
"Ta, udah beres? Kita harus berangkat ke Creative Studio, tadi Pak Toni udah telpon," ajak Rani pada jam satu siang setelah makan siang.
"Ia bentar Ran, duh bingung ini belum beres dikit lagi," keluhku.
"Oke tenang Ta, sini aku bantu," ujar Rani.
Lima belas menit kemudian berkat bantuan Rani akhirnya pekerjaanku beres, walaupun belum beres semuanya paling tidak satu pekerjaan beres.
Team desain dan beberapa rekan kerjaku pun berangkat menggunakan satu mobil mini bus. Ketika sampai aku tercengang.
"Ran, ini kan Creative Studio?" tanyaku terkejut.
"Kan tadi juga aku udah bilang, 'kita mau ke Creative Studio'," tukas Rani.
"Tadi aku nggak denger lagi konsen ke kerjaan."
"Emang kenapa sih Ta?" tanya Rani.
"Ini tempat kerja Aruna," jawabku berbisik sambil berjalan masuk ke lobby.
Panjang umur, ketika resepsionis mengantarkan kami masuk aku dapat melihat sosok lelaki itu beberapa langkah di depanku berjalan dan masuk ke dalam sebuah ruangan yang ternyata kami pun di arahkan masuk ke ruangan tersebut.
Canggung, itulah yang kurasa saat melihat wajahnya. Aruna melihat ke arahku dan aku tersenyum kaku lalu segera kualihkan pandanganku pada Rani. Rani melihatku dengan rasa cemas, karena Rani mengetahui hubunganku dengan Aruna.
Jujur, selama meeting aku agak kurang berkonsentrasi. Sesekali aku melirik ke arah Aruna, dia terlihat begitu serius.
"Ta, jadi gimana konsep kita?" tanya Pak Toni, menejer tempatku bekerja.
"Ah iya pak," aku yang kebanyakan berkutat dengan pikiranku sendiri, belum siap bicara, sehingga aku mengawali kalimat dengan sedikit gelagapan walau akhirnya bisa mengusai materi yang harus kusampaikan.
Selesai meeting kami pun keluar ruang meeting. Saat aku sedang berjalan di koridor menuju lobby terdengar seseorang memanggil namaku dari belakang, saat aku membalikan badan aku dapat melihat Aruna berjalan ke arahku. Aku yang sedang berjalan bersama Rani menghentikan langkah kami lalu Rani berkata, "Ta, aku duluan ya!"
"Iya Ran."
"Giman kabar Nanta?" tanya Aruna sambil berjalan di sampingku
"Baik, Aruna?" jawabku sedikit canggung.
"Kacau, aku tanpa Nanta kacau" jawabnya aku hanya bisa diam. Lalu Aruna kembali bicara, "Tapi bohong," katanya sambil senyum. "Aku baik-baik saja. Nanta, kita akan sering bertemu selama proyek ini berjalan. Aku bisa liat sikap Nanta padaku tidak seperti dulu, bisakah kita seperti biasa lagi?"
"Setelah Aruna mengatakan semua itu lalu kita berpisah dengan cara seperti itu mana bisa aku bersikap seakan tak pernah terjadi apa-apa di antara kita. Jangan kira setelah itu aku nggak pernah memikirkan Aruna."
"Tidak perlu memikirkanku, aku baik-baik saja. Anggap saja semua yang pernah kukatakan hanya bercanda. Kita berteman lagi seperti dulu. Aku ingin Nanata profesional dalam bekerja jangan melibatkan masalah pribadi," jelas Aruna sambil berjalan menuju lobby.
__ADS_1
"Baiklah Aruna aku akan usahakan, Makasih Aruna," kataku sambil tersenyum. Aruna memang selalu baik, mungkinkah aku bodoh, pria sebaik Aruna telah ku tolak.
"Iya Ta. Kalau ada yang ingin ditanyakan, tanya aja padaku," kata Aruna lalu kami berhenti di depan lobby.
"Oke makasih ya," kataku sambil hendak beranjak pergi, namun Aruna menghentikanku dengan memegang tanganku. Aku pun terhenti dan berbalik.
Aruna melepaskan tangannya dari tanganku sambil berkata, "Aku akan mendapatkan yang lebih cantik dari Nanta."
"Mana ada yang lebih cantik dariku," gurauku sambil tertawa kecil, lalu berjalan mulai menjauh dari Aruna. Aruna membalas senyumku sambil tertawa kecil.
Aku pun naik ke mobil mini bus kantor yang di parkir di halaman kantor Creative Studio, di mana di dalamnya semua rekan kerjaku sudah lengkap. Begitu duduk langsung ku lihat ponselku, terdapat pesan dari Ares, 'Nanta mau dijemput jam berapa?' isi pesan dari Ares. Ku lihat jam di pergelangan tanganku, menunjukan jam empat lebih lima belas menit. Mungkin akan sampai di kantor sekitar jam lima kurang, sedangkan aku masih harus membereskan pekerjaan di kantor. Aku pun memutuskan untuk meminta Ares menjemput pukul tujuh dan kami sepakat.
"Nggak ada masalah kan Ta?" tanya Rani yang duduk di sebelahku.
"Masalah?" tanyaku sambil loading.
"Sama Aruna," Rani menegaskan.
"Oh, semua baik-baik saja. Kita nggak ada masalah. Aruna itu baik banget bikin aku jadi makin merasa bersalah. Lelaki sebaik Aruna nggak seharusnya aku abaikan."
"Jadi? Nanta mau putus dengan Ares dan menerima Aruna?" Rani menegaskan.
"Nggak," jawabku sambil menggeleng.
***
Aku yang baru datang di rumah Ares sekitar jam tiga sore, bersalaman dengan para personel Je-vo yang sudah berada di rumah Ares sejak pagi. Rumah Ares cukup besar ada empat kamar tidur, ruang tamu, ruang keluarga, dapur dan entah ada berapa kamar mandi dan satu lagi ada studio musik. Mereka membawaku masuk ke studio musik berukuran kurang lebih 3x5 meter. Di dalamnya terdapat satu set mini drum, mic, dua gitar akustik, sebuah bass, dan dua gitar eketrik lengkap dengan efeknya. Di salah satu sudut terdapat meja dengan komputer, keyboard, dan mic, sejenis alat-alat untuk rekaman sederhana. Mereka langsung berformasi pada posisnya masing-masing, Akmal berdiri di belakang mic, Nizar gitar, Lutfi bass, Deni drum dan terakhir Ares juga mengalungkan tali gitar di bahunya.
"Haaahh, Ares mau ikut ngegitar? Emang bisa?" teriakku.
"Ngejek?! Aku jago banget tau, dengerin nih." Ares memberi sinyal pada para personel Je-Vo untuk memulai memainkan musik.
"Lagu I want you, one two trhee," Akmal berteriak.
lyric
"Gimana keren kan,!" seru Ares.
Aku hanya bisa tercengang terpana dengan musik dan perpaduan suara Ares dan Akmal. Kalau digambarkan mataku ada gambar love-nya.
"Ta, sadar ta," Ares menggoncangkan bahuku.
"Kalian Keren! Kalo di pikir suara Ares bagus juga, waktu nyanyi di depan kantorku juga enak. Kenapa Ares nggak ikut nge-band?" tanyaku.
__ADS_1
"Nggak ada waktu sekarang. Dulu waktu SMA aku juga nge-band sama mereka."
"Wah, nggak nyangka. Dulu waktu aku SMA pengen banget punya cowok anak band, tapi sekarang udah nggak."
"Kenapa sekarang udah nggak? Pasti karena sekarang udah punya aku ya?" kata Ares penuh percaya diri sambil tersenyum nakal.
"Em, bukan juga sih. Soalnya image anak band buruk sih," jawabku dengan wajah polos.
"Nanta udah siap dicincang atau mau dijadiin dadar gulung?!" seru Nizar bercanda.
"Ups," kataku sambil nyengir. Aku mengatakan anak band buruk di antara anak band.
"Jangan Nanta terlalu cantik buat dicincang, mending jadi asisten pribadi abang aja," gurau Akmal.
"Eh, jangan macem-macem ya sama cewek gue," seru Ares.
"Ampun Res," kata Akmal.
"Cie, yang punyanya marah," ledek Lutfi. Kami pun tertawa.
Setelah sedikit canda tawa, para personel Je-Vo melakukan latihan secara serius dan aku menonton mereka sebanyak dua lagu lalu memberi beberapa komentar tentang lagu mereka sebelum akhirnya aku meminta izin pada Ares yang sedari tadi duduk di pojokan di mana terdapat meja kerja dan satu set alat rekaman sederhana sambil menatap serius layar laptonya, untuk ke dapur membawakan makanan dan minuman.
"Ayo aku anter," kata Ares.
"Nggak usah, Ares kayaknya lagi sibuk. Itu kerjaan kan?" tolakku.
"Nggak terlalu penting kok," kata Ares sambil meng-save pekerjaannya. Lalu ia berdiri sambil berkata, "Ayo Ta." Ares tidak mau menjadi seperti ayahnya yang mengabaikan orang-orang yang disayang demi pekrjaan. Bahkan mungkin Bunda pun sakit hingga meninggal gara-gara Ayah.
Aku pun berjalan keluar studio. "Seru banget ya! Ngumpul gini biasanya berapa lama sekali?"
"Kalo mereka nggak manggung ya weekend gini kita ngumpul. Biasanya emang ngumpul di rumahku makanya dibikin studio, tapi itu barang-barang punya mereka masing-masing. Kadang juga suka nongkrong di luar."
"Mereka temen Ares dari mana kok kayaknya deket banget?"
"Udah temen dari SMA," kata Ares sambil menyandar pada kichen set.
"Dulu aku termasuk anak yang pendiam, di kelas aku tidak memiliki banyak teman dan mereka yang paling mengerti aku, mereka sudah seperti keluarga bagiku, terutama saat setelah penerimaan mahasiswa baru, ketika betapa bahagianya aku dapat peringkat tiga besar ujian nasional dan ingin sekali membawa berita baik itu pada Bunda tapi... Ketika aku sampai di rumah, Bunda nggak ada, dia di bawa ke rumah sakit karena penyakitnya datang, aku segera pergi ke rumah sakit, tapi ibu berada di ruang ICU, aku hanya bisa menumggu di luar hingga keesokannya Bunda meninggal." Aku yang berdiri di hadapannya dapat melihat mata Ares yang mulai berkaca-kaca. Ia berhenti bicara beberapa saat untuk menekan kesedihannya, dan menstabilkan nafasnya agar dapat berbicara dengan jelas. "Padahal di rumah hanya satu orang yang pergi tapi keadaan rumah sangat jauh berbeda, Ayah semakin jarang di rumah. Rumah terasa sangat sepi, Dan hanya mereka yang dapat menghiburku, kami benar-benar seperti saudara. Setelah itu kami memutuskam untuk kuliah di Bandung, agar aku bisa pindah dari rumah yang penuh kenangan dengan Bunda."
Mendengar kisah Ares membuatku sangat sedih. Mata Ares yang sudah berkaca-kaca di usapnya dengan tangannya sehingga ia tak jadi meneteskan air mata. Tapi malah aku yang mengeluarkan air mata, tanpa kusadari air mata telah membasahi pipiku. Tangan besar Ares menytentuh pipiku di usapnya air mata di pipiku.
Thanks to jevo band:
Page facebook: je vo band
__ADS_1
Link: https://m.facebook.com/jevo.foralljevoria