
Ana sampai dirumah tepat pukul setengah dua siang. Ia masuk ke dalam rumah dan melihat mamanya sedang makan siang sendirian di ruang makan.
“ Assalamualaikum.” Salam Ana.
“ Waalaikumsalam.” Jawab Mama Ana.
“ Loh mama baru makan jam segini?” Tanya Ana.
“ Iya Na. Yuk makan bareng mama. Ada ayam goreng loh, masih panas lagi. Sama sambel tomat kesukaanmu, enak loh.” Ajak Mama Ana.
“ Wuah enaknya, oke Ana ganti baju dulu.” Jawab Ana.
Ana lekas berganti baju dan mencuci tangannya. Ia bergegas menuju meja makan untuk mengambil makanan kesukaannya.
“ Nasinya yang banyak, biar kenyang.” Kata Mama Ana.
“ Iya ma.” Jawab Ana.
“ Gimana sekolahnya? Bisa gak?” Tanya Mama Ana.
“ Ya biasa aja sih Ma. InsyaAllah bisa Ma.” Jawab Ana.
“ Ada PR ga hari ini?” Tanya Mama Ana lagi.
“ Ada ma sedikit, tapi masih buat minggu depan.” Terang Ana.
“ Ya kalau bisa dikerjain nanti biar ga lupa dan gugup pas minggu depan.” Kata Mama Ana.
“ Hari ini rasanya aku capek banget ma, pengen istirahat dulu.” Jawab Ana.
“ Kalau besok ga ada PR ya udah istirahat dulu aja.” Tambah Mama Ana.
“ Ga ada PR buat besok sih Ma.” Jawab Ana.
__ADS_1
Mama Ana menggangguk tanda Ia mengijinkan anaknya untuk bisa beristirahat malam ini tanpa belajar terlebih dahulu. Melihat angggukan Mamanya, Ana pun merasa senang. Ia berencana akan istirahat awal mala mini, dan bangun pagi-pagi esok hari.
…
Selepas sholat maghrib, Ana memutuskan untuk langsung tidur. Ia menatap jendela, jantungnya berdetak kencang. Namun, Ana menepis kekhawatirannya dan memutuskan untuk cepat tidur. Badannya yang lelah membuat matanya cepat terlelap.
Tik tok Tik Tok…
Suara jarum jam berbunyi semakin keras saat malam. Bunyinya memecah kesunyian malam. Ana terlihat masih terlelap tidur beberapa saat lalu, sampai kemudian tiba-tiba Ia terbangun.
Jantungnya berdetak kencang, dan semakin kencang. Nafasnya pun terengah-engah. Matanya tertuju ke jam dinding kamarnya. Ia melihat jam menunjukkan pukul 11.00 malam.
Ia merasa aman karena belum melewati tengah malam. Namun Ia salah, tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki orang berjalan.
Sreek Sreek Sreek.
Suara langkah kaki khas yang Ana sudah hafal. Ana sangat ketakutan, namun kali ini Ia sudah bertekad bahwa Ia tidak akan kena siram lagi.
Ana terdiam cukup lama, sampai tidak terdengar suara langkah kaki orang lagi. Ia kemudian menuju kamar mamanya. Ia jongkok disamping kasur mamanya. Diatasnya, Mama Ana tertidur lelap. Sebenarnya Ia ingin membangunkan mamanya, namun Ia tidak ingin mengganggu tidurnya.
Ana mencoba untuk memastikan apakah peneror tersebut masih ada. Ia menahan nafasnya, dan membuka telinganya lebar-lebar. Ia merasa tidak mendengar suara langkah kaki orang berjalan lagi.
Dengan tekad yang besar, Ia pun mendekati jendela kamar mamanya. Ia jongkok dibawah jendelanya. Ia menempelkan telinganya di dinding bawah jendela.
“ Tidak ada.” Batin Ana.
Namun seperti pemburu yang senang mempermainkan buruannya, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang cepat datang mendekat ke jendela tersebut! Ana menahan nafasnya, jantungnya berdetak sangat cepat sampai terasa sakit. Ana menangis ketakutan, namun Ia tidak ingin mengeluarkan suara sedikitpun. Mulutnya Ia tutup dengan kedua tangannya.
Dibalik dinding kamar mamanya tersebut, seperti ada seseorang yang sedang mengintai, menunggu pergerakan dari Ana. Dikarenakan Ana sangat ketakutan, Ia pun berlari keluar kamar mamanya. Padahal Ana bisa saja duduk diam di depan TV, namun entah apa yang ada dalam pikirannya, Ia pun menuju kamar Mba Arin.
Di dalam kamar Mba Arin, terlihat Mba Arin sedang tertidur sangat nyenyak. Ana masuk dengan langkah yang sangat hati-hati, bukan karena tidak ingin membangunkan tidur Mba-nya, melainnkan Ia tidak ingin peneror tersebut tahu keberadaannya. Ana berjalan menuju bawah jendela kamar Mba Arin. Ia menempelkan punggungnya di dinding.
Sekali lagi, Ia menahan nafasnya agar tidak terdengar oleh peneror tersebut. Ana ingin sekali membuka sedikit horden jendela mba-nya tersebut, dan mengintip apakah ada orang dibalik jendela itu. Jantungnya berdetak kencang, tangannya yang gemetar Ia angkat perlahan ke arah horden jendela.
__ADS_1
Namun, Ana belum cukup berani untuk melakukan hal tersebut. Ana menarik tangannya kembali, dan menempelkan punggungnya ke dinding bawah jendela. Setelah itu…
“ Ha Ha Ha.” Tawa peneror Ana.
Seolah-olah mengetahui apa yang Ana lakukan, Ia menertawakan ketakutan Ana karena tidak berani membuka horden jendela Mba Arin. Mendengar tawa orang tersebut, Ana pun ketakutan setengah mati. Ia kemudian keluar dari kamar Mba Arin.
Di ruang TV, Ana terdiam. Mencoba mendengar pergerakan dari peneror tersebut. Apakah peneror tersebut masih ada di balik jendela Mba Arin, atau sudah berpindah tempat. Ana kebingungan apa yang harus Ia lakukan. Haruskah Ia tetap berada di ruang TV, atau haruskah Ia membangunkan mama dan Mba Arin, atau berani menghadapinya sendiri.
Namun karena Ana tidak ingin hal ini terjadi lagi, Ia mencoba memberanikan diri untuk kembali ke kamarnya. Ia berdiri cukup lama di depan pintu kamarnya. Sebenarnya Ia masih takut jika terjadi sesuatu dengannya. Namun sekali lagi, karena tekadnya yang besar Ia duduk di atas kasur.
Ana memandangi jendelanya, seolah-olah menantang peneror tersebut. Meskipun sebenarnya Ia masih sangat takut dengan peneror tersebut. Saat Ana sedang menatap tajam jendela kamarnya, seolah-olah tahu apa yang ada di pikiran Ana, seketika…
“ Byaar.” Suara siraman air.
Ya, Ana terkena siraman air k*ncing lagi. Wajahnya terkena siraman air tersebut, saking syoknya, Ana terdiam beberapa saat. Setelah tersadar, Ia kemudian berteriak.
“ Ahhhh Ahhh Ahhh. Mamaaaa!” Teriak Ana.
“ Maamaaa. Maamaaa.” Teriak Ana lagi sambil menangis.
Ana melihat bajunya yang sedikit basah karena siraman air tersebut. Lalu Ia bergegas keluar kamarnya. Saat Ia keluar, Ia melihat mamanya yang terlihat baru bangun setelah mendengar teriakan Ana.
“ Kamu kenapa Na?” Tanya Mama Ana.
“ Mamaa, hiks hiks.” Tangis Ana.
“ Disiram lagi?” Tanya Mama Ana memastikan.
“ Iya ma. Hiks hiks.” Jawab Ana.
Mendengar jawaban Ana, Mama Ana lalu pergi menuju kamar anaknya tersebut. Ia melihat cipratan air yang berada di lantai. Ia kemudian bergegas ke jendela kamar Ana, Ia buka hordennya. Mama Ana melihat ke arah kanan dan kiri, Ia tak menemukan siapapun. Kemudian Ia teringat dengan kondisi Ana yang sedang syok, Mama Ana pun memutuskan untuk menemui putrinya terlebih dahulu.
Mama Ana keluar dari kamar Ana, Ia melihat anaknya sedang menangis di ruang TV. Badannya terlihat gemetar ketakutan. Mama Ana lantas memeluknya agar Ia dapat tenang. Namun Ana justru semakin menangis dipelukan mamanya. Sampai beberapa waktu berlalu pun, Ana masih menangis di pelukan mamanya, dan Mama Ana hanya bisa diam.
__ADS_1