
HARI sudah sore, Ken berada di dalam kamar mandi ketika pintu kamarnya dibuka tiba-tiba. Ken tahu, jika bukan Papa, pasti yang membuka pintu kamar adalah Mamanya. Semalam, dia tidak sengaja lewat di depan kamar orang tuanya dan mendengar ucapan mereka. Ken dengar bahwa Deka akan diajak bicara tentang hal yang serius mengenai dirinya. Ken tidak mau kehilangan kesempatan untuk tahu perihal topik yang akan dibicarakan.
“Sayang, Papa dan Mama ingin bicara langsung dari hati ke hati. Anggap aja ini adalah waktu bagi keluarga kecil kita untuk saling berbagi cerita.”
“Mama, aku belum faham.” Ken bisa mendengar suara datar adiknya.
“Papa nggak suka berbasa-basi, kamu tahu itu,” ucap Pak Hardi, Deka sudah tahu salah satu sifat ayah mereka.
“Papa nggak bisa tahan dengan semua perlakuanmu terhadap Ken, Deka. Katakan sejujur-jujurnya mengenai perasaanmu terhadap dia. Apa yang pernah salah Ken lakukan, dan kenapa kamu begitu benci padanya? Maaf, Papa nggak berprasangka buruk, tapi kami sebagai orang tuamu sadar dan tahu kalau kalian nggak pernah akur.
Intonasi Pak Hardi di kalimat-kalimat terakhirnya terdengar pelan, tapi Ken yang berdiri tidak terlalu jauh dari ruang tengah bisa mendengar semua dengan jelas. Jawaban Deka l tanpa kesulitan berhasil melumpuhkan syaraf-syaraf Ken. Membuat dia menangis seketika.
“Papa benar, aku nggak pernah setuju dengan adanya Ken di keluarga ini.”
Kalimat itu juga berhasil membuat Pak Hardi menahan napas dengan kedua tangan terkepal di atas lutut. Sedangkan isterinya sudah berkaca-kaca dengan bibir digigit.
“Lanjutkan," perintah Pak Hardi dengan suara ditegaskan.
Sejenak Deka mengerutkan dahi pertanda heran mengapa Papanya bertanya perihal masalahnya dan Ken, juga kenapa Papanya mau menuyuruh dia melanjutkan penjelasan? Meski demikian, hati Deka berosorak-sorai karena menurutnya dengan memberitahukan semua uneg-uneg yang dimiliki tentang Ken, kedua orangtuanya mungkin akan memberikan kebijakan.
Deka menarik napas dalam-dalam kemudian, lantas menjawab tegas dan yakin, “aku malu, Pa, Ma. Semua temanku mengolok-olokku karena punya kakak bisu. Semua ucapan Ken bahkan hanya beberapa kata yang bisa kufahami, dan dia sangat norak. Aku nggak tahan dengan sikapnya yang selalu sok jagoan, anterin bekal makan siang dan berakhir dengan tertawaan semua tim basket.”
Hilang sudah benteng yang sudah lama Bu Mirna bangun. Ibu mana yang kuasa mendengarkan cerita anaknya yang buruk perihal anak lain yang juga anak kandung? Menyakitkan, ngilu, dan panas laksana tertombak puluhan besi panas. Dirinya yang sebagai ibu pun tidak yakin bisa membayangkan betapa sakit dan menderitanya Ken ketika putera pertama mendapat hinaan serta perlakuan tidak adil dari orang-orang.
Dulu dan sampai sekarang, Bu Mirna selalu membentengi Ken saat banyak yang mencela kekurangan anaknya itu. Banyak yang mengakui ketampanan wajah Ken, tapi setelah mendengar suara yang mirip dengungan aneh, orang-orang yang kagum itu beralih menjadi pengejek yang memuakkan. Saat tengah malam, sujud dan do’a-do’a penuh ketulusan yang Bu Mirna pakai untuk melindungi Ken.
Permintaanbpada Sang Khaliq hanya 1; ingin Ken bahagia meski tidak bisa berbicara lagi seperti saat usianya masih kecil dulu. Ken adalah anak yang jarang sekali menangis, dia akan menangis hanya untuk sesuatu yang penting dan hal yang meninggalkannya. Bu Mirna dulu tidak bisa menahan tangis kehancuran ketika dokter memvonis bahwa suara Ken hilang dan tidak akan kembali lagi. Selalu ada do’a yang dihajatkan, akhirnya suara Ken kembali, tapi hanya berupa dengungan dan geraman aneh sampai saat ini.
Saat itu usia Ken masih sekitar 11 tahun, sebuah kecelakaan terjadi di malam hari ketika pak Hardi dan keluarga pulang setelah bepergian untuk berlibur. Usia Ken dan Deka bisa terbilang masih kanak-kanak, masa di mana mereka sangat aktif serta membuat gemas. Akan tetapi, takdir berkata lain, kecelakaan terjadi karena jalan beraspal yang terlalu licin akibat hujan deras. Mobil terbalik kasar secara mengerikan. Ken terjepit bersama Deka, kebetulan mereka duduk di jok belakang.
Sementara itu, Pak Hardi dan isterinya berteriak penuh rasa takut dan panik. Berbagai cara dilakukan untuk mengeluarkan kedua anak mereka dari dalam mobil, tapi gagal terus. Bala bantuan datang terlambat, sebab jalanan yang keluarga Pak Hardi lalui terbilang jarang dilewati kendaraan roda empat. Akhirnya, setelah selama 2 jam berusaha dikeluarkan dari dalam mobil, Ken dan Deka tertolong meski dengan banyak luka di sekujur tubuh.
Rasa haru tidak tertahan kedua orang tua yang masih muda itu beserta semua yang melihat kejadian naas tersebut saat mereka menemukan Ken memeluk tubuh Deka, melindungi sang adik dari timpaan badan jok mobil yang berat dan keras. Setelahnya, Bu Mirna jatuh pingsan melihat darah yang mengucur deras dari leher Ken.
Kebisuan tidak pernah Ken inginkan, impian untuk selalu bisa berteriak keras dan bermain bersama Deka serta teman-teman sebaya, hancur seketika saat dokter menjelaskan bahwa pita suaranya bermasalah secara permanen. Sejak usia 11 tahun, Ken dinyatakan bisu.
__ADS_1
Meski berbagai cara dilakukan pasangan Pak Hardi dan Bu Mirna untuk mengembalikan suara Ken, tetap saja... Kesunyian menjadi satu-satunya yang menemani. Suara indah dan tenor milik anak tampan itu lenyap, berganti dengan suara-suara mirip gumaman tidak wajar. Ejekan demi ejekan diterima si kecil. Tangisnya selalu pecah saat dia pulang setelah bermain, Deka tidak akan ikut lagi bersama dia karena merasa malu dan tidak suka.
Tahun berganti tahun, Ken belajar melawan kesunyian itu. Dia beranggapan bahwa dirinya tidak bisa murung terus, sementara kedua orangtua sangat peduli dan terus memberikan kekuatan serta motivasi. Ken telah berusaha kuat meski harus memejamkan mata akibat pedih di hati akibat melihat teman-teman sebaya berbondong-bondong meraih prestasi kelulusan saat SMP.
Ken ingat, waktu semua orang bersorak-sorai bersyukur karena lulus dari sekolah dengan pelajaran menyebalkan, dia hanya duduk di atas bangku kecil dalam kamar mandi sekolah, tersenyum pedih saat mendengar sendiri seburuk apa suaranya yang parau. Telah berusaha kuat sekuat yang dia bisa, melawan rasa paranoid ketika mata orang-orang melihatnya dengan penuh penilaian seakan-akan dia adalah manusia luar angkasa yang langka. Ken berusaha hidup normal meskipun satu per satu teman yang dia miliki memilih pergi.
"Kami nggak bisa ngajak Ken main, kami nggak faham kalau dia bicara."
"Iya, Bu Guru. Kalau diajak ke kantin lalu disuruh milih makanan, dia selalu diam."
"Kalau nggak diam, palingan nih anak cuma nunjuk-nunjuk habis itu diam lagi. Kami udah kayak jalan sama patung bernapas."
Tentu saja, siapa yang mau bersama anak bisu dan hanya mampu menggumamkan kata-kata tidak jelas? Ken telah tegar, kepedihan terus bersemayam ketika melihat Mama dan Papa yang teramat dia cintai harus menelan pil pahit sepanjang hidup. Ken iba melihat orang tuanya yang harus tetap bersikap kuat menerima takdir.
Ketika Deka—adik kandungnya sendiri—pun memilih jalan yang sama seperti teman-teman Ken untuk mengabaikan sang kakak dan meremehkannya, Ken tetap tersenyum. Kasih sayangnya terlalu besar untuk membalas sikap dingin si bungsu. Ken telah berusaha kuat dan berdiri tegak di atas penderitaannya, sukses membangun benteng yang tebal. Keyakinan untuk akur kembali dengan Deka sungguh besar.
Namun, tangisan Ken tidak terbendung lagi sekarang. Akhirnya pecah membuat semua yang ada di ruang tengah terkejut bukan kepalang, khususnya Pak Hardi dan Bu Mirna. Ken berjalan dengan langkah cepat. Tangan kanan terkepal erat, wajah remaja itu memerah dan tatapannya menakutkan.
Buagh!
“Akhk!” Deka berseru terkejut dan kesakitan, “apa-apaan ini?!”
Bukk!
Pukulan demi pukulan Ken layangkan ke wajah Deka, dalam sekejap sudah membuat wajah rupawan itu babak belur. Ken meraung ketika ditahan Pak Hardi, mengabaikan jerit tangis Mamanya yang melihat adegan mengerikan. Tidak ada yang menyangka kalau Ken ternyata bisa semurka itu. Meski menangis, Ken tetap melayangkan tatapan menakutkan, sejenak membuat Deka ciut dan kebingungan.
“Sabar, Nak. Tenangkan dirimu. Bilang sama Papa, apa yang kamu rasakan, hm? Papa di sini, Sayang.”
Ken memberontak dalam pelukan Pak Hardi, dia ingin memukul wajah Deka lagi dan lagi! Ingin membuat si bungsu membuka mata dan melihat ke arah dirinya dengan tulus. Deka sudah keterlaluan!
“Mu dah khe’luan! Mu khan el’ankhu i’ pan Mbhambha an Papa! (Kamu udah keterlaluan! Kamu bahkan menjelek-jelekkanku di depan Mama dan Papa!)”
Ken berteriak, memaki Deka yang sudah berdiri tegak dan mengusap darah di ujung bibirnya yang lebam. Deka menatap sinis ke arah Ken, terlihat kebenciannya semakin dalam setelah diberikan pukulan yang tiba-tiba.
“FINE! KAMU BERARTI MAU DENGAR ALASANKU, KAN?! BIAR AKU KASIH TAHU SEJELAS-JELASNYA, KEN!”
__ADS_1
“JAGA UCAPANMU, DEKA! JANGAN KURANG AJAR PADA SAUDARAMU SENDIRI!” Pak Hardi ikut berteriak, melepaskan pelukan di tubuh Ken yang bergetar.
“Mama dan Papa juga ingin aku bicara tentang perasaanku, ‘kan? Hari ini aku akan bilang semua, semuanya dengan jelas. Aku benci Ken dengan sepenuh hidupku. Aku menyesal telah punya kakak lemah dan bisu kayak dia, dan aku mau—”
Bu Mirna mencubit lengan Deka, dia sendiri sudah menangis.
“Mama mohon jaga ucapanmu, Deka. Ken tetap kakak kandungmu, sekuat apapun menolak keberadaannya, dia tetap berharga! Dia juga anak Mama, kamu nggak berhak menghina atau menyumpahinya!”
Ken menatap penuh kesedihan pada Bu Mirna, mulai merasa gagal menjaga air mata ibunya tercinta. Akan tetapi seakan kerasukan, Deka tetap melanjutkan kalimatnya, tidak peduli ucapan-ucapan itu akan berakhir menjadi malapetaka dan luka menyakitkan kelak.
“Aku cuma... Cuma ingin dia pergi, Ma. Apa salahku sampai punya kakak yang bisu? Dia nggak bisa kayak kakak-kakak semua temanku yang bisa semua hal, mereka mampu melakukan banyak kegiatan tanpa susah bicara. Tapi dia...” Deka menunjuk ke wajah Ken, “...dia bahkan nggak bisa nyebut namaku dengan benar, Ma. Aku benci Ken karena nggak bisa jadi kakak yang aku mau. Aku cuma ingin bahagia, tapi semenjak kehadirannya, aku jadi dinomorduakan. Apa salahku, huh? Apa dosaku hingga Papa dan Mama membelakangiku dan lebih peduli padanya?!”
Sekarang, Deka sukses membuat kedua orang tuanya mematung di tempat dengan napas sama-sama tercekat. Pak Hardi yang hendak memeluk kembali Ken, melemaskan kedua lengan. Lutut lelaki itu terasa tidak bertulang mendengar penuturan anak bungsunya. Bu Mirna kehilangan isakan, menatap sendu Deka yang entah kenapa bisa sekeras ini. Dosa apa yang telah dia dan suaminya lakukan di masa lalu hingga keharmonisan keluarga bahagia mereka menghilang? Rasa gagal semakin besar, menyeruak dalam dada, kehilangan kata-kata untuk menasihati, hingga...
“Kalau kalian benar-benar peduli dan sayang padaku, pindahkan dia ke sekolah berasrama anak berkebutuhan khusus.”
Ken tercengang, air matanya keluar lebih deras. Rasa amarahnya menguap entah ke mana, tergantikan luka-luka yang kembali menganga dan perih luar biasa.
“...atau setidaknya...” Tatapan sendu Deka terarah pada Ken yang ikut menatapnya, “...setidaknya dia nggak pernah ada. Aku mau dia hilang dari hidupku selamanya. Jangan kembali lagi.”
Lalu kenapa Ken bisa menangkap tatapan permohonan di mata itu? Kenapa?
Semua yang mendengar kalimat terakhir Deka membuat oksigen seakan-akan langsung menghilang dari sekitar. Apakah mereka telah gagal mendidik anak bungsu tercinta hingga berani dan dengan sangat yakin berbicara hal mengerikan? Bibir Ken kering, dia menoleh dan menatap wajah orang tuanya bergantian. Apa lagi yang bisa dia katakan? Ah, untuk membentak saja dia seperti orang yang sedang membuat lelucon. Lalu apa lagi sekarang? Deka... Adik lelaki kecilnya yang selalu menggemaskan... Meminta dengan terang-terangan pada orangtua agar Ken dipindahkan ke asrama orang berkebutuhan khusus?
Kesalahan apa yang dia pernah lakukan pada Deka sehingga dibenci sedalam ini oleh anak itu? Sangat menyakitkan. Secara terang-terangan, adik sendiri menyarankan dirinya untuk masuk sekolah luar biasa. Tidak, Ken tidak pernah menilai buruk sekolah seperti itu, tapi dia tidak menyangka Deka akan menyuruhnya masuk ke sana dengan penuh keyakinan. Lalu apa juga tadi? Deka ingin dirinya pergi dan tidak kembali ke kehidupan sang adik? Deka ingin dirinya mati? Sebesar itukah rasa malu yang bungsu itu rasakan?
Sreeet... Langkah pelan terdengar, Ken yang seperti kehilangan setengah nyawanya bergerak melangkah, melewati dua orang dewasa lain yang belum juga sadar dari keterpurukan mereka. Ken menatap lamat-lamat wajah lebam Deka, mengukir dalam-dalam rupa elok si bungsu tersayang. Menjilat bibir yang kering, bola mata bergulir ke kiri dan kanan seperti orang ketakutan.
“Mba..af (Ma..af).”
“KEN! KEN!”
Ken menulikan pendengaran ketika dipanggil. Remaja 19 tahun itu berlari keluar area rumah besarnya. Tanpa menghapus air mata yang semakin deras, melewati semua orang yang berpapasan dan sesekali memanggil dengan nada ramah. Tidak! Tidak! Sekarang dia tidak mau peduli dan menyahut. Siapa pun itu, Ken akan kesulitan percaya kepedulian mereka untuknya. Sakit. Sakit. Sangat sakit! Adik sendiri menginginkan kematiannya. Apakah yang akan dilakukan setelah kematian itu? Akankah adik yang selalu dijaganya akan bahagia dan tidak diejek lagi? Jika Ken tidak mati dan lebih memilih masuk asrama orang berkebutuhan khusus, apakah Deka tidak akan diejek lagi? Lalu, siapa yang akan membawakan Deka bekal makan siang? Adiknya selalu mengabaikan kesehatan, sehingga sangat mudah terserang penyakit maag. Ken tidak pernah mau Deka sakit, seremeh apa pun penyakit itu, Ken tetap tidak mau!
'Orang yang sangat aku pedulikan menginginkanku mati. Lalu selain menangis, apa lagi yang bisa kuperbuat? Membencimu juga? Apakah berarti segala usaha dan kesabaran sejak usia 11 tahun sia-sia? Apa yang akan kuperbuat setelahnya? Apakah... Apakah harapan besarmu tadi dikabulkan saja? Mati... Mungkin itu bukan ide yang buruk, bukankah sejak dulu aku selalu mendo’akan kebahagiaanmu? Deka... Maafin aku.’
__ADS_1
Maaf? Sebenarnya siapa yang perlu minta maaf? Hatimu terbuat dari apa?
‘Aku manusia biasa, dan aku lemah...’