Jodoh Salah Kamar

Jodoh Salah Kamar
gA jels


__ADS_3

Kali ini Aurelia bener bener merasa kesel dan marah karena ulah Evan yang sangat meresahkan. Walaupun kurang ikhlas Aurelia tetap saja membersihkan rumah Evan yang mirip kandang sapi.


Beberapa menit kemudian Evan pun datang  setelah membeli bahan bahan kue.


"Wahh bahan kue nya sangat lengkap yahh, tampah buku resep pun kau sudah tau" Decak Aurelia sembari berkacak pinggang dengan tatapan tajam setajam silet.


"Sudah tidak usah protes, cepat kau buat kue nya sebelum malam" Ucap Evan mengalihkan pembicaraan "Oh iya aku sudah membeli buku resep yang baru, kau pakai yang itu saja untuk buat kue ulang tahun" Saran Evan yang sebenarnya Evan tidak memiliki buku resep. Maka nya Aurelia tidak dapat menemukan buku resep nya bahkan saat rumah Evan pun sudah bersih.


"Jika kau ingin membeli nya, lantas mengapa kau menyuruh ku membersihkan rumah mu sembari mencari buku resep, Haaah"  Kesel Aurelia sembari melempar batal sofa ke arah Evan.


"Dari tadi kau marah marah terus, ngak capek apa" Evan mendorong tubuh Aurelia agar masuk ke dapur untuk membuat kue "Aku percaya dengan IQ mu yang rendah, jadi kau buat kue sesuai intruksi di buku yah, jangan sampai salah" Lanjut Evan lagi saat mereka berdua sudah berada di dapur.


"Ehh kau mau kemana, kau kan janji mau bantuin aku buat kue" Tanyak Aurelia saat Evan malah putar balik dan tidak masuk ke dapur bersama Aurelia.


"Aku kegerahan, mau mandi bentar, setelah mandi aku akan membatu mu" Jawab Evan Enteng sembari masuk ke dalam kamar untuk mandi.


"xxxxxxxxxxxx" Anggap aja Aurelia lagi toxic tapi di sensor.


Beberapa menit kemudia Evan pun selesai mandi dan mendengar suara keributan di dapur.


"Hadeeh bikin kue aja kok berisik banget si" Kata Evan sembari berjalan menuju dapur "Astaga Aureliaaa" Pekik Evan saat sudah sampai di dapur dan melihat tubuh Aurelia penuh dengan terigu "Apa yang kau lakukan" tanyak Evan heran.


"Ehehe.. bungkus tepung nya tadi susah di buka jadi.. " Jawab Aurelia sembari memainkan jari jari nya.


"Sana bersihin badan kau dulu, biar aku yang bersihin dapur nya"


"Baiklah" jawab Aurelia sembari berjalan menuju kamar mandi. Tak butuh waktu lama Aurelia pun sudah selesai membersihkan badan nya.


"Nih pakai dulu" Evan memaikan kan celemek ke  Aurelia agar tidak kotor saat membuat kue "Tepung nya udah ngak bisa di selamat kan gara gara kau tapi untung saja telur nya masi bisa di pakai" Ucap Evan.


"Bisa di pakai si tapi tadi pas mecahin telur aku ngak sengaja masukin cangkang nya juga" Lirih Aurelia sembari membelakangin Evan karena takut kena sentil oleh Evan.


"Dasar gadis bodoh, cepet kau ambil cangkang telur nya" Evan memukul pelan kepala Aurelia menggunakan buku resep yang ia pelajari barusan. dan dengan cepet pun Aurelia membersihkan sisa cangkang telur yang tercampur.


Dua jam kemudian akhir nya kue yang mereka buat jadi juga. Walaupun penuh dengan drama.


"Ahh Akhir nya kue pertama ku jadi juga. semoga mama suka kue nya" Aurelia sangat senang karena berhasil membuat kue untuk pertama kali nya.


"Oi oi jangan seneng gitu, kue pertama mu ada di sini" Kata Evan sembari memperlihat kan tong sampah yang hampir penuh karena kue buatan Aurelia yang selalu gagal.


"Ohh.. Hehe" Jawab Aurelia cengengesan.


"Sudah jam delapan malam, Ayok kita ke Cafe Shop untuk menghias nya" Saran Evan "Kau simpan kue itu di kulkas" Pinta Evan.


Aurelia pun menuruti perintah Evan dengan menyimpan kue nya di kulkas dan segera pergi ke Cafe Shop. tapi sebelum pergi ke Cafe Shop Aurelia mengganti pakaian nya terlebih dahulu setelah itu berangkat ke Cafe Shop.Malam ini Dea tidak jadi ke rumah Aurelia karena harus mengantar ibu nya ke sebuah bandara.


"Untuk sementara kau tinggal di rumah Aurelia saja karena ibu tidak tega meninggalkan mu sendirian di rumah" Saran Sintia agar Dea tidak merasa kesepian berada di rumah sendirian.


"Iya ibu ku sayang" Jawab Dea sembari memeluk ibu nya begitu hangat.


Di satu sisi Dea merasa senang karena beberapa hari akan tinggal di rumah Aurelia selama ibu nya belum kembali dari Prancis. Namun di sisi lain Dea juga merasa sedih ibu nya pergi ke Prancis karena ada beberapa perkerjaan yang harus dia selesaikan.


Sintia ibu Dea adalah seorang desainer hebat dan karya nya dalam mendesain sebuah gaun memang sangat bagus dan patut di ajukan jempol.


Beberapa menit kemudian akhir nya pesawat yang akan di naiki oleh Sintia akan segera lepas landas


"Ibu pergi dulu yah sayang, kau jangan nakal dan ingat pesan ibu pada mu" Ujar Sintia.


"Siaap buk boss" Jawab Dea sembari memberi hormat kepada ibu nya dan Sintia hanya tersenyum melihat tingkah putri semata wajang nya.


Setelah ibu Sintia pergi, Dea pun melajukan mobil nya dan segera pulang ke rumah nya. Awal nya Dea ingin ke rumah Aurelia namun Dea mengurungkan niat nya karena Dea berkali kali menelfon Aurelia namun Aurelia tidak mengangkat nya karena masi sibuk menghias Cafe Shop.Setelah ibu Sintia pergi, Dea pun melajukan mobil nya dan segera pulang ke rumah nya. Awal nya Dea ingin ke rumah Aurelia namun Dea mengurungkan niat nya karena Dea berkali kali menelfon Aurelia namun Aurelia tidak mengangkat nya karena masi sibuk menghias Cafe Shop.


"Aishh kemana si Aurelia, kenapa dia tidak mengangkat telfon nya" Kesal Dea dan tampa sadar mobil yang Dea kendarai menabrak sebuah pohon.


Bruuukk Braakkk


"Aaauuuuww" keluh Dea saat berhasil keluar dari mobil nya yang penuh dengan asap karena menabrak pohon besar.


Dan dengan kesadaran yang mulai hilang, Dea meminta tolong kepada warga sekitar agar menyelamat kan mobil nya dan membawa Dea ke rumah sakit karena kepala Dea mengeluarkan banyak darah.


Beberapa warga pun mulai berdatangan dan menolong Dea dengan membawa nya ke rumah sakit.

__ADS_1


Sesampai nya di rumah sakit Dea masi tersadar dan dengan cepat dokter yang berjaga pun menghampiri Dea.


"Cepat bawa keruang UGD" Ujar seorang dokter yang tak lain adalah Aiden kakak Evan.


Di sela kesadaran nya, Dea melihat dan mengagumi wajah tampan dokter yang tengah mendorong tempat tidur pasien. hingga akhirnya Dea pun pingsan.


Dua jam kemudian Dea terbangun dengan memegang kepala nya yang sudah di perban namun masi terasa sakit.


"Dokter" Teriak Dea sembari memegangi kepala nya yang sakit. Beberapa menit kemudian Aiden pun melewati ruangan Dea.


"Dokter" Teriak Dea lagi namun Aiden tidak mendengar nya. Dan dengan cepat Dea turun dari tempat tidur pasien dan mengikuti langkah Aiden.


Aiden yang baru saja masuk kedalam ruangan nya dan memeriksa data pasien UGD berjingkat kaget saat seseorang menepuk pundak nya dari belakang. Aiden yang memakai jas dokter lengkap itu sontak memegang dada nya.


"Ada perlu apa" Tanyak Aiden yang masi terlihat Cool padahal Aiden sangat terkejut melihat Dea yang berdiri di belakang nya dengan wajah yang sangat pucat. Apalagi Aiden yang baru saja dari ruang mayat untuk memeriksa sesuatu.


"Dokter tidak menelfon ibu ku kan" Tanyak Dea dengan cecengesan karena melihat expresi Aiden yang sangat terkejut walau pun masi bersikap tenang.


"Memang nya aku tau ibu siapa?" Tanyak Aiden balik dengan wajah dingin nya.


"Ehh iya yaa" Ucap Dea tampa dosa sedikit pun sembari tersenyum.


"Kau kesini hanya untuk menanyakan hal itu saja" Tanyak Aiden lagi dan Dea hanya mengangguk "Kan ada nurse call, ngak seharus nya kau keluyuran di sini apalagi ini sudah larut malam" Omel Aiden merasa kesal.


"Aku takut dok di kamar sendirian, gimana kalau ada mayat yang datang ke kamar ku" Dea pun berpura pura ketakutan dengan wajah memelas. Padahal Dea sama sekali tidak penakut malah saiton yang takut pada Dea yang barbar ini.


Aiden pun mengalihkan pandangan nya dan melihat ke sekitar. Entah siapa yang dia cari hingga akhirnya Aiden menatap Dea kembali.


"Di mana keluarga mu? apa perlu aku telfon keluarga mu agar datang kesini?" Tanyak Aiden.


"Emm tidak usah.. Mama ku baru saja berangkat ke prancis aku tidak mau membuat nya khawatir. Gimana kalau dokter saja yang temani aku" Ujar Dea berterus terang.


"Sepertinya otak mu tergeser, Apa perlu aku periksa sekarang" tanyak Aiden dengan tatapan dingin nya.


"Tidak perlu dok" Ujar Dea terkekeh "Tapi mendadak jantung ku sedikit sakit karena berdebar terlalu kencang" Lanjut Dea.


"Coba aku periksa" Ujar Aiden sembari mendekati Dea.


"Sana balik ke kamar mu, aku masi banyak kerjaan" Perintah Aiden merasa di permainkan oleh bocah ingusan.


"Aku takut sendirian" Dea mengubah expresi wajah nya yang memelas.


Aiden menaikan sebelah alis nya "Kau tidak punya keluarga di indonesia" tanyak Aiden dan Dea dengan cepat mengangguk.


"Tunggu di sini, aku akan memanggil suster untuk menemani mu" Kata Aiden sembari berjalan keluar dan belum sempat sampai di pintu tangan Aiden pun di tarik oleh Dea.


"Aku ikut dok, aku takut di sini" Dea beralasan agar bisa terus bersama dokter Aiden.


Aiden pun mendengus kesal dan kembali berjalan mencari suster yang masi terjaga. Aiden bener bener jengkel karena Dea terus menempel pada nya.


Setelah dua puluh menit Aiden tidak mendapati seorang suster yang masi terjaga karena memang sudah larut malam.


"Hoaaaammmm" Dea menguap tampa rasa malu sedikit pun.


"Kau sudah mengantuk" tanyak Aiden sembari melihat Dea yang terus bergelayut di tangan nya.


"Yaa" jawab Dea singkat.


"Kembali lah ke kamar mu" pinta Aiden yang merasah risih dengan Dea. Dea hanya menggeleng tanda tidak setuju.


"Hais merepot kan saja" dengus Aiden merasa kesal. Aiden pun mengajak Dea kembali ke dalam kamar nya. Sesampai nya di kamar Dea pun di suruh berbaring oleh Aiden dan dengan patuh Dea mengikuti perintah Aiden.


"Tidur lah" Ucap Aiden.


"Dokter tidak akan pergi kan" Tanyak Dea penuh Harap dan Aiden hanya mengangguk. Tak butuh waktu lama Dea pun akhirnya tertidur dan Aiden segera keluar dari kamar Dea sebelum Dea terbangun.Sekitar jam satu siang, Amelia yang sudah siap segera turun menghampiri Lusi yang tengah duduk bersantai.


"Mama hari ini ikut aku yahh" Ucap Amelia sembari mencium pipi Lusi.


"Kemana sayang" Tanyak Lusi.


"Kesuatu tempat dan mama harus ikut karena aku ingin menunjuk kan sesuatu" Ujar Amelia sedikit memaksa.

__ADS_1


"Baiklah" Ucap Lusi karena Lusi memang tidak perna menolak kemauan Amelia apapun itu.


Setelah menempuh perjalanan hingga satu jam, Akhir nya Lusi dan Amelia sampai di Cafe Shop.


Aurelia, Evan dan beberapa karyawan pun serta para pengunjung sudah menunggu kedatangan Amelia dan Lusi. Setelah Lusi masuk ke dalam Cafe Shop, Suara tepuk tangan pun bergemuruh di Cafe Shop.


Lusi yang mendapat kan kejutan pun akhirnya menangis haru mendapatkan kejutan dari Amelia.


Aurelia pun mendekati Lusi sembari membawa kue ulang tahun yang susah payah Aurelia buat bersama Evan. Dan seketika wajah Lusi berubah menjadi datar saat melihat Aurelia.


"Selamat ulang tahun mama" Ucap Aurelia sembari tersenyum dan menetas kan air mata haru. Bukan nya menyambut Aurelia, Lusi malah memalingkan wajah nya.


"Mama berdoa dulu setelah itu tiup lilin nya" Pinta Amelia sembari tersenyum dan kini terlihat Senyuman di bibir Lusi.


Evan yang melihat nya dari kejauhan pun merasa heran dengan sikap Lusi kepada Aurelia.


Setelah berdoa Lusi pun meniup lilin nya dan memotong kue. Kue pertama Lusi berikan kepada Amelia. Aurelia juga berharap mendapat kan suapan dari Lusi.


Namun Lusi tidak melakukan nya, Seolah olah Aurelia tidak nampak di depan nya tapi Aurelia tetap tersenyum. Amelia yang kasian melihat nya pun langsung mengambil kue yang Lusi taruh tadi dan menyuapi Aurelia.


Setelah itu semua orang di suguhkan beberapa makanan di atas meja dan hari ini Cafe Shop milik Amelia mengadakan makan gratis untuk tamu yang datang hari ini.


Setelah beberapa menit Amelia mengantar Lusi masuk kedalam ruangan nya untuk memperlihat kan kado yang Amelia siapkan untuk Lusi Dan saat Aurelia juga ingin masuk tiba tiba tangan Lusi menghalangi langkah Aurelia.


"Kau bukan bagian dari keluarga ku jadi lebih baik kau tidak perlu masuk" Tatapan tajam pun terpancar jelas di wajah Lusi.


"Tapi ma..."


"Jangan panggil aku mama, aku bukan mama mu" Ketus Lusi.


"Mama apa apaan si" Omel Amelia sembari menarik tangan Aurelia untuk masuk "Aurelia ini adik aku, dia punya hak masuk kedalam sini, apalagi semua ini Aurelia yang menghias nya dengan susah payah dan kue yang mama makan tadi adalah buatan Aurelia" jelas Amelia.


"Ck.. Tau gitu mama tidak akan memakan nya" Decak Lusi


"Kenapa mama begitu membenci ku, apa salah ku ma" Tanyak Aurelia dengan nada bergetar.


"Sampai kapan pun aku akan membenci mu, bahkan sampai kau mati sekali pun" Jelas Lusi tampa memandang ke arah Aurelia sedikit pun.


"Mama" protes Amelia.


"Apa!! Sampai kapan kau berpura pura lagi!! Mama sudah muak melihat dia dan mama tidak mau melihat dia lagi!! Semakin mama melihat nya, maka semakin sakit hati mama, Amelia" Ujar Lusi berapi api.


"Tapi Aurelia tidak mengerti apapun ma, kenapa mama menyalahkan Aurelia"


"Apa yang tidak aku ketahui kak" Tanyak Aurelia.


"Sudah lah lebih baik kau pergi saja dek, tidak usah peduli kan mama" Pintah Amelia agar Aurelia tidak mendengar pengakuan Lusi.


"Stop!!"


"Apa yang sebenarnya terjadi, tolong jelasin kak biar aku mengerti kenapa mama sangat membenci ku" Ujar Aurelia dengan isak tangis nya.


"Evan" Teriak Amelia, Evan yang sedari tadi jadi penonton pun segera masuk menghampiri Amelia "Tolong bawa Aurelia pergi dari sini" pintah Amelia saat Evan berada di ambang pintu.


"Aku tidak mau pergi, aku mau mendengar penjelasan mama" Aurelia memberontak saat Evan menarik tangan nya. "Jangan sentuh aku, Evan" Aurelia menghempaskan tangan Evan.


Evan pun melihat ke arah Amelia dan Amelia memberikan sebuah isyarat Evan yang peka pun langsung menggendong tubuh Aurelia agar keluar dari ruangan Amelia.


"Amelia mohon ma, jangan lampiaskan sakit hati mama kepada Aurelia, dia tidak mengerti apa apa" Ujar Amelia saat Aurelia sudah pergi di bawa oleh Evan.


"Sampai kapan kau mau menutupi semua nya..Sampai kapan Amelia" Lusi sedikit berteriak


"Sudahlah, Amelia tidak ingin berdebat dengan mama, lebih baik mama lihat kado yang Amelia siap kan untuk mama" Pinta Amelia mencair kan suasana.


Aurelia sama sekali tidak tahu jika mama nya adalah seorang pelakor dan gara gara mama Aurelia lah yang membuat Amelia tidak bisa merasakan kasi sayang seorang ayah.


Saat Evan lengah, Aurelia pun berlari menjauhi Evan. Hingga beberapa menit kemudian Evan menyadari jika Aurelia tidak ada di samping nya.


Aurelia terus berlari entah kemana dengan langkah yang bergetar dan air mata yang terus mengalir tampa henti.


Evan yang sangat khawatir pun terus mencari Aurelia hingga hujan turun dengan deras membuat Evan bener bener khawatir dengan keadaan Aurelia saat ini.

__ADS_1


__ADS_2