
Alana pun dengan cepat mengerjakan tugas yang di berikan oleh Adrian satu minggu yang lalu hingga larut malam bahkan Alana tertidur di meja belajar nya.
Walaupun mereka satu Apartemen namun mereka berdua tidur di kamar yang terpisah karena ini permintaan Adrian. Hidup Alana berubah 180 derajat setelah menikah dengan Adrian.
***
"Alana maheswari" Alana terperanjat mendengar nama nya di sebut dengan lengkap di tambah tepukan di bahu kiri nya membuat Alana sontak menegakkan duduk nya.
"Jadi, berada keseimbangan pendapatan setelah di kenakan pajak dua puluh persen?" Adrian menatap Alana dengan insten sembari mengetuk getuk meja Alana menggunakan spidol di tangan nya dan menunggu jawaban Alana.
Suasana di kelas mendadak tegang, semua mahasiswa tidak berani menatap Adrian yang kembali berjalan menuju meja nya.
"Kalau kamu tidak bisa memperhatikan dengan benar apa yang saya ajarkan, silahkan keluar dari kelas saya, Alana Maheswari" kata Adrian dengan tegas.
"Maaf Pak" kata Alana dengan lirih.
"Satu hal yang saya minta dari kalian. . Fokus! mata kuliah saya ini sangat penting, bobot sks nya besar" kata Adrian dengan tegas lalu menatap Alana dengan tajam.
Alana yang di tatap hanya menundukkan pandangan nya dan berpura pura tidak tahu jika Adrian sedang menatap nya.
Hal ini lah yang membuat seorang dosen bernama Adrian yaitu suami Alana tidak memiliki fans sama sekali khusus nya oleh fakultas Ekonomi dan bisnis karena ketegasan nya
dalam mengajar. Dosen killer, begitu lah sebutan yang di berikan oleh parah mahasiswa untuk Adrian.
🍃🍃🍃
Suara pintu apartemen yang terbuka mengalihkan asistensi Adrian yang sedang berperang dengan laptop nya di ruang tamu. "Kamu telat pulang lagi" kata Adrian dengan wajah datar nya.
Alana menghentikan langkah nya lalu menatap Adrian. "Maaf Pak" kata Alana lalu kembali berjalan menuju kamar nya.
Sebelah alis Adrian reflek terangkat melihat reaksi Alana yang tidak seperti biasa nya. "Saya tidak suka jika kamu pulang larut malam" kata Adrian sontak menghentikan langkah Alana yang sudah hampir masuk ke dalam kamar.
"Maksud bapak apa ya" tanya Alana yang di buat bingung oleh sikap Adrian barusan. biasanya Adrian tidak perna mengurusi urusan Alana dan Adrian selalu tak acuh dengan apapun yang di lakukan dengan Alana.
"Saya yakin, kamu tidak sebodoh itu untuk memahami maksud kalimat saya"
"Iya, maksud saya, kenapa bapak tiba tiba ngurusin hidup saya? ini hidup saya, terserah saya mau pergi kemana saja dan pulang jam berapa"
"Saya suami kamu" kata Adrian sembari menutup laptop nya. "Terlepas dari alasan pernikahan kita, kita tetap suami istri yang sah di mata hukum dan agama" Adrian lalu berdiri sembari menenteng leptop nya lalu masuk ke dalam kamar.
Wajar saja sih jika Adrian belum bisa move on dari mantan istri nya sekaligus teman masa kecil nya itu. Yaa, Adrian dan Adel sudah mengenal sejak mereka masih SD dulu hingga saat ini.
Mereka berdua juga baru berpisah 1 bulan lalu setelah itu Adrian menikah lagi dengan Alana. Usia kandungan Adel sudah menginjak delapan bulan dan sebulan lagi akan melahirkan kan.
Dan dengan gampang nya Adrian percaya jika anak yang di kandung oleh Adel adalah anak nya. Adrian benar benar di buta kan oleh cinta walaupun sudah di khianati tapi tetap saja di bucin dan benar kata orang jika cinta itu buta.
.
.
.
Siang hari Alana baru keluar kamar dengan pakaian yang sudah rapi hendak menemui Tamara untuk mengerjakan tugas yang di berikan oleh Adrian.
Langkah Alana terhenti ketika melihat Adrian muncul dari arah pintu apartemen. "Mbak Adel mana pak?" Tanyak Alana sembari celingukan.
"Pulang" Jawab Adrian seraya mengamati penampilan Alana dari atas ke bawah "Mau kemana?"
"Bukan urusan bapak" Jawab Alana lalu kemudian melanjutkan langkah nya namun tangan nya di tahan oleh Adrian ketika melewati Adrian. "Kenapa pak? Ada masalah?".
"Kemana?" Ulang Adrian dengan tegas dan tatapan yang menusuk sukses membuat Alana gugup.
Alana agak takut saat ditatap dingin oleh Adrian. "Bertemu Tamara" Jawab nya singkat lalu menepis tangan Adrian.
"Saya tidak suka melihat kamu pulang larut malam dan pergi tanpa seizin saya" Kata Adrian dengan tegas. "Kamu harus bersikap layaknya seorang istri" Sambung Adrian membuat Alana tersenyum sinis.
"Lalu bagaimana dengan bapak, apakah bapak sudah bersikap layak nya suami?" Alana membalikan ucapan Adrian. "Kenapa saya harus bersikap layak nya seorang istri sedang kan bapak saja sama sekali tidak menjalan kan tugas bapak?" Alana masih ingat betul saat adel memeluk Adrian sedang kan Adrian hanya diam saja tanpa perduli perasaan Alana saat itu.
Adrian menghela nafas kasar. Seperti nya suasana hati Alana tidak baik. Adrian lalu masuk kedalam kamar nya tanpa memperdulikan Alana yang masih menunggu jawaban nya. "Pak Ryan" Panggil Alana namun Adrian tidak menjawab.
__ADS_1
****
Jam dua belas siang Alana baru sampai di cafe yang biasa dia tempati bersama Tamara. Alana langsung masuk menemui Tamara yang sudah menunggu nya di dalam.
"Lo kenapa?" Tanya Tamara yang peka dengan suasana hati Alana.
Alana hanya tersenyum miris. "Capek gue Ra" Kata Alana lalu mempelkan pipi nya di atas meja.
"Maksud lo apa? Coba cerita sama gue"
Alana menarik nafas nya perlahan lalu membuang nya dengan perlahan dan mulai menceritakan keresahan hati nya. Alana juga menceritakan jika hatinya sakit saat melihat Adrian dan adel berpelukan di depan nya.
Tamara tertawa. "Hhahaha, lo itu udah jatuh cinta sama pak Ryan" Tuding Tamara membuat Alana melotot kesal.
Alana menoyor pelan kepala Tamara. "Mana mungkin. Lo jangan asal ngomong" Kata nya.
"Apanya yang tidak mungkin? Kalian sudah menikah lima bulan, tinggal di apartemen yang sama dan belajar di kampus yang sama. Kalian bertemu hampir 24 jam dan bisa saja kan lo jatuh cinta pada pak Ryan" Jelas Tamara membuat Alana bungkam.
"Lo salah Ra. Walaupun gue tinggal di apartemen yang sama tapi gue dan pak Ryan tidur di kamar yang berbeda bahkan pak Ryan tidak pernah nyentuh gue atau meminta hak nya sebagai suami" Kata Alana, kemudian meneguk minuman dingin rasa jeruk di depan nya.
Tamara yang tadi nya fokus makan, kini terhenti lalu menatap Alana dengan serius. "Pak Ryan ngak gay kan?" Pertanyaan Tamara sontak membuat Alana melotot lalu kembali melayangkan toyoran di kepala Tamara.
"Sinting lo!" Mana mungkin pak Ryan gay sedangkan mbak Adel sedang hamil anak nya pak Ryan" Alana memutar bola matanya dengan malas.
Tamara tanpak berfikir. "Kok bisa tiba tiba mantan istri nya hamil? Pak Adrian ngak curiga gitu, ada yang aneh?" Kata Tamara.
"Entahlah gue aja bingung. Gue sempat mikir untuk pisah dengan pak Ryan setelah tau jika mantan istri nya itu hamil" Kata Alana seperti wanita putus asa.
"Lo sinting yak! Ngak bisa gitu lah, lo harus pertahan kan rumah tangga lo jangan nyerah gitu. Bisa saja kan ini hanya alasan mantan istri nya pak Ryan agar bisa balik lagi sama pak Ryan" Alana hanya diam, rasa nya sangat pusing jika memikirkan masalah ini.
Tamara tiba tiba saja mendekat pada Alana lalu berbisik. "Coba dehh, lo duluan yang godain pak Ryan kali aja pak Ryan tergoda dan mulai buka hati sama lo" Lagi lagi Tamara mendapatkan toyoran dari Alana. "Aww sakit bego" Ringis Tamara.
"Otak lo mesum banget tapi nanti gue coba deh saran lolo semoga aja ampuh buat luluhin hati dingin nya pak Ryan" Kata Alana lalu memeluk erat tubuh Tamara.
Setelah perbincangan yang gada faedah nya akhir nya mereka berdua pun mulai mengerjakan tugas yang di berikan oleh Adrian beberapa hari yang lalu.
.
.
.
Drrrtttt
Drrrtttt
Suara ponsel Alana membuat fokus nya buyar nya apalagi saat melihat nama yang tertera di layar ponsel. "Siapa yang nelfon?" Tanya Tamara.
"Pak Ryan"
"Yaudah angkat gih" Alana lalu berdiri dan sedikit menjauh dari Tamara untuk mengangkat telfon dari pak Ryan.
Alana lalu menekan tombol hijau pada layar "Ada apa pak?" Tanya Alana.
"Keluar, saya tungguin di depan cafe" Kata Adrian.
"Depan cafe?" Alana lalu melihat sekitar depan cafe dan benar saja mobil Adrian sudah terparkir rapi di sana. "Nanggung pak, dikit lagi selesai tugas nya. Bapak pulang saja nanti saya pulang di antar Tamara" alana.
"Saya tunggu" Kata Adrian lalu mematikan sambungan telfon nya. Alana lalu kembali ke meja menemui Tamara. "Ra, gue balik duluan yaa, pak Ryan udah nungguin di depan" Kata Alana sembari membersihkan beberapa buku nya di atas meja.
Tamara mengangguk pelan "Kita lanjut besok aja tugas nya" Kata Alana namun sebelum pergi, Tamara berbisik pada Alana. "Jangan lupa entar malam lo mulai rencana nya" Kata Tamara sembari mengedipkan satu mata nya. Membuat Alana bergidik ngeri.
Alana lalu menghampiri mobil Adrian sedikit berlari karena hujan tiba tiba saja turun dengan deras. Setelah Alana masuk, Adrian pun melakukan mobil nya tampa banyak bicara."Siapa kau"
Tanyak Elang pada seorang gadis cantik yang baru saja keluar dari kamar nya. Gadis itu bernama Annisa yang biasa di sapa Nisa, seorang gadis yang selalu menutup aurat nya dengan hijab dan selalu mengenakan baju yang sopan.
"Dia Annisa anak nya Om Harris, Lang" Bukan Annisa yang menjawab nya melainkan seorang pria paruh baya yang baru saja dari halaman belakang.
"Aku Annisa kak, panggil Nisa saja" Kata Nisa dengan sopan dan sedikit menunduk.
__ADS_1
Elang terus menatap Annisa entah apa yang ada di dalam fikiran Elang saat ini yang jelas ada sedikit senyuman terukir di bibir manis nya. "Mulai sekarang Annisa akan tinggal di sini" Ucap ayah Elang sembari berjalan ke ruang kerja nya.
Elang hanya tersenyum lalu menyusul sang ayah ke ruang kerja nya. "Ayah" Kata Elang setelah berada di ruang kerja sang ayah.
"Tumben kau pulang, ada apa?" Tanya ayah Elang sembari membuka beberapa berkas kerjaan nya.
"Elang ingin menikah" Jawab Elang mantap.
"Apa!!" Ayah Elang sangat kaget mendengar ucapan Elang, sangking kaget nya Ayah Elang sampai tersendak air liur nya sendiri. "Kau ingin menikah dengan siapa? Atau Jangan-jangan kau sudah menghamili anak orang" Kata sang ayah yang bersiap melempar vas bunga yang berada di atas meja jika saja benar yang dia katakan.
"Mana mungkin" Jawab Elang santai.
"Lalu kenapa kau ingin menikah mendadak dan siapa gadis itu?"
"Elang ingin menikahi Nisa, yah" Jawab Elang tanpa ragu sedikit pun membuat sang ayah yang tadi nya hampir marah kini tertawa dengan geli. "Elang janji, Elang akan berubah jika ayah mengizin kan aku menikahi nya"
Di sela sela tertawa nya sang ayah menjawab. "Kau ingin berubah jadi apa? Jadi hulk, jadi power rangers atau jadi betmen" Sang ayah kembali tertawa melihat wajah kikuk Elang.
"Elang serius yah" Elang mulai jengkel dengan sang ayah yang tidak bisa "jak serius. "Jika ayah tidak setuju, tidak masalah" Kata Elang lalu berdiri dari tempat duduk nya.
"Hey hey, siapa bilang ayah tidak setuju" Jawab sang ayah lalu menampilkan expresi serius. "Sini duduk, kita bicara sebentar" Elang pun kembali duduk di kursi yang tadi walaupun pun masih agak kesal.
"Sebenarnya Om Haris dan ayah sudah menjodohkan kalian berdua sejak masih kecil dan rencana nya setelah kalian lulus SMA kalian akan bertunangan tapi takdir berkata lain" Ayah Elang sedikit menunduk.
"Ada apa yah?" Tanyak Elang penasaran.
"Dua bulan yang lalu orang tua Annisa mengalami kecelakaan dan Om haris di nyatakan meninggal di tempat sedang kan ibu Nisa mengalami kelumpuhan"
"Tapi beberapa hari yang lalu, ibu Nisa menelfon ayah jika dia ingin menikahkan kalian berdua secepat nya sebelum dia meninggal. Namun siapa sangka kemarin saat ayah mendatangi nya ternyata ibu Nisa sudah meninggal kemarin sore"
Elang hanya diam mendengar semua ucapan sang ayah. "Nisa juga sudah setuju menikah dengan mu karena ingin menjalan kan amanah dari ibu nya" Lanjut sang ayah.
"Tau gitu tadi Elang tidak mengatakan apapun" Kata Elang.
"Yah makanya ayah tertawa mendengar ucapan mu itu" Kata sang ayah yang kembali tertawa "Pernikahan kalian akan di laksanakan dua hari lagi secara pribadi di rumah ini dan beberapa hari kemudian Nisa akan ayah daftar kan ke sekolah yang sama dengan mu setelah itu terserah kau ingin tinggal di rumah ini atau di apartemen mu sendiri"
Elang hanya mengangguk. "Kalau begitu Elang pamit dulu yah" Kata Elang melongos pergi tanpa menunggu jawaban sang ayah.
Banyak yang bilang jika wanita yang baik akan di jodohkan dengan pria baik pula, begitu pun sebaliknya.
Namun apa jadi nya jika seorang pria badboy yang terkenal selalu membuat masalah malah menikah dengan wanita yang selalu menggunakan hijab dan menjaga jarak dari kaum adam.
Elang Samudera, seorang cowok berandalan yang hoby balapan liar. Baginya, kehidupan malam lebih indah di banding kehidupan nya sendiri yang sangat berantakan.
🌱🌱🌱
Di bawa bulan yang bersinar terang, seorang pria yang memiliki mata hitam legam, menggunakan baju kaos hitam yang ➡ lapisi dengan jaket yang senada dengan lambang Elang di jaket tersebut baru saja menaiki motor kebanggaan nyanya lalu memakai helm full face.
"Siapin uang lo 10 juta kalau lo kalah malam ini"
Elang hanya tersenyum sini di balik helm nya. Elang terlalu malas untuk menjawab ucapan lawan tanding nya malam ini.
"Gue pastikan lo bakal kalah malam ini" Kata sang lawan.
"Mari kita bukti kan" Kata Elang dengan nada dingin dan tersenyum sinis.
Seorang wanita berpakaian seksi berjalan ke tengah tengah mereka lalu gadis seksi itu mengibarkan bendera hitam putih ke atas sebelum akhirnya terdengar suara tembakan tanda balapan akan di mulai.
"READY.. SET.. GOO!!"
Motor sport yang di kendarai oleh Anzel melaju lebih dulu dan meninggalkan Elang yang baru saja menaikan laju motor nya.
Kedua motor besar itu membelah jalan raya yang sepi di bawa langit malam yang menyaksikan mereka berdua beraksi malam ini.
"Gue ngak bakalan biarin lo menang malam ini Lang!" Teriak Anzel saat motor Elang berhasil jejar dengan motor nya.
Elang tidak merespon karena mata hitam legam nya hanya fokus melihat kedepan karena sebentar lagi garis finish mulai terlihat.
Satu hal yang harus kalian tahu jika Elang adalah raja balapan liar yang tidak pernah kalah selama diri nya menempuh dunia malam.
__ADS_1
Sirkuit finish mulai terlihat, Elang akan memenangkan pertandingan malam ini seperti malam malam sebelum nya. Tidak ada yang bisa mengalahkan Elang dalam pertandingan balapan liar.
Dan benar saja Elang berhasil memenangkan pertandingan ini dan meninggal kan Anzel jauh di belakang. Setelah sampai di finish seluruh penonton bersorak meneriakan nama Elang.