KALIMAT SUNYI

KALIMAT SUNYI
2. BEKAL DAN KERINGAT


__ADS_3

KEDUA kaki Ken terus mengayuh sepedanya dengan kecepatan tinggi, tidak peduli keringat mengucur deras di pelipis sampai leher putihnya. Bahkan sekarang, punggung sudah sedikit terlihat karena seragam sekolah yang ikut basah.


Sreekk!


Ken mengerem mendadak saat tiba di tempat tujuan; sekolah Deka. Seorang satpam tersenyum sambil membukakan gerbang, terlihat dia sudah terbiasa dengan kedatangan Ken, terbukti dari dirinya yang membiarkan Ken masuk setelah pemuda itu menggumamkan kata ‘terima kasih’.bKen mengabaikan tatapan-tatapan aneh dan kagum setiap siswa yang dia lalui di koridor lantai 1. Dia sudah sangat hafal lorong-lorong sekolah adiknya, karena setiap hari kemari mengantarkan bekal yang tidak pernah mau Deka bawa.


“KHAA!”


Ken memanggil sekeras mungkin ketika melihat Deka di tengah lapangan basket dan sedang men-drible bola. Ken tetap tersenyum lebar meskipun raut datar dan tatapan tidak suka diberikan adiknya.


“Kenapa kamu ke sini lagi, hah? Harus berapa kali aku kasih tahu? Jangan datang lagi nyari aku ke sekolah! Ap—”


Kalimat ketus Deka terhenti ketika tangan Ken menyodorkannya sebuah kotak biru berisi makanan. Ken mengangguk senang dan tersenyum, kontras dengan raut Deka yang menahan malu sambil memandang sekelilingnya.


“Bekal lagi, adik kecil? Kakakmu baik banget, sih?”


“Diam, Bian!” Deka berseru pada salah satu murid yang menjadi rivalnya di tim basket. Bian tertawa sambil tersenyum puas melihat raut Deka yang jengkel.


“Emmh... Kha? Mha—”


“Udah, diam! Kamu bicara sekali lagi, sama aja dengan membuatku mati berdiri!” Ken langsung mengatupkan kedua belah bibirnya dan mengangguk. Lagi, dengan ragu dia menyodorkan kotak berisi makanan pada Deka.


“Mhba...” Ken menelan ludah dan tidak melanjutkan kata-katanya. Deka menahan amarah saat Bian beserta beberapa teman tertawa mengejek, lalu tanpa diduga, gerakan kasar Deka berhasil menjatuhkan kotak bekal tadi.


Praakk! “Ah! Kha!”


“Apa? Kamu mau marah? Yang kamu bisa cuma mempermalukanku. Aku benci sama kamu, Ken!”


Dorongan kasar diterima Ken di kedua bahunya. Laki-laki itu menatap punggung Deka yang sudah berlari, kemudian menunduk hendak mengambil kotak bekal yang isinya sedikit tercecer keluar.


“Biar kubantu, Kak.”


Ken menoleh dan menemukan seorang gadis yang dia tahu bernama Ayu, gadis itu tersenyum hangat dan mengambil kotak tadi. Tanpa enggan, dia mengambil juga semua isi keluar tadi sampai lumayan bersih di lantai lapangan.


“Oke, ini kotaknya dan semua udah beres, kak. Nggak perlu khawatir, Kak.” Ayu berujar seraya tersenyum lebar. Ken ikut tersenyum, menyentuh sebelah bahu dan menggumam.


Ayu mengangguk. Namun, tatapan gadis itu berubah marah saat menemukan Bian dan teman-temannya yang masih berdiri menatap Ken dengan tatapan meremehkan.


“Tatap terus pemilik sekolah kayak gitu, dan kupastikan kalian semua akan keluar dari sekolah elit ini.” Nada Ayu terdengar penuh ancaman, cukup ampuh mengusir Bian dan kawan-kawannya.


Saat Ayu berbalik, dia tidak menemukan Ken di belakang. Alis gadis secantik namanya itu berkerut dengan pandangan sendu, tanpa tahu sepasang mata penuh kebencian terarah pada dia dari balik tembok.


‘Awas kamu!’


_


_


...DI RUMAH - jam 13.12 siang...


KEN langsung berdiri dari sofa saat melihat Deka masuk rumah sambil menenteng ranselnya. Ini adalah kesempatan untuk Ken meminta maaf atas kejadian tadi siang di sekolah si bungsu.

__ADS_1


“Kha, mhba—”


“DIAM!”


“DEKA!” Pak Hardi yang baru turun dari tangga lantai rumah langsung ikut berseru ketika anak bungsunya, “sopanlah sedikit pada kakakmu. Kamu baru pulang sekolah, bukannya ucap salam dan masuk baik-baik, malah ngebentak.”


“Papa, jangan bela anak ini terus. Setiap hari yang dia lakuin cuma nganterin bekal, itu malu-maluin!” Adu Deka, berusaha mengubah pandangan Pak Hardi pada Ken yang menatap sendu dirinya.


“Malu-maluin apa maksudmu, Nak? Mengantar bekal adalah kemauan kakakmu sendiri, lagian kamu nggak akan kelaparan jika sedang sibuk di sekolah.” Kini bu Mirna yang bersuara, wanita itu bahkan membawa mangkuk besar untuk diisi adonan yang ingin dibuatnya menjadi kue.


“Mama dan Papa sama aja! Nggak ngerti apapun!”


“Apa yang nggak kami ngerti? Berhenti berseru di depan orangtuamu, anak nakal!” Marah Papanya dengan tatapan tajam. Ken yang melihat itu berubah cemas dan mengalihkan tatapannya pada sang Papa.


“Mbha... Aug—”


“Papa dan Mama dengar, ‘kan? Dia bisu! BISU!”


Plak!


“Tutup mulutmu, Deka. Sekali lagi Papa dengar hinaan itu, bukan hanya wajahmu yang Papa pukul, mengerti?!” Tamparan telak mendarat di pipi kiri Deka, langsung membuatnya merah dan terasa panas.


Bu Mirna meletakkan wadah kue di meja lalu memandang terkejut suaminya. Begitu juga Ken, perasaan cemas membesar karena setahu dia, si Papa bukan tipe ayah yang ringan tangan.


“Mbha...”


“Sekarang Ken masuk, ya. Istirahatlah, Mama mau buat kue kesukaanmu. Nanti kalau udah jadi, Papa anterin ke kamar.” Deka ingin meneteskan air mata mendengar nada penuh kelembutan yang Ken dapatkan dengan mudah dari Pak Hardi.


“Papa egois! Pilih kasih!”


“Deka!” Bu Mirna memanggil, tapi remaja 17 tahun itu sudah berlari naik ke lantai 2 menuju kamarnya.


Ken merasa tidak enak akan kondisi yang dia pikir diciptakan olehnya sendiri. Deka akan selalu bersikap seperti ini, kasar dan sinis hanya karena 1 alasan kuno; bisu. Kekurangan ini tidak bisa diterima oleh Deka. Mempunyai saudara yang tidak bisa bicara adalah hal memalukan dan mendatangkan kesialan. Dahulu, Deka tidak bersikap demikian. Itu terjadi saat keduanya masih berusia kanak-kanak dan belum terlalu faham keadaan. Tahun demi tahun terlewati, Deka yang beranjak remaja pun mengerti apa itu ‘sunyi’ yang selalu dituliskan oleh Ken di secarik kertas dalam setiap lembar pertama buku si sulung. Ken adalah orang bisu, tidak akan bisa bicara akibat kecelakaan yang sampai sekarang Deka tidak tahu apa. Yang jelas, Ken bisu adalah hal memalukan dan menyebalkan. Ya, hanya itu.


Deka tidak pernah tahu dan mau tahu kalau Ken begitu sayang padanya. Bahkan setiap kali Ken mengantarkan bekal makan siang ke sekolah, Deka tidak akan menerima dengan baik. Jika diterima pun, remaja penyuka bola basket itu akan membuangnya. Ken bukan tidak tahu hal, sebab tidak pernah langsung pergi setelah memberikan bekal-bekalnya. Dia akan mengikuti Deka untuk mengintip dari jauh. Ketika dengan mudah Deka membuang semua makanan itu, Ken harus pintar-pintar memasang senyum, meskipun terlalu pedih.


‘Aku hanya ingin melindungimu, dek.’


Kehidupan masih berlanjut, apa pun yang terjadi hari ini atau besok, kehidupan masih harus berjalan seperti biasa. Ken tersenyum bahagia melihat kotak berukuran sedang, dia baru saja selesai membungkus kotak itu dengan kertas polos coklat muda. Tersenyum lega, melirik sebentar ibu jari dan telunjuknya yang kotor akibat lem perekat, tapi dia menggedikkan kedua bahu tidak peduli.


‘Udah jam 01.00 malam.’


Tiba-tiba dia merasakan kepala berdenyut pusing, hampir saja remaja berwajah elok itu limbung.


Beruntung Ken langsung bisa menghempaskan diri ke kasur empuk dan nyaman. Dia menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata untuk tidur. Mungkin karena selama lebih dari 1 bulan ini tidak tidur lelap, jika lelap pun pasti sudah sangat larut karena harus menjaga Deka yang masih belum bisa berhenti mimpi buruk.


Ponsel bergetwr di balik kantung celana.


📲 [‘Masih ingat pekerjaanmu, ‘kan? Sekarang cepat datang dan jangan tidur sebelum aku benar-benar terlelap, ngerti?!’]


“Pi, Kha... Au ha us khi...dhul ga (Tapi, Deka... Aku harus tidur juga).” Ken mencoba membela diri.

__ADS_1


Decakan tidak senang terdengar sangat jelas dari seberang. Dengan langkah lemas, Ken bangun dari pembaringan, kemudian keluar.


Sebelum ke kamar Deka, Ken menyempatkan diri ke dapur. Dia harus menyiapkan segelas teh hangat untuk si bungsu.


“Ken, Sayang?” Ken terkejut, tubuhnya nyaris limbung saat suara Bu Mirna menyapa.


Wanita cantik itu tertawa, dia mencubit gemas pipi tirus anak pertamnya seraya menyerahkan segelas teh.


“Ini, udah Mama siapin dan kamu tinggal ke kamar adikmu.”


Ken terkekeh serak dan meraih teh itu hati-hati, sebuah ciuman manis mendarat di kedua pipi.


“Ken tidur juga nanti, ya? Mama atau Papa bisa gantiin jagain Deka.”


Ken tersenyum, dia bergumam, “dakk, Mamh. Kkha skha ndi..rhhii...”


Bu Mirna tersenyum lagi, merasa tidak cukup dengan 2 ciuman di pipi, dia menambahkan kecupan sayangnya ke dahi Ken.


“Cuci mukamu, kamu mulai tumbuh jerawat. Ck, ck, ck.” Ken tertawa lucu. Dia lantas bergegas ke kamar Deka membawa segelas teh tadi.


“Anak-anak mana?” Bu Mirna menatap suaminya yang baru datang sebelum menjawab.


“Mau tidur, tadi aku udah siapin teh untuk Deka. Ken juga udah ke sana.”


Pak Hardi menemukan kesenduan di mata indah isterinya yang diwariskan ke Deka. Dengan penuh perhatian, dia menyampirkan helaian rambut sang isteri ke belakang telinga.


“Kamu sedih lagi, Manis.” Harusnya, bu Mirna tersenyum malu-malu mendengar panggilan lucu dan menggemaskan itu, tapi hati memberontak menyuruh untuk menangis saja.


“Aku sempat berpikir...”



“Hm?” Pak Hardi adalah suami yang baik dan perhatian, dia juga pendengar yang mudah memahami.


“Aku berpikir untuk... Berhenti menyekolahkan Ken,” Pak Hardi mulanya terkejut, tapi dia memilih bersikap bijak dan mendengar keluhan isterinya. “Percuma Ken sekolah, Mas, dia nggak akan pernah lulus dengan kondisi itu.”


“Apa kamu benar-benar yakin, Mirna?” Bu Mirna sontak menangis, dipeluknya tubuh sang suami dengan sejuta kesedihan yang terus menjalar mengerikan di tiap detik.


“Aku nggak tahu, Mas... Aku nggak tahu... A—aku cuma mau anak kita bahagia seperti anak-anak sekolah normal. Tapi selama apa kita harus menunggu, Mas? Ken begitu sengsara... Duduk di kelas 3 aja para gurunya bilang nggak kuat ngajarin. Ken udah—”


“Shhttt... Dengar, Sayang, dengarkan Mas. Berhenti menangis dan menyalahkan diri, aku faham maksudmu. Mas berpikir Ken nggak akan pernah bisa lulus sekolah, dia bahkan masih di kelas 3 SMA di saat teman-teman seangkatannya sudah puas duduk di bangku kuliah. Usianya sudah 19, Sayang, tapi Ken masih saja berjalan di tempat. Mas merasakan hal yang sama, Mirna. Mas sedih, sakit sekali rasanya melihat anak kita seperti ini.”


Bu Mirna tersedak isakannya di dada Pak Hardi. Sebisa mungkin menyembunyikan kesedihan yang bertalu-talu ini, bertahun-tahun memendam kegigihan yang lambat laun berubah lemah. Dia tidak bisa. Wanita cantik ini tidak sanggup bila si anak sulung menderita sepanjang hidup.


“Tapi sekuat apapun penderitaan ini, kita harus tetap kuat, Mirna. Lihatlah anak kita Ken, apa kamu pernah mendengar dia mengeluh dengan kelemahannya? Ken berjuang bersama kita, Sayang. Dia nggak ingin kita yang orang tuanya sakit dan sedih atas apa yang dia rasakan selama ini, makanya Ken terus bersikap tegar meski dia pasti sengsara. Kuatlah, Mirna, kuatlah untuk Pangeran Kecil kita itu.”


“Mas... Mas Hardi...” Bu Mirna menatap suaminya dalam linangan air mata, matanya perih. Namun, hati jauh lebih sakit mengetahui sulung kesayangan menderita seorang diri sekaligus memendam segala hal.


Pak Hardi menghela napas sambil mengusap air mata isterinya penuh kelembutan.


“Jika kamu nggak bisa benar-benar kuat untuk Ken, Mas mohon...” Setegar apapun seorang lelaki dewasa, dia pasti dan pernah meneteskan air mata. Pak Hardi menatap isterinya serius, meski di balik itu, air mata pria tegar tersebut nyaris menetes. “Mas mohon, Sayang, kuatlah... Berpura-puralah kuat untuk Ken, untuk anak-anak kita. Kita pasti bisa membuat Deka menerimanya seperti dulu lagi. Ini hanya masalah waktu dan mungkin usaha kita masih kurang.”

__ADS_1


Gelas berisi teh hangat itu bergetar di pegangan Ken. Nyaris jatuh jika dia tidak buru-buru pergi meninggalkan persembunyian, memutuskan kontak pendengaran yang dia dapatkan tadi sebab tak ingin sedih dan hancur lebih dalam.


__ADS_2