JENDELA

JENDELA
MELUAP


__ADS_3

Ana pulang bersama dengan Novi. Awalnya Ia akan di antar oleh Guru Pendamping, namun Ana bersikeras menolaknya. Ana takut mamanya akan khawatir. Akhirnya Ana pun pulang ke rumah bersama Novi menggunakan angkot.


" Kamu beneran udah enakan Na? " Tanya Novi.


" Iya kok, maaf ya jadi ngrepotin kamu gini. Sampe digandeng-gandeng kaya nenek-nenek aja. hehe. " Kata Ana becanda untuk mencairkan suasana.


" Kamu ini! Lagi begini masih aja becanda. " Kata Novi marah.


" Iya maaf, soalnya kamu tegang banget. Aku gapapa kok." Kata Ana.


" Jalan pelan-pelan aja, masih jam 4 kok, angkot masih banyak." Bujuk Novi.


" Iya Nov." Jawab Ana.


Mereka pun berjalan perlahan menuju tempat biasa mereka naik angkot. Disana sudah ada beberapa angkot yang sedang ngetem. Novi memilih angkot yang masih sepi agar Ana bisa duduk.


" Kita naik angkot yang depan aja ya Na. Keliatan masih banyak bangku yang kosong." Pinta Novi.


" Tapi kamu gapapa, kalau masih kosong malah nanti jadi kesorean." Kata Ana.


" Gapapa kok tenang aja. Yuk masuk." Ajak Novi.


" Kamu kalau masih ngantuk tidur aja gapapa. Nanti kalau mau sampe Jatisari aku bangunin. Maaf tapi aku ga bisa anter sampe rumah ya." Tambah Novi.


" Iya gapapa Nov. Kalau gitu aku tidur dulu ya. Minta tolong nanti bangunin aku, jangan main turun aja loh ya." Kata Ana sedikit becanda.


" Ah kamu ini masih aja. Dah sana tidur." Perintah Novi.


Ana pun mengangguk. Ia menyandarkan badannya di kursi, lalu meletakkan kepalanya di tepi jendela. Tak lama kemudian Ana pun tertidur.


Tiba-tiba HP Novi bergetar, tanda ada SMS yang masuk. Ia pun segera melihat siapa yang meng-sms dia.


" Ana gapapa?" Pesan Petra ke HP Novi.


" Gapapa kok. Sekarang lagi tidur." Balas Novi.


Novi dan Petra tetap menjalin hubungannya seperti saat Ana masih menjadi pacar Petra. Mereka pun masih rutin SMS tiap harinya.


...


Angkot telah melaju sampai di Kedungbener (Nama daerah dekat dengan Jatisari). Novi bersiap untuk turun. Ia pun membangunkan Ana.


" Na, bangun Na." Kata Novi menggerakkan badan Ana.


Ana kaget dan langsung terbangun.


" Udah sampe Kedungbener nih, bentar lagi aku turun." Terang Novi.


" Oh iya Nov. Makasi ya." Jawab Ana.

__ADS_1


" Ya dah aku turun dulu ya Na. Kamu juga siap-siap bentar lagi kan kamu juga turun." Perintah Novi.


" Iya Nov. Makasi ya sekali lagi." Kata Ana tersenyum lebar.


" Iya oke. Daah." Kata Novi melambaikan tangannya.


Ana pun membalas lambaian tangan Novi. Seketika setelah Novi turun, Ana merasakan kehampaan. Ia teringat banyak sekali kejadian yang menimpa nya beberapa waktu ini. Bahkan Ia pun sampai putus dengan orang yang selama ini sudah Ia sukai.


" Argopeni Argopeni." Teriak kenek angkot.


Ana lalu berdiri ke dekat pintu angkot. Sudah saatnya untuk Ana turun, dan kembali kerumah.


Setelah turun dari angkot, Ia kemudian masuk ke dalam rumah. Ia mengambil kunci rumah didalam tasnya, saat memasukkan kuncinya, ternyata tidak bisa. Itu tandanya seseorang ada dirumah, dan kunci rumahnya tidak diambil setelah mengunci pintu tersebut.


" Assalamu'alaikum." Teriak Ana.


Tak ada jawaban. Ana pun berteriak kembali.


" Assalamu'alaikum Ma! Mba Arin! " Teriak Ana.


Belum ada jawaban dari siapapun. Disini Ana terlihat mulai emosi.


" Ma! Mba Arin! Mamaaa! Buka pintunya. Ini Ana." Teriak Ana penuh emosi.


Tak lama kemudian Mba Arin terlihat dikaca jendela sedang berjalan menuju ke pintu rumah. Ia sengaja berjalan perlahan menuju pintu. Dikarenakan kondisi Ana hari itu sedang tidak baik, guyonan Mba Arin semakin membuatnya emosi.


Saat Mba Arin membuka pintunya, Ana langsung masuk tanpa mengucapkan salam.


" Masuk rumah salam kali." ledek Mba Arin.


" Lagian bukain pintu lama banget. Ngapain juga kunci pintu ga diambil, jadi ga bisa buka sendiri." Kata Ana marah.


" Ya ampun gitu aja kok marah sih. Udah mending dibukain loh ini." Ledek Mba Arin lagi.


" Nyebelin banget sih." Teriak Ana di depan Mba Arin.


Setelah berteriak di depan Mba Arin, Ana kemudian pergi menuju kamarnya. Ia menutup pintu dengan sangat kencang. Sehingga suara pintunya terdengar sampai dapur. Mama pun mendengar suaranya.


" Astaghfirullah." Ucap Mama.


Mama bergegas menuju kamar Ana. Di depan kamar Ana, terlihat Mba Arin sedang berdiri. Mama pun menanyakan apa yang sedang terjadi.


" Ana kenapa Mba?" tanya Mama Ana lirih.


" Ga tau tuh. Marah-marah ga jelas." Jawab Mba Arin.


" Ngledekin lagi ya kamu." Kata Mama Ana.


" Engga kok." Jawab Mba Arin sambil berlalu pergi.

__ADS_1


Setelah Mba Arin pergi, Mama Ana mengetuk pintu kamar Ana.


" Tok tok tok. Ana, mama boleh masuk?" Tanya Mama Ana.


Ana yang sedang menangis diam- diam kaget mendengar suara Mamanya. Ia pun menghapus air matanya kemudian menjawab panggilan mamanya.


" Iya ma. masuk aja." Jawab Ana.


Mama Ana kemudian masuk ke dalam kamar Ana. Mama Ana melihat Ana sedang duduk di kasur dengan seragam coklat pramukanya. Bahkan stribut hasduk dan topi masih menempel ditubuhnya.


" Kamu kenapa sayang?" Tanya mama Ana mendekati Ana dan sembari melepaskan atribut pakaian Ana.


" Gapapa kok ma." Jawab Ana menahan tangis.


" Ana bisa kok cerita ke mama. Apapun itu." Kata mama sembari duduk di samping Ana.


Mendengar perkataan mamanya yang menenangkan, pecahlah tangis Ana yang Ia coba pendam sedari tadi.


" Hiks hiks hiks. Mama, Ana rasanya capek banget Ma." Tangis Ana.


Mama Ana pun kemudian memeluk putri ragil (sebutan anak terakhir di keluarga dalam bahasa Jawa) nya.


" Capek banget ya habis pramuka. Kamu dimarahin sama kakak pembina kamu?" Tanya Mama Ana belum mengerti maksud Ana.


" Hiks. Engga ma. Bukan karena itu." Jawab Ana.


" Terus karena apa sayang?" Tanya Mama Ana lagi.


" Ana capek banget rasanya sama keadaan sekarang. hiks. Ana tiap malam rasanya ketakutan Ma. Takut banget rasanya tiap kali liat jendela. Takut tiba-tiba ada yang nyiram lagi Ma. hiks." Jawab Ana sesunggukan.


Mama Ana terdiam untuk beberapa saat. Ia hanya memeluk Ana dengan erat, tangannya menepuk-nepuk punggung putri ragilnya itu.


" Hmm sabar ya sayang." Kata Mama Ana terisak.


" Mama tau ini bukan hal yang mudah. Ini pengalaman terburuk yang terjadi dirumah ini. Mama tau Ana pasti rasanya berat banget." Tambah Mama Ana.


" Sampai kapan ma, sampai kapan Ana harus sabar. Ana ga salah apa-apa kenapa Ana harus ngalamin ini. Emang Ana salah ya ma? terus apa salah Ana sbenernya ma sama orang itu?" Tanya Ana sambil terisak.


Hati Mama Ana terasa seperti teriris. Mendengar ucapan anaknya yang selama ini terlihat tegar. Betapa terkejutnya Ia ternyata Ana bisa rapuh karena orang tak bertanggungjawab.


" Kita hadapin sama- sama yah sayang. Kita pasti bisa. Bapak bentar lagi pulang. Semoga ada jalan ya sayang. Semoga aja nanti setelah bapak pulang dan ngomong sama bapak-bapak di desa, bisa menemukan titik terang." Jawab Mama Ana penuh keyakinan.


Ana terdiam mendengar ucapan Mamanya. Mendengar Bapaknya akan pulang, bukan membuat hatinya merasa tenang. Justru Ia semakin gelisah.


" Bapak pulang besok Ma?" Tanya Ana sembari melepaskan pelukan mamanya.


" Iya sayang. kemungkinan Bapak sampai besok subuh." Jawab Mama Ana (Bapak Ana bekerja di Jakarta sebagai seorang PNS. Setiap Bapak Ana pulang menggunakan kereta).


Tangis Ana berhenti. Ia kemudian meminta mamanya untuk keluar dari kamarnya. Alasannya adalah Ia akan mengganti pakaiannya. Tapi sebenarnya, Ia sudah tak mampu berkata-kata lagi. Saat ini, Ia harus bersiap untuk kepulangan bapaknya.

__ADS_1


__ADS_2