
Berada di dalam kereta, si nenek tetap memaki - maki Jian Rui, wanita yg hamil itu tidak berbicara sambil mengelus - elus bayi dalam kandungannya, sedangkan si gadis memandang Jian Rui.
" Kalian tahu bahwa bayi itu bukan anakku ! kenapa kalian melakukannya ?" tanya Jian Rui.
" tuan muda ! jangan mangkir dari tanggung jawab ! " kata si Gadis.
" Aku tidak akan mangkir jika aku yg melakukannya. Untuk apa mangkir dari memiliki anak ?!" seru Jian Rui.
" Tuan muda tidakkah kamu munafik ? mau enak tidak mau anak ?! tuduh gadis itu.
" aku mungkin munafik ! tapi tidak dalam hal ini ! Katakan ! ini aksi kalian sendiri atau disuruh orang ! " seru Jian Rui. Si nenek menoleh pada Wanita hamil itu, begitu juga si gadis.
" Xiao Lan !?? diamlah ! biarkan dia !. kamu tidak mau mengaku tidak apa - apa, tapi bayi ini tidak bersalah, apa kamu tega !" bujuk wanita hamil.
" kalian sungguh keji !, menggunakan bayi itu untuk menjebakku ! dia belum lahir tapi demi satu kepentingan, kalian tega melakukan ini padanya !" terang Jian Rui.
__ADS_1
" baik ! turunkan kami di sini ! aku tidak ingin bayi ini lahir di depan ayah yg tidak menginginkannya !" bujuk gadis itu.
" Sih ! kenapa di restoran tadi kamu tidak mengatakannya ? setelah jebakan berhasil, kalian mau pergi ? kata Jian Rui.
Jari Jian Rui bergerak dengan cepat melumpuhkan titik - titik tenaga dalam dan titik bisu pada tubuh si nenek dan gadis itu. Wanita hamil itu diam, tidak bergerak sedikitpun melihat aksi Jian Rui. Kereta kuda sedang berjalan dengan kecepatan yg lamban, membelah angin dan bayang - bayang pepohonan.
" turunkan kami ! jika kamu enggan ! untuk apa menyakiti mereka ?!!" seru wanita hamil itu, membelalakkan kedua matanya.
" Diamlah ! akan ku rawat bayi itu apapun skemamu ! aku Jian Rui tidak takut !" tegas Jian Rui.
Jian Rui diam, ada pikiran di depan wajahnya. Kereta memasuki halaman rumah dinas Kota Air Bening. Mereka berempat turun dari kereta kuda. Jian Yu melihat mereka dari sebuah ruangan, lalu mendekat.
" Rui ! ada apa ini !? siapa mereka !?" tanya Jian Yu, setelah mereka duduk dengan tenang di ruang tamu.
" ayah ! tunggu di sini ! aku akan mengantar mereka istirahat !" pinta Jian Rui, mengantar ketiga orang itu ke sebuah ruangan. Beberapa lama kemudian Jian Rui keluar menemui Jian Yu.
__ADS_1
" Aku tidak tahu siapa mereka" lalu Jian Rui menceritakan kejadian di restoran.
" bukankah ini jelas jebakan ? kamu bisa menolaknya ! bahkan meninggalkan mereka !" seru Jian Yu.
" ayah !? itu mungkin tapi aku tidak tega pada bayinya !?" jawab Jian Rui.
" tidak tega pada bayi ? bagus, kamu pantas jadi anakku. Benarkah itu alasanmu sesungguhnya ? atau kamu tidak tega pada ibunya ?" seru Jian Yu.
" Ha sah ha sah ayah !?? masih juga bercanda ?!! ini murni karena bayinya !" seru Jian Rui.
" baiklah, murni karena bayinya, aku sedikit kecewa pada matamu, seandainya karena ibunya pun tak apa, yg penting kamu bahagia !" goda Jian Yu.
" sebaiknya ayah meningkatkan kewaspadaan, skema jahat tetap mungkin ?! usul Jian Rui, lalu mereka berdua berpisah.
Di dalam sebuah ruangan di mana ketiga wanita itu berada, ada seseorang mendekati mereka, wanita hamil itu menyerahkan lipatan kertas kepadanya. Orang itu pergi melesat dengan cepat.
__ADS_1