Jebakan Cinta Gadis Penari

Jebakan Cinta Gadis Penari
Kemarahan Pak Toni


__ADS_3

Sebuah panggilan masuk ke handphonenya Ratu. Ratu meraba-raba handphonenya di atas nakas dengan mata masih terpejam karena kelelahan melayani Justin.


Tanpa melihat layar handphone, Ratu langsung mengangkat telponnya.


"Halo...." jawab Ratu dengan suara seraknya.


"Ratu, ini aku Pak Bambang. Aku sudah merebut kembali harta peninggalan papa kamu, tapi aku baru bisa merebut harta kamu separuhnya." Ujar Pak Bambang.


"Bagus. Kalau bisa kembalikan seluruh harta peninggalan papaku dari Om Toni."


"Kamu tenang saja, aku pelan-pelan merebut harta kamu. Aku juga punya informasi penting, perusahaan Uniselver tengah mengalami pailit."


"Kok, bisa! Bagaimana bisa perusahaan Uniselver mengalami pailit!" Ratu langsung mendudukkan dirinya, karena terkejut mendengar informasi tentang perusahaannya.


"Aku nggak tahu apa penyebabnya. Sekarang kamu bisa lepaskan putriku."


"Aku akan melepaskan putrimu, jika Om benar-benar tidak membohongi ku."


"Aku kan sudah bilang, aku akan kembali merebut harta kamu dengan pelan-pelan."


"Baiklah, aku akan melepaskannya," jawab Ratu seraya mematikan sambungan teleponnya.


"Siapa?" Tanya Justin.


"Om Bambang. Dia mengabariku kalau dia sudah merebut kembali harta peninggalan papaku, walau baru separuhnya."


"Bagus kalau begitu." Lalu Justin merangkak naik ke atas tubuh Ratu. "Ayo, kita buat anak lagi," sambung Justin, yang langsung mencium bibir ranum Ratu.


Meski lelah karena efek bercinta sebelumnya yang begitu bergelora, Ratu tetap melayani keinginan Justin dan tidak bisa menolaknya.

__ADS_1


Setelah puas menciumi Ratu, Justin meminta Ratu untuk berdiri. Ratu membelakangi Justin dan Justin melanjutkan ciumannya ke pundak dan ke tengkuk, sedangkan tangannya meremas gunung kembar.


Ratu men desah dan rasanya lututnya terasa tak bertulang ketika Justin mencium leher nya. Satu tangan Justin mengelus bagian bawah perut Ratu untuk di rayu.


"Jas...." Desah Ratu, yang sudah terangsang dengan permainan panasnya Justin.


Setelah itu Justin meminta Ratu membungkukkan tubuhnya dan kedua tangannya memegangi pinggiran meja nakas. Justin langsung mengarahkan senjata laras panjangnya memasuki tubuh Ratu dan Justin langsung menggoyangkan pinggulnya dengan tempo normal.


Racauan mesra terus keluar dari mulut Ratu dan hal itu membuat Justin semakin bersemangat untuk menambah kecepatan tempo permainannya yang semakin memanas.


Permainan panasnya Justin, membuat Ratu kembali meledakkan kli maksnya, sampai-sampai seluruh tulang kakinya terasa lemas. Sedangkan Justin belum puas dan terus mengajak Ratu sampai puncak tertinggi dalam bercinta.


Setelah puas bermain sambil berdiri, Justin dan Ratu berpindah tempat ke atas ranjang. Kali ini dengan gaya bercintanya kucing. Justin benar-benar ingin memuaskan dahaga cintanya kepada Ratu dan terus-menerus memperdalam senjatanya sampai menyentuh dinding rahimnya Ratu.


"Jas... Aku... Mau kel... Uh...." Dan Justin semakin mempercepat gerakan pinggulnya. Semakin dalam dan cepat, sampai terus menabrak dinding rahimnya Ratu. Racauan Ratu semakin tak terkendali, apalagi saat Ratu dan Justin kini melepaskan lagi benih-benih cintainya.


***


"Sial...!! Brengsek!!" Sambil menendang kursi kerjanya.


"Awas kamu Bambang, akan aku rebut lagi hartaku!" Geram Pak Toni dengan mata yang menyala-nyala membakar emosinya.


Tante Rina yang tengah berjalan melewati ruang kerja suaminya, langsung tersentak mendengar barang-barang yang berjatuhan. Cepat-cepat Tante Rina masuk ke ruang kerja suaminya dan betapa terkejutnya melihat ruang kerja suaminya berantakan seperti kapal pecah.


"Pa! Kenapa papa menghancurkan ini semua?!" Ucap Tante Rina, yang terlihat bingung.


"Mama tahu! Separuh harta kita di rampas oleh si Bambang sialan itu!" Salaknya penuh emosi.


"Apa?! Kok bisa sih, pa!"

__ADS_1


"Aku nggak tahu! Sekarang kita harus bagaimana? Apalagi keadaan perusahaan kita tengah pailit dan para investor semuanya pada pergi."


"Papa sih nggak becus ngurus perusahaan!" Tante Rina justru menyalahkan suaminya dan hal itu membuat suaminya semakin berang.


"Kalau ngomong jangan asal kamu. Harusnya kamu tuh bantu aku cari solusi! Bukan malah asyik-asyikkan belanja ini dan itu. Mama itu terlalu boros!" Hardik Pak Toni, yang kesal dengan istrinya yang selalu foya-foya.


"Namanya juga perempuan, pastilah hobinya belanja beda sama suami kerjanya ya cari duit," balas Tante Rina yang tak mau kalah.


Pak Toni menatap kesal wajah istrinya. Ia sudah pusing memikirkan perusahaannya di tambah lagi permasalahan dengan Pak Bambang, sekarang di pusingkan oleh istrinya sendiri.


"Lebih baik mama pergi dari sini!" Usir Pak Toni kepada istrinya.


Tante Rina pun pergi dari ruangannya dengan wajah sama kesalnya.


'Bagaimana bisa aku kecolongan oleh si Bambang sialan itu! Rupanya si Bambang sengaja memanfaatkan aku untuk menggaruk hartaku. Berpura-pura baik, tapi ternyata dia licik. Argh... Brengsek!! Awas kamu Bambang! Akan aku bunuh kamu seperti adik tersayang ku."


***


Justin dan Ratu segera bertemu dengan Pak Bambang di tempat yang sudah di janjikan. Saat sudah sampai di sana ternyata Pak Bambang sudah datang lebih dulu.


Pak Bambang melemparkan map coklat yang berisi surat-surat penting seperti sertifikat ke atas meja. Ratu mengambil map tersebut dan melihat isinya, memastikan apa benar surat tersebut asli atau palsu.


Aku sudah mengerjakan separuh tugasku dan sekarang lepaskan putriku. Untuk sisanya akan menyusul," ucap Pak Bambang.


"Oke. Aku sudah menyuruh Zivan mengantarkan Sita ke rumah Om dan aku pastikan Sita dalam baik-baik saja. Tapi ingat, Om harus mengembalikan semuanya kepadaku jika tidak... Anak dan istri Om taruhannya."


"Kamu tenang saja, aku akan mengembalikan semuanya sama kamu."


"Bagus."

__ADS_1


Setelah itu Pak Bambang langsung meninggalkan Ratu dan Justin. Ratu tersenyum samar, karena teringat Pak Toni yang pastinya akan marah karena separuh harta yang di rebutnya.


Pelan-pelan Om akan jatuh miskin lagi atau lebih miskin dan sengsara.


__ADS_2