JENDELA

JENDELA
NOVI


__ADS_3

Ana sampai disekolah tepat sebelum gerbang sekolah Ana ditutup. Lantas Ia pun berlari untuk sampai dikelas berharap guru belum masuk kekelas. Beruntung saat Ana sampai dikelas, terlihat guru belum datang.


Ana pun segera duduk, lalu Ia menyapa Novi dan Ali.


“ Hai. Untung belum masuk ya Bu guru.” Sapa Ana sembari duduk di kursinya.


“ Mepet banget Na datangnya.” Sindir Novi.


“ Iya nih, aku bangun kesiangan.” Jawab Ana.


“ Makanya udah ga usah mikirin Petra lagi.” Kata Novi.


“ Hust Nov. Kamu ngomong apa sih!” Bentak Ali.


“ Tuh udah ada yang belain, haha.” Sindir Novi.


Mendengar ucapan Novi, Ana merasa kecewa. Ia tidak menyangka bahwa sahabatnya mampu berbicara seperti itu terhadapnya.


“ Emang siapa sih yang mikirin Petra?” Tanya Ana.


“ Ya kamu lah.” Jawab Novi sinis.


“ Nov, kamu kenapa sih? Lagi dapet ya? Sensi banget kayaknya sama Ana.” Tanya Ali terheran-heran.


“ Ya gak gitu, maksudku tuh masa gara-gara cowok segitunya sih. Sampe sekolah tuh ikut berantakan gitu.” Terang Novi.


“ Aku ga mikirin Petra Nov. Kamu salah sangka. Aku telat karena bangun kesiangan aja.” Jawab Ana.


“ Tapi itu matamu kok sembab. Mesti nangisin Petra kan?” sindir Novi.


“ Emang kalau aku nangis mesti gara-gara Petra ya!” Jawab Ana marah.


“ Beneran udah ga kepikiran Petra?” Tanya Novi girang.


“ Loh kok kamu girang banget Nov.” kata Ali heran.


“ Ya kan seneng kalau Ana udah ga kepikiran, berarti bisa move on. Ikut seneng kan kamu.” Sindir Novi.


Ali terdiam. Ia melihat ekspresi Ana setelah mendengar ucapan Novi, terlihat biasa saja. Oleh karena itu pun dia mengakhiri obrolan saat itu.


“ Bu Guru udah mau datang tuh. liat depan Nov.” Pinta Ali.


“ Dih mana? Belum ada kok.” Kata Novi.


Ali pun memberi kode kepada Novi untuk diam dan lihat ke arah depan. Ia sadar Ana sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Bahkan untuk menanggapi obrolan mereka sedari tadi terlihat bahwa Ana tidak menunjukkan ekspresi yang baik.



“Teet Teet Teet” Bel berbunyi tanda istirahat di mulai.


“ Ke kantin yuk?” Ajak Novi.


“ Engga ah Nov. Maaf.” Jawab Ana.


“ oke.” Kata Novi terlihat sumringah.

__ADS_1


Ali yang melihat Novi pergi ke kantin, Ia kemudian duduk di sebelah Ana.


“ Kamu lagi ada masalah ya Na?” Tanya Ali.


“ Engga kok.” Jawab Ana.


“ Kamu gak laper?” Tanya Ali lagi.


“ Engga, tadi sarapanku banyak. Perutku jadi enek.” Jawab Ana.


“ Kamu ga ke kantin?” Tanya Ana.


“ Engga ah, aku nemenin kamu aja disini.” Jawab Ali.


Mereka pun asyik mengobrol. Namun tiba-tiba teman sekelas Ana datang dengan berita yang cukup mengagetkan.


“ Ana Ana Ana.” Panggil Asep berlari mendekati Ana.


“ Kamu ngapain Sep? Pake lari-lari?” Tanya Ali.


“ Hust diem kamu Li. Kamu tau gak Na?” Tanya Asep.


“ Engga.” Jawab Ana singkat.


“ Makanya ini aku mau kasih tau.” Tambah Asep.


“ Novi sama Petra pacaran ya?” Tanya Asep.


Ana terdiam. Ia masih mencerna pertanyaan Asep. Ia tidak percaya dengan pertanyaan Asep sehingga Ana pun menanyakan kembali pertanyaan Asep.


“ Iya. Iya kan bener?” Tanya Asep.


“ Kamu ngomong apa sih Sep. yang bener lah kalau Tanya.” Kata Ali menyela pembicaraan mereka.


“ Kok kamu bisa Tanya begitu sih Sep?” Tanya Ana.


“ Itu loh tadi kan aku kekantin. Nah lagi pada heboh, katanya Petra abis nembak Novi di belakang sekolah. Terus tadi pas aku balik dari kantin, aku liat Novi sama Petra lagi duduk di tempat kalian dulu biasa duduk itu loh.” Terang Asep.


Ali melihat Ana, terlihat ekspresi kaget dan sedih. Ia pun berusaha mengalihkan pembicaraan Asep.


“ Sep makananmu tuh dimakan, nanti keburu dingin ga enak loh.” Kata Ali mengalihkan.


“ Eh iya lupa, nanti aku tanya Novi sendiri aja deh.” Kata Asep sembari pergi meninggalkan meja Ana.


Setelah Asep pergi, Ali pun mencoba untuk menghibur Ana.


“ Kamu gapapa Na? ngelamun aja. Awas nanti kesambet loh.” Hibur Ali.


“ Hemm ga kok. Siapa yang ngelamun.” Jawab Ana.


“ Iya deh percaya. Jangan ngelamun lagi ya.” Ledek Ali.


“ Idih dibilangin aku ga ngelamun ish.” Kata Ana.


Meskipun Ana berbicara seperti itu, sebenarnya didalam hatinya merasa sedih. Bagaimana bisa sahabatnya sendiri jadian dengan mantan pacarnya yang baru beberapa hari putus?

__ADS_1


Meskipun Ana sudah mengatakan bahwa Ia sudah tidak memikirkan Petra, tapi menurut Ana hal tersebut masih kurang pantas.


“ Teet Teet Teet” Bel sekolah tanda istirahat usai telah berbunyi. Teman-teman Ana pun satu-persatu mulai masuk ke kelas. Ana menunggu kedatangan Novi. Namun, Ia belum muncul juga.


“ Selamat siang anak-anak.” Salam Bu Guru.


“ Selamat siang Bu.” Jawab para murid.


Guru mata pelajaran pun telah masuk, bahkan sampai saat itu Novi pun belum datang. Setelah kurang lebih 15 menit Ibu Guru masuk, barulah kemudian Novi masuk kekelas.


“ Kamu kenapa telat masuk Nov?” Tanya Ibu Guru.


“ Maaf Bu tadi saya di toilet. Sakit perut.” Kata Novi beralasan.


“ Sakit apa abis pacaran?” Celoteh Asep.


“ Hust. Ya dah sana duduk.” Perintah Ibu Guru.


Novi pun duduk di sebelah Ana. Ana hanya diam tanpa bertanya apapun ke Novi. Begitu pula Novi, Ia pun tidak mnegucapkan sepatah kata pun ke Ana.



“ Teet Teet Teet” Bel tanda sekolah telah usai berbunyi. Para murid bersiap untuk pulang kerumah.


“ Kita pulang bareng kan Nov?” Tanya Ana.


“ Aduh maaf Na, kayaknya aku ga bisa pulang sama kamu deh. Aku udah ada janji soalnya.” Jawab Novi.


“ Janji sama siapa?” Tanya Ana.


“ Sama Petra.” Jawab Novi tegas.


Jantung Ana berdetak kencang, tangannya gemetar, dan matanya tidak fokus setelah mendengar jawaban Novi.


“ Petra?” Tanya Ana memastikan.


“ Iya. Kenapa?” Tanya Novi balik.


“ Aku ga salah denger kan Nov?” Tanya Ana.


“ Iya, kamu ga salah denger kok. Aku sama Petra baru jadian.” Kata Novi sambil tersenyum sinis.


“ Oh, selamat ya.” Kata Ana sambil berlalu pergi.


Teman-teman sekelas Ana yang mendengar percakapan mereka terkaget-kaget. Padahal selama ini mereka berteman sangat dekat. Seperti perangko, selalu menempel berdua kemanapun mereka pergi. Tidak sangka ternyata Novi berpacaran dengan mantan pacar sahabatnya sendiri.


Ana dan Novi memang saling mengenal satu sama lain sebelum mereka satu sekolah di SMP. Novi yang letak rumahnya di Jatisari, sering bermain dengan Ana waktu Ana mengunjungi Budhenya yang rumahnya berdekatan dengan Novi. Dikarenakan umur mereka yang tidak beda jauh membuat mereka cepat akrab.



Ana berjalan menuju persimpangan tempat angkot ngetem. Ia berjalan sendirian yang membuatnya semakin kesepian. Padahal pagi tadi Ia berniat untuk pulang telat dan bermain dahulu dengan Novi. Namun ternyata hal tak terduga terjadi dengan sahabatnya.


Ia berjalan sangat lambat. Memikirkan apa yang harus Ia lakukan. Ana tidak ingin cepat pulang karena dirumahnya ada Bapaknya, selain itu, jika tak pulang Ia harus kemana. Jika berdiam di sekolah juga tidak mungkin, karena disana pasti ada Novi dan Petra.


Pikirannya kalut, darimana salahnya. Kenapa banyak hal yang tidak Ia inginkan terjadi sebulan ini. Hidupnya seperti ditimpa masalah bertubi-tubi. Setelah kehilangan pacar, sekarang sahabatnya justru menusuknya dari belakang. Haruskah Ia merelakan Novi dan Petra berpacaran? Haruskah Ia bersikap seperti biasa kepada Novi yang kini berpacaran dengan mantan pacarnya? Banyak yang Ia pikirkan selama berjalan menuju tempat angkot ngetem. Belum lagi masalah terror yang belum ada titik cerahnya.

__ADS_1


__ADS_2