Jian Rui

Jian Rui
Mawar Merah Dan Duri


__ADS_3

Malam Hari, Di Kota Air Bening, Bintang - Bintang seperti biasanya.


" Rui ! untuk apa biji logam itu ?" tanya Jian Yu.


" untuk membuat paku" jawab Jian Rui.


" apa yg mau kamu paku ?" tanya Jian Yu.


" Kereta - kereta kuda itu akan longgar setelah di pakai selama perjalanan, jadi dengan mempersiapkan paku akan menghemat waktu" jawab Jian Rui.


" Boleh juga pikiranmu !" puji Jian Yu.


" Ayo kita makan ! tidak ada salahnya menunggu datangnya makanan !" ajak Jian Yu.

__ADS_1


" ayah !? bolehkah aku makan di luar ? aku ingin mencicipi gaya masakan di kota ini " pinta Jian Rui.


" hmm, terserah, jangan malam - malam ! kamu orang asing di sini !" tegas Jian Yu.


Jian Rui keluar dari rumah dinas itu, berjalan menuju pusat keramaian. Suasana kota tetap ramai di malam hari, titik - titik api lampion lebih rapi daripada bintang - bintang di langit. Setelah melihat - lihat, Jian Rui memilih rumah makan yang besar. Meja - meja di lantai satu penuh. Lalu Jian Rui naik ke lantai memilih meja di sudut yang kosong.


" tuan muda ! ini daftar menu di restoran kami !" tawar pelayan, berdiri dengan senyum yang ramah. Jian Rui menerima daftar menu lalu melihatnya.


" aku pesan teh poci besar, kangkung telur bakar, nasi dua mangkuk !" pesan Jian Rui. Pelayan pergi, berjalan menuju kasir. Suara - suara pengunjung di meja - meja lain lantai dua berpadu seperti paduan suara yg menyenangkan, selalu diterima walaupun sebenarnya brisik. Pelayan datang, membawa dua baki berisi makanan dan minuman.


" suamiku ! suamiku ! kamu di sini !" teriak wanita hamil itu. Jian Rui menoleh , memperhatikan siapa yg dipanggil olehnya.


" suamiku ! kamu makan sendirian ! betapa tega ?!" rengek dan tuduh wanita itu.

__ADS_1


" kamu sudah tidak mau dengan cucuku hah ?!, dia hamil, kamu ngeluyur hah !? " teriak nenek itu. Ketiga wanita mendekati meja Jian Rui dan membentak - bentaknya. Jian Rui diam, terlihat sedang memikirkan sesuatu, kemudian dia melihat wajah - wajah orang di sekitarnya. Semua mata di meja itu mengarah pada Jian Rui.


" kalian salah sangka ! apakah wajah suaminya sepertiku ?" seru Jian Rui.


" kamu tidak mau mengakui anakmu !, semoga kamu mandul ! semua margamu mandul !" kutuk si nenek - nenek. Jiam Rui diam, memikirkan sesuatu, lalu memperhatikan lagi wajah - wajah orang di sekitarnya yg ternyata ikut diam seakan - akan menikmati sandiwara tingkat kekaisaran.


" kalian salah sangka, aku bukan suaminya ! mirip belum tentu sama !" bantah Jian Rui.


" tuan - tuan ?! tolonglah sadarkan suamiku ini !" kata si wanita hamil. Akhirnya ada seorang relawan yg peduli dengan rengekan wanita hamil itu. Orang tua itu menghampiri meja Jian Rui yg gaduh.


" anak muda !? tidak baik membuat wanita hamil bersedih ! bayinya akan menjadi penakut ketika dewasa !" saran orang tua itu.


" aku juga tidak tahu, apakah kamu benar - benar suaminya, tapi demi bayi dalam kandungannya, akui sajalah !" saran orang tua itu. Jian Rui diam, memikirkan sesuatu, dia melihat wajah - wajah orang di sekitarnya. Jian Rui mendesah pelan, memperhatikan ketiga wanita itu dengan seksama.

__ADS_1


" ayo ! pulang ! pelayan bungkus makanan ini ! siapkan kereta kuda !" seru Jian Rui. Jian Rui mengapit tangan wanita hamil itu, berjalan menyesuaikan langkahnya menuju pintu keluar restoran. Di kanan kiri pintu keluar restoran Jian Rui melihat taman mawar merah.


" kapan taman itu di sini ?" bisik Jian Rui.


__ADS_2