JENDELA

JENDELA
HARI KE EMPAT


__ADS_3

Ana yang telah ketiduran, tiba-tiba matanya terbuka lebar, melihat ke arah kanan, kiri dan depan. Ia menyadari bahwa dirinya sudah ketiduran. Ia melihat jam yang menunjukkan pukul 3 pagi.


Jantungnya berdebar kencang, dan nafasnya ngos-ngosan seperti habis berlari. Telinganya samar-samar mendengar suara. Ana ingin berteriak, tetapi tidak bisa. Suaranya tidak ada. Ia berusaha menggerakkan tangan dan kakinya, namun semuanya terasa kaku.


Ana berusaha sekuat tenaga untuk mengeluarkan suaranya, mencoba dan terus mencoba. Selagi Ana berusaha, suara itu terdengar semakin dekat. Seperti tanda bahwa Ia akan datang, suara itu selalu terdengar setiap orang itu datang. Bahkan Ana dapat merasakannya.


Sudah seperti telepati yang saling terhubung, Ana sadar bahwa itu merupakan suara langkah kaki orang itu. Ana menangis, Ia tak tahu harus apa. Suaranya yang semakin mendekat, membuat Ana semakin ketakutan. Badannya pun belum bisa digerakkan.


Sreek Sreek Sreek


Jalan yang pelan, namun menimbulkan suara yang cukup keras. Bahkan dari kejauhan pun Ana sudah dapat mendengarnya. Semakin dekat suara langkah kaki itu, semakin kencang pula jantung Ana berdetak. Seperti yang Ana duga, dia tahu dimana Ana berbaring. Tanpa bisa menghindar, kemudian byuuur…


“Ahhhhhh Ahhh Aahhh”. Teriak Ana di iringi dengan tangisan.


Setelah tersiam air, Ana baru bisa berteriak. Kemudian di ikuti badannya yang bisa bergerak. Lalu Ana lari keluar kamar. Baju bagian atas Ana basah. Kali ini Ana mencium baunya sangat menyengat.


Ana pun menghampiri mamanya. Ia membangunkan mamanya yang sedang tertidur lelap yang bahkan sampai tidak mendengar Ana berteriak.


“ Ma bangun ma. Aku disiram air lagi. Kata Ana sambil menggoyangkan badannya. Pipinya basah karena menangis.


Mama Ana pun terbangun dari tidurnya. Ia kaget melihat Ana yang menangis.


“ Kenapa Na?” Tanya Mama Ana gugup.


“ Kamu disiram lagi?” tanya Mama Ana lagi bahkan sebelum Ana menjawab pertanyaan pertama.


Ana hanya mengangguk dan menangis. Mama Ana kemudian bangun dan membuka jendela kamarnya. Ia memanggil Lik Puji tetangga sebelah Ana.


“ Lik! Lik! Orangnya datang lagi lik.” Teriak Mama Ana.


“ Lik! Lik!” teriak Mama Ana lebih kencang.


Tak lama kemudian Lik Puji keluar dari rumahnya. Kebetulan rumah Lik Puji mempunyai pintu samping, dan letaknya ada di depan kamar Mama Ana.


“ Ada apa Budhe?” Tanya Lik Puji. ( Mama Ana dipanggil Budhe karena usianya lebih tua dibandingkan dengan Lik Puji. Di desa, untuk mengajarkan anak-anak memanggil orang yang lebih tua lebih mudah, maka orangtua nya dulu yang mencontohkan.)

__ADS_1


“ Orangnya datang lagi, yang nyiram Ana.” Teriak Mama Ana.


“ Mana?” Tanya Lik Puji.


“ Udah pergi.” Jawab mama Ana.


“ Aku tak bilang ke yang lagi ronda.” Kata Lik Puji sambil bergegas menuju gardu. ( Gardu merupakan tempat yang disediakan desa untuk warga desanya untuk istirahat, biasanya digunakan untuk warga yang sedang ronda atau sekedar bersantai bersama).


“ Ati-ati ya.” Kata Istri Lik Puji.


Setelah Lik Puji pergi, istri Lik Puji lantas segera menutup pintu. Tak lupa sebelumnya Ia bilang ke mamanya Ana untuk menutup jendelanya. Mama Ana lalu menutup jendelanya dan memastikan bahwa jendelanya terkunci dengan benar.


“ Yang kena siram yang mana Na?” Tanya Mama Ana.


“ Ini Ma.” Kata Ana sambil menunjuk badan bagian atasnya yang basah karena siraman air tersebut.


“ Ganti baju terus jangan lupa cuci muka ya.” Pinta Mama Ana.


“ Iya ma.” Jawab Ana lalu pergi menuju kamar mandi.


Tangannya menyibak horden jendela ruang tamu, matanya melihat ke arah kanan dan kiri. Kakinya dihentak-hentak tanda bahwa Mama Ana merasa gugup.


Ana baru keluar dari kamar mandi. Bajunya sudah diganti, dan Ana juga berwudhu. Ia berniat untuk sholat tahajud. Berharap hatinya akan lebih tenang setelah melaksanakan sholat. Namun Ana mencari mamanya terlebih dulu. Ia tidak menemukan mamanya di ruang TV dan kamar mamanya.


“ Ma, kamu dimana?” teriak Ana.


Kemudian Ana membuka pintu kamar Mba Arin, berharap Ia akan menemukan mamanya disitu. Namun, disitu hanya terlihat Mba Arin yang sedang tertidur lelap.


“ Ada orang teriak-teriak daritadi juga ga bangun. Dasar kebo.” Gumam Ana.


Kemudian Ia berjalan menuju ruang tamu, disitu Ia melihat mamanya sedang berdiri di depan jendela, seperti sedang menunggu seseorang.


“ Lagi nungguin siapa Ma?” Tanya Ana.


“ Lagi nungguin Lik Puji. Kamu mau tidur lagi?” Tanya Mama Ana.

__ADS_1


“ Engga ma, aku mau sholat tahajud dulu.” Jawab Ana.


“ Ya dah sana sholat dulu, minta pertolongan sama Allah. Semoga kamu aman dari ornag-orang yang berniat jahat ke kamu.” Perintah Mama Ana.


“ Iya ma. Mama masih mau disini? Mama tidur lagi aja ma.” Pinta Ana.


“ Engga papa, lagian mama juga mau sholat Isa dulu. Lupa tadi belum sholat.” Jawab Mama Ana.


“ Oh gitu, ya dah Ana sholat dulu ya.” Kata Ana sambil berjalan menuju mushola rumahnya.


Mama Ana mengangguk tanda bahwa Ia meng-iya-kan perkataan anaknya. Mama Ana masih berdiri di depan jendela dengan tangan menyilang didepan dadanya. Horden jendela ruang tamu Ia buka sedikit agar ketika Lik Puji kembali Ia bisa melihatnya.



Tiga puluh menit berlalu, Mama Ana masih menunggu di jendela ruang tamu. Bahkan kepalanya sampai terkantuk-kantuk tanda bahwa Ia masih mengantuk. Ana yang melihat mamanya masih berdiri di ruang tamu, merasa tak tega. Ia pun menghampiri mamanya.


“ Ma.” Panggil Ana sambil menyentuh lengan mamanya.


“ Tidur lagi yuk.” Ajak Ana.


Mama Ana yang setengah tertidur lalu mengangguk tanda Ia meng-iya-kan permintaan putrinya.


“ Kita tidur di depan TV aja yuk.” Ajak Mama Ana.


“ Ok.” Jawab Ana.


Mereka pun menuju ruang TV, kemudian Ana menggelar kasur untuk mereka tidur. Mama Ana mengambil bantal dan selimut di kamarnya. Meski sebenarnya Ia masih ingin menunggu kabar dari Lik Puji, namun Ia tidak tega untuk menolak ajakan Ana.


Mama Ana dan Ana kemudian berdoa bersama. Mereka membaca doa sebelum tidur, tak lupa mama Ana juga membaca ayat kursi. Tak lama kemudian Mama Ana tertidur. Melihat mamanya yang sudah tidur, Ana pun berusaha untuk memejamkan matanya. Berharap Ia bisa tidur kembali.


Jam sudah menunjukkan pukul empat pagi. Ana masih belum tidur juga. Meski Ia berusaha untuk tidur, nyatanya itu bukanlah hal yang mudah. Ana melihat mamanya yang sedang tertidur pulas. Ia merasa tak enak hati kepada mamanya, gara-gara hal ini tubuhnya yang sudah rentan harus tidur di lantai dengan kasur yang tipis.


Ketika Ana sedang larut dalam pikirannya, tiba-tiba.


“ Budhe. Budhe! Teriak Lik Puji.

__ADS_1


Mendengar suara Lik Puji yang memanggilnya, Mama Ana bergegas keluar rumah untuk menemuinya. Melihat mamanya yang lari keluar rumah, Ana hanya terdiam. Ia berfikir, haruskah Ia ikut mamanya untuk menemui Lik Puji, atau sebaiknya Ia duduk menunggu di ruang TV menunggu kabar dari mamanya.


__ADS_2