KALIMAT SUNYI

KALIMAT SUNYI
7. PERTARUNGAN KATA SAUDARA


__ADS_3

DEKA menatap penuh kebencian ke mata Ken saat kakaknya itu muncul di tengah persiapan pesta ulang tahunnya, yaitu di taman luas rumah mereka. Ken yang ditatap seperti itu mulai merasa tidak nyaman dan kikuk.


“Kha, nda—”


“Stop, stop!” Deka memotong, memperlihatkan kedua telapak tangannya di depan wajah Ken,


“lebih baik kamu diam aja karena suara gumaman itu menganggu.”


Ken menelan ludah lalu mengangguk. Sekali lagi, dia harus menelan pil pahit yang membuat dirinya sakit. Perlakuan dan ucapan kasar Deka benar-benar membuat kedua lututnya lemas.


“Tahu kenapa aku manggil kamu kemari?”


Ken menggeleng, membuahkan senyuman sinis di wajah Deka. Sementara itu, di sekitar mereka, para pembantu dan beberapa tukang kebun rumah itu sesekali mencuri pandang ke arah 2 bersaudara berbeda sifat tersebut. Perasaan marah dan cemas berbaur menjadi satu dalam hati mereka, tentu akan terdengar jelas di telinga mereka tentang apa yang akan Deka katakan pada Ken sebentar lagi.


“Aku mau ingetin 1 hal. Pesta ulang tahunku akan diadakan nanti malam, dan...”


Deka menjeda kalimatnya, menatap sinis lagi pada si sulung saat laki-laki bisu itu mengembangkan senyuman. Apakah saudara yang tidak pernah dianggapnya ini bahagia? Namun, karena apa? Ken menunggu kelanjutan ucapan Deka, mungkinkah adiknya ini akan membicarakan berita baik dan membagi potongan kue ulang tahunnya nanti malam?


“Aku mau...” Lagi, Deka membuat Ken menunggu. Deka benar-benar memberikan harapan besar kali ini, “...kamu sembunyi selama pesta berlangsung.”


Ken tidak banyak bereaksi. Dia hanya diam seperti pendengar paling baik dan seperti sudah bisa menduga ini akan terjadi. Bibir tipis laki-laki itu terkatup rapat dengan lidah kelu. Kebisuannya semakin bisu saja, bahkan satu helaan napas tercekat di tenggorokan.


“Au ghakh pha hamph (Aku nggak faham).”


Mata Ken berubah sendu, sikap tenangnya tadi hanya berlangsung sesaat. Dia menatap langsung kedua bola mata yang sama seperti milik Mama mereka yang ada di wajah Deka. Si bungsu mengelus dada, merasa jengah dengan semua ucapan terbata-bata dan aneh Ken. Berbicara dengan dia butuh kesabaran yang banyak. Tetapi, Deka benar-benar tidak menyadari bahwa dia telah menghancurkan sebuah harapan besar saudaranya.


“Nggak ada penolakan. Kamu sembunyi, terserah di mana pun itu. Aku nggak sudi melihatmu ikut pesta dan membuat semua temanku melihatmu. Tahu, nggak? Bukan cuma teman sekelasku yang datang, tapi juga teman-temanku dari luar kota. Aku nggak mau dikira penjaga anak autis yang sedang belajar bicara, jadi kuharap kamu mau bekerja sama.”


Deka berkata panjang dan mengakhirinya dengan sedekap penuh kuasa.


“Hung!”


Ken mengangguk, terlihat begitu semangat dan berhasil membuat raut Deka berubah meski samar-samar. Ada rasa heran dengan raut semangat Ken, padahal tadi dia begitu muram dan sempat tidak terima. Peduli amat! Yang penting pesta ulang tahunnya nanti malam berjalan dengan lancar tanpa ada penganggu mata, bukankah itu terdengar jahat? Akan tetapi, hati seakan-akan tertutup rapat oleh papan terkeras. Namun, Ken percaya satu hal; kepeduliannya terhadap Deka tidak akan sia-sia dan akan mengubah sikap adiknya itu suatu saat nanti.


...[][][]...

__ADS_1


DEKA menarik kerah baju Ken ketika remaja tersebut masuk ke kamar kakaknya. Ketika itu, Ken sedang duduk mengerjakan sesuatu dan terkejut ketika kerahnya ditarik sangat kasar oleh seseorang. Deka menatap tajam dan penuh amarah pada Ken, sedangkan yang ditatap kebingungan.


“Kamu mau tahu kenapa aku kembali nggak suka sama kamu, Ken? Kalau gitu, dengerin baik-baik!” Deka berseru di depan wajah Ken yang tidak tenang.


“Aku...” Deka menunjuk dadanya sendiri, tangan yang satunya tetap mencengkram kerah baju Ken hingga kain itu berubah kusut, “...aku menyukai seseorang, tahu siapa gadis itu?”


Ken mengangguk, mencoba mencerna apa yang ingin Deka ucapkan.


“Aku sejak dulu suka sama Ayu, Ken! Tapi banyak yang bilang kalau kamu juga menyukainya, dan Ayu sendiri juga begitu! Aku nyesel sdah bersikap baik sama kamu. Ternyata benar, kamu pengambil hak dan kebahagiaan orang lain!”


Deg! Ken tersentak, dia tidak tuli sama sekali. Semua yang Deka serukan terdengar begitu jelas. Namun, ada kesalahfahaman di sini.


“Kha, sipa ang asih au? A’u dak ad—”


“Aaaagh! Jangan bicara! Aku nggak sudi dengar penjelasan apa pun. Kamu benar-benar tega padaku, semua yang menjadi kesenanganku kamu ambil. Pertama, kamu merebut seluruh waktu yang Mama dan Papa miliki untukku, kamu rebut perhatian mereka. Semua orang memuji kepintaranmu, padahal aku nggak sebodoh yang orang-orang kira, Ken. Aku bahkan lebih pintar darimu, tapi kenapa Papa dan Mama nggak mau melihatku, hanya membelamu setiap kali kamu bersalah?!”


“Kha, a’u—”


“DIAM! DIAM!”


Deka mendorong tubuh Ken hingga punggung kakaknya terbentur sangat keras dengan rak buku yang lumayan tinggi, sehingga beberapa buku tebal berjatuhan.


Ucapan benci seolah-olah menjadi mantera bagi Deka, sekiranya bisa membuat remaja yang terbakar amarah itu merasa lebih tenang. Sedangkan Ken, ucapan benci yang terus menerus Deka ucapkan hingga terdengar seperti gumaman minta tolong, membuat dia kalah seketika dan terperosok ke dalam kepedihan yang baru.


“Kha, Ay—”


“Jangan bicara, Ken. Kumohon jangan bicara apa pun. Semua yang kamu bilang nggak mungkin bisa membuat pandanganku padamu berubah lagi. Aku nggak percaya apa pun sekarang. Papa dan Mama jadi milikmu, bahkan sekarang Ayu berpindah juga padamu. Mulanya aku berpikir dia akan memilihku, tapi ternyata orang bisu dan lemah sepertimu yang dia pilih. Aku nggak faham kenapa selalu dapat semua yang kamu mau, Ken.”


Deka menghadang dengan menunjukkan kedua telapak tangan di depan dada. Tatapan adiknya itu terlihat seperti orang ketakutan dan bingung sekarang.


“Kha...” Ken mulai merasakan kedua matanya memanas.


Deka tersenyum pedih, “mereka melihatmu, Ken. Mereka lihat kamu pergi jalan-jalan bersama Ayu ke tempat yang bagus. Oh, hebat banget! Lain waktu, ceritain lebih detail kenangan jalan-jalanmu dengan Ayu, ya. Apa dia cerewet dan minta kalian berfoto, hm?”


“KHA! AYU KHAN KASIH A’U!”

__ADS_1


“KALAU DIA BUKAN PACARMU, LALU KENAPA KALIAN MESRA, HAH?! LIHAT INI!”


Mata Ken terbelalak ketika 2 buah foto terpampang di depan matanya di ponsel milik Deka. Air mata langsung menggenang di pelupuk indah Ken, rupanya dia ketahuan.


“Kha, mba’af... Mbha’af...”


“Kenapa kamu selalu minta maaf, Ken? Lakuin aja terus, setelah itu kamu akan bahagia. Ayu gadis baik, dia pasti akan bahagia punya orang baik kayak kamu juga. Mulai sekarang, Ken...”


Deka menarik napas dalam-dalam, tidak percaya dirinya akan kembali mengatakan kata-kata yang sama seperti dulu lagi.


“...mulai sekarang jangan temui aku lagi, anggap kita nggak saling kenal. Karena..karena seharusnya kamu emang nggak pernah ada di keluargaku.”


Setelahnya, Deka berbalik keluar dari dalam kamar sunyi itu, meninggalkan Ken yang terduduk dengan pandangan kosong ke sebuah kotak di atas meja belajar. Dia menangis tanpa suara, menangisi nasib serta kebodohan sehingga membuat adik tersayang terluka. Tangisannya pilu menyayat hati. Mungkinkah semua usaha hanya akan berbuah kekosongan? Kenapa keyakinannya mengenai kebahagiaan memudar? Lama kelamaan, tangisan itu berubah keras sampai didengar seorang wanita yang menganggap diri sendiri gagal mendidik anak-anaknya.


‘Anak-anakku sayang... Oh Tuhanku yang Agung.’


...[][][]...


PESTA ulang tahun Deka berlangsung meriah, seluruh temannya diundang dan bergabung dalam satu kebahagiaan yang sama. Suara musik ballad mengalun merdu, tidak membuat kantuk meski malam hari, tapi juga tidak membuat pendengarnya bosan. Sebuah kue ulang tahun yang sebelumnya sangat besar sudah bersisa setengah, tawa dan canda berbaur jadi satu malam ini. Berbagai macam rupa pakaian dan pernak-pernik para tamu undangan menjadi daya tarik setiap mata, tamu-tamu undangan Pak Hardi selaku rekan kerja lelaki berwibawa tersebut juga tidak lupa datang karena diundang.


Tidak ada yang tidak mengulas senyuman, tidak ada yang tidak terlihat merona bahagia—termasuk seorang gadis yang sempat menjadi perdebatan antar Deka dan Ken beberapa hari yang lalu, juga hadir mengisi acara dan mendapatkan potongan kue ketiga setelah orangtua Deka sendiri. Deka sesekali menggombal konyol pada Ayu dan membuat gadis itu merona malu sekaligus jengkel. Tawa terpingkal-pingkal Hendri menjadi salah satu tontonan beberapa tamu sebab Agus yang tidak sukses merayu seorang kakak kelas yang juga diundang di acara tersebut.


Di balik tirai kebahagiaan yang menyenangkan itu, tersimpan sebuah cerita pedih yang telah diatur sebelumnya oleh si tokoh utama. Dalam warna merah muda kegembiraan, ada warna kelabu yang menyendiri di kesenduan malam. Saat semua orang tertawa dan melucu konyol, 1 senyuman sendu yang terukir di belakang layar kerlap-kerlip pesta ulang tahun.


‘Deka, kamu udah dewasa sekarang. Kamu akan semakin tinggi melebihiku.’


Ingin rasanya Ken menangis, membayar kesedihan dengan air matanya sendiri. Akan tetapi dia ingat, bahwa malam ini adalah malam penuh kegembiraan salah satu anggota keluarga yang begitu dia sayangi, dan dia tidak seharusnya menangis, marah atau iri. Dia berdiri sangat jauh dari posisi Deka dan orangtua mereka saat ini, tepatnya di ruangan kecil yang tidak banyak dialui oleh tamu undangan. Menonton dari jauh pesta yang terlaksana dengan begitu apik.


Deka menyuruh Ken untuk bersembunyi, sebab tidak ingin para tamu tahu dan melihat bahwa dirinya mempunyai saudara yang tidak bisa bicara. Suara Ken yang baru keluar saja sudah terdengar menjengkelkan karena sulit untuk difahami. Ken tidak menolak saat Deka menyuruhnya untuk diam di dalam kamar, tapi dalam hati remaja itu sudah berteriak karena terluka. Saudara kandungnya menyuruh dia untuk berpisah tempat dari semua tamu, bukankah itu terdengar menyedihkan dan memalukan?


Ken bahkan lebih malu melebihi Deka, sebab tidak henti-hentinya perlakuan yang menyakiti hati Ken dilakukan sang adik dan teman-temannya.


Dari jarak yang jauh itu, Ken menatap lamat-lamat adik dan kedua orangtuanya, berpikir mungkin esok atau lusa tidak mungkin bisa melihat mereka lagi. Dia berusaha tersenyum meski air mata berlinang terus di kedua pipi tirusnya, bukankah semua harus tersenyum di pesta ulang tahun, hm?


‘Selamat ulang tahun, adikku. Kuatlah menghadapi ujian demi menguatkan orang lain. Suatu saat, ujian terberat untukmu pasti datang. Satu-satunya yang kamu butuh untuk itu ialah rasa percaya pada diri sendiri, juga pada yang memercayaimu.'

__ADS_1


Ken pergi dari rumah besar itu setelah sebelumnya memasuki kamar Deka dan menaruh sesuatu di sana. Dengan mengenakan jaket hitam bertudung, dia pergi mengendarai sepeda. Laki-laki tersebut menjauh dari rumah penuh kebahagiaan dingin. Untuk sementara saja, Ken ingin menyegarkan kepala untuk menenangkan pikiran.


...[][][]...


__ADS_2