KALIMAT SUNYI

KALIMAT SUNYI
1. PASAR MALAM


__ADS_3

KEDUA anak laki-laki itu tertawa bahagia, sesekali saling dorong ketika ada badut-badut lucu yang menggoda untuk bermain bersama. Sayang sekali, salah satu dari mereka tidak menyukai badut, dan anak yang usianya sedikit lebih tua terus mendorong si bungsu untuk menempel pada si pelawak berbedak tebal.


“Aku nggak mau, Ken! Mama!” Ken, nama anak yang lebih tua, tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah adiknya, Deka, memerah dan nyaris menangis.


Wanita cantik datang dan tersenyum lembut, di sebelahnya berdiri sang suami yang menggeleng-gelengkan kepala. Tidak tahu kenapa anak-anak mereka begitu lincah jika sudah berada di pasar malam seperti saat ini.


Keadaan yang terang dan hiruk-pikuk para pengunjung sedikit membuat Deka bosan, tapi tubuhnya langsung ditarik oleh sang kakak menuju gerbang kecil di depan bianglala.


“Kita naik itu, Deka. Ayo, beli karcis dulu!" Kata Ken sambil menunjuk ke arah penjaga loket.


Deka menelan ludahnya, menatap ke bianglala yang berputar-putar pelan karena angin.


“Kurasa...” Bisik Deka sambil menggaruk-garuk kepalanya. “...aku nggak ikut.”


Ken memasang wajah cemberut, kemudian menarik tangan adiknya menuju kasir. “Aku akan menjagamu, kok. Jangan takut, oke?”


“Tidak! Aku tidak mau naik, Kak!” Seru Deka, tangannya ditarik oleh Ken lagi dan sekarang menuju gerbang untuk menyerahkan karcis masing-masing.


Ouh... Kenapa Ken cepat sekali beli karcis-karcisnya? Deka bahkan tidak sadar.


"Waktu kamu belum ada, aku selalu berdo’a biar punya adik, terserah itu laki-laki atau perempuan.” Ucap Ken, tatapannya begitu lembut dan menerawang ke arah bianglala. “Aku akan membawanya ke taman bermain suatu hari nanti, bersama-sama naik bianglala meski tempatnya tinggi.”


Aku takut, Kak.” Kata Deka lagi.


Sesekali dia ditabrak oleh anak-anak lain yang berebut menaiki bianglala. Ken tersenyum, lalu merangkul bahu adiknya.


“Oleh karena itu, aku juga berjanji akan menjaganya. Kakak ada untuk menjaga adik. Ahhh... Aku memang pintar!” Ken membimbing Deka menuju gerbang kecil di mana penjaganya sudah menanti sambil tersenyum ramah.


“Ada Mama juga.” Kata bu Mirna. Dia merangkul bahu kedua anak kesayangannya dari belakang.

__ADS_1


Jangan lupakan Papa!” Sahut si kepala keluarga dengan wajah sumringah.


Deka mendongak, tersenyum senang ke arah kedua orang tua dan kakaknya.


“Satu keluarga akan cukup membuatmu berani, adik kecilku yang manis! Ayo!” Ken berseru riang tanpa peduli pada Deka yang menjerit tak senang.


“Jangan panggil aku manis, kakak jelek!”


Kala itu, tidak ada pengalaman seindah di bianglala. Tidak ada kebersamaan seharmonis di taman bermain. Tawa mereka bahkan mengalahkan lagu-lagu ceria yang disetel di sana.


...BERTAHUN-TAHUN KEMUDIAN... ...


NAMANYA Ken, pemuda berusia 19 tahun berbibir tipis dan berambut lebat. Dia remaja yang tidak cukup tinggi, hidungnya kecil dan berleher jenjang. Ken merupakan anak sulung dari pasangan Pak Hardi dan Bu Mirna, mempunyai seorang adik bernama Deka. Ken sangat menyayangi adiknya itu lebih dari apa pun, hanya saja, dia merasa tidak terlalu pandai mengekspresikan kasih sayang terhadap Deka, dan merupakan kebahagiaan tersendiri baginya melihat si bungsu tertawa senang.


Ken selalu mengawasi adik tersayang dari jarak jauh saat Deka bermain bersama teman-temannya. Bagi Ken, Deka yang sudah berusia 17 tahun tetap menjadi adik kecil lucu dan menggemaskan. Oleh karena itu, dia harus menjaganya dari bahaya apa pun, meski dialah yang lebih pantas untuk dijaga. Rasa sayang terhadap Deka sudah bukan rahasia lagi, si bungsu selalu mendapatkan apa yang dia minta. Ken akan menemani Deka belajar hingga larut malam, tidak peduli besok dirinya juga harus masuk sekolah dan lebih giat karena sudah duduk di kelas 3 SMA.


“Kamu hanya perlu diam seperti biasa, dan jangan tidur sebelum aku terlelap.”


Ken akan tersenyum dan mengangguk mendengar nada perintah adiknya. Itu bukan masalah, tidur larut malam adalah salah satu kebiasaannya sejak satu bulan yang lalu. Dia juga bingung apa yang membuat Deka selalu mimpi buruk di pertengahan malam. Deka akan berteriak ketakutan, dan Ken sama sekali bukan kakak yang akan membiarkannya ketakutan di dalam kamar.


Seperti saat ini, Ken akan duduk memeluk kedua lutut menghadap jendela yang kordennya terbuka. Bintang-bintang terlihat cantik dengan kerlipan sinar.


‘Apa di surga kalian mau menyinari penghuninya seperti di bumi?' batin yang selalu sama, kemudian akan dibalas senyuman olehnya sendiri.


Sreet! Ken menoleh ketika kaki kanan Deka terangkat dan memeluk guling bergambar Spiderman-nya. Ken tersenyum geli. Benar ‘kan? Adiknya ini memang masih anak-anak dan menggemaskan. Namun, tiba-tiba...


“Unghh...” Ken dengan sigap berdiri ketika mendengar erangan. Terlihat jelas keringat dingin di dahi dan pelipis Deka.


“Kha... Kha...” Ken berbisik sambil mengusap-usap dahi adiknya yang berkeringat.

__ADS_1


Dia menoleh, mencari sapu tangan adiknya yang selalu tersedia di atas meja belajar. Tangan kiri mengelap dahi berkeringat Deka, sedangkan tangan kanannya berusaha meraih segelas teh hangat di atas meja samping ranjang.


“Kha, numbnguuun...”


Deka membuka mata dengan terbelalak. Dia menegakkan lehernya dan menenggak teh dengan rakus. Tatapan khawatir Ken pancarkan menyaksikan ketakutan dari mata yang berkaca-kaca itu. Ken tahu, adiknya pasti akan bermimpi buruk perihal masa lalu kecelakaan mereka dulu. Deka sangat menyukai teh hangat dan Ken mempunyai kebiasaan menyediakan segelas di kamar adiknya, membantu si bungsu minum dengan telaten.


“Berhenti menatapku, Bodoh!” Ken tergagap mendengar ujaran dingin itu. Dia buru-buru meletakkan gelas kembali ke meja, dia tersenyum samar melihat gelas yang isinya tinggal setengah.


“Kha... Kha...” Ken kembali berbisik. Seulas senyuman lega terlihat di wajah Ken saat Deka akhirnya berhenti mengerang dan kembali tidur nyenyak.


“Aku menderita gara-gara kamu,” Ken tersentak dibuatnya ketika Deka kembali membuka suara. Suara itu terdengar parau dan sarat akan kepedihan. Ken menatap Deka yang kini memunggunginya di balik selimut tebal berwarna merah khas Spider Man.


“Jika bukan kamu, aku nggak akan mimpi buruk terus setiap malam. Jadi, kamu harus tanggung jawab juga setiap malam," kata Deka.


Ken menunduk sejenak, gumaman dari belahan bibir tipisnya sama sekali tidak membentuk kalimat yang berarti. Deka berdecak, kemudian menarik selimut yang menuntupi kepalanya.


“Kamu...” Telunjuk itu teracung tidak sopan di depan hidung Ken, “...tidur di bawah dan jangan banyak bicara.”


Ken menelan ludah. Apa tadi sebuah ancaman? Deka mendengus pelan, “ah, aku lupa. Kamu ‘kan bisu.”


Deg! Seperti sebuah kayu runcing yang dilempar dari jauh ke bagian dada, Ken merasa begitu sakit mendengar ucapan dingin adiknya. Sayang sekali, senyuman yang dia miliki tampak enggan menghilang barang sejenak.


“Dkah..kkhhaa...”


“Whatever."


Deka berbalik ke posisi semula; tidur dengan bersembunyi di balik selimut yang tebal dan hangat, mengabaikan malam dingin di mana kakaknya akan kesusahan tidur tanpa kehangatan selimut. Ken kembali ke tempat semula, duduk di depan jendela dan sekarang dengan kaki berselonjor. Sejenak, kedua mata bulat yang diwarisi dari Papanya terlihat, dia menguap pertanda kantuk mulai datang.


Beralaskan hambal besar berbulu lembut, Ken membaringkan tubuh lelahnya di sana dan memejamkan mata berbantalkan sebelah lengan. Rembulan mengintip dari balik tirai jendela yang setengah terbuka, menyampaikan kerinduan pada sang malam yang akur pada hewan-hewan nokturnal. Ken mengulas senyuman seolah-olah tidak ada tebing dingin yang sempat tercipta. Deka begitu acuh juga ketus, tapi Ken tidak mau ambil pusing. Ah, hari ini melelahkan seperti biasa. Yang penting Deka aman dan tidak apa-apa sekarang, jadi Ken bisa tidur melepaskan penat.

__ADS_1


__ADS_2