
Hari Minggu merupakan hari Ana untuk membantu mamanya di warung. Beruntung malam minggu ini tidak ada terror yang terjadi. Tapi bagi Bapak Ana hal ini sangat disayangkan, karena baginya malam minggu ini adalah kesempatannya untuk menangkap orang yang meneror putrinya selama ini.
Ana berada di warung bersama mamanya, sedangkan Bapak Ana berada di rumah bersama Mba Arin. Meskipun Ana lelah, namun jika dirumah Ia akan merasa lebih tertekan dan tidak nyaman. Sehingga Hari Minggu ini, Ana membantu mamanya diwarung sampai tutup. Tidak seperti hari jualan yang lain, hari ini Mama Ana memutuskan untuk tutup lebih awal. Hal ini dikarenakan Bapak Ana akan berangkat ke Jakarta sore nanti.
Mama Ana akan menyiapkan bekal untuk makan malam di kereta, dan juga beberapa oleh-oleh untuk teman kantor Bapak. Biasanya Bapak Ana membawa lanting, makanan khas Kota Kebumen yang terbuat dari tepung goreng dan bentuknya berangka 8. Tak lupa juga membawa jipang (makanan khas kota kebumen yang terbuat dari kacang dan gula merah).
“ Udah jam 2 nih Na. Yuk siap-siap tutup warung.” Perintah Mama Ana.
“ Iya Ma.” Jawab Ana.
Mama Ana dan Ana kemudian bersiap-siap untuk menutup warung. Ana menutup pintu warung satu per satu. Model pintu warung Ana masih menggunakan kayu yang di geser satu per satu. Sedangkan Mama Ana membereskan makanan sisa untuk dibawa pulang. Setelah selesai mereka pun pulang, tidak lupa Mama Ana membagi hasil uang parkiran dengan penjaga parkiran milik Mama Ana.
“ Assalamualaikum.” Salam Mama Ana.
“ Waalakumsalam.” Jawab Bapak Ana sembari membukakan pintu.
Bapak Ana kemudian mengambil tas yang dibawa Mama Ana untuk membawanya masuk. Ia sudah bersiap untuk berangkat ke stasiun. Melihat Bapak Ana yang sudah rapi, Mama Ana pun bergegas membungkus bekal makanannya dan oleh-oleh yang akan dibawa Bapak Ana.
Setelah semua bekal dan oleh-oleh siap, Bapak Ana berpamitan kepada keluarganya.
“ Bapak berangkat dulu ya, becaknya (Bapak Ana berangkat ke stasiun menggunakan becak) juga udah datang itu.” Pamit Bapak Ana.
“ Iya ati-ati pak.” Pinta Mama Ana.
“ Sekolah yang rajin ya, dan jangan lupa ngaji, Mba Arin dan Ana.” Pesan Bapak Ana.
“ Iya Pak.” Jawab Mba Arin dan Ana.
“ Buat Ana ngajinya dikencengin ya, dan kalau ada terror lagi jangan lupa kasih tau Bapak ya.” Pinta Bapak Ana.
“ Iya Pak.” Jawab Ana.
“ Ya dah, Assalamualaikum.” Pamit Bapak Ana.
“ Waalaikumsalam.” Jawab Mama Ana, Mba Arin, dan Ana.
Setelah melepas keberangkatan Bapak Ana, mereka kemudian masuk kembali ke dalam rumah. Saat Ana akan membereskan sisa lauk dari warung, Mama Ana meminta Ia untuk istirahat saja.
__ADS_1
“ Udah kamu ga usah ngurusin ini. Istirahat dulu aja. Kamu kan udah bantuin mama dari pagi.” Kata Mama Ana.
“ Tapi nanti mama beresin ini sendiri, mama kan capek.” Jawab Ana.
“ Kan ada Mba Arin.” Kata Mama Ana.
“ Oh ya udah kalau gitu. Ana istirahat dulu ya ma.” Pamit Ana.
Ana kemudian masuk ke dalam kamarnya. Ia membaringkan badannya di atas kasurnya. Setelah 2 hari ini badannya tegang karena ada Bapaknya, akhirnya Ia bisa sedikit lega. Dikarenakan rasa lelah selama membantu mamanya diwarung tadi, Ana pun terlelap. Namun, entah mengapa Ia mengalami sebuah mimpi yang tidak pernah Ia alami sebelumnya.
Ana melihat seorang laki-laki yang mendekatinya ketika Ana sedang tidur. Laki-laki itu memandangi Ana dari kepala sampai kakinya. Namun anehnya, Ana hanya diam saja melihat laki-laki tersebut. Ana mencoba menggerakkan badannya, namun ternyata gagal.
Tubuhnya terasa sangat kaku, dan dadanya terasa sangat berat. Nafasnya pun menjadi terengah-engah. Ana mencoba mengeluarkan suara. Namun sekali lagi, suaranya pun tidak dapat keluar. Ana ingin berteriak minta tolong, namun suaranya tidak keluar sama sekali.
Laki-laki dalam mimpinya melihat Ana kesusahan dalam bergerak dan mengeluarkan suara. Kemudian laki-laki tersebut tersenyum, dan Ana merinding dibuatnya. Ana semakin ketakutan, Ia semakin berusaha keras untuk bergerak dan mengeluarkan suaranya.
Ana melihat laki-laki itu, namun Ia tidak berani melihat matanya. Tiba-tiba, laki-laki itu tertawa terbahak-bahak.
“ HA HA HA.” Tawa laki-laki dalam mimpi Ana.
“ Ahhhh.” Teriak Ana.
Ana terbangun dari tidurnya. Saat bangun, Ana melihat mamanya. Mama Ana terlihat kaget dengan teriakan Ana.
“ Kenapa Na? kok teriak?” Tanya Mama Ana.
“ Ana mimpi buruk Ma.” Jawab Ana.
“ Makanya sore-sore ga boleh tidur. Udah tau jam segini, malah tidur.” Teriak Mba Arin dari ruang TV.
“ Ucap Istighfar Na.” Perintah Mama Ana.
“ Astaghfirullah.” Ucap Ana.
“ Lain kali kalau udah sore ga boleh tidur ya.” Pesan Mama.
“ Iya ma.” Jawab Ana singkat.
__ADS_1
“ Ya dah sekarang kamu mandi gih, udah mau maghrib nih.” Pinta Mama Ana.
“ Iya Ma.” Jawab Ana sambil bangun dari kasurnya dan berjalan menuju kamar mandi.
“ Ana lagi banyak coba nya sekarang. Kamu kalau ngomong yang ati-ati sama Ana.” Perintah Mama sambil duduk mendekati Mba Arin.
“ Iya ma. Lagian Ana ada aja tingkahnya.” Jawab Mba Arin.
“ Husst. Dia kan ga sengaja, namanya juga lagi di uji sama Allah. Kamu doain adek mu supaya dia ga diganggu lagi.” Kata Mama Ana marah.
“ Hmm iya Ma.” Jawab Mba Arin sedikit kesal.
Setelah Ana selesai mandi, Ia pun dipanggil mamanya. Ana kemudian duduk diantara Mamanya dan Mba Arin yang sedang ada di ruang TV.
“ Mama boleh tau ga tadi kamu mimpi apa?” Tanya Mama Ana.
Ana terdiam beberapa saat. Ia ragu untuk menceritakan mimpinya tersebut.
“ Cerita aja Na, jangan dipendem sendiri.” Kata Mba Arin.
“ Jadi tadi aku mimpi lagi rebahan dikamar, terus ada laki-laki yang tinggi besar liatin aku Ma. Pas aku mau gerak dan ngomong, ga bisa sama sekali.” Kata Ana.
“ Astaghfirullah. Rupanya gimana Na?” Tanya Mama Ana.
“ Aku ga berani liat mukanya ma, yang jelas dia tinggi dan besar. Aku takut banget Ma.” Cerita Ana.
“ Serem banget sih Na. Buat pembelajaran, lain kali jangan sampe tidur sore-sore ya.” Perintah Mba Arin.
“ Iya mba.” Jawab Ana.
“ Tapi, jangan-jangan orang yang di mimpi kamu sama dengan orang yang neror kamu Na.” Kata Mba Arin.
Ketika Mama Ana mendengar perkataan Mba Arin, Ia langsung memukul tangan Mba Arin. Kemudian memberinya isyarat untuk tidak berbicara seperti itu. Mama Ana takut, Ana akan semakin ketakutan jika memang benar orang di mimpi dan yang menerornya adalah orang yang sama.
“ Udah ga usah dipikirin lagi Na, itukan cuma mimpi. Udah adzan maghrib nih, sholat dulu yuk.” Ajak Mama Ana.
Mba Arin dan Ana pun menyetujui ajakan mamanya. Mereka kemudian bergantian mengambil wudhu dan sholat berjamaah.
__ADS_1