KALIMAT SUNYI

KALIMAT SUNYI
4. BAGAI HUJAN TERPANAS


__ADS_3

HUBUNGAN kakak beradik itu berubah canggung semenjak kejadian 5 hari lalu, Ken tidak seaktif biasanya di rumah. Bu Mirna dan Pak Hardi harus menahan air mata setiap kali bertatap muka dengan anak sulung mereka itu. Tidak ada lagi kesan jenaka di kedua mata indah Ken, nada-nada bicaranya yang manja pun sudah tidak bisa didengar lagi, dia bahkan selalu melupakan makan malam dan sarapannya. Ken tidak lagi ceria, selalu menunjukkan senyuman paksaan. Dan itu semua terjadi setelah mengetahui betapa benci dan maluya Deka mengenai persaudaraan mereka.


Ada satu hal yang tidak pernah Ken lupakan, yaitu mengantarkan makan siang untuk Deka setiap kali adiknya itu mempunyai jadwal berlatih basket hingga sore menjelang. Ken tetap berangkat menggunakan sepeda menuju sekolah Deka, mengabaikan rasa canggung terhadap tatapan Deka yang selalu saja dingin.


“Kha, mba af lat. Dhi anan lambhai (Deka, maaf telat. Di jalan ramai).


Deka berdecak, lalu merebut kotak bekal berwarna biru dari tangan Ken.


“Kamu emang nggak berguna! Ngantar makanan aja perlu alasan. Kamu nggak tahu kalau aku udah lapar?”


Ken tidak tersenyum seperti biasanya, hanya memandang Deka dengan sorot sendu yang membuat Deka gelagapan sendiri.


“O—oke, kamu pergi aja sekarang!” Deka menatap sekeliling lapangan yang mulai ramai, “kamu lihat? Teman-temanku udah kumpul, aku malas meladeni pertanyaan mereka tentangmu. Cepat pergi!”


Ken menelan ludah ketika bahunya didorong dengan kasar oleh Deka. Dengan perasaan terluka (lagi) dia meninggalkan area sekolah, tanpa tahu Ayu menatapnya dengan sendu. Setelah Ken benar-benar pergi, Ayu datang mendekati Deka ketika remaja lelaki itu merebut bola dari tangan salah satu anggota timnya.


“Hai, Cantik. Jangan di sini, tempatnya panas.”


“Diam, Dirga. Aku cuma mau bicara sama manusia yang nggak punya balas budi ini.” Deka menaikkan alis saat Ayu berbicara dingin dan tidak biasa.


“Ayu, kenapa—”


“Deka,” Ayu memotong ucapan laki-laki angkuh itu, “pernah nggak kamu berpikir meski cuma sekali? Kamu punya kakak yang baik dan peduli. Tapi aku menyayangkan dirinya yang nggak dapat kasih sayang sama kayak yang dia kasih.”


Deka mengangguk, menyerahkan bola basket kepada Dirga. Kemudian dia menatap Ayu lamat-lamat dan berkata, “jadi kamu udah berani menampilkan kepedulianmu terhadap si Bisu itu? Bagus, aku jadi nggak perlu nyari tau perihal kamu yang naksir dia.”


“Apa maksudmu dengan naksir, Deka? Kita nggak bicara tentang suka atau nggak sukanya aku terhadap kakakmu. Tapi aku cuma ingin mengingatkan untuk nggak bersikap jahat dan dingin terus terhadap Kak Ken. Bagaimana pun juga, dia saudara kandungmu. Kamu—”


“Cukup ceramahnya, Nona. Jangan buat semua ucapan pedasmu itu merusak pandangan kagumku sama kamu, oke?”


Ayu menggeleng, merasa percuma saja menasihati orang seperti Deka. “Aku prihatin banget, Deka. Kasihan Kak Ken yang punya saudara jahat kayak kamu. Kuharap, suatu saat nanti dia bahagia tanpa sakit apa pun karena adiknya.”

__ADS_1


Ayu menatap penuh emosi wajah Deka.


Ketika Ayu berbalik untuk pergi, gadis itu berhenti dan sedikit menolehkan kepalanya. Dia berkata dengan suara datar, “jangan buat dirimu menyesal, Deka. Selama Allah masih ngasih waktu, kuharap kamu ubah sikap terhadap Kak Ken. Kamu harus tahu, kehilangan orang yang peduli terhadap kita adalah hal paling menyakitkan.”


Setelah mengucapkan kata-kata yang menurut Ayu sendiri tidak akan mempan untuk Deka, gadis cantik itu pun berlalu dengan bahu lemas, meninggalkan orang yang kehilangan mood untuk bermain basket dan hanya menatap punggung Ayu. Bagi Ayu, kenapa begitu sulit meyakinkan orang lain tentang sebuah kepedulian? Kenapa hanya untuk meyakinkan orang yang dicintai harus sesulit ini?


‘Aku nggak mau ikut campur terlalu jauh, Deka. Tapi aku cuma nggak mau kamu menyesal. Kamu harus tahu kalau Kak Ken begitu berharga.’ Ayu membatin, tanpa berniat menghapus air matanya. Gadis itu tidak bisa menahan kesedihan, tidak pernah bisa jika menyangkut orang-orang yang dia sayangi.


...DI RUMAH - jam 11.12 siang...


KEN menatap wajah cantik Mamanya, setelah itu beralih menatap wajah sang Papa. Air mata berlinang deras bagai hujan yang juga kini turun mengguyur tanah pekarangan rumah. Perlahan, kedua tangan bergetar Ken bergerak lalu menggenggam telapak tangan cantik milik Bu Mirna. Oh Tuhan, semua hal dalam diri Mamanya begitu cantik. Pantaslah Papa jatuh cinta terhadap wanita tersebut.


“Anakku, hentikan ini semua. Mama nggak kuat lagi, kamu harus katakan yang sebenarnya pada Deka. Jika kamu bercerita, dia pasti akan sadar.”


Ken menggeleng, lalu dengan gumaman, dia menjawab, “Mba... Mu’a utah nji, Kha gha leh au (Ma... Semua udah berjanji, Deka nggak boleh tahu)."


Usapan sayang penuh kasih diberikan Pak Hardi, lelaki itu menunduk dan mencium kening putera tercintanya. Oh, Tuhan yang Agung, dari apakah Engkau ciptakan hati sebersih milik puteranya ini? Air mata tidak kunjung berhenti, Ken tetap pada pendirian untuk merahasiakan sebuah hal yang sudah lama dia sembunyikan. Hanya Deka yang tidak tahu, dan dia tidak boleh tahu. Lagipula, Ken tidak ingin adiknya itu bersedih nanti.


...Jam 20.12 malam...


Namun, sifat dan perasaan penasaran membuat Deka akhirnya mengeluarkan pertanyaan setelah berhasil menelan kunyahannya.


“Papa, Ken mana?”


Sesendok makanan yang hendak Bu Mirna masukkan ke mulut terhenti di depan wajahnya. Raut wanita itu berubah muram, dia hanya diam.


Sebuah jawaban bernada datar terdengar dari kepala keluarga, “kamu tahu kita tidak pernah bicara saat makan malam.”


“Hump.” Deka langsung mengatupkan kedua belah bibirnya. Mata remaja itu tidak berhenti menatap sekeliling, mencoba menemukan orang yang tidak ada di kursi dekatnya.


“Mama mau ke kamar.”

__ADS_1


Bu Mirna berdiri lebih dulu, meninggalkan makanan yang tersisa di piring. Deka mendongak, menatap punggung Mamanya dengan heran. Mamanya bukan orang yang dengan mudah meninggalkan makanan sebelum habis.


Deka melihat Papanya, lelaki itu menarik nafas yang terdengar berat. Buru-buru Deka menghabiskan makanannya dan melipat kedua lengan di atas meja. Dia tampak seperrti anak kecil yang siap menceritakan keseruan menjawab PR Matematika.


“Papa, aku mau tanya... Euum, makananku udah habis, jadi udah bo—”


“Lebih baik kamu langsung ke kamar dan tidur, Deka. Besok kamu sekolah, ‘kan?” Deka lagi-lagi dibuat bingung, Papanya menyuruh dengan nada datar.


“Papa, tunggu!” Deka memanggil ketika Papanya berdiri dan hendak ke kamar. “Tolong katakan apa yang terjadi. Maksudku, kenapa malam ini semua orang diam?“


“Deka, apa yang Papa katakan tentang masuk kamar, hm? Itu berarti tidur. Sekarang, masuk sana.”


Si anak bungsu cepat-cepat bertanya, mengalahkan ego sebentar saja mungkin bukan hal buruk.


“Papa, Ken ke mana? Dia nggak ada di rumah sejak tadi sore.”


Deka bisa melihat bahu Papanya menegang, tatapan tajam tadi berubah seketika.


“Papa?”


“Apa maksudmu, Nak? Ken nggak ke mana-mana, untuk apa bertanya?”


Deka tidak tahu alasan dirinya yang merasa sakit mendengar pertanyaan terakhir Papanya tadi.


“Papa, ada yang aneh malam ini. Mama nggak ngabisin makan malamnya, dia sedih dan murung. Apa yang terjadi sama Mama? Apa sakit?”


Deka tidak pernah bertanya sebanyak ini sebelumnya, dia baru sadar akan hal itu.


“Mungkin Mamamu memang sedang sakit, Nak. Ah, dia sempat mengeluhkan perutnya mulas, mungkin itu alasan dia nggak makan lahap tadi. Sudahlah, jangan cemas.”


“Papa, jangan sembunyiin apa pun. Apa yang terjadi? Mama kenapa dan Ken ke mana?”

__ADS_1


Baiklah, Deka tidak mau membayangkan bagaimana raut Ken saat kakaknya itu mendengar semua pertanyaan yang tadi dia lontarkan. Pak Hardi tanpa berbalik menarik napas dalam-dalam, itu tidak lepas dari mata tajam Deka, membuat perasaan si bungsu menjadi tidak karuan. Lalu tanpa Deka ketahui alasannya, ucapan sang kepala keluarga berhasil memukul dia dengan telak. Begitu tiba-tiba dan tidak biasa dirinya dengar.


“Kamu nggak akan punya gangguan lagi. Ken udah nggak bersama kita mulai saat ini.”


__ADS_2