
“Tapi Nanta mau aja di pegang tangannya dan digandeng kemari dengan wajah bahagia sementara aku dilupakan, dan aku juga lihat kemarin kamu masuk ke mobilnya kan?!” Aruna berkata dengan nada tinggi sambil menujuk Ares yang berada di sampingku. “Memang aku nggak bisa memberi seperti apa yang dia beri, tapi aku sungguh nggak nyangka Nanta akan seperti ini. Selama ini aku percaya padamu. Aku percaya bahwa kamu wanita baik dan polos, tapi hari ini kepercayaanku sudah berakhir. Jadi ini alasannya kamu gantungin aku,” Aruna berkata dengan penuh amarah, lalu ia balikan badan untuk segera pergi.
Aku benar-benar shock air mata menghambur keluar. Selama ini aku tidak pernah dimarahi laki-laki selain Ayahku. Apalagi ia adalah teman yang selama ini baik padaku, berpikir buruk tentangku.
Sambil menangis aku memanggil Aruna, tapi ia tak menengok sedikit pun. Lalu Ares berlari ke arah Aruna.
Ares berbicara pada Aruna. “Heh, lu nggak liat cewek lu ampe nangis gitu.”
“Dia bukan cewek gue,” kata Aruna singkat dengan wajah sinis lalu pergi begitu saja.
“Udah Ares biarin,” aku mencegah Ares yang hendak menghentikan kepergian Aruna.
“Maaf ya Ta, semua gara-gara aku,” kata Ares sambil berdiri di hadapanku.
“Iya Res nggak apa. Aku juga salah nggak bilang dari kemaren.”
“Tapi cowok lu juga keterlaluan marahin cewek di tempat umum. Trus malah pergi gitu aja tanpa dengerin alasan Nanta, masa dia nggak percaya sama Nanta, padahal dia cowok Nanta?!” Ares marah-marah pada Aruna yang tak ada di sini.
“Aruna bukan cowokku.” Mendengar kalimat itu keluar dari mulutku wajah Ares terlihat bingung namun di balik wajah nya yang kebingungan berkembang rasa senang di hatinya.
“Eh?!” seru Ares bingung.
“Aruna memang sudah nembak aku sejak lama, tapi aku masih belum memberi kepastian. Aku memang cewek nggak punya hati nggak punya perasaan. Tapi aku nggak ada maksud jahat. Aku cuma belum yakin dengan Aruna. Namun bagaimanapun Aruna teman baikku sejak kuliah. Aku sakit hati mendengar perkataan Aruna tadi karena selama ini Aruna nggak pernah kasar padaku. Trus aku harus gimana?” jelasku panjang lebar dengan mata sembab.
Ares yang masih berdiri di hadapanku meraih tanganku pelan-pelan di tariknya diriku menuju tempat duduk panjang yang ada di sebelah mobil van. Ares duduk di situ aku pun mengetahui maksud Ares yang mengharapkan aku juga duduk di situ. Aku dan Ares duduk bersama, pelan-pelan terdengar suara musik dari stage, langit mulai menjingga. Warna langit sore yang mulai memerah, sangat mengerikan, bagai dilumuri darah. Entah mengapa langit senja membuat sedihku semakin mendalam. Ares tiba-tiba membelai rambutku, membuatku terkejut sehingga aku mengalihkan perhatian dari langit ke wajah Ares. Entah mengapa wajahnya dapat mengalihkan rasa sedihku. Rasa takutku pada langit senja pun seketika menghilang tersedot oleh tatapan mata Ares. Kurasa perasaan itu mulai kembali.
Mengapa aku harus bertemu Ares? Apakah ini takdir?
Ya, takdir telah mempertemukan kita.
Sambil menurunkan tangannya dari membelai rambutku, Ares berkata, “Kalau Nanta sampai menangis begitu artinya Nanta sangat menyayangi orang tersebut. Seperti aku yang terus berusaha mengejar Nanta, Nanta kalo merasa orang itu penting, Nanta harus bisa mengembalikan kepercayaan orang tersebut.”
“Tapi untuk saat ini aku merasa kesal dan benci pada Aruna. Dia telah membuat hatiku terluka dengan perkataannya.”
“Itu semua karena dia salah paham kan. Tenangkan hati dulu. Dalam keadaan seperti ini sering kali otak nggak berfungsi dengan baik,” kata Ares sambil melingkarkan tangannya di bahuku.
Aku diam, mengikuti saran Ares untuk menenangkan pikiranku. Hening. Suara musik pun berhenti menghormati adzan yang akan berkumandang. Aku memandang ke langt, langit yang bukan jingga lagi tapi semakin ungu kemerahan, semakin membuatku takut. “Aku takut,” ujarku tiba-tiba.
“Apa yang kamu takutkan?” tanya Ares.
“Langit,” jawabku singkat.
“Langit?” Ares mengulangi jawabanku sambil mengerutkan kening.
“Ketika pergantian terang ke gelap warna langit jadi mengerikan, warnanya merah. Cahaya merahnya menyinari bumi sampai ke tanah.”
“Menurutku langit senja itu indah,” sangkal Ares.
“Tapi menurutku tidak, aku merasa seperti dalam ruangan yang lampunya berwarna merah. Lalu saat melihat langit yang mulai jingga lalu semakin matahari turun semakin merah, warna langit jadi seperti berlumuran darah.”
“Ternyata sudut pandang orang berbeda-beda. Sesuatu yang menurutku indah belum tentu menurut orang lain. Sekarang aku mengerti.” Lalu Ares berdiri. “Came on,” ujar Ares sambil melihat ke arahku yang masih duduk.
“Kemana?” tanyaku.
“Ketempat yang chayanya nggak merah,” jawab Ares.
Aku mengerutkan kening. Ares tak memperdulikan ekspresiku. Ia meraih tanganku lalu ditariknya diriku. Kami memasuki sebuah cafe.
“Nah, di dalam sini kita aman dari warna senja,” kata Ares sambil berjalan menuju meja kosong yang menempel pada jendela besar yang menghadap ke luar. “Kita duduk di sini biar tetap bisa melihat langit. Aku harap Nanta juga bisa menikmati senja tanpa rasa takut. Nanta nggak keberatankan?” tanya Ares yang duduk di hadapanku sambkl memandang ke luar jendela.
“Ya, nggak masalah. Aku suka duduk dekat jendela, sebentar lagi gelap dan aku bisa melihat bintang dari sini. Semoga langitnya cerah supaya Ares bisa liat bintang kesukaanku. Aku bisa duduk berjam-jam waktu malam cuma buat memandangi langit yang penuh bintang.”
“Nanta suka bintang?” tanya Ares sambil menyodorkan menu makanan.
“Ya, suka banget,” jawabku. “Aku chiken mozarela sama air mineral.”
Ares pun memanggil pelayan dan menyebutkan pesannya. Setelah pelayan tersebut pergi Ares bertanya, “Kenapa?”
“Kayaknya mereka penuh misteri. Aku suka membayangkan hidup di langit di antara bintang-bintang. Seperti apakah keadaan di luar angkasa? Sepertinya langit itu tak ada batasnya.”
“Wow, sepertinya Nanta punya imajinasi yang luar biasa. Kamu beruntung, karena di hadapanmu adalah jelmaan dari bintang favoritmu.”
Mendengar perkataan Ares membuatku tertawa. Perkataan Ares seperti gombalan.
__ADS_1
“Kenapa ketawa?! Ini beneran. Nanta nggak tau namaku di ambil dari nama bintang paling terang di rasi bintang scorpio. Antares.”
Aku tercengang. “Beneran?”
“Iya tentu aja. Liat aja KTP-ku.” Ares mengeluarkan KTP-nya lalu disodorkan padaku.
Aku tertawa melihat Ares yang sampai mengeluarkan KTP-nya.
“Kenapa tertawa?” tanya Ares.
“Aku suka.”
“Suka aku?”
“Suka namamu.”
“Kalo orangnya, suka nggak?”
“Belum bisa jawab.”
“Kalo gitu makan!” ujar Ares ketika makanan sudah siap di hadapan kami sambil nyengir.
“Ares, kenapa menasehatiku untuk baikan sama Aruna?” tanyaku hati-hati setelah makan.
“Aku cuma nggak mau orang yang ku sayang sedih. Kelihatannya dia penting buat Nanta,” kata Ares sambil memandang dalam ke mataku.
Aku merasakan getaran kebahagian hanya dengan memandang mata itu, wajah itu, wajah yang sudah lama kurindukan kini hadir di hadapanku. Aku kacau, aku tak mengerti apa yang harus kulakukan, tapi aku tau apa yang kuinginkan. Aku ingin berada di dekat Ares.
Di bawah langit bertabur bintang kami berdiri dekat panggung menyaksikan aksi panggung dari band kegemaranku. “Eh, Ares tau dari mana aku suka Je-vo, kok bisa kebetulan yang performce Je-vo?” tanyaku heran.
“Aku kan dukun, hahaha...,” canda Ares sambil tertawa. “Aku tau waktu pertama ketemu Nanta, di HP Nanta wallpapernya gambar album Je-vo.”
“Jadi ini beneran? Ares ngundang Je-vo buat aku? Ku pikir memang ada agenda event di sini?” tanyaku tak percaya.
“Membuat acara di tengah kota kan nggak gampang?”
“Aku serius, sengaja bikin live musik buat nembak Nanta,” kata Ares sambil senyum manis. “Bikin acara band kaya gini sih tinggal minta ijin, keluarin uang keamanan. Beres.”
Aku memberi tanggapan dengan melirikan mata ke arah Ares sambil memberi ekspresi wajah sebal.
“Aku nggak suka aja dengan cara bicaramu, seakan segalanya mudah diselesaikan dengan uang. Padahal banyak orang yang harus berusaha keras demi mendapapatkan sesuatu yang diinginkan. Ya seperti aku.”
“Maaf Ta aku nggak maksud seperti itu,” Ares meminta maaf dengan wajah penuh sesal.
Sampai sekitar jam setengah sembilan aku di temani Ares menonton acara musik di depan panggung, lalu Ares bertolak ke dekat mobil van untuk membereskan pekerjaannya. Terlihat Ares sedang berdiskusi serius dengan rekan-rekannya. Sementara Ares membereskan pekerjaan nya, ia meminta teman-teman Je-vo untuk menemaniku menonton band selanjutnya yaitu Reincarnate. Aku pun berkenalan dengan ke empat personel Je-vo, Akmal, Nizar, Lutfi dan Deni. “Rasanya seperti mimpi bisa ngobrol dengan idola seperti ini,” ujarku senang.
“Hahahaa..., mungkin ini yang namanya mimpi menjadi kenyataan,” jawab Nizar sang gitaris. “Beruntung banget lho Nanta, Ares nggak pernah seserius ini dengan perempuan sebelumnya.”
Tiba-tiba ada rasa senang menjalari dadaku saat mendengar perkataan Nizar tadi. Aku pun tersenyum simpul. “Masa sih, dia kan orang EO bukannya banyak kenalan model cantik-cantik?”
“Ia sih dia sering ganti-ganti cewek tapi baru kali ini Ares ampe kontak kita buat bikin acara demi seseorang, dia ampe urus semua periziniannya sendiri, salut dah gue,” ujar Akmal.
“Ah dia sampe bisa bikin acara gini? Ares orang kaya yah?” tanyaku hati-hati.
“Dia kan yang punya EO, Ayahnya pengusaha. Nanta nggak tau?” tanya Lutfi.
“Haahh,” aku tercengang mendengarnya. Mataku tiba-tiba ingin melirik ke arah Ares, ku lihat dia sedang serius berbincang dengan para crew sambil menunjuk ke sana-sini. "Pantas saja," batinku. “Eh tunggu dulu?! Ares itu playboy yah?” tanyaku.
“Eemm, gimana ya,” gumam Deni sambil saling pandang dengan personel yang lain.
“Soalnya kata kalian Ares suka gonta-ganti cewek?” tanyaku.
“Ya mungkin cuma rekan, atau sekedar main-main aja, dan sekarang keliatannya dia mulai ingin serius,” Akmal angkat bicara.
Oke, untuk pria semodel Ares aku harus beri tes dulu. Jangan sampai aku terkena jeratnya. Jangan mentang-mentang anak orang kaya jadi seenaknya, huh. Ya walau mereka bilang, Ares terlihat serius sekarang, tapi siapa yang tau?!
“Seru banget kayaknya. Kalian awas jangan deket-deket Nanta, cewek gebetan gue tuh!” canda Ares pada kami yang sedang asik ngobrol.
“Hahahaa..., Res ampun gue nggak berani lah nikung elu, ntar kagak di kasih job lagi, hahaa,” canda Nizar.
“Yuk Ta, udah malem,” ajak Ares.
“Iya, aku pulang dulu ya, thank you ya guys udah nemenin ngobrol,” aku berpamitan pada para personel Je-Vo.
__ADS_1
“Oke, hati-hati Ta,” ujar para personel Je-Vo.
Kami berjalan menuju tempat mobil Ares diparkir, namun aku menghentikan langkahku. “Res aku nggak mau diantar pake mobil,” kataku tiba-tiba menghentikan langkah kaki Ares.
“Lho kenapa Ta? Trus mau diantar pake apa?” tanya Ares bingung.
“Pake angkot aja.”
“Tapi Ta lebih enak pake mobil.”
“Ya, kalo nggak mau nggak apa, aku pulang sendiri aja. Aku udah biasa kok.”
“Jangan. Oke deh aku antar.”
“Naik angkot?” aku meyakinkan.
“Em iya deh. Tapi kenapa Ta?” tanya Ares heran.
“Aku ingin menikmati apa yang bisa kulakukan setiap hari. Aku setiap hari pergi ke kantor dengan angkot, Ares juga harus merasakannya.”
“Oke siapa takut, dulu juga aku suka naik angkot ke sekolah.”
Turun dari angkot kami harus jalan sekitar 150 meter untuk dapat sampai ke rumahku.
“Ta, Kok gelap gini sih komplek rumahmu?”
“Takut ya?” godaku sambil tersenyum menggoda.
“Nggak, mana mungkin Ares takut haha. Cuma kalo biasanya Nanta pulang sendiri nggak takut?”
“Nggak dong, aku bukan penakut. Lagipula di sini aman, tuh di pos ronda suka ada yang kumpul,” kataku sambil menunjuk pos ronda yang berisi orang-orang yang tidak jauh dari tempat kami berjalan.
“Eemm, sekarang aku tau kenapa Nanta ngajak naik angkot,” ujar Ares.
“Kenapa?” tanyaku.
“Biar romantis bisa jalan berduaan, hahaa...,” kata Ares sambil tertawa.
“Iih!” seruku sambil tertawa sebal. “Itu rumahku di depan,” aku menunjuk rumah yang berada dua rumah dari tempat kami berjalan.
“Yah... udah sampe lagi padahal masih pengen jalan bareng,” Ares menggombal.
“Hahaha..., ya nanti kita jalan bareng lagi,” kataku sambil berhenti karena kami sudah berada tepat di depan rumahku.
“Bye, hati-hati pulangnya jalannya gelap jangan nengok kebelakang ya,” ujarku menggoda.
“Kenapa emang?” tanya Ares tak mengerti.
“Kalo liat kebelakang terus ntar susah move on, haha...,” candaku.
Ares tertawa lalu mengulurkan tangannya menuju ke arah pipiku. Apa yang akan ia lakukan?! Aku takut?! Aku pun menutup mata ketakutan. Ternyata Ares hanya menjewerku pelan. Sambil berkata, “Nakal, awas ya!” Ares diam sejenak lalu kembali berkata, “Ta besok mungkin aku nggak bisa bertemu Nanta, ada pekerjaan yang harus aku bereskan di Jakarta, tapi Sabtu aku akan datang lagi ke Bandung. Jangan kangen ya, hehe.”
Hatiku seperti menciut rasanya. Ada rasa sedih dan kecewa, tapi apa hakku Ares bukan pacarku, dan lagi kita kan baru kenal.
“Nggak akan kangen, udah sana,” usirku sambil berusaha mendorongnya pergi.
“Bohong,” kata Ares sambil berjalan pergi.
Aku memasuki rumah, rumahku sudah sepi, mungkin sudah pada tidur, namun ketika aku hendak membuka pintu kamar, adikku Ken keluar kamarnya yang bersebelahan dengan kamarku di lantai dua. “Dari mana aja Kak hari gini baru pulang? Ini kan bukan malam minggu?” tanya Ken.
“Kepo,” tukasku singkat.
“Punya Kakak pacaran mulu mana udah ganti lagi cowoknya,” celetuk Ken.
“Dari mana kamu tau?” tanyaku kesal.
“Liat dari jendela kamar Ken,” jawabnya.
O iya, dari jendela kamar Ken memang bisa melihat ke depan rumah. “Ken, kamu ngintip ya, dasar nyebelin, awas nggak akan dikasih uang tambahan,” ancamku.
“Kalo gitu Ken bilangin Mama,” kata Ken sambil menyeringai.
“Ken nyebeeliinn...,” teriakku.
__ADS_1
***
Sejenak tadi aku melupakan tentang Aruna, dan kini, ketika aku merebahkan badan hendak tidur ingatan tentang Aruna kembali lagi. Rasa kesal itu muncul lagi. Sebal, sebal, sebal.