Jebakan Cinta Gadis Penari

Jebakan Cinta Gadis Penari
Membuka tutup segel


__ADS_3

Ratu terkesiap ketika bibirnya Justin berlabuh di bibirnya. Ratu tak menyangka kalau Justin akan lebih dulu menyerangnya dan ini benar-benar di luar dugaannya.


Justin terus mengulum bibirnya Ratu. Hatinya benar-benar sangat jengkel karena Ratu tak mematuhi larangannya dan memilih pergi menemui Zivan.


Ratu memejamkan matanya, karena mulai menikmati pangutan Justin yang melenakan. Kedua tangan Ratu langsung melingkar di leher Justin, sedangkan tangan Justin menelusup masuk ke balik bajunya Ratu. Justin mengusap punggung mulus Ratu dan Ratu semakin memperdalam ciumannya.


Ciuman Justin bergeser ke pipi, ke rahang, lalu ke dagunya Ratu dan berhenti di ceruk leher Ratu yang mulus. Ciuman Justin menyapu kulit leher Ratu dan satu tanda merah mewarnai leher mulus Ratu.


"Jas...." Ratu mend esah, saat Justin terus merayu kulit lehernya. Yang bisa Ratu lakukan hanya mere mas rambut Justin sembari memejamkan matanya karena terlena dengan kecupan-kecupan Justin.


Saat berkonsentrasi menikmati ciuman dari Justin, tiba-tiba handphonenya berdering nyaring. Ratu membuka matanya dan mencoba meraih tasnya yang tergeletak tidak jauh darinya.


Ratu mengambil handphonenya dari dalam tasnya dan melihat siapa yang menelponnya.


"Zivan," gumam Ratu, sembari merem melek karena kecupan Justin di lehernya.


Justin menghentikan ciumannya dan merebut handphone Ratu. Justin menekan tombol hijau dengan kesal.


"Halo! Kamu jangan telpon Ratu lagi dan jangan deketin Ratu lagi, karena Ratu sudah punya suami. Satu lagi jangan harap Ratu bisa balikan sama kamu. Ngerti kamu! Jangan hubungi Ratu. Kalau kamu masih terus mengganggu Ratu, aku akan cekik leher kamu sampai tulang leher kamu hancur!" ucap Justin penuh emosi.


Setelah itu Justin mematikan telponnya, sekaligus menonaktifkan handphonenya.


Ratu tercengang mendengar rentetan kalimat yang di lontarkan Justin kepada Zivan. Ratu yakin, Zivan pasti bakal bingung dengan perkataan Justin.


Justin membuka laci nakas dan menyimpan handphone Ratu di sana, setelah itu lacinya di kunci.


"Mulai sekarang kamu tidak boleh menerima telpon dari dia, tidak boleh menemuinya, dan tidak boleh berhubungan dengan dia. Paham kamu!"


"Aku nggak bisa. Aku sama dia itu sudah terlanju... Hmmpt...." Mulut Ratu langsung di bungkam oleh bibir Justin.


Justin tidak akan membiarkan Ratu berhubungan dengan mantan sialan nya itu. Apapun akan Justin lakukan demi kebaikan hatinya yang tidak mau terbakar rasa cemburu.


Justin mendorong kembali tubuh Ratu ke atas ranjang yang empuk. Kali ini Justin tidak akan melepaskan Ratu. Justin mencium bibir Ratu sedikit liar dan Ratu mulai kewalahan dengan serangan Justin.


Setelah puasa dengan bibirnya Ratu, Justin langsung membuka baju yang dikenakan Ratu dan membuangnya ke lantai. Justin mencondongkan tubuhnya untuk kembali mencecap kulit halus nan mulus itu.

__ADS_1


"Tunggu." Ratu menahan dada bidang Justin.


"Kenapa?"


Ratu bangun dari tempat tidur dan berdiri di sisi ranjang. Ratu memutarkan tubuhnya membelakangi Justin yang menatapnya bingung.


Kedua tangan Ratu membuka pengait bra dan menurunkan tali bra-nya dari tubuhnya. Kemudian Ratu membalikkan lagi tubuhnya menghadap Justin.


Justin terkesiap melihat dua gunung kembar milik Ratu, bahkan Justin sampai menelan Salivanya. Ratu membuka kancing celana jeans-nya dan menurunkan sleting. Setelah itu, Ratu membuka celana jeans-nya.


Dengan perlahan Ratu, mendekati Justin dan menekukkan satu lututnya di atas ranjang. Tangan Justin memegang pinggang Ratu dan dua gunung kembar itu terpampang jelas di depan matanya.


"Apa kamu akan memberikan benih unggulanmu?" Bisik Ratu.


"Iya. Aku akan memberikannya dengan senang hati, asalkan kamu jangan berhubungan lagi dengan mantan pacarmu itu."


"Jika aku memilih berteman dengannya, bagaimana?"


"Tidak ada kata teman. Aku tidak mengizinkan kamu dekat dengannya, apapun alasannya."


"Katakan dulu. Apa kamu sudah mulai mencintaiku?"


Justin menganggukkan kepalanya.


"Kalau gitu, biar aku yang merenggut keperjakaanmu," lanjut Ratu, berbisik di telinganya.


Kemudian Ratu membuka bajunya Justin, lalu lanjut dengan menyatukan bibirnya yang di sambut hangat oleh Justin.


Tangan Justin bergerak ke salah satu gunung kembar milik Ratu. Mencoba untuk merayunya dengan lembut nan mesra. Lama saling memangut, Ratu merubuhkan tubuh Justin dan kedua tangannya bergerak membuka celana Justin.


Tangan Ratu meraih senjata laras panjangnya Justin untuk di urut dengan manja oleh jemarinya. Ratu memanjakan senjata itu dengan mesra dan hangat.


Berkali-kali Justin men desah, saat Ratu melabuhkan wajahnya di bawah perutnya.


"Ra... Tu...." desah Justin.

__ADS_1


Puas dengan yang di bawah, Ratu merangkak naik ke atas dada bidang Justin sembari mengecupnya lembut. Ratu benar-benar membuat Justin bergelinjang tak berdaya.


Kecupan-kecupan mesra Ratu terus menyapu kulit tubuh Justin dan hal itu sudah sangat berhasil menaikkan libidonya Justin.


"Apa kamu sudah siap untuk memiliki SIM dariku?"


"Maksud kamu surat izin mengemudi?" Sahut Justin.


Ratu tertawa kecil, sembari menggelengkan kepalanya. " Surat izin masuk untuk senjata laras panjang mu."


Justin mengangguk cepat dan memang dirinya sudah tidak bisa menahan diri lagi untuk memasuki bagian tubuh Ratu.


"Aku akan merenggut keperjakaanmu," ucap Ratu, yang sudah siap di tempatnya.


Ratu menggigit bibir bawahnya, saat Ratu mulai memperjakai Justin. Jantungnya Ratu berdegup kencang, karena dirinya juga merasakan rasa sakit dan perih.


"Ra...." Justin menatap Ratu, yang menahan rasa sakit. Lalu pandangannya turun ke area terlarang dan betapa terkejutnya Justin melihat bagian intinya Ratu mengeluarkan bercak merah yang mengalir dari sana.


"Ra... Kamu masih perawan?"


Ratu mengangguk sambil menahan rasa sakit dan perih. Justin tertegun dan tidak menyangka kalau Ratu itu masih perawan. Dia pikir Ratu sudah tak ting-ting lagi, tapi ternyata Ratu masih tersegel.


"Kalau gitu, biar aku yang mengendalikannya," ucap Justin dan di angguki oleh Ratu.


Kini Justin lah yang memulai buka segel antara dirinya dan Ratu. Meski sama-sama sakit, Justin terus berusaha melepaskan segelnya masing-masing. Tidak peduli bercak merah membasahinya, yang terpenting tujuannya berhasil membuka tutup segelnya.


Pada akhirnya, Justin berhasil membuka tutup segel milik Ratu dan mulai memainkannya dengan lembut.


Yang awalnya sakit dan perih, kini berganti dengan rasa yang tidak bisa di jabarkan dengan kata-kata. Justin dan Ratu sama-sama terlena dalam buaian api asmara yang membakar gai rah bercinta.


Keduanya terbang, menikmati rasa yang pertama kali di rasakannya dan tidak ingin kembali menjejakkan diri ke bawah. Justin dan Ratu terus meraih kenikmatan yang sangat luar biasa dahsyatnya, bahkan keduanya sampai lupa arah karena saking indahnya cinta yang tengah di raih bersama-sama.


"Jas... Aku mau...."


"Barengan, Ra...." Sahut Justin.

__ADS_1


Kini Justin dan Ratu sama-sama meledakkan benihnya masing-masing, terutama Justin yang langsung menyirami ladang milik Ratu dengan benih unggulannya, yang selalu di bangga-banggakannya.


__ADS_2