Jika Malam Tanpa Bintang

Jika Malam Tanpa Bintang
Episode 6


__ADS_3

Sebulan sudah aku menjalani hubungan dengan Ares.


“Mampir dulu Res. Makan malam di rumahku aja,” ajakku ketika kami baru pulang dari bekerja. Seperti biasa Ares menjemputku pulang kerja, Ares hanya menjemputku saat pulang, sedangkan saat pergi bekerja aku masih menggunakan trasportasi umum, aku nggak mau banyak bergantung dengan orang lain.


“Nggak ngerepotin?” tanya Ares.


“Iya nggak apa-apa. Dari pada makan sendiri, Ares kan tinggal sendiri,” aku meyakinkannya. Aku pikir sudah saatnya mengenalkan Ares pada keluargaku, walaupun aku belum pernah mengenal keluarga Ares, karena Ares tinggal sendiri di rumah milik keluarganya di Bandung. Ayah  Ares tinggal di Jakarta dan sangat sibuk dengan pekerjaannya sedangkan Ibunya sudah meninggal. Ares sendiri kadang masih harus ke Jakarta untuk urusan pekerjaan. “Parkir aja di depan!” perintahku pada Ares.


Kami pun keluar dari mobil. Aku mempersilahkan Ares duduk di ruang tamu, semenetara aku pergi mencari orangtuaku. “Ma, emm itu,” kataku agak malu untuk mengatakan bahwa aku datang bersama pacarku.


“Apa Nanta? Mau makan? Mandi dulu sana!” respon Mamaku yang tak tau ada Ares.


“Aku datang sama Ares Ma, aku ajak dia makan dulu di rumah.”


“Ares? Pacar barumu?” tanya Mama.


“Iya gitu,” jawabku terbata.


Mama yang kebetulan sedang di dapur langsung mengeluarkan makanan yang telah ia masak tadi sore. Sedangkan aku segera ke ruang keluarga untuk memberitahu Papaku lalu aku naik menuju kamarku, sebelum aku masuk kamarku, aku ke kamar Ken dulu untuk menyuruhnya  segera ke ruang makan. Setelah menyimpan tas, mencuci tangan, dan kaki, aku segera kembali ke ruang tamu. “Yuk Res, kita makan,” ajakku.


“Ah iya,” jawab Ares sambil berdiri dari duduknya. Sampai di ruang makan Ares bersalaman dengan Mama, Papa dan Adikku.


“Tambah lagi nak Ares!” kata Mamaku saat melihat Ares hanya menyendokan sedikit nasi ke piringnya.


“Iya Res, tambah lagi, nggak usah jaim(jaga image),” kataku sambil menuamgkan nasi lagi  ke piring Ares. “Nggak usah malu-malu Res makan aja yang banyak, nanti pas pulang tinggal di tagih bill-nya. Hahaha... bercanda.”


Awalnya aku melihat Ares sedikit gugup. Mungkin pertama kali baginya makan di depan calon mertua jadi harus jaim, tapi di tengah-tengah obrolan, aku melihat Ares mulai terbiasa, bahkan Ares makan dengan lahapnya.


“Res tambah lagi ya!” aku menawarkan.


“Nggak usah udah kenyang. Masakan Tante enak banget, udah lama nggak makan masakan seenak ini,” puji Ares.


“Nak Ares bisa aja,” ujar Mama dengan mimik tersipu.


“Nak Ares jangan rayu-rayu mantan pacar Om cukup Nanta aja yang diambil, hahahaa...” canda Papaku. Kami semua berusaha tertawa mendengar lelucon garing Papa. “Nak Ares kerja di mana?” lanjut Papa.


“Event organizer  Om,” jawab Ares.

__ADS_1


“Ares punya EO Pa,” selaku.


“Wah hebat masih muda sudah jadi enterpreneur. Kenal di mana sama Nanta, kok Om baru liat?” Papa mengintrogasi Ares.


“Papa, emang tau semua temen Nanta.” Aku merasa tidak suka dengan sikap Papa, ya walau aku tahu tujuan Papa baik, agar aku jelas bergaul dengan siapa dan jika terjadi sesuatu padaku setidaknya Papa tahu latar belakang orang-orang yang dekat denganku.


“Kita kenal di Jakarta Om, kebetulan kita dipertemukan karena urusan pekerjaan. Waktu kantor tempat kerja Nanta jadi peserta fashion show, EO saya yang mengurus acaranya,” jawab Ares tenang.


“Hebat juga EOnya sampai keluar kota juga,” tanggap Papa.


“Justru kantor Ares di Jakarta Om, di Bandung cuma lagi bantu usaha Ayah dibidang konstruksi dan bangunan,” jawab Ares dengan sopan.


“Di Bandung tinggal di mana?” tanya Papa.


“Cipaganti Om.”


“Jadi keluarga juga di Bandung atau Jakarta?” tanya Ayah.


“Ayah Ares tinggal di Jakarta Om, kalau Ibu sudah meninggal.”


“Iya Om nggak apa-apa. Makasaih banyak ya Om, Tante udah mengizinkan saya makan bersama. Sejak Bunda meninggal Ares nggak pernah berkumpul lagi seperti ini.” Sinar mata Ares terlihat redup, matanya seperti sedang menahan kesedihan yang begitu besar.


“Jadi Nak Ares tinggal sendiri sekarang?” tanya Mama.


“Iya Tante.”


“Nak Ares boleh kapan saja datang kemari, makan di sini aja. Makan makanan di luar terlalu sering  kan kurang sehat,” ujar Mama.


“Makasih banyak Tante. Ares jadi merepotkan.”


“Nggak apa-apa, justru jadi rame keluarga kita bertambah,” kata Mama.


“Apalagi kalau sudah menikah nanti tinggal aja bareng biar nggak sepi,” kata Papa berharap hubungan kami segera diresmikan Namun kata-kata Papa membuatku malu.


“Ah iya Om Tante makasih banyak,” jawab Ares sedikit gugup. Sepertinya Ares juga merasa malu sepertiku. “Om, Tante, Ares pulang dulu sudah malam,” kata Ares sambil berdiri lalu bersalaman dengan orangtuaku dan juga Ken.


“Makasih banget ya Ta, udah lama aku nggak merasakan hangatnya bersama keluarga. Sejak Bunda meninggal tujuh tahun lalu, aku hanya bertemu Ayah untuk urusan pekerjaan,” kata Ares sambil berjalan  menuju ke depan rumahku, dengan aku di sampingnya yang mengantar kepulangan Ares.

__ADS_1


Aku bisa melihat sinar mata Ares yang penuh kesedihan, sinar mata itu selalu terlihat setiap berbicara soal keluarga. Dalam hati aku merasa iba. Tanpan kusadari tanganku bergerak meraih tangan Ares. Ku genggam erat tangan Ares seolah aku takut Ares hancur dan pergi.


Ares menengok ke arahku yang berada di sampangnya lalu ia memutar tubuhnya sehingga posisi kami berhadapan masih dengan tangan kami saling bergandengan karena Ares pun menggengam erat tanganku. Aku sedikit menengadah untuk dapat memandang wajahnya. Aku dapat merasakan dari raut wajah Ares seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi dia hanya diam untuk beberapa detik hingga akhirnya dia berkata, “Ta, hari Senin aku harus ke Jakarta selama beberapa hari, aku ada meeting dengan rekan kerja.”


“Berapa lama?” tanyaku.


“Mungkin sekitar dua sampai tiga hari,” jawab Ares.


“Ya udah,” tanggapku dengan perasaan sedih karena aku tidak akan bertemu Ares selama beberapa hari.


“Jangan sedih gitu, kan aku cuma pergi sebentar. Nanta harus mulai menyiapkan diri karena aku akan sering dinas ke luar Bandung,” Ares memperingatkanku.


“Iya Res, aku juga udah mempersiapkan diri. Aku tau kok Ares pasti sibuk,” kataku penuh pengertian.


“Makasih ya Ta udah ngertiin aku. Besok mau jalan jam berapa?”


“Sore aja ya Res aku mau beres-beres dulu.”


“Oke.”


Setelah aku mandi Papa memanggilku ke ruang keluarga di sana ada Mama juga. “Ada apa Pa?” tanyaku sambil duduk bersila di atas karpet.


“Udah berapa lama hubungan kamu dengan Ares,” tanya Papa.


“Sebulan lebih Pa.”


“Papa agak kaget waktu perama kali Ares datang ke rumah Papa kira Aruna. Nanta kenapa putus dengan Aruna?” tanya Papa.


Aku bingung bagaimana mengutarakannya. Aku takut Papa marah kalau tau selama ini aku tak pernah memberi kepastian pada Aruna dan aku malah berpacaran dengan Ares. Aku diam berpikir keras untuk dapat mengatakn dengan baik agar Papa tidak salah paham atau marah. Namun sebelum aku sempat  berbicara Papa telah kembali berbicara.


“Baiklah mungkin itu masalah anak muda Papa nggak akan memaksa Nanta, tapi Nanta jangan memilih lelaki cuma karena hartanya. Setelah mendengar latar belakang Ares Papa yakin dia orang kaya.”


Aku segera angkat bicara. “Papa pikir Nanta mencampakan Aruna karena Ares lebih kaya?! Seberapa banyak sih Papa mengenal Nanta sampai berpikir begitu,” aku bicara dengan agak emosi.


“Bukan begitu maksud Papa. Papa yakin Papa tidak pernah mendidik anak Papa seperti itu. Papa percaya pada Nanta, hanya saja kalau Nanta sudah yakin dengan pilihan Nanta jangan terlalu lama pacaran Papa harap kalian segera kejenjang yang lebih serius usia kalian juga sudah cukup kan?! Dulu juga Papa lihat Aruna sudah siap menikahi Nanta, tapi Nanta seperti mengulur waktu. Jangan sampai dengan Ares juga seperti itu jika Ares sudah siap, Nanta tunggu apa lagi?” Jelas Papa. “Daan, apakah Ares serius dengan Nanta? Jangan sampai Nanta kehilangan yang sudah pasti demi orang yang belum pasti.”  


Dalam hati aku berkata, bagamanapun aku juga belum begitu mengenal baik Ares, secara kita baru dekat sebulan lebih. Namun aku tak mau memperpanjang masalah dengan Papa jadi sebaiknya aku mengatakan “Iya Pa, Nanta usahakan. Yang jelas Nanta pasti akan jaga diri.”

__ADS_1


__ADS_2