Jika Malam Tanpa Bintang

Jika Malam Tanpa Bintang
Prolog dan episode 1


__ADS_3

Untuk Sang Bintang paling terang di langit malam yang pekat akan gelap.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


***


Prolog


Entah mengapa aku tak suka warna senja, warna langit senja orange ke merahan memekakan mataku, bagai berlumuran darah. Tapi bagaimanapun senja adalah jembatan menuju malam di mana aku dapat melihat langit berbintang kesukaanku.


 


 


 


 


Episode 1


 


"Nggak usah, aku lebih suka berangkat sendiri," tukasku sambil memegangi smartphone-ku di telinga. Aruna temanku dari semasa kuliah, selalu merecoki. Dia terlampau mengkhawatirkanku melebihi kedua orangtuaku, dia selalu ingin mengantarkanku setiap aku ada acara. Ia juga sering mengajakku jalan keluar, yah semacam nge-date. Dan aku juga sering menolak ajakannya, karena entah mengapa aku merasa tidak nyaman bersamanya. Padahal dia tidak jelek, dia juga tidak norak bahkan dia baik, atau mungkin karena terlalu baik. Wajahnya enak dilihat, kulitnya cukup terang hampir sama denganku, rambut lurusnya dipotong pendek rapih. Dari penampilannya tak ada yang tak ku suka, namun entah mengapa aku belum bisa membalas perasaannya padaku. Bukan hanya pada Aruna, aku tipe wanita yang tak mudah jatuh cinta, apalagi dengan lelaki yang baru ku kenal, seperti sebulan yang lalu ketika teman dari temanku di tempat kerjaku ada yang naksir padaku dan nembak, malah ku tolak, karena aku sama sekali tidak merasakan perasaan cinta padanya.


"Tapi Nanta, kamu mau berangkat dengan siapa? Orangtuamu kan sedang tidak di rumah," Aruna meyakinkanku.


"Sudah ku bilang, aku bisa berangkat sendiri. Aku nggak mau ngerepotin orang," tukasku lalu ku akhiri telepon dari Aruna.


Tidakku sangka bawaanku sebanyak ini, dan aku mulai menyesal telah menolak tawaran Aruna. Sudahlah bagaimana lagi aku juga gengsi kalau harus memintanya sekarang. Aku pun mulai menghubungi nomor telepon taxi satu-persatu beberapa taxi sudah penuh hingga pada taxi ke lima yang ku telepon barulah ada yang kosong. Di hari Sabtu ini aku harus pergi ke Jakarta. Aku bertempat tinggal di Bandung, dan bekerja di salah satu perusahaan fashion ternama, aku di tempatkan di divisi desain, terdiri dari tiga orang desainer produk yaitu Laras, Rani, Reza dan aku sebagai foto editor, layouter dan fotografer. Memang job deskku terlihat lebih banyak tapi sebenarnya sama saja, karena media promosi tidak setiap hari mengeluarkan desain baru, sedangkan desain produk selalu di kejar deadline karena harus sering mengeluarkan model pakaian, dan prosesnya pun cukup panjang. Namun kadang kala jika aku sedang di kejar deadline aku pun di bantu me-layout oleh salah satu dari desainer produk.


Hari ini akan ada fashion show di Jakarta aku dan team dari tempatku bekerja, PT Kreasi Sejahtera harus berangkat jam setengah enam pagi untuk mempersiapkan acara yang akan dimulai pada jam tujuh malam. Aku bertugas mendokumentasikan selama acara berlangsung.


Aku pun menyeret sebuah koper dengan tangan kananku, dan tangan kiriku menjinjing tas berukuran sedang yang di dalamnya berisi dompet, smartphone, dan alat make up-ku. Karena akan menginap dua hari satu malam maka bawaanku agak banyak. Taxi sudah siap aku pun segera berangkat menuju kantor tempatku bekerja karena di sana tempat kami berkumpul. Sambil duduk di dalam taxi aku merapikan rambut lurusku yang panjangnya hanya 3 cm di bawah bahu, bukan dengan sisir melainkan dengan tangan. Bagiku merapikan rambut dengan tangan sudah cukup rapi karena rambutku memang mudah diatur, tak lupa ku rapikan poniku juga.


Sesampaiku di kantor, aku dapat melihat empat orang yang akan pergi juga denganku yaitu Rani desainer, Rere make up artist, Pak Rizki brand manager, dan Pak Ari salah satu marketing. Mereka semua berpenampilan semi formal, Rani menggunakan celana jeans dengan blouse berwana pink yang trendy, Rere menggunakan dress selutut berwarna biru muda polos, dengan layer di depannya dan lengan berbentuk lonceng. Sedang kan Pak Rizki dan Pak Ari menggunakan setelan jas, namun blazer nya di gantung dalam mobil. Sedangkan aku sendiri berbusana cukup cuek, hanya menggunakan celana blue jeans dipadu kemeja flanel panjang hingga ke paha dengan motif kotak-kotak merah biru.


Setelah kami semua siap akhirnya kami berangkat jam lima lewat empat puluh lima menit, menggunakan mobil milik kantor yang berjenis minibus travelo, dikendarai oleh Pak Tono, supir PT Kreasi Sejahtera.


Setelah kami melalui perjalanan selama lebih dari empat jam akhirnya sampai pada lokasi acara. Kami semua mempersiapkan pekerjaan kami masing-masing. Aku mempersiapkan kamera yang akan dipakai. Aku pun berbincang dengan seorang model yang akan memeragakan pakaian produk kami. Kami memang sudah saling kenal karena Nindy memang salah satu model langganan PT Kreasi Sejahtera. Aku dan Nindy berbincang sambil berjalan-jalan mengitari lokasi fashion show. Perbincangan kami dihentikan saat melihat ada seorang wanita dan pria yang terlihat sedang serius berbicara.


"Karina!" sapa Nindy pada wanita tersebut. Wanita tersebut pun segera mengakhiri pembicaarnya dengan pria di hadapannya.

__ADS_1


Eh, Nindy, balas Karina.


"Kamu masih santai? Belum persiapan?" tanya Nindy.


"Aku ada perlu dulu dengan EO (event organizer). O ya kenalin ini orang dari EO!"


"Antares, panggil aja Ares," sahut lelaki di sebelah Karina, dikembangkannya seulas senyum sambil menyodorkan tangan padaku dan Nindy.


Aku dan Nindy pun menyebutkan nama masing-masing. Setelah perjumpaan singkat kami, aku dan Nindy berpisah Nindy pergi ke ruang ganti untuk fitting pakaian karena setelah ini akan ada gladi bersih, sedangkan aku mencoba untuk mengambil gambar di beberapa sudut panggung untuk mengetes apakah settingan pada kamera sudah cukup bagus untuk di ruangan ini. Ketika aku sedang asik melihat hasil jepretanku di kamera, ku tundukan wajahku ke kamera sambil berjalan menuju tampat duduk, dan brak...!!! Whops! Aku kaget setengah mati karena menabrak seseorang.


"Sori, kamu nggak apa-apa?" tanya orang yang ku tabrak.


Ku lihat wajah yang sudah tak asing lagi, rasanya aku pernah melihatnya. Seseorang dengan tinggi sekitar 177 cm, menggunakan jeans hitam dengan kemeja kotak hitam putih yang lengannya di lipat hingga ke siku. Sekejap aku teringat lelaki itu, ah ya lelaki yang tadi bersama Karina. "Ah, nggak apa-apa. Harusnya aku yang minta maaf, aku tadi nggak lihat depan," kataku dengan muka sedikit memerah karena malu.


"Its ok. Kamu fotografer?" tanya Ares.


"Yap, dari PT Kreasi Sejahreta," jawabku.


"Boleh lihat hasil jepretan kamu?"


"Tentu, silahkan," kataku sambil menyodorkan kamera D-SLR-ku. "Tapi hasilnya kurang bagus, karena tempatnya gelap dan nggak boleh pake blitz, apalagi nanti objeknya berjalan, akan susah untuk mendapatkan hasil yang bagus."


"Ya, benar. Coba pake mode auto aja. Kalo nggak atur lagi ISO-nya, karena shutter speed harus cepat kan untuk objek yang berjalan dan juga agar tidak shaking."


"Ya, sepertinya aku harus atur ulang ISO-nya, dan diafragmanya juga masih bisa di turunkan. Ngomong-ngomong kamu juga suka motret? Sepertinya kamu tahu banyak mengenai tehknik fotografi."


“Cuma tahu sedikit sih.”


Kami pun berbincang-bincang sambil bersenda gurau. Selama sebelum acara di mulai Ares menemaniku terus, kami hunting foto bersama, makan bersama bahkan tertawa bersama. Tunggu!!! Aku akrab dengan lelaki yang baru ku kenal?! Rasana mustahil, tapi ini terjadi. Jarang-jarangnya aku bisa langsung akrab dengan seorang lelaki yang baru ku kenal. Ya, aku tahu aku cukup akrab dengan Reza dan beberapa teman lelakiku yang lain, tapi mereka sudah ku kenal sejak lama.


Akhirnya acara dimulai, Ares pun pergi untuk mengurusi pekerjaannya, aku mulai serius memotret para model yang berjalan di atas catwalk, begitu pula para fotografer lainnya pun sangat serius. Aku jadi sedikit merasa minder melihat para fotografer yang sudah profesional. Sedangkan aku, walau fotografer adalah profesiku sejak setahun setengah yang lalu, tapi aku merasa masih amatir. Tidak!!! Aku harus menghilangkan rasa pesimisku, aku pasti bisa mendapat foto yang bagus.


Akhirnya acara selesai pukul sepuluh malam. Rasanya lelah sekali.


"Nanta," panggil seseorang ketika aku keluar dari toilet.


Ku putar kepalaku  untuk memastikan siapa yang memanggilku. Ares?!


"Kamu ada acara apa lagi?" tanya Ares.


"Nggak ada, mau pulang ke hotel abis ini," kataku.


"Kamu nggak lapar? Temenin aku makan yuk!" ajak Ares.


"Em, nggak," jawabku bersamaan dengan gemuruh dari perutku.


"Hahahaa..," Ares menertawaiku. "Nggak singkron jawaban sama suara perutnya."


Aku tersenyum malu, wajahku memerah seperti kepiting rebus. Aku benar-benar kesal dengan perutku yang tak bisa diajak kerja sama, dan telah membuatku malu setengah mati.


Dilingkarkannya lengannya pada bahuku. "Nanta, kamu mau makan kemana?" Ares bertanya.


"Terserah kamu aja," jawabku.


"Nggak ada tempat yang ingin kamu kunjungi, resto atau cafe mana?" Ares meyakinkanku.


"Ada sih tempat yang ingin aku kunjungi. Aku ingin ke Monas."


"Hahahaa..., ke Monas?!  Kamu kayak anak kecil aja."


Sambil memasang wajah cemberut aku berkata, "Ya udah ga usah."


"Jangan ngambek gitu, aku juga pengen ke sana," kata Ares sambil tertawa kecil.


"Ngeledek?! Walau sering ke Jakarta aku belum pernah ke Monas."

__ADS_1


"Kamu belum pernah ke Monas?" tanya Ares heran, sambil membuka pintu mobil sedannya lalu mempersilahkanku masuk.


Aku pun duduk di jok depan mobil sedannya, dan ketika kami berdua sudah di dalam mobil, kujawab pertanyaan Ares tadi, "Iya, lewat doang sih sering."


Ares memundurkan mobilnya untuk dapat keluar dari tempat parkir, lalu melaju keluar dari basement tempat parkir.


"Ah ya aku harus menelpon Rani, untuk memberi kabar supaya mereka duluan ke hotel." Walaupun hotelnya bersebelahan dengan tempat acara namun aku harus memberi kabar agar mereka tidak khawartir. Aku pun menelepon Rani untuk memberi kabar. Rani sedikit khawatir akan aku yang belum pulang selarut ini, namun aku meyakinkanya kalau aku baik-baik saja. Selama perjalanan kami bersenda gurau, Ares memang orang yang menyenangkan, dia supel dan humoris, pantas saja bisa membuatku nyaman. Tak sengaja aku melihat ke arah cermin tengah mobil, terlihat pantulan mata Ares yang sedang serius melihat jalanan ketika sedang mengendarai mobil. Seketika aku merasa Ares begitu keren, aku mulai mengamati matanya yang dalam, wajahnya yang sangat maskulin, kulitnya yang coklat rambutnya yang lurus tapi tidak seratus persen lurus ada sedikit gelombang dan sedikit berantakan. Dan tiba-tiba mulai muncul perasaan apa ini?!


Nanta, udah sampe, kata Ares sambil membuka pintu mobilnya, lalu ia keluar dari mobil, begitu juga denganku, aku keluar dari mobil dengan membuka pintu mobil sendiri, Ares mengitari mobil sepertinya hendak membukakan pintu untukku namun terlambat aku sudah keluar dari mobil. Aku lebih suka melayani diriku sendiri, aku merasa heran dengan para wanita yang sering kali dibukakan pintu mobilnya oleh sang pria, padahal kan ini pekerjaan mudah, aku bisa melakukannya sendiri.


Ares menghampiriku lalu menggandeng tanganku. Oh tidak, tiba-tiba jantungku berdegup kencang. Ku kira kita hanya berteman biasa?! "Nanta kamu jangan jauh-jauh dariku ini sudah terlalu malam, takutnya ada orang jahat."


"Apaan sih Ares, aku kan bukan anak kecil."


"Ya aku tahu, tapi tetap saja, bahaya bagi seorang perempuan malam-malam begini."


Benar saja ku lihat jam pada pergelangan tanganku, ternyata sekarang sudah hampir jam sebelas malam. Tapi aku tak peduli, yang jelas hatiku sekarang terasa sangat bahagia. Apakah karena pada akhirnya aku bisa melihat Monas dari dekat?! Atau karena langit yang bertaburan bintang di malam ini? Karena aku memang sangat menyukai langit malam yang bertabur bintang. Entahlah, aku tak dapat memastikan rasa senangku dikarenakan oleh apa.


Kami langsung mendatangi salah satu tenda pedagang makanan yang masih berjualan. Ketika kami sedang makan mie tektek dengan lahapnya, seorang pengamen kecil datang dengan menyanyikan lagu yang tidak jelas. "Dek, lapar?" tanyaku. Anak itu mengangguk. Lalu aku pun memesan satu piring nasi goreng dan ku sodorkan pada anak itu. Anak itu makan dengan lahapnya.


"Nggak apa kan Res?" bisikku pada Ares.


"Nggak masalah," jawab Ares dengan senyuman manis nya.


Setelah beres makan anak tersebut mengucapkan 'terima kasih.' Aku pun membalasnya, "Sama-sama, hati-hati ya udah malam."


"Iya Kakak cantik," jawabnya dengan mengembangkan senyum polos. Aku pun tertawa mendengarnya.


Setelah Ares membayar, kami berjalan mendekat ke Monas, malam itu suasana sudah sangat lengang pengunjung. "Baru kali ini aku kenal cewek baik kayak Nanta."


"Baik apanya sih Res, akhirnya juga yang bayar malah Ares," ujarku.


"Nggak masalah, dimana-mana emang cowok yang bayar kan."


"Tapi Nanta udah punya niat baik seperti itu aja udah bagus. Cewek jaman sekarang jarang ada yang peduli dengan sekitar. Kebanyakan sih cuma matre. "


"Ya nggak semua seperti itu kan. Ares fotoin dong!" pintaku pada Ares sambil kusodorkan smarthone-ku. Ares pun menerimanya, lalu aku mulai berpose di depan monas. "Ambil fotonya agak jauhan ya, biar monasnya kelihatan!" pintaku sambil sedikit berteriak karena jarak kami yang agak jauh.


Ares pun memotretku beberapa kali. "Hasil nya jelek Ta," kata Ares sambil memperlihatkan hasil jepretannya.


"Iya, hasilnya gelap wajahku nggak keliahata. HP-ku kameranya jelek sih."


"Aku foto lagi ya, pake HP-ku aja, Kameranya lebih bagus," ujar Ares.


"Oke HP-ku emang kuno, hahahaa...," kataku sambil tertawa.


Setelah Ares memotretku dengan ponselnya, ia berjalan mendekat padaku, diperlihatkannya hasil jepretannya padaku, lalu dikirimnya fotoku menggunakan bluetooth.


Aku menunduk memandangi layar ponselku sambil menerima foto yang masuk ke ponselku.


"Nanta," panggil Ares yang berada di  hadapanku.


"Ya," jawabku lalu aku menengadah untuk dapat memandang wajah Ares yang lebih tinggi dariku.


"Apakah malam ini kau merasa senang?" tanya Ares.


"Iya aku senang banget," jawabku.


"Apa karena bisa melihat Monas sedekat ini?" tanya Ares lagi.


Aku berpikir, apakah memang aku merasa senang karena bisa datang ke Monas. Bukan!!! tapi karena yang bersama denganku, aku merasa bahagia karena Ares. Selagi aku diam untuk berpikir, aku dikejutkan oleh yang Ares lakukan padaku, jantungku berdegup kencang sangking kencangnya seperti mau loncat keluar dari dadaku, telapak tanganku mengeluarkan keringat dingin, lututku lemas, wajahku memanas, seperti ada aliran listrik yang mengalir di sekujur tubuhku. Otak dan tubuhku tidak singkron, saat otak berkata menjauhlah dari Ares namun tubuhku hanya diam kala Ares mencium bibirku dengan lembut, tangan kirinya memegangi pipiku dengan lembut.


Di bawah langit berbintang Ares merenggut ciuman pertamaku.


Aku mohon ya pembaca klik like. Makasih 😊

__ADS_1


__ADS_2