Jodoh Salah Kamar

Jodoh Salah Kamar
gje


__ADS_3

Setelah ibu Sintia pergi, Dea pun melajukan mobil nya dan segera pulang ke rumah nya. Awal nya Dea ingin ke rumah Aurelia namun Dea mengurungkan niat nya karena Dea berkali kali menelfon Aurelia namun Aurelia tidak mengangkat nya karena masi sibuk menghias Cafe Shop.


"Aishh kemana si Aurelia, kenapa dia tidak mengangkat telfon nya" Kesal Dea dan tampa sadar mobil yang Dea kendarai menabrak sebuah pohon.


Bruuukk Braakkk


"Aaauuuuww" keluh Dea saat berhasil keluar dari mobil nya yang penuh dengan asap karena menabrak pohon besar.


Dan dengan kesadaran yang mulai hilang, Dea meminta tolong kepada warga sekitar agar menyelamat kan mobil nya dan membawa Dea ke rumah sakit karena kepala Dea mengeluarkan banyak darah.


Beberapa warga pun mulai berdatangan dan menolong Dea dengan membawa nya ke rumah sakit.


Sesampai nya di rumah sakit Dea masi tersadar dan dengan cepat dokter yang berjaga pun menghampiri Dea.


"Cepat bawa keruang UGD" Ujar seorang dokter yang tak lain adalah Aiden kakak Evan.


Di sela kesadaran nya, Dea melihat dan mengagumi wajah tampan dokter yang tengah mendorong tempat tidur pasien. hingga akhirnya Dea pun pingsan.


Dua jam kemudian Dea terbangun dengan memegang kepala nya yang sudah di perban namun masi terasa sakit.


"Dokter" Teriak Dea sembari memegangi kepala nya yang sakit. Beberapa menit kemudian Aiden pun melewati ruangan Dea.


"Dokter" Teriak Dea lagi namun Aiden tidak mendengar nya. Dan dengan cepat Dea turun dari tempat tidur pasien dan mengikuti langkah Aiden.


Aiden yang baru saja masuk kedalam ruangan nya dan memeriksa data pasien UGD berjingkat kaget saat seseorang menepuk pundak nya dari belakang. Aiden yang memakai jas dokter lengkap itu sontak memegang dada nya.


"Ada perlu apa" Tanyak Aiden yang masi terlihat Cool padahal Aiden sangat terkejut melihat Dea yang berdiri di belakang nya dengan wajah yang sangat pucat. Apalagi Aiden yang baru saja dari ruang mayat untuk memeriksa sesuatu.


"Dokter tidak menelfon ibu ku kan" Tanyak Dea dengan cecengesan karena melihat expresi Aiden yang sangat terkejut walau pun masi bersikap tenang.


"Memang nya aku tau ibu siapa?" Tanyak Aiden balik dengan wajah dingin nya.


"Ehh iya yaa" Ucap Dea tampa dosa sedikit pun sembari tersenyum.


"Kau kesini hanya untuk menanyakan hal itu saja" Tanyak Aiden lagi dan Dea hanya mengangguk "Kan ada nurse call, ngak seharus nya kau keluyuran di sini apalagi ini sudah larut malam" Omel Aiden merasa kesal.


"Aku takut dok di kamar sendirian, gimana kalau ada mayat yang datang ke kamar ku" Dea pun berpura pura ketakutan dengan wajah memelas. Padahal Dea sama sekali tidak penakut malah saiton yang takut pada Dea yang barbar ini.


Aiden pun mengalihkan pandangan nya dan melihat ke sekitar. Entah siapa yang dia cari hingga akhirnya Aiden menatap Dea kembali.


"Di mana keluarga mu? apa perlu aku telfon keluarga mu agar datang kesini?" Tanyak Aiden.


"Emm tidak usah.. Mama ku baru saja berangkat ke prancis aku tidak mau membuat nya khawatir. Gimana kalau dokter saja yang temani aku" Ujar Dea berterus terang.


"Sepertinya otak mu tergeser, Apa perlu aku periksa sekarang" tanyak Aiden dengan tatapan dingin nya.


"Tidak perlu dok" Ujar Dea terkekeh "Tapi mendadak jantung ku sedikit sakit karena berdebar terlalu kencang" Lanjut Dea.


"Coba aku periksa" Ujar Aiden sembari mendekati Dea.


"Ahh tidak perlu dok" Ucap Dea dengan mundur perlahan "Sepertinya Jantung ku berdebar karena berada di dekat dokter ganteng, jika dokter mendekat lagi, aku yakin aku akan terkena serangan jantung" Dea terkekeh.


"Sana balik ke kamar mu, aku masi banyak kerjaan" Perintah Aiden merasa di permainkan oleh bocah ingusan.


"Aku takut sendirian" Dea mengubah expresi wajah nya yang memelas.


Aiden menaikan sebelah alis nya "Kau tidak punya keluarga di indonesia" tanyak Aiden dan Dea dengan cepat mengangguk.


"Tunggu di sini, aku akan memanggil suster untuk menemani mu" Kata Aiden sembari berjalan keluar dan belum sempat sampai di pintu tangan Aiden pun di tarik oleh Dea.

__ADS_1


"Aku ikut dok, aku takut di sini" Dea beralasan agar bisa terus bersama dokter Aiden.


Aiden pun mendengus kesal dan kembali berjalan mencari suster yang masi terjaga. Aiden bener bener jengkel karena Dea terus menempel pada nya.


Setelah dua puluh menit Aiden tidak mendapati seorang suster yang masi terjaga karena memang sudah larut malam.


"Hoaaaammmm" Dea menguap tampa rasa malu sedikit pun.


"Kau sudah mengantuk" tanyak Aiden sembari melihat Dea yang terus bergelayut di tangan nya.


"Yaa" jawab Dea singkat.


"Kembali lah ke kamar mu" pinta Aiden yang merasah risih dengan Dea. Dea hanya menggeleng tanda tidak setuju.


"Hais merepot kan saja" dengus Aiden merasa kesal. Aiden pun mengajak Dea kembali ke dalam kamar nya. Sesampai nya di kamar Dea pun di suruh berbaring oleh Aiden dan dengan patuh Dea mengikuti perintah Aiden.


"Tidur lah" Ucap Aiden.


"Dokter tidak akan pergi kan" Tanyak Dea penuh Harap dan Aiden hanya mengangguk. Tak butuh waktu lama Dea pun akhirnya tertidur dan Aiden segera keluar dari kamar Dea sebelum Dea terbangun. Zeline adalah ibu Evan dan Aiden. Zeline seorang model dan artis terkenal hampir seluruh dunia tau jika Zeline adalah wanita hebat dan sukses. Namun identitas nya di rahasiakan hingga sampai saat ini pun tidak ada yang tahu jika Zeline mempunyai dua orang putra yang sangat tampan.


Putra pertama Zeline bernama Aiden Marten seorang dokter hebat yang berusia 23 tahun dan putra kedua nya Evan Marten yang berusia 18 tahun.


Sembilan belas tahun yang lalu sebelum Zeline menjadi artis terkenal. Zeline memiliki masa lalu yang kelam karena keinginan nya yang ingin menjadi seorang artis terkenal. Zeline mengabaikan keluarga kecil nya.


Zeline nekat naik ke ranjang produser demi mendapat kan peran utama di sebuah film layar lebar yang sempat trend pada masa nya.


Namun siapa sangka sejak kejadian itu Zeline hamil, Awal nya Zeline mengira dia hamil anak nya Zeen Marten yaitu suami nya sendiri hingga bayi itu lahir pun Zeen tidak curiga sama sekali.


Hingga suatu ketika saat Evan berusia lima tahun, Evan mengalami kecelakaan dan membutuh kan banyak darah. Di sini lah Awal mula hancur nya keluarga Zeen dan Zeline.


Saat Zeen ingin mendonorkan darah nya untuk Evan putra kedua nya, Dokter mengatakan jika darah mereka tidak cocok dan Evan juga bukan anak kandung nya.


Aiden yang saat itu berusia sepuluh tahun sudah mengerti dengan masalah kedua orang tua nya namun ia tetap sayang kepada adik nya.


Setiap saat Aiden selalu memberi kabar kepada Evan namun jika Zeen mengetahui jika mereka masi berhubungan Zeen akan marah dan menghukum Aiden.


Setelah kepergian Zeen dan Aiden keluar negeri. Zeline mulai membenci kehadiran Evan dan selalu mengabaikan apapun yang Evan lakukan.


Hingga suatu ketika Zeline pergi meninggal kan Evan sendirian di usia nya yang baru saja menginjak tujuh tahun.


Zeline pergi untuk mengejar karir nya agar menjadi seorang artis terkenal yang sampai saat ini gelar artis terkenal masi dia sandang oleh nya dengan rahasia yang tertutup rapat.


Aiden yang mengetahui jika adik nya di tinggal kan begitu saja pun sangat marah dan segera mengirim pengasuh untuk menjaga adik nya tampah sepengetahuan Zeen. Dan sejak saat itu juga Aiden yang selalu mengirimkan uang untuk Evan melalui orang kepercayaan nya.


Lima tahun kemudian Zeline mulai merasa bersalah karena meninggalkan Evan begitu saja dan kini Zeline ingin kembali tinggal bersama Evan. Namun siapa sangka sejak kepergian Zeline waktu itu, Evan mulai membenci nya dan enggan bertemu dengan Zeline.


Namun Zeline terus berusaha membujuk EvanĀ  dan lambat laun Evan pun mulai luluh tapi walaupun begitu sifat Evan masi dingin ke Zeline hingga saat ini.


Saat Aiden tahu jika Zeline mulai mendekati Evan lagi, Aiden marah dan memutuskan untuk kembali ke indonesia. Sesampai nya Aiden di indonesia Aiden pun memindahkan Evan ke sebuah rumah kost yang saat ini Evan tinggali.


Dan saat itu pula Aiden mulai berkerja di rumah sakit milik ayah nya. agar tetap bersama Evan dan terus mengawasi Evan. Makanya Evan selalu mencari tempat yang sepi setiap kali ingin bertemu dengan Zeline.


Aiden kembali ke indonesia bersama Reno Sebastian ayah Arka. Sedangkan Zeen masih menetap di Prancis bersama Arka tapi dua hari yang lalu Arka juga kembali ke indonesia untuk melanjut kan perusahaan Ayah nya.


Aurelia dan Evan pun membeli beberapa dekorasi ulang tahun di sebuah toko. Saat asyik memilih dekorasi tampa sengaja Evan melihat sebuh kalung cantik dan segera membeli nya. Satu jam kemudian mereka berdua pun selesai membeli aksesoris.


"Menurut mu kado apa yang harus aku berikan untuk mama ku" Tanyak Aurelia yang kebingungan.


"Memang nya mama mu suka apa? maksud ku dia suka makanan apa atau barang-barang seperti apa gitu?" tanyak Evan balik.

__ADS_1


"Mama suka makan cake..." belum selesai Aurelia berbicara Evan malah menimpali.


"Yasudah kau buat kan cake untuk mama mu, setiap perayaan ulang tahun kan selalu di identik dengam kue ulang tahun jadi kau saja yang buat" Saran Evan dan Aurelia malah menunduk "Ada apa lagi" tanyak Evan.


"Aku ngak tau buat cake atau pun kue ulang tahun" Lirih Aurelia dengan cemberut.


"Hadeeh gitu aja kau sudah cemberut, Kau tenang saja selama ada aku, masalah mu pasti teratasi, aku bisa kok buat kue" Kata Evan membuat Aurelia menatap nya dengan tatapan mencurigakan. "Kalau kau tidak percaya, Yasudah" lanjut Evan saat melihat Expresi Aurelia.


"Eh iya aku percaya" Jawab Aurelia cepat takut jika Evan berubah fikiran.


"Kau masi butuh sesuatu?" tanyak Evan dan Aurelia pun mengeleng.


"Kalau gitu kita pulang sekarang untuk membuat kue nya dan entar malam kita ke Cafe untuk menghias Cafe Shop" Kata Evan Sembari berjalan keluar toko dan mencari motor nya yang terparkir tidak jauh.


"Kau tunggu aku di sini, aku ingin mengambil motor" Pintah Evan dan Aurelia hanya mengangguk tanda setuju.


Beberapa menit kemudian Aurelia dan Evan sudah sampai di rumah kost mereka "Kau buat kue di kamar kost ku saja" Kata Evan.


"Aku tidak mau.. kenapa harus di kamar mu.. Ehh atau kau ingin macam-macam pada ku" Aurelia memicingkan mata nya menatap curiga pada Evan


Plaakk


Evan menyentil kening Aurelia "Otak mu kotor sekali" Tukas Evan.


"Aaauuww" keluh Aurelia karena sentilan Evan barusan.


"Kau punya oven untuk membuat kue atau mixer, hah" tanyak Evan dan Aurelia hanya cecengesan sembari menggelengkan kepala "Terus gimana cara kau buat kue jika kau saja tidak punya alat untuk membuat nya" Dongkol Evan.


"Hehe maaf dehhh" Jawab Aurelia "Yasudah ayo kita buat sekarang, soal nya udah sore nih takut nya engga keburu apalagi entar kita mau hias Cafe Shop kk" Jawab Aurelia sembari mendorong tubuh Evan masuk ke dalam kamar nya.


Dan saat Aurelia melihat seisi rumah Evan Aurelia sangat terkejut. rumah Evan sangat berantakan, handuk di atas sofa, baju di atas tv, piring di depan tv, buku yang berantakan di atas meja dan tong sampah yang sangat penuh.


"Ini rumah mu atau kandang sapi" tanyak Aurelia melongo melihat seisi rumah Evan seperti abis gempa saja.


"Kalau gitu kita mulai yuk" Evan mengalihkan pembicaraan.


"Mulai"? tanyak Aurelia bingung.


"Aku lupa taruh buku resep di mana, tolong bantu cariin yah" Evan malah cengengesan.


"Kata nya kau bisa buat" Kesel Aurelia merasa di tipu.


"Harus lihat buku dulu, baru bisa buat" Jawab Evan enteng.


"Besok ulang tahun mama, aku pengen buat sesuatu yang special untuk mama, Kalau aku pulang sekarang udah ngak sempat lagi buat kue nya" Gumam Aurelia ragu untuk membuat kue bersama Evan.


"Udah ngak usah banyak mikir dehh, lebih baik kau cari buku resep nya sembari memberes kan barang-barang ku" Saran Evan sembari menaikan alis nya.


"Salah besar aku mempercayai mu Evan, kalau bukan untuk mama aku tidak akan melakukan nya" Kesel Aurelia.


"Jelas jelas nyuruh aku datang hanya untuk beresin rumah dia, huhh Evan sialan" Gumam Aurelia cemberut.


"Jangan cemberut gitu, aku kan baik hati ingin meminjam kan mu alat untuk buat kue. Yahh anggap aja ini balas budi" Evan kali ini bener bener mengerjai Aurelia.


"Emm.. yasudah kau juga bantu cari dong, ini kan rumah mu pasti kau lebih tau di mana biasanya kau menyimpan barang" Aurelia pun hanya bisa bersabar menghadapi Evan yang keterlaluan.


"Oh iya aku lupa beli bahan kue nya, aku pergi beli sekarang, Tolong kau beresin rumah sampai bersih yah" Evan pun berjalan tampa merasa dosa sedikit pun.


"Sialaaaan kau Evaaaannnn" Teriak Aurelia saat Evan berada di ambang pintu. setelah keluar dari rumah, Evan malah tertawa terbahak bahak karena berhasil mengerjai Aurelia.

__ADS_1


__ADS_2