Jebakan Cinta Gadis Penari

Jebakan Cinta Gadis Penari
Mengeksekusi Ratu


__ADS_3

Justin tengah tersenyum senang, karena perusahaan Uniselver hampir diambang kebangkrutan dan Pak Toni tidak bisa memenuhi janjinya.


Tinggal satu langkah lagi, dirinya melengserkan jabatan Pak Toni di perusahaan Uniselver.


"Permisi, Tuan. Di luar ada Pak Toni," lapor sekretaris Mala.


"Suruh dia masuk."


"Baik Tuan." Sekretaris Mala bergegas keluar dan tidak lama, Pak Toni masuk.


Justin menatap lekat wajah Pak Toni, yang hari itu wajah Pak Toni terlihat kusut.


"Pak Justin, tolong beri saya waktu. Saya janji akan--"


Justin mengangkat satu tangannya, menghentikan ucapan Pak Toni. Kemudian Justin berdiri dan duduk di tepi meja, menghadap Pak Toni.


"Saya sudah memberikan anda waktu dari perjanjian yang sudah kita sepakati, tapi ternyata sampai sekarang tidak ada kemajuan dan perusahaan saya merugi. Sesuai dengan perjanjian kita di awal, maka perusahaan Uniselver sudah beralih ke tanganku. Jadi mulai sekarang anda saya pecat dari perusahaan Uniselver," ucap Justin, yang berhasil membuat Pak Toni syok.


Wajah Pak Toni semakin pucat mendengar perkataan Justin. Pak Toni semakin gusar, harus melepaskan perusahaannya yang ia dapatkan dengan susah payah. Lalu bagaimana dengan kehidupannya ke depan, kalau semua yang di raihnya sebentar lagi akan hilang dalam genggamannya.


"Apa tidak ada kesempatan lagi buat saya?" Pak Toni mengiba. Biarlah dirinya merendahkan harga dirinya, demi mempertahankan perusahaannya.


Justin menggoyangkan telunjuknya. "Tidak bisa."


" Saya mohon, pak Justin." Kali ini Pak Toni berlutut, mengemis agar Justin memberinya kesempatan lagi.


Justin tersenyum miring melihat Pak Toni mengemis dan rasanya Justin ingin sekali menendangnya.


"Maaf, saya tidak bisa memberikan kesempatan kedua buat anda. Silahkan anda pergi dari sini," usir Justin sambil menunjuk pintu keluar.


"Tapi, pak...." pak Toni benar-benar memelas belas kasih, tapi Justin tetap memintanya untuk pergi dari hadapannya dan memang sudah sepatutnya Pak Toni mendapatkan ganjaran atas apa yang sudah diperbuatnya terhadap Ratu.


Dengan perasaan sedih, Pak Toni meninggalkan Justin dengan langkah gontai. Hidupnya kini diambang kemiskinan.

__ADS_1


Justin tertawa senang, karena berhasil merebut perusahaan Uniselver dan sekarang perusahaan tersebut sudah berada di tangannya.


"Lebih baik aku rayakan kemenangan ini bersama Ratu di atas ranjang. Pasti sangat menyenangkan," ucapnya pada diri sendiri, lalu Justin segera menemui Hadi.


"Hadi, semua urusan pekerjaanku aku limpahkan kepada kamu." Kata Justin, yang berdiri di bawah pintu.


"Tapi, Tuan... Nanti jam dua siang ada pertemuan dengan klien dari Bali."


"Kamu saja yang urus. Ada hal penting yang harus aku kerjakan bersama istriku," kata Justin yang tidak peduli dengan protesnya Hadi.


"Maaf, Tuan. Untuk urusan yang satu ini tidak bisa diwakilkan, sekali lagi saya minta maaf."


"Ck... Kenapa sih, kamu selalu membantah. Kamu tinggal beri alasan apa gitu," sungut Justin.


"Ini demi kemajuan perusahaan kita, Tuan."


Justin mendengus kesal dan rencananya untuk memadu kasih dengan Ratu gagal gara-gara Hadi.


Berkali-kali Justin melirik jam di pergelangan tangannya, ia sudah sangat merindukan Ratu. Akan tetapi meeting bersama dengan Pak Deri masih lama.


Justin mendesah samar dan rasanya ia ingin kabur dari tempat ini dan langsung menubruk tubuh Ratu yang sudah menjadi candunya.


Hampir dua jam meeting berlangsung dan kini meeting pun selesai. Justin akhirnya bisa terbebas dari pekerjaan yang sejak tadi membelenggunya.


"Di, kamu beresin ini semua. Aku mau langsung pulang," kata Justin, sembari merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.


"Jangan pulang dulu, Tuan. Habis dari sini kita langsung meninjau lokasi proyek yang sedang dibangun."


"Hadi...! Bisa nggak sih, soal itu nanti lagi. Kayak nggak ada hari esok!" Geram Justin. Apa Hadi tidak tahu kalau dirinya sangat merindukan Ratu? Sungguh sangat menyebalkan si jomblo yang satu ini. Pikir Justin.


"Tapi, Tuan---"


"Tidak ada tapi-tapian!" Bentak Justin.

__ADS_1


"Baiklah...." Akhirnya Hadi memilih mengalah.


Justin langsung meninggalkan Hadi begitu saja dan segera pulang menemui istri tercintanya. Tiba di rumah, Justin langsung mendapatkan kejutan yang tak terduka, yaitu Zivan tengah berbicara dengan Ratu.


Justin segera mendekatinya dan langsung menarik kerah baju Zivan.


"Berani-beraninya kamu datang menemui istriku!" Kesal Justin, yang langsung di tahan oleh Ratu.


"Ajas, kamu jangan kasar-kasar sama Zivan. Aku yang meminta Zivan datang kesini." Ratu menjelaskannya, agar Justin tidak ribut dengan Zivan.


"Aku kan pernah bilang sama kamu, jangan bertemu dengan lelaki dekil ini tanpa aku!" jawab Justin penuh dengan kekesalan.


"Ra, lebih baik aku pergi, deh. Urus tuh suamimu." Zivan segera berlari meninggalkan Justin yang sedang ngamuk.


"Hey! Jangan pergi kamu?" Justin yang melihat Zivan pergi segera mengejarnya, tapi Ratu menahan tangan Justin agar tidak mengejar Zivan.


"Biarkan dia pergi." Kata Ratu, lalu Ratu menarik tangan Justin untuk masuk ke rumah.


Justin yang sedang tarik oleh Ratu, langsung menahan langkahnya agar Ratu tidak menariknya, kemudian Justin memanggul tubuh Ratu dan membawanya ke kamar.


"Justin, turunin aku!" Pekik Ratu, sembari memukul punggung Justin.


"Diam!" Seraya memukul bokong Ratu.


"Justin...!" Dan sekali lagi Justin memukul bokong Ratu.


Tiba di kamar, tubuh Ratu langsung dilemparkan ke atas ranjang, kemudian Justin melepaskan jasnya juga dasinya.


"Kamu mau ngapain?"


"Aku mau menghukum kamu, karena kamu diam-diam bertemu dengan Zivan dibelakang aku."


Setelah selesai melepaskan seluruh pakaiannya, kini Justin langsung menindih tubuh Ratu dan mencium bibir ranum Ratu. Tangannya Justin langsung melepaskan kemeja yang dikenakan Ratu secara kasar, membuat kancing-kancingnya berhamburan dan Justin pun mengeksekusi Ratu di atas ranjang dengan peluh yang membanjiri tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2