Jika Malam Tanpa Bintang

Jika Malam Tanpa Bintang
episode 5 part 2


__ADS_3

Begitu sampai di rumah aku langsung masuk kamarku, melanjutkan tangis yang tertunda selama perjalanan pulang.


***


Sinar matahari menyelinap melalui celah jendela kamarku menyorot mukaku, membuatku terbangun. Jam berapa ini? aku bertanya dalam hati. Aku meraba-raba tempat tidurku untuk mencari ponselku. Setelah kutemukan ponselku yang tergeletak tak beraturan di atas tempat tidurku, aku menekan tombol power untuk menghidupkannya. Ternyata sudah jam delapan pagi. Gawat!!! Aku bangun kesiangan. Walau ini hari libur seharusnya aku bangun lebih pagi. Aku ada janji dengan Ares, mana belum membereskan kamar. Benar saja ketika aku melihat ponselku terdapat bebrapa pesan dari Ares. Oh tidak, pikirku panik. Ares pasti berpikir bahwa aku wanita pemalas, jam segini baru bangun.


Aku segera membuka pesan dari Ares. ‘Nanta mau di jemput jam berapa?’ bunyi pesan dari Ares. Aku langsung teringat semalam kami bbm-an dan dia bilang sudah di Bandung sejak pukul sepuluh malam, hari ini kami janji akan bertemu.


Aku segera membalas pesan Ares. ‘Siang aja, gimana?’


Tidak sampai satu menit Ares membalas pesanku. ‘Oke aku jemput jam satu. Udah nggak sabar ketemu Nanta.’


Aku senyum-senyum sendiri. Lalu aku segera bergegas beres-beres kamar dan mandi.


Jam satu kurang sepuluh menit aku belum beres mengeringkan rambut dan berdanadan, karena tadi bukan kamarku saja yang harus di bereskan melainkan seluruh ruangan lantai dua. Ken membantu Mama membersihan lantai bawah dan Papa membersihkan kebun.


Ketika aku sedang asik berdandan terdengar suaran Ken memanggilku dari bawah, “Kak, ada tamu·” Oh tidak, ini kan belum jam satu, dia udah datang.


“Iya, suruh tunggu dulu aja!” teriakku pada Ken.


“Dandannya nggak perlu lama-lama kali Kak, nggak akan berubah kayak Katy Pery juga,” ledek Ken yang tiba-tiba sudah ada di ambang pintu.


“Apa sih Ken?! Keluar sana!” Ku dorong adiku agar keluar dari kamarku namun percuma ia terlalu tangguh, tubuhnya saja lebih tinggi dariku.


“Kak cowoknya kok udah ganti lagi? Kak Aruna dikemanain?” tanya Ken.


“Kepo,” kataku singkat tanpa memberi jawaban. Kuulas lipstick ke bibirku adalah sentuhan terakhirku. Aku segera berlari menuju ruang tamu, dengan menggunakan stelan jeans hitam atasan berwarna merah dengan model bagian bawah miring dan benang yang berserabutan.


Ku sapa Ares sambil tersenyum ketika sampai di ruang tamu. “Ayo!” ajakku.


Ares pun berdiri dari duduknya. Aku memanggil kedua orangtuaku. “Ma, Pa, aku pergi dulu.” Lalu mereka menghampiriku ke ruang tamu. Ares pun berpamitan.


“Mau kemana nih?” tanya Ares sambil mengendarai mobilnya.


“Nonton aja, gimana?! Aku pengen nonton sebut nama film·” Karena aku belum mengenal baik Ares, jadi aku memilih pergi ke tempat ramai.


“Mata Nanta kenapa?” tanya Ares tiba-tiba.


“Ah keliatan ya?” Aku terkejut dan langsung teringat kejadian semalam. Aku menangis hingga larut malam. “Nggak apa-apa Res,” jawabku berbohong.


“Cerita aja Ta nggak apa-apa kok.”


Mana bisa aku menceritakan tentang Aruna. Aku takut Ares merasa bersalah. “Nggak apa-apa kok Res, pas bangun tau-tau udah gini. Kelamaan tidur mungkin,” lagi-lagi aku berbohong.

__ADS_1


Dalam hati Ares sebenarnyan ragu dengan jawabanku, namun Ares tak ingin memaksaku.


Setelah nonton, kami mengitari dulu salah satu pusat perbelanjaan di Bandung, dan aku melihat sebuah sepatu yang menarik perhatianku, ku coba lihat harganya, mataku terbelalak, what a fantastic price!!! Dalam hati aku terkejut. Oke aku urungkan niatku untuk membelinya, ku simpan kembali sepatu tersebut.


“Nanta mau sepatu itu?” tanya Ares.


“Nggak Res, cuma liat doang,” jawabku.


“Ambil aja Ta, biar aku yang bayar.”


“Nggak itu harganya mahal banget Res,” kataku sambil berbisik.


“Nggak apa-apa,” Ares memaksa.


“Nggak mau. Ayo!” kataku sambil menarik tangan Ares menjauh dari sepatu itu.


“Kenapa sih Nanta nolak pemberianku?”


“Aku lebih suka membeli sesuatu dari hasil keringat sendiri. Karena bukan kita saja, banyak orang di dunia ini yang harus berusaha keras demi mendapatkan yang diinginkan. Mungkin bagi Ares segalanya mudah. Tapi tidak bagiku, aku rasa tidak baik juga jika segalanya bisa di dapat dengan mudah tanpa jerih payah.”


Seketika Ares terkesima dengan wanita di sebelahnya. Baru kali ini ia menemukan wanita sebaik diriku. Selama ini pergaulannya dipenuhi gemerlap.


***


Sudah seminggu ini aku setiap pulang kerja dijemput Ares. Ia harus mengurusi bisnis Ayahnya di Bandung, sehingga Ares akan sering berada di Bandung.


‘Pulang jam berapa, nanti aku jemput kalo udah beres.’ balas Ares.


‘Mungkin sekitar jam delapan malam.’ Aku kembali membalas.


‘Oke,’ tanda setuju dari Ares.


“Ayo,” ajak Laras. Aku pun memasukan ponselku ke saku celana, lalu Kami team desain pun mengikuti Laras keluar kantor. Namun di gerbang kantor Rani berpisah karena sudah di jemput suaminya. Kami pun pergi bertiga, aku,  Laras dan Reza. Kali ini kami memutuskan untuk nongkrong di BIP.


“Za, kamu masih sama yang itu?” tanyaku.


“Iya, masih sama Dicha, dia enak orangnya nggak posesif dan asik juga.”


“Reza kayaknya gampang banget ya dapet cewek,” tukas Laras.


“Ya gue kan ganteng, hahahaa. Gue sih asal liat tu cewek keliatan naksir gue pacarin aja, nggak pilih-pilih. Cowok lebih jalan logikanya nggak terlalu bawa perasaan kayak kalian.”


“Huh, enak ya lu, gampang gitu,” ujar Laras iri.

__ADS_1


“Lu danadan rada cewek dikit kek!” seru Reza.


“Tapi gue nggak suka,” Laras bersikeras. “Eh, Nanta kamu ntar dijemput Ares ya?” tanya Laras.


“Iya kayaknya,” jawabku.


“Jadi Nanta udah putus sama Aruna?” tanya Reza.


“Ya, bisa dibilang gitu,” jawabku.


“Bisa dibilang gitu? Maksud Nanta?” Laras bertanya. Aku pun menceritakan kejadian di malam itu ketika Aruna meninggalkanku.


“Ya ampun sedih banget, kasian Aruna,” simpati Laras ketika aku usai menceritakannya.


“Asli aku salut banget sama Aruna dia cowok baik banget,” puji Reza.


“Aku jadi merasa semakin jahat,” kataku.


“Nggak Ta, ikutin kata hati aja. Bagaimanapun juga Nanta harus memilih,” nasihat Reza.


“Tapi aku merasa bersalah, sejujurnya aku masih suka kepikiran Aruna. Kita udah lama bersama kenapa harus berpisah seperti ini? Apa aku musti balik sama Aruna lagi?”


“Seperti yang Reza bilang Ta, ikuti kata hati. Nanta lebih milih siapa? Kalo cuma kasian aja sih mending jangan nanti malah Nanta menyesal akhirnya. Ya pasti sedih banget berpisah dengan cara seperti ini sama teman yang udah lama bersama. Perasaan Nanta sama Aruna gimana? Apakah rasa kasihan? Atau rasa kehilangan teman? Atau rasa kehilangan cinta?” Laras menasihatiku.


Aku diam me…ikirkan perkataan Laras.


Jam delapan tepat Ares menjemputku. Aku pun memperkenalkan Ares pada Laras dan Reza. Mereka saling berjabat tangan. Tidak lama kami pun berpisah. Aku dan Ares pergi, begitu pula Reza dan Laras.


Di perjalanan pulang Ares bertanya, “Tadi temen kerja?”


“Iya, kenapa?” aku balik bertanya.


“Nggak apa. Nanta deket sama Reza?”


“Iya deket lah dia kan temen sedivisi sama kayak Laras dan Rani,” jawabku.


“Hati-hati ya Ta, Ntar dia naksir Nanta lagi,” kata Ares sambil nyengir.


“Nggak lah, sama Reza udah temen banget. Lagipula Reza udah punya pacar.”


“Aruna juga kan temen Nanta,” Ares berkata sedikit lebih berhati-hati.


Deg, denger nama Aruna perasaanku jadi nggak enak lagi. “Sori Res, kalo bisa jangan ngomongin soal Aruna dulu.”

__ADS_1


“Sori Ta,” Ares meminta maaf walau dalam hatinya bertanya-tanya, apa yang terjadi antara aku dan Aruna. “Jadi aku udah boleh deketin Nanta?” tanya Ares masih dengan nada berhati-hati.


Aku tersenyum ke arah Ares tanpa memberi jawaban. Aku berharap Ares dapat menerima isyarat tanda setuju dari senyumku.


__ADS_2