
KEN tidak pernah bisa menyembunyikan senyum bahagianya semenjak dia benar-benar keluar dari asrama yang sempat selama satu bulan lebih dia tempati sebagai tempat menimba ilmu—Deka adiknya tidak lagi bersikap acuh atau pun dingin terhadap dia, justru begitu sabar dan berubah peduli. Deka yang dulu menjadi tokoh utama dalam setiap karakter yang dimainkan, sehingga seringkali membuat Ken malu dan harus mendapatkan tertawaan penuh ejekan, berbalik mendukung apa pun yang kakaknya itu lakukan. Deka menjadi lebih peduli dan menerima semua perlakuan baik Ken.
“Kepedulian Ken padaku bukan hal yang buruk.”
Itu adalah kalimat yang menjadi pemicu Deka untuk bersikap lebih baik. Deka tidak berhenti menyalahkan diri sendiri mengenai semua perlakuan buruknya ketika Ken masih dia anggap sebagai orang asing. Menangis tersedu-sedu di kamar dan terus meminta maaf setiap kali bertemu dengan sang kakak. Ken hanya tersenyum lalu memberikan pelukan menenangkan. Dia yang tidak mampu difahami dalam berbicara oleh Deka harus pintar-pintar menunjukkan sikap agar Deka faham bahwa dia telah dimaafkan.
...[][][]...
KEN berdiri di balkon kamarnya seraya memandang langit yang masih gelap. Hari ini masih terlalu pagi untuk berdiri di balkon yang sangat dingin hawanya. Tapi keinginan Ken untuk mendapatkan ketenangan dan rasa segar membuat remaja itu lebih memilih berdiri dan tidak melanjutkan tidur setelah melaksanakan sholat Subuh tadi. Ken menoleh ke belakang, memandang adiknya yang tertidur sangat lelap. Dia dan Deka telah melaksankan sholat berjama’ah bersama orang tua beberapa saat lalu. Deka langsung tidur kembali setelah sholat usai.
Pintu kamar dibuka lalu menampilkan wanita yang paling dihormati.
“Mbha...” Bu Mirna tersenyum lalu memeluk Ken. Ah, perasaan rindu masih ada dan selalu membesar, ibu itu selalu ingin memeluk dan berada di sisi sang anak.
“Nggak tidur, Sayang? Hari ini kalian libur sekolah, ‘kan? Lebih baik istirahat saja supaya tenagamu lebih bugar.”
Ken menggeleng dan kembali menatap ke luar balkon, mata terpejam sejenak ketika merasakan rambut disisir lembut oleh Mamanya.
“A’u ahagia, Mbha. A’ilnya Kha au ihat khuh (aku bahagia, Ma. Akhirnya Deka mau melihatku).”
__ADS_1
Satu kecupan sayang mendarat di kepala Ken, membuat si empu tersenyum bahagia.
“Semuanya berkat kesabaran dan kepedulianmu, Nak. Mama juga bahagia sekali. Jadi Mama minta padamu, tetaplah tersenyum dan selalu sabar menghadapi adikmu. Sebenarnya dia anak yang baik, hanya kebingungan gimana cara menunjukkan kebaikan itu.”
Ken mengangguk, tentu tahu sifat adiknya itu. Dengan ucapan bijak Mamanya itu membuat dia semakin yakin bahwa Deka memang adalah adik yang baik. Namun, kebingungan yang bu Mirna tadi katakan pun tidak bisa siapa pun pungkiri. Ken tahu bahwa tidak semua orang bisa menunjukkan sisi baiknya, bisa saja dia menunjukkan itu dengan kekasaran dalam berucap atau bertindak. Ken sudah bersama Deka sejak anak tersebut baru lahir, itu membuat Ken faham betul siapa Deka serta bagaimana adiknya.
Kepedulian maupun kebaikan yang Deka tunjukkan sekarang akhirnya membuahkan harapan besar bagi Ken.
...[][][]...
DUA minggu lalu, Deka sangat peduli, baik hati dan sabar menghadapi kekurangan yang Ken miliki. Ken sampai tidak bisa berhenti tersenyum dan menghela nafas lega akan hal tersebut. Deka juga selalu memilih berada di dekat Ken dan memberikan apa pun yang Ken butuhkan.
Deka juga memakan bekal yang Ken bawakan dengan lahap, akan tertawa karena leluconnya yang menurut dia sendiri menggelikan seraya terus menyendok makanan lezat yang Mamanya masakkan itu. Ken akan diajak duduk di dekat lapangan basket, tidak peduli saat itu keadaan ramai dan rasa lelah sehabis bermain basket. Ken akan kikuk dan canggung sekaligus malu saat teman-teman Deka yang tidak suka padanya berdatangan kemudian mengejek seperti biasa.
Namun, Ken akan berubah kagum dan percaya diri setelah Deka membelanya dengan ucapan-ucapan penuh ketegasan dan raut berani. Bahkan Deka sempat berkelahi dengan siswa bernama Bian—cowok yang selalu terlihat tidak suka dan menatap remeh ke arah Ken ketika kakak dari Deka itu datang ke sekolah mereka.
“Jangan pernah berani menghina saudaraku jika kamu nggak ingin terjadi hal buruk. Kuharap kamu ingat kalau ayahmu adalah pegawai Papaku di perusahaan, aku bisa minta Papa untuk memecatnya dan—bang!—semua berakhir.”
Kalimat yang panjang penuh ancaman itu Deka ucapkan tanpa melupakan seringaian. Bian dan 3 orang temannya tidak bisa berkata apa-apa, sebab Bian sendiri sangat tahu kalau Deka bukan orang yang hanya bisa mengancam, tapi akan membuktikan ucapannya saat itu juga jika mau. Ayah Bian memang menjadi pegawai yang Pak Hardi miliki sejak 5 tahun, Bian tidak akan mungkin menghancurkan pekerjaan orangtuanya hanya karena keberanian yang dia miliki dalam melawan Deka.
__ADS_1
Ken yang saat itu hanya bisa berdiri diam, melotot pada adiknya yang hanya melirik dengan senyuman jahil. Deka benar-benar adik yang pemberani serta menjengkelkan, andai saja Ken punya kata yang bisa terucap dengan baik, maka dia tidak akan menunggu-nunggu untuk meneriakkannya tepat di telinga sang adik.
Namun... ‘Kenapa cepat sekali?’
Semua yang terjadi selama 2 minggu itu sudah berakhir sekarang, Ken tidak mendapatkannya lagi. Tidak, tidak lagi karena semua hal yang berhasil membuat Ken terus tersenyum dan bernapas lega lenyap terbawa angin. Badai berkabut gelap kembali datang menyelimuti Ken, hujan yang tak terlihat membuat luka di hatinya terbuka dan kembali terasa perih.
Semua harapan indah yang tertulis dalam hati Ken perlahan pudar, kenangan-kenangan yang ingin lelaki bisu itu buat bersama Deka dan keluarga tidak lagi dia harapkan bisa terjadi—sebab, adik tersayang Ken kembali bersikap acuh padanya. Ternyata, semua yang terjadi pada Ken hanya bersikap sementara, menciptakan jalanan panjang yang akhirnya runtuh dan menyisakan puing-puing tidak penting. Deka, adiknya telah kembali menatap dia dengan dingin dan tidak suka, Ken tidak tahu apa penyebabnya sehingga Deka bersikap sangat kasar melebihi dulu.
Sepulang dari sekolah, Deka tampak tidak suka dan terlihat tidak senang ketika ditegur sapa oleh Ken. Yang lebih tua menduga-duga, mungkin penyebab Deka marah adalah karena dirinya yang tidak sempat membawakan bekal makan siang. Deka sebenarnya bisa saja makan ke kantin, tapi karena dia yang tidak pernah lupa bermain atau berlatih bola basket membuatnya kesulitan membagi waktu. Akhirnya, Ken yang tahu hal itu memutuskan untuk selalu membawakan makan siang.
Deka juga sering berada di sekolah sampai sore, membuat dia lapar sekaligus beruntung karena Ken begitu peduli dan selalu ingat membawakan makanan. Namun sekarang, Ken harus kembali menelan ludah pahit ketika seperti biasa, diam-diam dia mengintip apakah makanan yang dibawakannya untuk Deka dimakan oleh si bungsu itu atau tidak. Sayang, Deka kembali membuang makanan itu seperti dulu. Ejekan-ejekan diterima Ken dari dia, seakan-akan mendukung usaha Bian yang selalu senang mengejek juga. Tidak jarang Ken di-bully di sekolah itu, sekolah yang seharusnya melindungi terlebih pada murid yang memiliki kekurangan.
Yang dilihat semua orang bukanlah siapa orangtua Ken, melainkan bagaimana fisik dan kelemahan yang dimiliki remaja 19 tahun itu. Ketika pulang, Ken selalu langsung masuk ke dalam kamar, membersihkan diri dari kotoran telur-telur berbau amis maupun tomat-tomat busuk di seluruh pakaian dan rambutnya—sebelum orang rumah melihat itu. Ken tidak mau ada keributan apapun, Deka akan dimarahi oleh Pak Hardi karena akan merupakan hal yang mudah untuk ditebak siapa tokoh utama kejahilan.
Ken selalu menyembunyikan perlakuan-perlakuan buruk Deka dari semua yang peduli padanya, tanpa dia ketahui bahwa semua orang di rumah sudah tahu tanpa perlu susah-susah bertanya pada siapapun. Ken akui, bahwa dirinya terlalu lemah sebagai seorang kakak, dia seharusnya bisa menjadi lebih kuat dan berani melawan Deka yang lebih muda darinya. Akan tetapi, kembali lagi pada kenyataan yang ada di hidup Ken sendiri, dia tidak pernah mau melawan Deka.
Perlakuan yang tepat untuk adik laki-lakinya itu adalah mengalah apa pun yang terjadi, lagipula menurut Ken sendiri, apa pun yang Deka ucapkan memang benar. Semua yang terjadi dulu telah kembali, bagaikan roda bianglala yang bagian bawahnya telah kembali ke posisi teratas.
...[][][]...
__ADS_1