
NOVEL NYA GA USAH DI BACA
Siang hari Alana dan si kembar baru keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi hendak ke mall bersama si kembar.
Langkah Alana terhenti ketika melihat Revan muncul dari arah pintu. "Mbak Adel mana pak?" Tanyak Alana sembari celingukan.
"Pulang" Jawab Revan seraya mengamati penampilan Alana dari atas ke bawah "Mau kemana?"
"Bukan urusan bapak" Jawab Alana lalu kemudian melanjutkan langkah nya namun tangan nya di tahan oleh Revan ketika melewati Revan. "Kenapa pak? Ada masalah?".
"Kemana?" Ulang Revan dengan tegas dan tatapan yang menusuk sukses membuat Alana gugup.
Alana agak takut saat ditatap dingin oleh Revan. "Jalan jalan" Jawab nya singkat lalu menepis tangan Revan.
"Saya tidak suka melihat kamu pulang larut malam dan pergi tanpa seizin saya" Kata Revan dengan tegas. "Kamu harus bersikap layaknya seorang istri" Sambung Revan membuat Alana tersenyum sinis.
"Lalu bagaimana dengan bapak, apakah bapak sudah bersikap layak nya suami?" Alana membalikan ucapan Revan. "Kenapa saya harus bersikap layak nya seorang istri sedang kan bapak saja sama sekali tidak menjalan kan tugas bapak?" Alana masih ingat betul saat adel memeluk Revan sedang kan Revan hanya diam saja tanpa perduli perasaan Alana saat itu.
Revan menghela nafas kasar. Seperti nya suasana hati Alana tidak baik. "Jangan pulang malam, Entar malam si kembar akan kembali rumah nenek nya" Revan lalu masuk kedalam kamar nya tanpa memperdulikan Alana yang masih menunggu jawaban nya. "Pak Revan" Panggil Alana namun Revan tidak menjawab.
****
Jam dua belas siang Alana baru sampai di cafe yang biasa dia tempati bersama Tamara. Alana langsung masuk menemui Tamara yang sudah menunggu nya di dalam bersama si kembar.
"Lo kenapa?" Tanya Tamara yang peka dengan suasana hati Alana.
Alana hanya tersenyum miris. "Capek gue Ra" Kata Alana lalu mempelkan pipi nya di atas meja.
"Maksud lo apa? Coba cerita sama gue"
Alana menarik nafas nya perlahan lalu membuang nya dengan perlahan dan mulai menceritakan keresahan hati nya. Alana juga menceritakan jika hatinya sakit saat melihat Revan dan adel berpelukan di depan nya.
Tamara tertawa. "Hhahaha, lo itu udah jatuh cinta sama pak Revan" Tuding Tamara membuat Alana melotot kesal karena merasa malu apalagi si kembar menatap Alana dengan bingung.
"Nih makan es krim nya sayang" Alana memberikan Es krim pada anak kembar nya lalu kembali menatap Tamara.
Alana menoyor pelan kepala Tamara. "Mana mungkin. Lo jangan asal ngomong" Kata nya.
"Apanya yang tidak mungkin? Kalian sudah menikah lima bulan, tinggal di rumah yang sama dan belajar di kampus yang sama. Kalian bertemu hampir 24 jam dan bisa saja kan lo jatuh cinta pada pak Revan" Jelas Tamara membuat Alana bungkam.
"Lo salah Ra. Walaupun gue tinggal di rumah yang sama dan tidur di kamar yang sama dengan pak Revan tapi pak Revan tidak pernah nyentuh gue atau meminta hak nya sebagai suami" Kata Alana, kemudian meneguk minuman dingin rasa jeruk di depan nya.
Tamara yang tadi nya fokus makan, kini terhenti lalu menatap Alana dengan serius. "Pak Revan ngak gay kan?" Pertanyaan Tamara sontak membuat Alana melotot lalu kembali melayangkan toyoran di kepala Tamara.
"Sinting lo!" Mana mungkin pak Revan gay sedangkan dia saja sudah punya dua anak" Alana memutar bola matanya dengan malas.
Tamara tanpak berfikir. "Kok bisa tiba tiba mantan istri nya datang? Pak Revan ngak curiga gitu, ada yang aneh?" Kata Tamara.
"Entahlah gue aja bingung. Gue sempat mikir untuk pisah dengan pak Revan setelah lihat kejadian semalam "Kata Alana seperti wanita putus asa.
"Lo sinting yak! Ngak bisa gitu lah, lo harus pertahan kan rumah tangga lo jangan nyerah gitu. Bisa saja kan ini hanya alasan mantan istri nya pak Revan agar bisa balik lagi sama pak Revan" Alana hanya diam, rasa nya sangat pusing jika memikirkan masalah ini.
Tamara tiba tiba saja mendekat pada Alana lalu berbisik. "Coba dehh, lo duluan yang godain pak Revan kali aja pak Revan tergoda dan mulai buka hati sama lo" Lagi lagi Tamara mendapatkan toyoran dari Alana. "Aww sakit bego" Ringis Tamara.
Alana tampak berfikir "Otak lo mesum banget dehh tapi nanti gue coba deh saran lo semoga aja ampuh buat luluhin hati dingin nya pak Revan si kutup utara" Kata Alana lalu memeluk erat tubuh Tamara.
Setelah perbincangan yang gada faedah nya akhir nya mereka berdua pun melanjutkan jalan jalan nya mengelilingi mall bersama si kembar.Kini jam sudah menunjukan pukul 11 malam namun mereka berdua masih asyik bercerita dan dengan gampang nya Revan tertawa saat bersama Adel
__ADS_1
Sedangkan di depan Alana, Revan selalu menunjukan wajah dingin dan tak pernah tersenyum apalagi tertawa.
.
.
.
Di sisi lain..
Malam ini Gibran kembali melakukan balapan liar. Anzel yang tidak Terima kekalahan nya malam itu kini menatang Gibran untuk balapan lagi.
Suara pekikan dari arena tribun sirkuit saling bersahutan. Teriakan yang paling dominan terdengar ialah suara perempuan yang histeris meneriaki nama Gibran. Sedangkan yang di teriaki hanya diam sembari memasang helm full face nya.
"Gue pastikan lo bakalan kalah malam ini" Anzel tersenyum sini sedang kan Gibran hanya memutar bola matanya dengan malas.
Beberapa menit kemudian datang seorang wanita muda yang seksi menghampiri mereka lalu berdiri sembari mengibarkan bendera hitam putih keatas tanda nya balapan akan di mulai.
"READY.. SET.. GO!"
Suara decitan motor yang beradu dengan aspal menjadi sebuah percikan api yang di indah di malam gelap.
Kedua motor besar itu membelah jalanan yang sepi. "Gue ngak bakal biarin lo ngalahin gue malam, Gibran" teriak Anzel saat motor Gibran sejajar dengan nya.
Gibran hanya tersenyum sini tanpa ingin menjawab ucapan Anzel.
Bug..
Dengan licik nya Anzel menendang motor sport hitam Gibran yang berada di samping nya sehingga motor Gibran sedikit oleng.
Namun tidak mudah bagi Gibran terjatuh karena ia bisa langsung menyeimbangi nya. Anzel merasa kesal karena tidak bisa membuat Gibran jatuh dari motor sport nya.
Dan dengan sengaja Anzel menyeret motor Gibran ke samping trotoar jalanan membuat Gibran mendengus dengan kesal.
"Ck! Menyusahkan" gumam Gibran dan membiarkan apa yang mau di lakukan lawan tanding nya malam ini.
Motor besar Gibran menimbulkan percikan api saat mesin nya bergesekan dengan besi jalan.
Gibran menyeringai di balik helm full face nya. "Menyingkir atau lo bakal tahu akibatnya" itu adalah sebuah peringatan namun Anzel tidak perduli.
Motor Anzel mulai melakukan ancang ancang untuk menubruk kan motor nya dengan motor Gibran. Namun sebelum itu terjadi Gibran lebih dulu menurunkan laju kecepatan nya membuat motor Gibran mundur dan sial nya malah motor Anzel yang terkena imbas nya Akiba ulah nya sendiri.
Tubuh Anzel terhempas jauh dari motor nya yang terlihat rusak akibat menabrakkan diri ke arah perbatasan besi jalan.
Gibran yang tahu jika Anzel terjatuh di belakang sana hanya tersenyum simpul lalu kembali menaikan laju motor nya tanpa berniat membantu Anzel.
Kehidupan malam bagi nya begitu indah apalagi ketika dia memacu motor kesayangan nya di bawah langit hitam bertabur kan bintang dan malam ini Gibran kembali memenangkan pertandingan balapan liar.
*****
Keesokan harinya Alana yang baru bangun segera bergegas ke dapur untuk membuat kan sarapan untuk Revan dan si kembar namun Alana di buat terkejut saat sampai di dapur ternyata sudah ada Adel yang memasak. "Mbak Adel ngapain?"
"Buatin nasi goreng kesukaan mas Revan" Kata nya tanpa rasa malu sedikit pun.
Alana terdiam sejenak lalu tersadar saat Revan sudah duduk di meja makan "Morning pak Revan" Bukan nya menjawab sapaan Alana, Revan hanya mengangguk dan melirik Alana sebntar lalu kembali memperhatikan Adel yang sedang membuat nasi goreng.
Alana yang merasa di abaikan pun kembali masuk ke dalam kamar nya. "Kenapa hati ku sakit" Kata Alana dengan lirih di iringi butiran air mata yang lolos keluar dari pelupuk mata nya. Tanpa Alana sadari ternyata Alana sudah mulai mencintai Revan dan merasa sakit hati dengan sikap Revan.
__ADS_1
Wajar saja sih jika Revan belum bisa move on dari mantan istri nya sekaligus teman masa kecil nya itu. Yaa, Revan dan Adel sudah mengenal sejak mereka masih SD dulu hingga saat ini.
Awal nya Revan menikahi adel karena keterpaksaan dari ayah nya. walaupun mereka sangat dekat tapi hubungan mereka hanya sebatas teman tidak lebih.
Beberapa bulan setelah menikah, Revan mulai mencintai adel dan mulai membangun keluarga kecil bersama adel hingga beberapa bulan kemudian lahir lah si kembar.Kini jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi namun karena hari ini Alana tidak ada kelas maka nya gadis itu ingin istirahat sebelum Azzam dan Azzura datang.
Sebenarnya mertua Alana tidak menyukai Alana karena Alana seorang artis. Hingga Azzam dan Azzura tidak di ijin kan untuk tinggal bersama Alana dan Revan.
Revan juga setuju jika Azzam dan Azzura tinggal bersama nenek nya agar nenek nya tidak terlihat murung lagi karena ada si kembar yang menghibur nya.
Suara bel rumah mengganggu tidur nyenyak Alana dan mau tidak mau pun Alana harus membukakan pintu untuk tamu tersebut karena di rumah itu tidak ada asisten rumah tangga.
"Bunda" Kata Alana saat melihat mama mertua nya datang berkunjung ke rumah nya "Silahkan masuk bun" Kata Alana sembari memberi ruang agar mama mertua nya bisa masuk bersama si kembar.
Alana mengajak si kembar untuk bermain di ruang tamu sedang kan mertua nya langsung berjalan menuju dapur untuk menyimpan beberapa makanan yang tadi dia beli sebelum sampai di rumah Alana.
"Kamu itu jadi istri ngapain aja? Ini udah jam 10 siang tapi rumah kamu masih berantakan" Kata Bunda Lina sembari duduk di sofa.
"Iya bun maaf" Hanya kata maaf yang keluar dari mulut manis Alana.
"Anak saya itu tidak pantas nikah sama kamu" bunda Lina melirik Alana dengan sinis. "Ngurus diri sendiri aja ngak becus, gimana mau ngurus anak dan cucu saya" Sambung bunda Lina.
Penampilan Alana memang sedikit berantakan, rambut nya acak acakan karena baru bangun tidur bahkan Alana belum mencuci wajah nya dan masih memakai piyama nya.
Alana hanya terseyum simpul merasa malas meladeni ocehan mertua nya itu. "Iya bun" Kata nya sembari menguap "Hoaaammm".
"Dasar jorok, sana mandi dulu, saya jijik liat wajah kamu" bunda Lina mengibas ngibaskan tangan nya seperti mengusir sekor kucing.
Alana yang masa bodoh lalu melenggang pergi tanpa pamit meninggal kan mertua nya yang terus mengomel bersama si kembar.
.
.
.
Beberapa menit kemudian Alana sudah selesai mandi dan bersiap keluar kamar untuk bergabung bersama si kembar dan bunda Lina tapi ternyata Revan sudah datang dan lebih dulu bergabung dengan si kembar dan Bunda Lina.
"Kamu masih ingat dengan Adel kan, Van?"
Mendengar nama itu di sebut sontak Revan yang tadi nya sedang fokus mengerjakan sesuatu di laptop nya kini terhenti. "Kenapa?" Tanyak Revan datar lalu kembali melanjutkan kegiatan nya.
"Ternyata adel sudah kembali dari luar negeri untuk berobat" Revan hanya diam saja dengan alis yang berkerut. "Kemarin bunda bertemu dengan nya di rumah sakit saat sedang kontrol.
" Adek sakit apa bun?" tanyak Revan sedikit penasaran.
"Sakit kanker stadium akhir" Bunda Lina nampak sedih. "Adel ingin bersama kalian di sisa hidup nya".
Prankkk
Mendengar suara benda terjatuh sontak mengalihkan asistensi Lina dan Revan. "Maaf tangan saya basah" mendengar perbicaraan mereka tanpa sengaja minuman yang di bawa Alana kini terjatuh dengan sendirinya.
"Saya akan buat kan lagi" Kata Alana lalu segera pergi menuju dapur dan beberapa menit kemudian Lina juga ikut ke dapur.
"Harus nya kamu itu sadar diri, sebelum Revan ceraikan kamu, ada baik nya kamu yang meminta cerai lebih dulu biar tidak terlalu sakit hati" Ingin rasa nya Alana mencakar wajah keriput mak Lampir di hadapan nya ini tapi Alana harus sabar karena orang sabar suami nya banyak.. Hehe
"Saya tidak akan menceraikan pak Revan sebelum pak Revan sendiri yang meminta nya" Kata Alana dengan tersenyum manis membuat Lina kesal.
__ADS_1
"Ck! Revan tidak pantas dengan wanita mandul seperti mu! Sudah menikah lima bulan tapi belum hamil juga" Sindir Lina dengan tersenyum sinis.
Ingin rasa nya Alana tertawa sekeras mungkin mendengar ocehan mak Lampir. Bagaimana mau hamil jika Alana dan Revan saja belum pernah melakukan hubungan badan bahkan saat ini Alana masih perawan, miris bukan.