JENDELA

JENDELA
HIBURAN SESAAT


__ADS_3

Ana berjalan kurang lebih selama 20 menit, Ia berputar melalui persimpangan tempat angkot ngetem kemudian ke arah SMPN 7 , SMPN 1 dan SMPN 3 Kebumen, lalu tiba di SMPN 5 Kebumen ( Sekolah Ana berada di komplek yang isinya banyak sekolah-sekolah negeri). Ia seperti orang yang kehilangan arah. Bahkan Ia tidak sadar bahwa dia berputar-putar yang ujung-ujungnya kembali lagi ke sekolahnya.


Ana tidak ingin kembali ke sekolah, lalu Ia memutuskan untuk berjalan lewat arah yang berbeda. Kemudian setelah beberapa saat, Ana melewati Rita. Ia pun memutuskan untuk masuk ke dalam Rita.


Ana melihat area permainan yang letaknya berada di samping pintu masuk Rita. Ia mengecek dompetnya, untungnya Ia menyimpan cukup uang dikarenakan beberapa hari ini Ia tidak jajan di kantin.


“ Dua puluh ribu ya.” Kata Ana ke kasir permainan.


“ Total dapet 16 ya mba.” Kata kasir permainan.


“ Iya, makasi.” Jawab Ana.


Ana tersenyum melihat banyaknya permainan yang bisa Ia mainkan. Ia sempat bingung permainan mana yang akan Ia mainkan terlebih dahulu. Lalu pandangannya teralihkan ke bilik karaoke.


“ Udah lama nih ga karokean.” Gumam Ana.


Ia pun menuju bilik karaoke, memasukkan tiga koinnya, dan memilih lagu. Setelah memikirkan beberapa lagu, akhirnya pilihannya jatuh pada lagu


“ Biarlah” dari Nidji. Lagu ini menurut Ana cocok dengan suasana hatinya saat ini. Terlebih lagu ini juga bukan lagu mellow, jadi menurut Ana, Ia tidak akan menangis.


“ Aku sudah berlari, mengejar yang tak pasti”

__ADS_1


“ Mengejar kamu, hanya dirimu”, nyanyi Ana.


Ana menyanyikan lagu “ Biarlah” dari Nidji sampai selesai, Ia nyanyikan dengan lantang. Beban dalam dada Ana seperti berkurang dengan menyanyikan lagu ini. Namun, satu lagu menurutnya masih kurang. Kemudian Ana pun memasukkan koinnya lagi dan memilih lagu.


Pilihan Ana pun jatuh ke lagu “ Mungkin Nanti” dari Peterpan atau sekarang dikenal dengan Nama Band Noah. Ana pun menyanyikan lagu itu dengan semangat. Tanpa memikirkan apakah nadanya pas atau tidak, Ia mengeluarkan suaranya seperti mengeluarkan unek-uneknya.


Setelah dua lagu, Ana memilih untuk keluar dari bilik karaoke. Ia pun mencoba permainan tembak-tembakan. Meski Ia tak pandai dalam permainan ini, namun Ia menikmati permainannya. Tak cukup satu kali, Ia pun memainkan permainan tembak-tembakan sebanyak dua kali.


Setelah dua kali bermain tembak-tembakan, Ana kemudian beralih ke permainan bola basket. Meskipun lebih banyak bola yang gagal masuk lebih banyak daripada yang masuk, senyum cerianya mulai terlihat.


Sisa 3 koin ditangan Ana, hanya satu permainan lagi yang dapat Ia mainkan. Setelah berpikir beberapa saat, kemudian Ana pun memilih untuk bermain “ Whack and Win” ( permainan yang harus dipukul agar bisa bergerak menuju angka sesuai dengan kekuatan saat memukul).


Ana berjalan menuju tempat naik angkot, dan langung naik angkot yang sedang ngetem. Hatinya kini terasa lebih damai daripada saat pulang sekolah tadi. Beberapa kekhawatiran dalam benaknya pun sedikit memudar dikarenakan permainan yang Ia mainkan tadi. Sehingga, mood Ana sedang bagus saat ini.


Namun sayang, tak lama kemudian mood Ana menjadi turun lagi. Saat itu tak sengaja Ia melihat Novi yang diantarkan oleh Petra sampai angkot. Terlebih lagi, Novi juga naik angkot yang sama dengannya.


Saat Novi naik, Ia tak terlalu memperhatikan siapa saja yang duduk diangkot. Ana duduk diangkot tepat dibelakang supir, sedangkan Novi duduk di kursi paling belakang angkot. Ana melihat dari kaca spion, terlihat senyum sumringah sahabatnya itu.


Ana tak tahu bagaimana besok ketika mereka disekolah. Terlebih banyak orang yang melihat mereka berdua adu argumen. Ana takut akan tersebar gossip yang tidak enak. Ana merasa Ia sudah rela jika sahabatnya tersebut jadian dengan mantan pacarnya. Namun bagaimana cara Ia mengatakannya kepada Novi.


Ana sangat berharap persahabatan mereka tetap terjalin seperti dulu. Ia tidak ingin kehilangan seseorang lagi. Biarlah cukup Petra saja. Sudah banyak hal yang perlu Ana pikirkan, Ia tidak ingin menambah beban pikirannya lagi. Ia pun memutuskan untuk mendekati Novi terlebih dahulu.

__ADS_1


Ana bangun dari tempat duduknya, berdiri, dan melihat Novi. Ia perlahan mendekati tempat duduk Novi yang saat itu sedang sibuk dengan HP-nya.


“ Boleh duduk disini Nov?” Tanya Ana kepada Novi.


Saat mendengar suara Ana, Novi pun kaget. Bagaimana bisa Ana ada diangkot yang sama dengannya. Sedangkan Ana sudah pulang dari tadi. Bukannya respon positif yang didapatkan Ana, Novi justru menuduhnya yang tidak-tidak.


“ Kamu ngikutin aku ya Na?” Tuduh Novi.


“ Hah ngikutin? Enggalah Nov. Kan aku duluan yang naik angkot ini.” Jawab Ana.


“ Yang bener aja Na. kamu kan udah pulang daritadi harusnya!” Ketus Novi.


“ Loh terserah aku dong Nov mau pulang kapan.


Aku ngomong baik-baik kok respon kamu gini sih.” Marah Ana.


Tanpa menjawab kata-kata Ana, Novi berdiri dan meninggalkan Ana. Ia kemudian meminta kenek angkot untuk berhenti. Novi kemudian turun dari angkot.


Melihat respon sahabatnya itu, Ana kehilangan kata-kata. Untunglah didalam angkot tidak banyak orang, sehingga Ana tidak terlalu malu dengan pertengkaran kecilnya itu. Ana kemudian duduk di kursi tempat Novi tadi, Ia melihat Novi yang berdiri dan sedang menelfon seseorang.


Ana menghela nafas dan berkata,” Besok bakalan heboh nih kayaknya.”

__ADS_1


__ADS_2