Jebakan Cinta Gadis Penari

Jebakan Cinta Gadis Penari
Posesif


__ADS_3

Beberapa hari pun berlalu, hubungan Justin dan Ratu semakin dekat. Bahkan Justin semakin menunjukkan sikap posesifnya dan hal itu membuat Ratu jengah dengan sikap Justin yang menurutnya berlebihan. Bagaimana tidak kesal, setiap mau keluar Justin pasti menyuruh seseorang untuk mengikutinya dan Ratu harus menelponnya satu jam sekali untuk melaporkan apa saja yang dilakukan oleh Ratu.


"Kamu mau kemana?" Tanya Justin, melihat Ratu tengah menyisir rambutnya.


"Aku mau ketemu teman."


"Siapa? Laki-laki atau perempuan?" Justin langsung mengeluarkan sikap posesifnya.


"Laki-laki," jujur Ratu.


"Laki-laki? Kamu mau selingkuh dari aku."


"Nggak, Jas. Aku tuh ada urusan sama temanku."


"Aku nggak izinin kamu pergi."


"Aku harus pergi. Ini sangat penting bagiku," ucap Ratu sembari memasang puppy eyes.


Justin menghela nafasnya dan jika Ratu sudah masang wajah seperti itu, Justin menurutinya. "Kalau gitu aku ikut."


Justin harus ikut, apalagi yang di ditemuinya adalah lelaki. Justin tidak mau kalau Ratu di ambil lelaki lain, maka dari itu Justin harus selalu ada di samping Ratu, apalagi kalau berurusan dengan laki-laki.


Justin dan Ratu segera pergi dan menemui temannya. Tiba di sana, Justin menautkan kedua alisnya saat melihat sebuah bangunan tua di depannya.


"Ngapain kita kesini?" Tanya Justin yang merasa bingung.


"Nanti juga kamu akan tahu. Ayo kita masuk."


Ratu dan Justin masuk ke dalam bangunan tua itu. Justin terus menatap sekeliling dalam bangunan.


"Akhirnya kamu datang juga," kata Zivan.


"Apa dia temanmu, Ra?" Tunjuk Justin kepada Zivan.


"Iya...." Jawab Ratu.


Justin menatap lekat wajah Zivan, yang menurutnya jelek dan dekil. Sangat jauh berbeda dengannya yang tampan nan gagah. Justin juga harus memastikan kalau lelaki di hadapannya itu tidak menyukai Ratu.


"Kamu datang sama siapa?" Tanya Zivan, karena Ratu biasanya selalu datang sendirian.


"Kenalin, dia Justin. Suamiku," ucap Ratu memperkenalkan Justin.


"Oh... Jadi dia yang tempo hari menuduhku suka sama kamu," ujar Zivan sembari tertawa kecil. Ratu hanya meringis menatap Zivan.


"Menuduh kamu? Memang kamu siapa?"

__ADS_1


"Dia... Zivan," terang Ratu.


"Apa?! Jadi orang ini adalah mantan kamu!" Justin langsung menatap kesal wajah Ratu. Sudah tahu kalau dirinya melarang Ratu menemui mantannya itu, tapi Ratu justru menemuinya.


"Kamu salah faham. Aku dan Ratu hanya teman biasa." Sanggah Zivan.


"Teman dari Hongkong! Bilang saja itu alasan kamu doang, agar kamu dengan mudahnya menemui Ratu dengan alasan berteman," tuduh Justin.


"Tapi kenyataannya aku dan Ratu itu memang berteman dan aku itu bukan mantannya Ratu," ucap Zivan, meyakinkan Justin.


"Zivan itu memang temanku. Aku sengaja berbohong sama kamu agar kamu cemburu," timpal Ratu.


Justin tetap terlihat kesal. Apapun alasannya, Justin tetap tidak suka kalau Ratu dekat dengan lelaki lain. Kemudian Ratu menggenggam tangan Justin dan memberikan tatapan lembut.


"Aku tahu kamu cemburu, tapi tolong untuk saat ini buang rasa cemburumu itu. Sebab aku akan selalu bertemu dengan Zivan, karena aku dan Zivan tengah bekerjasama untuk menjatuhkan orang-orang yang telah mengkhianati papaku."


"Maksud kamu gimana? Aku tidak mengerti." Jawab Justin.


"Nanti aku ceritakan, tapi sekarang masih ada hal penting yang harus aku dengar," ucap Ratu.


"Dimana Teguh. Apa dia sudah datang?" Lanjut Ratu bertanya kepada Zivan.


"Sudah. Teguh lagi jagain Sita di dalam."


Ratu dan Justin segera menemui Teguh. Saat masuk ke sebuah ruangan, Justin membulatkan matanya melihat seorang gadis tengah duduk terikat. Justin menoleh ke arah Ratu, untuk meminta penjelasan.


"Dia adalah anak orang yang telah mengkhianati papaku. Namanya Sita dan bapaknya bernama Bambang. Om Bambang ini ternyata orang yang membantu merebut harta peninggalan papaku. Maka dari itu aku meminta tolong kepada Zivan untuk menculik anaknya Om Bambang, agar Om Bambang mau merebut kembali harta peninggalan papaku dari Om Toni."


"Kenapa kamu tidak meminta bantuan aku. Aku pasti bakal membantu kamu merebut kembali harta peninggalan papa kamu."


"Waktu itu aku masih ragu untuk meminta bantuan kamu. Kamu tahu sendiri hubungan kita seperti apa."


"Tapi kenapa harus dia yang membantu kamu." Bagaimana pun Justin tetap tidak suka kepada Zivan, walau hubungan Ratu dan Zivan hanya sebatas teman.


"Memang hanya Zivan yang mau membantuku," jawab Ratu. "Sudahlah jangan cemburu terus, yang terpenting hati aku tetap sama kamu. Aku juga nggak akan berani macam-macam dengan lelaki lain. Aku akan macam-macam kalau sama kamu," ucap Ratu sembari mengedipkan matanya.


Ratu kemudian mendekati Teguh yang sejak tadi duduk manis di bangku panjang.


"Gimana? Apa ada perkembangan," tanya Ratu sembari duduk di sampingnya.


"Sejauh ini Pak Bambang sudah melakukan pekerjaannya dengan baik Kita tinggal tunggu saja hasilnya."


Ratu mangut-mangut mendengar perkataan Teguh.


"Semoga saja Om Bambang dengan cepat merebut kembali harta peninggalan papaku dan di saat itu juga aku akan menghancurkan Om Toni."

__ADS_1


Justin termangu menatap wajah Ratu dan berpikir bagaimana kalau Ratu tahu soal siapa yang telah membunuh kedua orang tuanya.


Justin harus membantu Ratu untuk segera menjebloskan Pak Toni ke penjara. Justin tidak mau kalau Ratu melakukan hal lebih nekad dari ini.


***


Setelah pertemuannya dengan Zivan dan Teguh. Justin mengajak Ratu ke butik langganan Mama Risti.


Kedatangannya di sambut ramah sama pemilik butik tersebut. Dengan senyum ramahnya, Justin dan Ratu di ajak ke deretan koleksi pakaian terbaru.


"Kamu pilih saja yang kamu suka," ucap Justin.


"Beneran?"


Justin mengangguk dan dengan senang hati Ratu memilih pakaian yang disukainya. Saat tengah asik memilih, Ratu mencoba bertanya soal pakaian yang lain.


Ratu berbisik kepada pemilik butik, menanyakan pakaian yang ingin sekali diinginkannya.


"Bagaimana, ada nggak?" Ucap Ratu.


"Oh... Pakaian itu ada. Mari ikut saya."


Ratu mengikuti pemilik butik tersebut dan menujukan pakaian yang dicari oleh Ratu. Ratu tersenyum membayangkan jika mengenakan pakaian yang sedang di pegangnya.


"Tolong bungkusin tiga-tiganya."


" Baik, Nona."


Selesai memilih, Ratu menghampiri Justin yang menunggunya.


"Sudah selesai," tanya Justin dan Ratu mengangguk.


Justin segera membayar belanjaan milik Ratu dan setelah itu mereka pulang. Sampai di rumah Ratu dan Justin segera masuk ke dalam rumah.


Kebetulan hari sudah malam, Ratu langsung membersihkan diri sembari membawa pakaian yang tadi di belinya. Sekitar tiga puluh menit, Ratu selesai mandi dan melangkah keluar menggunakan pakaian tersebut.


"Ajas...." Panggil Ratu dengan nada mendayu.


Justin tertegun melihat keelokan tubuh Ratu yang mengenakan lingerie berwarna merah dan terlihat sekali tubuh Ratu yang tidak mengenakkan pakaian da lam.


Ratu berjalan mendekati Justin yang duduk di atas ranjang. Justin segera berdiri ketika Ratu sudah dihadapannya.


"Kamu menginginkan tubuhku yang hangat ini?" Ucap Justin dan Ratu mengangguk.


"Apa kamu mendambakan sentuhan ku?" Ratu kembali mengangguk.

__ADS_1


"Kalau gitu silahkan, aku pasrahkan tubuh ini untuk kau sentuh dan kau cumbu."


Justin langsung merubuhkan tubuhnya ke atas ranjang dan terlentang dengan pasrah. Dia rela di apa-apain oleh Ratu, yang terpenting Ratu senang dengan tubuhnya yang menghangatkan ini.


__ADS_2