JENDELA

JENDELA
FIRASAT


__ADS_3

Hari Senin telah datang, Ana berangkat ke sekolah lebih awal. Untungnya waktu malam Ia tidak mengalami mimpi buruk lagi seperti di sore hari. Ia berangkat dengan Mba Arin, meskipun Ia berharap saat melewati Jatisari Novi akan naik kendaraan yang sama dengannya.


Namun sayang, ketika melewati Jatisari, Novi tidak terlihat. Sebenarnya Ana menjelaskan masalah Sabtu lalu. Ia tidak ingin Novi terus salah paham dengannya. Ana berharap dapat segera meluruskan kesalahpahaman diantara mereka berdua.


" Mba turun duluan ya." Kata Mba Arin.


" Iya Mba, ati-ati." Jawab Ana.


Ana berharap Ia cepat sampai di sekolah dan segera bertemu dengan Novi. Ia bahkan berniat untuk memberikan selamat dengan ikhlas kepada Novi dan Petra. Ia sudah tidak memikirkan hubungan masa lalunya dengan Petra.


...


Ana tiba disekolah, Ia berlari menuju kelasnya. Namun, betapa kagetnya Ia ketika melihat Novi tidak duduk di bangku mereka.


Ana menghampiri Novi yang tengah duduk di bangku barunya.


" Kamu kok disini Nov?" Tanya Ana.


" Iya, mulai hari ini aku duduk bareng Asep." Jawab Novi ketus.


" Kenapa? Kamu sebelumnya ga ada omongan mau pindah tempat duduk?" Tanya Ana lagi.


" Terserah aku dong Na, emang semua-muanya kamu harus tau gitu!" Jawab Novi.


" Ga gitu maksudku Nov. Tapi kan kita sebangku. Ya apa susahnya sih tinggal bilang, jadinya aku juga ada kesiapan bakal duduk sama siapa nanti." Terang Ana.


" Harus gitu? Kita kan semua temen sekelas, duduk sama siapapun ya ga masalah dong." Jawab Novi.


" Kamu kok gitu sih Nov? Aku salah apa sama kamu sampai kamu jadi kayak gini?" Tanya Ana.


" Kamu ga salah apa-apa kok." Jawab Novi.


" Ya kalau ga ada apa-apa, harusnya kita biasa aja seperti sebelumnya. Kita kan temenan juga udah lama loh Nov. Apa iya perkara Petra doang kamu begini?" Tanya Ana.


" Kok bawa-bawa Petra sih. Ini ga ada hubungannya sama Petra ya." Kata Novi marah.


" Ya terus kalau bukan karena Petra, apa alasan kamu jadi pindah bangku begini? Coba terangin ke aku apa alasan kamu." Pinta Ana dengan nada terisak.


" Aku punya hak buat ga jawab Na. Udah mendingan kamu ke bangku mu aja sana." Jawab Novi ketus.


" Ya ampun Nov. Ga nyangka kamu kaya gini Nov." Kata Ana sambil berlalu pergi menuju bangkunya.

__ADS_1


Teman-teman yang sudah ada dikelas hanya bisa terdiam melihat pertengkaran antara Ana dan Novi. Mereka tidak ingin ikut campur masalah mereke berdua. Meskipun dibelakang mereka akan membicarakan tentang ini.


Ana duduk di bangkunya. Ali yang melihat Ana sedih, kemudian memutuskan untuk duduk di sampingnya. Ia mencoba untuk menghibur Ana.


" Yang sabar ya Na." Kata Ali sambil menepuk punggung Ana.


" Iya makasi Li." Jawab Ana sambil menahan tangis.


Ana tidak berani mengangkat kepalanya, Ia hanya meletakkannya di atas meja, dengan melihat kebawah.


" Kamu bawa topi kan Na?" Tanya Ali.


Ana menjawabnya hanya dengan mengangguk.


" Bawa dasi kan Na?" Tanya Ali lagi.


Ana menjawabnya dengan mengangguk.


" Kamu bawa pensil? pulpen? tas? buku? Kamu bawa apa aja Na?" Tanya Ali.


" Apaan sih Li semua ditanyain." Jawab Ana sambil mengangkat kepalanya.


" Apaan sih Li." Jawab Ana menahan tawa.


" Lah kan emang bener. Burung merpati kalau jalan kan ngangguk-ngangguk kaya kamu tadi." Jawab Ali sambil mempraktekkan cara burung merpati mengangguk-angguk.


" Buahaha." Tawa Ana seketika pecah melihat Ali yang sedang berjalan mempraktekkan cara berjalan burung merpati.


Ali senang melihat Ana yang tertawa karena leluconnya. Ali bahkan terus menatap Ana yang sedang mencoba untuk menghentikan tawanya.


" Hmmm haahhh. Hmmm hahhh." Ana mencoba menarik nafasnya agar tidak tertawa lagi.


" Ah Ali sumpah kamu bisa banget loh becandanya. Aku sampe ga bisa berhenti ketawa ini. Tanggungjawab kamu." Kata Ana.


" Hahaha siap lah kalau disuruh tanggungjawab. Ayo lah KUA." Ledek Ali sambil duduk disamping Ana lagi.


" Hidih anak SMP becandanya sampe KUA." Jawab Ana.


" Hehe. Aku duduk disini ya Na. Bolehkan?" Tanya Ali.


" Boleh, tapi dengan satu syarat." Kata Ana dengan muka serius.

__ADS_1


Ali yang melihat Ana serius Ia pun menjadi tegang.


" Apaan sih serius amat mukanya. Syarat apa coba." Kata Ali tegang.


" Kamu kudu begini terus ya. Banyakin becanda biar aku ga ngantuk hehe." Jawab Ana.


" Owalah itu toh. Siap lah." Jawab Ali.


" Eh udah pada siap2 dilapangan tuh. Yuk ke lapangan." Ajak Ali.


" Yuk." Jawab Ana.


Novi melihat keakraban Ana dan Novi dengan sinis. Ia tak menyangka Ali akan jadi teman sebangku Ana. Padahal Novi pikir Ana akan kesulitan mencari teman sebangku, dikarenakan jumlah murid dikelas mereka ganjil. Sehingga mau tidak mau, harus ada murid yang duduk sendiri.


...


" Teet teet teet." Bel tanda pulang sekolah berbunyi.


Ana dan teman sekelasnya pun bersiap untuk pulang. Ana berencana untuk segera pulang agar Ia dapat segera beristirahat.


" Aku pulang duluan ya Li." Pamit Ana.


" Oke. Ati-ati ya. Jawab Ali.


" Oke." Kata Ana sambil melambaikan tangannya.


Namun siapa sangka, saat Ia berada di depan pintu kelas, sudah ada Petra yang nampaknya sedang menunggu Novi. Ana kaget melihatnya, Ia pun bingung harus keluar atau masuk ke kelas kembali. Akan tetapi, Novi mendatanginya dan menyuruhnya untuk minggir.


" Awas aku mau lewat. Ngapain sih ditengah jalan. " Kata Novi.


Ana tak menjawab perkataan Novi. Ia hanya minggir agar badannya tak menghalangi jalan. Ia kemudian melihat Novi dan Petra pergi bersama. Namun untungnya Ana biasa saja melihat kemesraan mereka.


Mungkin saat ini, karena Ana sedang memiliki masalah yang lebih besar sedang Ia hadapi, Ia tak ingin menambah beban pikirannya. Bisa jadi ini kelebihan dari masalah teror yang Ia hadapi. Sehingga masalah lain jadi terlihat sepele bagi Ana.


Ana bertekad, bahwa sekarang bukan saatnya untuk memikirkan urusan percintaan. Ia harus memikirkan cara agar Ia tidak di teror lagi. Ana sudah cukup lelah menghadapi peneror tersebut.


Saat sedang berjalan menuju angkot, Ana teringat sosok yang Lik Puji ceritakan. Ia mengingat siapakah disekitar Ana yang suka memakai topi. Ia pun mengingat kembali siapa saja disekitarnya yang suka memakai topi.


Tatapi sampai dicoba berkali-kali pun Ana masih tidak memiliki bayangan, dan entah mengapa hari ini Ia lebih sering memikirkan peneror tersebut. Bahkan selama pelajaran di sekolah tadi, Ia tiba-tiba teringat malam ketika Ia diteror.


Padahal Ia tidak ingin mengingatnya, bahkan hari kemarin Ia jarang memikirkan masalah ini. Paling hanya sekali dua kali. Tapi entah mengapa hari ini Ana memikirkan peneror tersebut berkali-kali sampai-sampai Ia tidak fokus dalam pembelajaran.

__ADS_1


__ADS_2