JENDELA

JENDELA
KEBENARAN RUMAH ANA


__ADS_3

Ana menoleh ke arah samping, dan ternyata tidak ada apa-apa. Saat Ia masih ketakutan dengan yang terjadi, terdengar suara motor berhenti di depan rumahnya. Tanpa ragu Ana langsung menuju ke jendela ruang tamu untuk melihat siapa yang datang.


Ketika Ana melihat ke jendela, ada mamanya yang sedang menurunkan belanjaannya. Ana merasa sangat lega. Ia mengambil kunci pintu disamping pintu rumahnya, kemudian langsung membukakan pintu untuk mamanya.


Saat Ana membuka pintu, mamanya terlihat kaget.


" Loh kamu bangun Na?" Tanya Mama Ana sembari masuk ke dalam rumah membawa belanjaannya.


" Iya ma." Jawab Ana dengan suara yang gemetar.


" Mama minta tolong bawain sisa belanjaan yang di motor ya." Pinta Mama Ana.


" Iya Ma." Jawab Ana segera keluar dari rumah dan mengambil belanjaan yang ada di motor mamanya.


" Taro di atas meja ya tasnya. Di dalem juga ada satemu itu." Kata Mama Ana.


" Minta tolong keluarin belanjaannya dari tas ya. Daging-dagingan taro kulkas ya Na. Mama mau masukin motor dulu." Tambah Mama Ana.


" Iya Ma." Jawab Ana sambil mengangguk.


Ia kemudian mengeluarkan satu-satu belanjaan mamanya dari tas. Mulai dari sayur-sayuran, bumbu dapur, dan juga sate kesukaannya. Ana lega mamanya sudah pulang, dikarenakan Ia tidak mau lagi berada dirumah sendirian.


Saat mamanya masuk setelah memasukkan motor, Ana menarik tangan mamanya dan memintanya untuk duduk di kursi ruang TV.


" Kenapa Na?" Tanya Mama Ana sambil duduk.


" Ma, tadi aku denger suara-suara di dapur, tapi pas aku cek, ga ada apa-apa Ma. Terus dari semalem, aku ngerasa kaya ada orang lain yang ngawasin aku Ma." Terang Ana terburu-buru menjelaskan keadaan yang menimpanya saat Ia sendirian.

__ADS_1


Mama Ana menghela nafas panjang, mencoba mencerna omongan Ana.


" Suara di dapur kemungkinan tikus Na. Terus kalau kamu ngerasa ada orang lain di rumah yang ngawasin kamu, inget kalau di dunia ini kita ga sendiri Na. Kamu ngerti kan maksud mama?" Terang Mama Ana.


" Kalau tikus kayaknya suaranya bukan begitu deh Ma. Lagian aku kan udah dari lahir dirumah ini, tapi baru pertama kali aku ngalamin ini Ma." Jelas Ana.


" Mungkin karena kamu lagi lemah, makanya kamu jadi ngerasain sesuatu yang biasanya gak kamu rasain. Hal-hal begitu pasti selalu ada di sekitar kita Na, ga perlu takut, yang penting mereka ga ganggu kita, dan juga, kita ga ganggu mereka." Kata Mama Ana tegas.


" Tapi Ma." Belum selesai Ana berbicara, mamanya memotongnya.


" Hust. Udah ga usah dipikirin Na hal yang begitu." Potong Mama Ana.


Mendengar penjelasan mamanya, Ana merasa kesal. Ia merasa mamanya tidak mengerti apa yang Ia rasakan. Bagaimana takutnya Ana, ketika dirumah sendiri, dan ternyata ada makhluk yang ada disekitarnya mengeluarkan suara-suara.


Ana masuk kedalam kamar dan membanting pintu kamarnya. Mendengar anaknya yang kesal karena ucapannya, mama Ana hanya diam. Mama Ana berharap Ana akan mengerti setelah beberapa waktu nanti.


Ana mendengar ucapan mamanya, namun Ia hanya diam dan tak menjawabnya. Ana duduk di kursi belajarnya. Kemudian Ia meletakkan kepalanya di atas meja. Beberapa saat kemudian, HP Ana berdering.


" Kamu sakit Na?" Bunyi pesan dari Ali.


Melihat pesan Ali, Ana merasa sedikit terhibur. Setidaknya salah satu dari temannya merasa khawatir dengan keadaannya karena tidak berangkat sekolah.


" Iya, tapi cuma demam biasa kok." Balas Ana.


" Udah minum obat?" Balas Ali cepat.


" Udah kok. Gimana disekolah?" Tanya Ana.

__ADS_1


" Biasa aja sih. Makanya cepetan berangkat biar tau disekolah ada apa aja. Haha." Ledek Ali dalam pesannya.


Ana pun tersenyum karena SMS Ali. Perasaan Ana pun mulai membaik. Mereka berdua SMS-an sampai waktu yang cukup lama. Setelah perasaannya membaik, Ia pun keluar kamar dan memakan sate yang dibelikan mamanya.


" Enak?" Tanya Mama Ana yang datang dari dapur karena melihat Ana keluar kamar.


" Ya kaya biasanya." Jawab Ana.


" Udah ga marah lagi?" Tanya Mama Ana.


" Siapa yang marah." Kata Ana malu.


" Na, Mama mau cerita, tapi janji dulu kamu ga usah bilang sama Mba Arin, atau kakak-kakak kamu yang lain." Pinta Mama Ana.


" Iya aku janji ga cerita Ma." Jawab Ana.


" Mama tuh tinggal dirumah ini dari hamil kakak pertama kamu. Mama juga tinggal disini sendirian, sebenarnya banyak kejadian dirumah ini. Sama kaya hal yang kamu alamin. Awalnya mama juga takut, tapi lama-lama mama udah terbiasa. Mama juga pernah bilang ke Bapak, dan menurut Bapak itu hal yang biasa terjadi. Yang penting mereka ga ganggu yang sampai bikin kita kenapa-kenapa. Lagian mereka juga ga bakal bisa nyakitin kita kok Na." Cerita Mama Ana.


" Jadi mama udah ngalamin ini dari dulu?" Tanya Ana keheranan.


" Iya Na, tapi setelah beberapa tahun, apalagi rumah ini semakin ramai sama kalian, mama udah ga pernah ngalamin hal itu lagi." Terang Mama Ana.


" Anggap aja, mereka lagi kenalan sama kamu. Mungkin juga karena teror yang kamu alamin, mereka juga ngerasa terganggu." Tambah Mama Ana.


Ana mengangguk mendengar omongan mamanya. Ia kemudian melanjutkan makannya. Ana tidak ingin melanjutkan pembicaraannya tentang sesuatu yang ada di rumahnya. Teror yang sedang Ia alami saja cukup membuat nya ketakutan, Ia tidak ingin menambah beban pikirannya lagi dengan sesuatu yang ada di rumahnya. Apalagi selama ini semua baik-baik saja, dan Ia tidak pernah mengalami hal yang mencelakai nya.


"

__ADS_1


__ADS_2