tubuh Ratu dan rasanya ingin selalu dekat dengan Ratu.


__ADS_2