Jika Malam Tanpa Bintang

Jika Malam Tanpa Bintang
episode 7 part 1


__ADS_3

seperti itu jika Ares sudah siap, Nanta tunggu apa lagi?” Jelas Papa. “Daan, apakah Ares serius dengan Nanta? Jangan sampai Nanta kehilangan yang sudah pasti demi orang yang belum pasti.”  


Dalam hati aku berkata, bagamanapun aku juga belum begitu mengenal baik Ares, secara kita baru dekat sebulan lebih. Namun aku tak mau memperpanjang masalah dengan Papa jadi sebaiknya aku mengatakan “Iya Pa, Nanta usahakan. Yang jelas Nanta pasti akan jaga diri.”


Bab 7


“Eh teman-teman apa kalian pernah berpikir aku cewek matre karena pacaran dengan Ares?” tanyaku pada ketiga temanku saat kami sedang makan siang.


“Apaan sih Ta, kamu kok tiba-tiba ngomong gitu?” tanya Laras.


“Abis Papa tiba-tiba kasih nasehat gitu.” Lalu aku menceritakan apa yang dikatakan Papaku.


“Ya itu pasti orangtua Nanta cuma mau mengingatkan. Walau Nanta tidak seperti itu tapi kan orangtua selalu banyak ketakutan apalagi kepada anak perempuannya. Aku pun begitu, sebelum menikah dengan suamiku orangtuaku banyak ceramah,” nasehat Rani padaku.


“Tapi kalian nggak berpikir aku matre kan? Orangtuaku aja terlintas pikiran seperti itu. Aku takut orang di sekitarku berpikiran begitu.” ujarku.


“Jangan terlalu memikirkan orang lain yang penting kita percaya Nanta, dan Nanta memang nggak pernah memiliki niat buruk. Kalau ada yang berpikir seperti itu biarin aja,” nasihat Reza.


“Tumben amat Za, lu pinter,” canda Laras.


“Emang pinter kan gue,” Reza membela diri.


“Pinter bohongin cewek,” aku menjatuhkan Reza.


“Sialan lu Ta,” gerutu Reza.


Kami menertawakan Reza.


“Btw Ares masih belum balik juga?” tanya Reza.


“Belom, katanya masih belum tau kapan ke Bandung,” kataku sambil cemberut.


“Hati-hati Ta, bisa jadi di sana dia punya juga.” Kata-kata Laras membuatku cemas.


“Ia lho Nanta kali-kali musti cek dia. Minimal tau temen-temennya, keluarganya. Cowok kalo dikasih kebebasan berlebih malah kebablasan,” ujar Reza.


“Kayak kamu ya Za,” sahut Laras.

__ADS_1


Aku diam memikirkan kata-kata Reza. Aku jadi mulai berfikir yang tidak-tidak tentang Ares.


“Za, kamu malah manasin orang! Pelan-pelan aja Ta. Dalam suatu hubungan harus saling percaya. Jadi nggak usah mikir yang macem-macem,” Rani mendinginkan kepalaku dengan kata-katanya.


“Ia sih Ta, cowok juga nggak suka dikekang,” Reza menambahkan.


“Gimana sih Za, nggak konsisten. Tadi katanya nggak boleh dikasih kebebasan, sekarang nggak boleh dikekang!” seruku.


“Ya maksudnya jangan terlalu dikekang tapi jangan dibiarin juga Ta,” Reza meluruskan.


“Oh gitu... Hmm... Yuk ah masuk!” Aku berdiri mengawali langkah kita menuju kantor.


Ini sudah hari kamis tapi belum ada tanda-tanda dari Ares. Ares bilang masih belum tahu akan pulang kapan. Sebenarnya aku merasa kecewa tapi aku tak boleh egois, Ares di sana bukan main-main tapi bekerja.


Ahh... capek banget lembur sampai jam tujuh. Kerjaan dua hari ini menggila, semoga besok bisa kelar tepat waktu. Jam tujuh aku bersama Reza dan Laras baru keluar kantor sedangkan Rani sudah keluar sejak jam enam. Reza dan Laras langsung menuju parkir motor di halaman kantor sedangkan aku berjalan sendiri keluar area kantor untuk mencari angkot. Saat aku sedang berjalan rasanya seperti ada yang mengikutiku, mungkin hanya perasaanku saja. Aku pun berhenti berjalan di pinggir jalan yang agak sepi untuk menunggu angkot, namun tiba-tiba seseorang mencengkram lenganku, refleks aku berteriak sambil memukul wajah orang tersebut menggunakan tas dan hampir saja aku mendaratkan kepalan tanganku ke perutnya kalau orang itu tidak segera memegangi kedua tanganku sambil berkata, “Nanta ini Ares.”


Aku langsung menurunkan tanganku, Ares pun melepaskan tangannya dari lenganku. Aku segera meminta maaf, “Ares? Maaf. Kenapa ada di sini? Katanya belum tau kapan akan balik ke Bandung?!” aku melontarkan pertanyaan dengan cepat. Nafasku masih belum teratur karena kaget dan takut akan kejadian tadi.


“Surprise!” seru Ares.


“Ares ini nggak lucu,” aku ngambek.


“Nggak apa kok. Justru kalo tadi nggak gitu jiwa Ares terancam. Aku hampir aja mau pukul perut Ares sekuat tenaga. Aku yang minta maaf. Wajah Ares nggak apa-apa?”


“Nggak apa kok, aku masih tampan,” katanya sambil tersenyum nakal. Senyum nakal yang mempesona.


Ares mengawali berjalan menuju mobilnya yang di parkir di pinggir jalan sambil menggandeng tanganku.


“Ih pede berlebih. Nggak sakit Res?”


“Ia tadi pas dipukul sakit sih, nggak nyangka tenaga Nanta gede juga, pernah jadi bodyguard ya?” banyol Ares.


“Enak aja bukan jadi bodyguard tapi kuli, hahaha...”


“Hahaha... pokoknya Nanta harus jadi bodyguard, bodyguard hatiku,” Ares menggombal sambil nyengir, lalu ia membukakan pintu mobilnya dan aku pun masuk.


“Hahahaa... gombal banget. Tadi Ares udah nunggu dari jam berapa? Aku kan lembur sampe malem gini?!” kataku saat kami sudah berda dalam mobil dan mobil Ares pun mulai melaju.

__ADS_1


“Dari jam lima aku udah stay. Mataku sampe melotot ngawasin pintu gerbang,” ujar Ares sambil mengendarai mobilnya.


“Trus kalo misal aku nggak masuk kerja Ares mau nunggu sampe kapan?”


“Aku udah memastikan dulu dong kalo Nanta masuk.”


“Memastikan? Gimana caranya?” tanyaku heran.


“Aku bbm Ken,” jawab Ares.


“Kenapa bisa punya kontak adikku?!” tanyaku gusar.


“Waktu ke rumah Nanta aku sempat ngobrol sedikit sama Ken,” kata Ares sambil nyengir.


“Licik, Ares udah kenal keluargaku, teman-temanku, bahkan punya kontaknya Ken. Sedangkan aku nggak kenal seorang pun yang dekat denganmu” aku menggerutu.


Sambil menyetir Ares tersenyum ke arahku sebentar lalu kembali menatap jalanan dan berkata, “Bukannya Nanta udah pernah aku kenalin dengan teman-temanku?! Anak-anak Je-vo band itu temen deketku. Nanti Sabtu Nanta ke rumahku deh, kita mau ngumpul, tapi di rumah aku nggak bisa ngenalin Nanta dengan keluargaku, Bunda sudah meninggal sedangkan Ayah sibuk di Jakarta. Di rumah Bandung cuma ada Bibi, tapi Bibi baik banget. Dulu waktu Bunda masih ada kita sering liburan sekeluarga ke Bandung tapi sejak Bunda meninggal semua jadi berbeda.” Ketika bercerita senyum Ares meredup.


Aku malah jadi merasa bersalah. Sepertinya berbicara tentang keluarga sangat sensitif buat Ares. “Maaf Res, akuu...,” sebelum sempat menyelesaikan kalimatku Ares menyela.


“Nggak apa, udah lama aku nggak mengingat Bunda karena sibuk bekerja membantu Ayah, berkat Nanta aku bisa ingat mereka lagi.”


“Mereka?” tanyaku saat merasa ada kata yang janggal.


“Eh, iya, maksudku Bunda.” Mungkin kesedihan membuat Ares sampai salah bicara.


“Ares harus sering berdoa untuk Bunda.”


Seketika Ares ingat kapan terkahir kali ia melakukan ibadah, sejak Bunda meninggal ia jarang sekali beribadah. Ares tak pernah menyangka sebelumnya bahwa wanita ini yang akan mengubahnya menjadi lebih baik. Padahal awalnya Ares hanya niat main-main saja denganku, hanya sekedar penasaran. Tapi Ares telah terlanjur jatuh cinta. Karena diriku berbeda dengan wanita-wanita yang pernah ia kenal sebelumnya.  


“Besok aku jemput jam berapa?” tanya Ares sambil membelokan stir mobil ke komplek rumahku.


“Aku besok nggak tau akan pulang  jam berapa, soalnya lagi banyak-bayaknya kerjaan. Mana besok aku harus meeting ke kantor advertising, mau pasang iklan.”


“Semangat Ta, kalo udah nggak kuat lambaikan tangan,” canda Ares sambil menghentikan laju mobilnya. Ia injak pedal rem di kakinya lalu di turunkannya rem di samping tangannya.


“Emang uji nyali. Lagian aku nggak akan menyerah semudah itu. Besok aku kabari pulang jam berapa,” kataku sambil menutup pintu mobil.

__ADS_1


Ares menurunkan jendela mobil agar dapat melihatku. “Oke,” ujarnya sambil mengacungkan jempolnya lalu ia membalas lambaian tanganku.


__ADS_2