Jika Malam Tanpa Bintang

Jika Malam Tanpa Bintang
episode 5


__ADS_3

Sudah dua hari tidak ada kabar dari Aruna sejak hari itu. Aku sebenarnya sangat cemas memikirkan Aruna tapi aku bingung apa yang harus kukatakan. Bagamana caraku meminta maaf?! Sebenarnya kedatangan Ares yang membuat keadaan keruh, tapi akulah yang paling salah karena tak bisa bersikap tegas.


“Ta, orang kantor banyak yang ngomongin kamu lho, gara-gara waktu itu Ares bikin acara buat nembak kamu,” ujar Reza sambil duduk di sebelah meja kerjaku.


“Udah tau. Biarin aja. Mau gimana lagi. Nanti juga bosen sendiri,” jawabku tak bersemangat.


“Kenapa sih muka lu kusut gitu, harusnya seneng dong cowok pujaan lu udah balik,” tukas Reza heran.


“Aku masih merasa bersalah sama Aruna. Sampe sekarang dia nggak ada ngehubungin aku.”


“Jadi Nanta suka sama siapa?” tanya Reza.


“Nggak tau, aku bahagia bisa liat Ares. Aku juga nggak sabar udah pengen ketemu Ares lagi, tapi aku nggak bisa berhenti mikirin Aruna, aku merasa bersalah juga.”


“Ya pasti lah kamu ngerasa nggak enak sama Aruna secara udah temenan lama, mana deket lagi lu sama dia. Itu cuma perasaan sayang terhdap temen aja, Nanta kehilangan sosok teman yang biasa ada di sisi Nanta terus.”


Hari Jumat jam lima sepulang dari kerja Aku, Laras, Reza tanpa Rani karena Rani sudah bersuami sehingga tak bisa terlalu sering hang out, pergi makan ke tempat favorit kami di Braga.

__ADS_1


“Ya gitu, di satu sisi aku senang karena bisa baikan lagi dengan Ares, tapi di sisi lain aku nggak tega dengan Aruna,” jelasku saat kami bertiga sedang duduk santai di kafe.


“Ya itu artinya lu cuma kasian doang Ta,” jelas Reza.


“Emmm, jadi gitu ya,” sahutku tak yakin.


“Ya udahlah bukannya bagus dengan Aruna menjauh Nanta jadi bebas berhubungan dengan Ares,” kata Reza.


“Nggak bisa gitu Za,” sanggah Laras cepat. “Di hati Nanta tuh ada yang mengganjal, makanya harus diluruskan dulu biar tenang,” jelas Laras.


Sekitar jam tujuh kami hendak keluar dari kafe tersebut namun ada yang menarik perhatianku sehingga aku menghentikan langkahku.


“Aruna!!!” teriakku.


Dia menengok ke arahku. “Ada apa?” tanayanya  sambil menghampiriku seolah tak pernah terjadi apa-apa.


“Kenapa kamu menghindariku?” tanyaku dengan berani.

__ADS_1


Aruna menengok ke arah temannya yang ada di belakangnya, lalu berkata, “Don, lu duluan aja!”


“Oke Runa,” sahut temannya.


Laras dan Reza pun berpamitan padaku untuk pulang duluan.


“Yuk Ta, sebaiknya kita obrolin di tempat yang lebih enak!”


Aku pun mengikutinya berjalan ke luar kafe. Kebetulan sekali pikirku bisa bertemu dengan Aruna. O ya aku ingat tempat ini kan dekat dari tempat kerja Aruna.


Tapi setelah dipikir-pikir aku berani sekali tadi memanggil Aruna, aku jadi merasa malu.


Setelah sampai di tempat yang cukup lengang Aruna menghentikan langkah kakinya di samping lampu jalan bergaya renaisance. Ia berdiri di hadapanku diam menungguku berbicara.


“Aruna, kenapa menghindariku seperti itu. Aruna sungguh ini nggak seperti yang kamu bayangkan. Hari itu aku memang pergi dengan Ares tapi itu karena dia memaksa, aku pikir dengan mendengar penjelasannya akan mengakhiri semuanya~” belum sempat kuselesaikan kata-kataku terpaksa terhenti oleh Aruna. Ia menyibakan poniku dengan lembut lalu di tutup matanya dan diciumnya keningku dengan lembut.


“Aku tau Nanta wanita baik, aku menjauh dari Nanta bukan karena aku benci Nanta, tapi karena aku tau Ares adalah lelaki yang Nanta cintai, mana sanggup aku merampas kebahagian Nanta. Aku hanya belum sanggup melihat orang yang ku cintai bersama orang lain,” Aruna berkata-kata dengan lembut.

__ADS_1


Air mata ku biarkan menerobos keluar, membasahi pipiku. Aruna mengusap rambutku sambil memberi seulas senyuman walau dalam hatinya penuh kesedihan karena harus meninggalkan wanita yang dicintainya. “Udah Ta jangan nangis,” katanya sambil menghapus air mata di pipiku. “Jaga diri baik-baik ya!” pesan terakhir dari Aruna sebelum ia mencium keningku sekali lagi lebih lama dari yang pertama, aku memejamkan mata merasakan sedih yang terasa di sekujur tubuh. Lalu ia berjalan pergi begitu saja. Dadaku sesak menahan air mata yang memaksa keluar dari mata, sambil ku pandangi punggung Aruna yang semakin menjauh. Semakin jauh dari jangkauanku. Tak pernah terpikir olehku akhirnya akan seperti ini. Dulu semasa kuliah aku dan Aruna berteman baik sampai lulus kuliah, lalu Aruna diterima bekerja dan ia menyatakan perasaannya padaku namun aku belum siap. Selama ini aku hanya menganggapnya teman, sehingga membuatku menjauh dari Aruna. Hingga setelah pertemuan pertamaku dengan Ares yang menyisakan luka di hati diobati oleh Aruna. Tak pernah terbayang olehku perpisahan dengan Aruna akan semenyakitkan ini.


__ADS_2