Jika Malam Tanpa Bintang

Jika Malam Tanpa Bintang
Episode 2


__ADS_3

 


 


Satu bulan kemudian.


Sulit bagiku untuk melupakan hari


itu, bahkan hingga kini. Sejak kejadian di Monas, aku belum bertemu kembali


dengan Ares. Jangankan bertemu, saling tukar kontak ponsel saja tidak. Kami


benar-benar lost contact. Sebenarnya masih ada kesempatan bagiku untuk


dapat menghubungi dia, aku bisa saja bertanya pada Nindy atau Karina, tapi


untuk apa? Aku tak punya alasan untuk menghubunginya. Mungkin dia cuma lelaki


brengsek yang sedang bermain-main.


“Nanta,” Rani memanggilku untuk


yang ketiga kalinya.


“Eh, apa Ran?” tanyaku gugup.


“Kenapa sih kamu? Aku udah panggil


kamu berkali-kali,” tukas Rani, ketika kami sedang berada di ruang kerja.


“Nggak apa-apa,” jawabku singkat.


“Bohong, Nanta pasti kamu lagi ada


masalah ya? Akhir-akhir ini ku lihat Nanta sering melamun. Cerita sama kita


kalo ada masalah, siapa tau kita bisa bantu.”


Aku diam, belum sempat ku berbicara


bell tanda istirahat bekerja berbunyi, aku dan team design yang lain pun


keluar dari ruang divisi design. Sambil berjalan keluar kantor aku mulai


berbicara. “Sebenrnya...,” aku diam sesaat untuk berpikir, lalu kembali


berbicara, “Ran kamu kenal Ares, orang dari EO di acara fashion show


bulan lalu?”


“Nggak tau, aku kan sibuk di ruang


ganti, fitting baju model. Eh tunggu, jangan-jangan malam itu kamu juga


pergi sama dia, sampe pulang lewat tengah malam!!!” kata Rani dengan nada


seperti memarahi anak gadisnya.


“I.. iya,” kataku sambil tersenyum


malu.


“Trus apa yang terjadi?” Reza

__ADS_1


ikutan nimbrung heboh.


“Rez, lu udah kaya emak-emak tukang


gosip,” ejek Laras. Reza walau seorang lelaki macho, dan sama sekali tidak


melambai tapi senang banget ikutan ngegosip bareng kita bertiga, mungkin karena


kita hidup dalam satu atap, maksudnya kami bekerja dalam satu ruangan makanya


kita jadi dekat. Reza selalu berpenampilan keren layaknya seorang desainer


grafis, cuek tapi keren, pakaiannya kasual jarang sekali dia menggunakan


pakaian yang formal, rambutnya yang gondrong sedikit bergelombang. Sedangkan


Rani adalah yang paling dewasa dan feminin, tentu saja karena dia yang paling


tua umurnya 27 tahun dan ia baru saja menikah tahun kemarin sedangkan Laras


adalah yang paling tomboy gayanya sangat cuek seperti lelaki, rambutnya model emo.


Mengingat yang terjadi malam itu


aku tersenyum-senyum malu.


“Nanta apa yang terjadi?” kata Rani


sambil menatapku curiga.


“Ya, gitu aja,” jawabku


terbata-bata, sambil mengalihkan pandanganku dari mereka ke arah kursi yang ku


“Nanta!!!” panggil Rani dengan nada


penuh tekanan. “Katakan apa yang terjadi! Aku tau pasti terjadi sesuatu.” Rani


sudah sepeti ibu-ibu yang sedang mengintrogasi anak gadisnya. Sementara itu


Reza memesan makanan untuk kita semua di tempat pemesanan kafetaria. Sekitar


lima menit kemudian Reza kembali ke meja kami. Ia pun langsung masuk dalam


pembicaraan kami.


“Jadi gimama? Nanta, lu udah jadian


sama dia?” tanya Reza.


“Nggak, aku nggak jadian.”


“Trus apa yang bikin kamu jadi aneh


kaya gini?” desak Reza.


Aku mencondongkan tubuhku ke depan


lalu aku memelankan suara, “Malam itu, he has been kissing me.”


“What!!! Is he crazy,” tukas


Laras.

__ADS_1


“Trus kamu tolak dia setelah eemm?!”


tanya Rani.


“Nggak,” jawabku cepat.


“Tunggu dulu, kalian udah ciuman


tapi belum jadian dan kamu pun nggak nolak dia,” Laras merasa bingung ia


berkata sambil coba untuk memikirkan perkataanku. Dan ku rasa yang lain pun


sebingung Laras.


Sebelum suasana menjadi kacau ku


coba jelaskan, “Dia melakukannya secara tiba-tiba, lalu dia mengantarku pulang


dan sampai sekarang kita belum ada kontakan lagi.”


“Dasar cowok kurang ajar, mudah


banget dia lakuin itu. Mungkin bagi cowok mencuim cewek hanyalah hal biasa yang


menyenangkan dan lalu bisa dilupakan begitu saja,” Laras memaki Ares yang tak


ada di sini.


“Udah jelas dia cowok nggak bener.


Lalu apa yang membuat kamu kepikiran? Udah lupakan aja dia!” tuka Laras


“Entahlah kenapa aku bisa terus


kepikiran Ares. Mungkinkah aku telah jatuh hati padanya?”


“Cowok tuh sama aja, nggak pernah


mikirin perasaan cewek. Ta, kamu nggak pantes jatuh hati sama cowok model dia!”


tukas Laras.


“Nggak semua cowok kayak gitu, kok.


Buktinya aku,” pembelaan dari Reza.


Ketiga pasang mata langsung menatap


tajam Reza. “Trus kenapa lu udah putus lagi sama yang kemaren?” Laras


mengintrogasi.


“Hani terlalu posesif, ngobrol


bareng kalian aja dicemburuin. Tapi bener tu cowok udah nggak bener Ta, lu


harus lupain dia, mumpung belum terlalu jauh.”


“Ya aku rasa kalian bener,” kataku


dengan nada kurang yakin.


“Nanta, aku yakin kamu pasti bisa!”

__ADS_1


Rani memberiku semangat.


__ADS_2