
Satu bulan kemudian.
Sulit bagiku untuk melupakan hari itu, bahkan hingga kini. Sejak kejadian di Monas, aku belum bertemu kembali dengan Ares. Jangankan bertemu, saling tukar kontak ponsel saja tidak. Kami benar-benar lost contact. Sebenarnya masih ada kesempatan bagiku untuk dapat menghubungi dia, aku bisa saja bertanya pada Nindy atau Karina, tapi untuk apa? Aku tak punya alasan untuk menghubunginya. Mungkin dia cuma lelaki brengsek yang sedang bermain-main.
“Nanta,” Rani memanggilku untuk yang ketiga kalinya.
“Eh, apa Ran?” tanyaku gugup.
“Kenapa sih kamu? Aku udah panggil kamu berkali-kali,” tukas Rani, ketika kami sedang berada di ruang kerja.
“Nggak apa-apa,” jawabku singkat.
“Bohong, Nanta pasti kamu lagi ada masalah ya? Akhir-akhir ini ku lihat Nanta sering melamun. Cerita sama kita kalo ada masalah, siapa tau kita bisa bantu.”
Aku diam, belum sempat ku berbicara bell tanda istirahat bekerja berbunyi, aku dan team design yang lain pun keluar dari ruang divisi design. Sambil berjalan keluar kantor aku mulai berbicara. “Sebenrnya...,” aku diam sesaat untuk berpikir, lalu kembali berbicara, “Ran kamu kenal Ares, orang dari EO di acara fashion show bulan lalu?”
“Nggak tau, aku kan sibuk di ruang ganti, fiting baju model. Eh tunggu, jangan-jangan malam itu kamu juga pergi sama dia, sampe pulang lewat tengah malam!!!” kata Rani dengan nada seperti memarahi anak gadisnya.
“I.. iya,” kataku sambil tersenyum malu.
“Trus apa yang terjadi?” Reza ikutan nimbrung heboh.
__ADS_1
“Rez, lu udah kaya emak-emak tukang gosip,” ejek Laras. Reza walau seorang lelaki macho, dan sama sekali tidak melambai tapi senang banget ikutan ngegosip bareng kita bertiga, mungkin karena kita hidup dalam satu atap, maksudnya kami bekerja dalam satu ruangan makanya kita jadi dekat. Reza selalu berpenampilan keren layaknya seorang desainer grafis, cuek tapi keren, pakaiannya kasual jarang sekali dia menggunakan pakaian yang formal, rambutnya yang gondrong sedikit bergelombang. Sedangkan Rani adalah yang paling dewasa dan feminin, tentu saja karena dia yang paling tua umurnya 27 tahun dan ia baru saja menikah tahun kemarin sedangkan Laras adalah yang paling tomboy gayanya sangat cuek seperti lelaki, rambutnya model emo.
Mengingat yang terjadi malam itu aku tersenyum-senyum malu.
“Nanta apa yang terjadi?” kata Rani sambil menatapku curiga.
“Ya, gitu aja,” jawabku terbata-bata, sambil mengalihkan pandanganku dari mereka ke arah kursi yang ku tarik.
“Nanta!!!” panggil Rani dengan nada penuh tekanan. “Katakan apa yang terjadi! Aku tau pasti terjadi sesuatu.” Rani sudah sepeti ibu-ibu yang sedang mengintrogasi anak gadisnya.
Sementara itu Reza memesan makanan untuk kita semua di tempat pemesanan kafetaria. Sekitar lima menit kemudian Reza kembali ke meja kami. Ia pun langsung masuk dalam pembicaraan kami.
“Jadi gimama? Nanta, lu udah jadian sama dia?” tanya Reza.
“Trus apa yang bikin kamu jadi aneh kaya gini?” desak Reza.
Aku mencondongkan tubuhku ke depan lalu aku memelankan suara, “Hari itu, he was kissing me.”
“What!!! Is he crazy,” tukas Laras.
“Trus kamu tolak dia setelah kalian melakukannya?!” tanya Rani.
__ADS_1
“Nggak,” jawabku singkat.
“Tunggu dulu, kalian udah ciuman tapi belum jadian dan kamu pun nggak nolak dia,” Laras merasa bingung ia berkata sambil coba untuk memikirkan perkataanku. Dan ku rasa yang lain pun sebingung Laras.
Sebelum suasana menjadi kacau ku coba jelaskan, “Dia melakukannya secara tiba-tiba, lalu dia mengantarku pulang dan sampai sekarang kita belum ada kontekan lagi.”
“Dasar cowok kurang ajar, mudah banget dia lakuin itu. Mungkin bagi cowok mencuim cewek hanyalah hal biasa yang menyenangkan dan lalu bisa dilupakan begitu saja,” Laras memaki Ares yang tak ada di sini.
“Udah jelas dia cowok nggak bener. Lalu apa yang membuat kamu kepikiran? Udah lupakan aja dia!” tuka Laras.
“Entahlah kenapa aku bisa terus kepikiran Ares. Mungkinkah aku telah jatuh hati padanya?”
“Cowok tuh sama aja, nggak pernah mikirin perasaan wanita. Ta, kamu nggak pantes jatuh hati sama cowok model dia!” tukas Laras.
“Nggak semua cowok kayak gitu, kok. Buktinya aku,” pembelaan dari Reza.
Ketiga pasang mata langsung menatap tajam Reza. “Trus kenapa lu udah putus lagi sama yang kemaren?” Laras mengintrogasi.
“Hani terlalu posesif, ngobrol bareng kalian aja dicemburuin. Tapi bener tu cowok udah nggak bener Ta, lu harus lupain dia, mumpung belum terlalu jauh.”
“Ya aku rasa kalian bener,” kataku dengan nada kurang yakin.
__ADS_1
“Nanta, aku yakin kamu pasti bisa!” Rani memberiku semangat.