
PERKATAAN Pak Hardi benar adanya, Ken tidak pernah terlihat lagi di mana-mana. Bahkan sekarang sudah masuk waktu satu bulan, putera sulung keluarga Pak Hardi dan Bu Mirna itu tidak pernah terlihat sekali pun. Hal ini memunculkan tanda tanya besar dalam benak Deka, biasanya dia hanya akan cuek tanpa peduli sedikit pun tentang Ken. Sebab bagi dia, Ken adalah saudara yang tidak pernah dia harapkan ada sebagai kakak.
Namun, baik Pak Hardi atau Bu Mirna tidak pernah mengatakan yang sebenarnya tentang keberadaan Ken. Setiap kali ditanya, yang didapatkan Deka dari Mamanya adalah tatapan sendu juga keterdiaman wanita itu. Deka tidak pernah salah lihat selama satu bulan ini, dia selalu mendapati Mamanya menangis di taman rumah, mengabaikan kesehatan hingga sempat sakit selama 2 hari.
Pak Hardi pun sama, lelaki bijak tersebut tidak memberikan jawaban yang pasti untuk Deka. Pak Hardi hanya akan mengatakan apa yang menurutnya harus diucapkan; ‘bukankah kamu yang minta Ken pergi? Sekarang dia pergi, kamu tidak perlu menanyakan apa pun lagi, Deka.’
Itulah yang selalu didapatkan Deka sebagai jawaban—tapi, ah... Itu bahkan bukanlah jawaban, melainkan sindiran halus dan benar-benar memukul hatinya.
Hari berganti minggu, hingga lebih 1 bulan Ken hilang kabar. Tidak ada lagi rupanya yang elok itu. Suara dengungan saat bicara yang selalu menjadi kejengkelan Deka tidak terdengar lagi. Kebaikan maupun kepedulian Ken tidak lagi dirasakan Deka. Lambatlaunu, ada rasa yang tidak nyaman dalam diri si anak bungsu, antara kasihan dan penyesalan. Akan tetapi, Deka bukanlah anak yang akan menahan semua perasaan diam-diam tanpa mencaritahu perasaan apa itu. Ternyata, rasa yang Deka dapatkan selama ini ialah sebuah penyesalan.
“Apa yang harusnya kulakukan, Pa? Kumohon beritahu di mana Ken berada. Aku... Aku menyesal, aku janji nggak akan berkata buruk dan kasar lagi padanya, Pa. Kumohon...”
Deka pulang dari sekolahnya lebih awal, dan hanya berlatih basket selama beberapa menit. Dia menangis tersedu-sedu seraya menenteng sebuah kotak berwarna biru yang Pak Hardi ketahui sebagai kotak bekal. Diam-diam, dia menyembunyikan tangis. Ternyata meski Ken sudah tidak bersama mereka lagi, tapi anak pertamanya tetap memperlihatkan kepeduliannya terhadap Deka.
“Papa lihat ini?” Deka memperlihatkan kotak bekalnya yang sudah kosong, “Ken selalu menitipkan bekal untukku ke orang-orang di sekolah, tapi dia yang ngasih nggak pernah kutemukan. Papa, tolong beritahu di mana dia. Kumohon...”
Bu Mirna yang berdiri tidak jauh di belakang Deka merasa lega sekaligus sedih. Tidak pernah dilihatnya Deka sehancur itu, dan anak bungsunya itu terlihat begitu menyesali perbuatannya terhadap Ken.
“Papa, kumohon... Aku janji nggak akan berbuat jahat lagi pada Ken. Beritahu aku... Beritahu aku...” Deka terus memohon sambil menangis. Tangannya tidak mau melepas kotak bekal tadi.
Cukup sudah! Tidak kuasa lagi melihat anaknya memohon hingga menangis begitu. Bu Mirna memeluk Deka dari samping, mengecup kening berkali-kali dan bertanya, “kamu sungguh menyesal, Sayang?”
“Mama, aku menyesal. Aku menyesal... A-aku menyesal...tolong...hikss...” Ya Tuhan, anaknya yang bersifat dingin ini bisa menangis begitu hebat, dia bahkan sampai sesenggukan.
“Ken hanya nggak bersama kita, Sayang. Seperti ucapanmu yang nggak mau dia bersama kita, Ken akhirnya meminta pada Papamu untuk memindahkannya ke sekolah berasrama yang...”
“...untuk yang berkebutuhan khusus bernama Angels' Wing," Pak Hardi menyahuti ucapan isterinya yang terbata-bata.
Seketika, Deka membelalakkan mata terkejut.
“Pa... Ma... Aku—” Suara tertelan tangisannya sendiri. Remaja itu berdiri, meraih kotak bekal dan berlari ke tangga menuju kamar.
“Mas, gimana sekarang?” Bu Mirna memeluk suaminya dan menangis.
“Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Jika Deka benar menyesali perbuatannya, mungkin kita bisa bawa Ken kembali pulang.”
Sebuah harapan yang besar dan mungkin bisa mengubah sebuah kehidupan ke arah yang lebih baik melebihi sebelumnya.
...Jam 13.00 siang...
DEKA berlari keluar dari dalam taksi, diikuti dua orang teman dekatnya. Raut ketiga orang itu kalut, tapi Deka sudah jelas lebih dari itu.
“Permisi, Pak. Apa boleh kami masuk?” Dia bernama Hendri, lelaki jangkung berkumis tipis itu terlebih dulu meminta izin, sebab tahu Deka tidak akan berbicara halus jika sedang kalut.
Lelaki tambun dengan pakaian khas security itu memandang ketiga lelaki muda di depan gerbang yang tertutup.
“Kalian siapa? Apa ada anggota keluarga yang bersekolah di sini? Sebab peraturan di sini nggak memperbolehkan orang asing masuk kecuali anggota keluarga siswa.”
__ADS_1
“Aku! Aku adiknya Ken dan—emmmp!” Seruan Deka terbungkam oleh tangan Agus, teman yang satunya dengan sedikit berjinjit karena perbedaan tubuh mereka.
“Bersikap sopanlah, Deka. Kalau tetap begini, kita bisa ditendang!” Agus berbisik seraya memasang senyuman minta maaf pada satpam.
“Adik? Adik dari siswa yang mana?”
“Lep—eemmp!” Deka meronta, Hendri memberikan isyarat pada Agus untuk melepaskan bungakaman tangannya. “Adik dari siswa baru bernama Ken.”
Hendri dan Agus bersumpah bisa melihat kilat kesedihan dan raut penyesalan di wajah teman dekat mereka. Perjuangan Ken mungkin tidak akan sia-sia.
“Kalian boleh masuk, tapi dengan syarat nggak boleh ada keributan.”
Satpam itu memberikan peringatan dan langsung diangguki oleh Hendri dan Agus, kecuali Deka yang langsung menerobos masuk. Dengan diantar oleh si satpam, 3 siswa SMA itu masuk ke sekolah berasrama tersebut. Tempatnya lumayan luas dengan fasilitas terjangkau, sebuah asrama bagi yang berkebutuhan khusus dan normal.
Saat melihat kebingungan di wajah ketiga remaja itu, satpam tadi menjelaskan, “asrama ini adalah asrama untuk yang berkebutuhan khusus dan normal, di sini mereka semua dikumpulkan bersama-sama. Selain untuk belajar ilmu, mereka juga dilatih untuk saling menerima satu sama lain. Yang normal harus menerima keadaan teman-temannya bagaimana pun kondisi yang ada, begitu juga sebaliknya. Yang sakit nggak boleh berkeluh kesah, sebab memiliki banyak teman yang siap menjaga dan peduli terhadap mereka.”
Deka tersenyum tipis, dengan pelan mengusap setetes air mata. Dia melihat 2 orang remaja seusia dirinya duduk di kursi kayu panjang, itu di taman yang mereka lewati.
“Kalian lihat 2 anak itu? Salah satunya buta dan nggak bisa bicara, lalu yang lain menderita kelumpuhan sejak kecil.”
“Kenapa mereka ada di sini, Pak? Maksud saya apa orang tua mereka nggak jagain di rumah saja? Saya rasa itu akan lebih baik dekat dengan keluarga," Hendri bertanya penasaran.
“Semua orang yang melihat mereka tentu akan berpikiran sama seperti kalian, akan lebih baik jika mereka tinggal di rumah bersama keluarga saja. Tapi takdir nggak selalu manis, kan? Mereka diserahkan kemari oleh orangtua mereka secara langsung. Kasihan sekali, tapi ya udahlah. Hidup harus tetap berjalan, Nak.”
Azis melirik ke arah Deka yang kini hidungnya terlihat memerah. Diam-diam Hendri tersenyum, merasa benar sekali mereka kemari.
“La—lalu kakak saya ambil kegiatan apa?” Tanya Deka, suaranya berubah bergetar. Satpam tadi tersenyum hangat kemudian menggeleng.
“Yang itu saya nggak tahu, Nak. Kalian setelah ini akan diantar oleh Ketua Asrama. Kalau gitu, saya permisi dulu, ketua asramanya udah datang tuh.”
Setelah si satpam pergi, benar saja datang seorang perempuan berusia 40-an dan tersenyum begitu hangat.
“Tampaknya ada yang berkunjung. Siapa yang ingin kalian kunjungi, anak-anak?” Tanya wanita itu dengan suara halus.
“Saya mau—”
“Kha?”
Semua mata tertuju pada sebuah suara sedikit serak, tepatnya di belakang wanita yang menjabat sebagai Ketua Asrama. Wanita itu lagi-lagi tersenyum kemudian mengusap kepala orang yang selalu menyebut nama Deka sebagai ‘Kha’. Deka menatap penuh kerinduan, Ken pun demikian. Mengingat kebencian Deka terhadap dirinya, dia hanya berdiri diam.
“Ken, siapa mereka? Keluargamu, kah?” Tanya wanita tadi, Deka terkejut saat si Ketua Asrama tadi berbicara begitu pelan sambil menggerak-gerakkan jemari, ternyata itu bahasa isyarat.
Ken menelan ludahnya, menunduk sebentar lalu mengangguk singkat. Deka tidak kuat melihat kesedihan di kedua mata Ken dan—brukk!—serta merta remaja itu menubrukkan tubuhnya pada Ken yang langsung terbelalak dengan napas tercekat.
“Kha!”
“Ken! Ken, ini aku!” Deka kehilangan kendali atas tangisnya sendiri, “kembalilah ke rumah. Aku minta maaf udah bersikap kasar selama ini. Kumohon kembali pada kami, jangan tinggalin aku. Kumohon... Kumohon—hikss—Ken, kumohon...”
__ADS_1
Ketua asrama yang selalu menampilkan senyuman hangat itu mengusap kepala Deka dengan lembut.
“Ken sayang, jangan buat dia bersedih. Kamu menyayanginya, ‘kan?”
“Hm!” Ken mengangguk dengan cepat. Air mata remaja 19 tahun mulai turun dan membalas pelukan Deka.
‘Ya Allah, apa ini mimpi karena aku terlalu merindukan adik dan orang tuaku?’ Ken membatin. Dia menoleh ke wanita yang kasih sayangnya mirip Mama di rumah.
“Nda, ni pi khah? A’khan akhu khau ni nyahkta. (Bunda, ini mimpi, kah? Katakan padaku kalau ini nyata).”
Wanita yang akrab dipanggil Bunda itu mengangguk, sekali lagi mengusap kepala Ken. Tawa merdu terdengar dari sela bibir yang berlipstik merah. Dia menjawab bahwa apa yang terjadi saat ini adalah nyata dengan menggunakan bahasa isyarat, membuat Ken mengeratkan pelukan di tubuh Deka yang bergetar. Deka mendongak, menatap rindu Ken yang sangat lama tidak dijumpai.
“Ken, aku serius. Jangan jauh-jauh dari kami terus, kamu udah pergi lama banget dan tanpa kabar. Kamu membuatku khawatir, jadi kumohon pulanglah. Pulang bersamaku sekarang, kumohon... Kumohon...”
Ken menoleh, menatap Bunda dengan raut minta tolong. Ken menggerakkan jemari, membentuk banyak tanda dan gerakan yang membingungkan bagi Agus dan Hendri yang sejak tadi terdiam. Bunda mengangguk faham.
“Namamu Deka, Nak?” Deka mengangguk meski isakannya masih terdengar, “kakakmu adalah siswa teladan di asrama ini, Sayang. Dia begitu peduli pada teman-temannya sebab dialah yang tertua di Gedung Venus. Teman-temannya nggak akan begitu mudah melepaskan dia untuk pergi.”
“Nggak. Jangan bilang kalau Ken nggak boleh pulang. Dia harus pulang bersamaku sekarang!” Deka tanpa sadar berseru, membuat Agus dan Hendri merasa iba sekaligus cemas karena banyak yang melihat.
Bunda menghela napas, terlihat sekali dia sudah berpengalaman menghadapi banyak watak anak muda. Ken melepaskan pelukan, menghapus jejak-jejak air mata di wajah mulus adiknya.
“Kha, lu khau ang lih unthuk au alan inhi. Lala khi dak oleh ingkal u’apan. (Deka, dulu kamu yang pilih untukku jalan ini. Lelaki tidak boleh ingkar ucapan).”
Deka tampak bingung, digigitnya belahan bibir dan menoleh pada Bunda. Wanita itu mengerti dan menerjemahkan kata-kata Ken tadi. Air mata Deka menganak sungai lagi. Diangkatnya kerah seragam Ken yang baru itu dan memberikan tatapan tajam pada sang kakak.
“Kamu! Kamu pernah janji sama aku untuk tetap menjagaku, kamu lupa itu? Kamu mengingkari janjimu, Ken! Nggak ada yang bisa menjagaku lagi, kamu pergi tanpa bilang-bilang. Kamu nggak tahu kalau aku terus mencarimu ke mana-mana! Sekarang menolak ajakanku untuk pulang, pecundang sekali. Kamu nggak peduli lagi padaku, ‘kan? KENAPA NGGAK LANGSUNG BILANG AJA KALAU MARAH DAN MEMBENCIKU, HAH?!”
“Kha! Mba af... Mbha af, Kha.”
Ken meminta maaf, memeluk kembali Deka dengan sangat erat. Tidak pernah terpikirkan untuk meninggalkan keluarga dan adik tercinta. Tapi saat mengabulkan permintaan Deka untuk lenyap dari kehidupan sang adik, remaja yang selalu menyikapinya dingin dan ketus itu tiba-tiba muncul di asrama lalu berseru menyuruh pulang. Ini mengejutkan sekaligus sangat melegakan, karena tampaknya Deka benar-benar telah menyesal.
“Kalau gitu kita pulang, Ken. Mama dan Papa rindu. Mama bahkan sakit kemarin karena merindukanmu, kamu nggak akan setega itu ninggalin dia, ‘kan? Iya, Ken?”
Terdengar seperti rayuan, hati Ken langsung seperti teriris mendengar kabar bahwa Mamanya ternyata sampai sakit karena tersiksa rindu. Akan tetapi, ini semua Ken lakukan demi kebahagiaan Deka, juga supaya keluarga yang mereka miliki bisa tenang tanpa ada pertengakaran antar anak. Ken lelah dengan semua pertengkaran dan sikap dingin yang terjadi antara dia juga Deka.
Puk! Sebuah tepukan lembut mendarat di sebelah bahu Ken dari Bunda. Dia menatap wanita yang sudah dianggapnya ibu itu.
“Ken, ini adalah hidupmu. Pilihlah selama kamu mampu memilih. Jangan ambil pilihan yang salah dan bisa melukai diri sendiri atau orang lain nantinya. Jangan pilih sesuatu yang memaksakan kehendakmu sehingga lambat laun kamu sendiri yang akan terluka. Bunda sayang Ken, maka Bunda faham perasaanmu saat ini. Bunda nggak tahu dan nggak mau mencampuri urusan pribadi kalian, tapi lihatlah adikmu. Dia susah payah mencari tempatmu saat ini, ingin kamu kembali padanya dan keluarga.”
“Nda...”
“Iya, Sayang. Jangan salah memilih. Kamu boleh berhenti dan pulang bersama adikmu. Jangan khawatir, kamu tetap bisa mengunjungi kami semua di sini jika itu yang kamu khawatirkan. Kita tetap satu keluarga, Anakku.”
Yang terakhir dilihat oleh Ken sebelum akhirnya remaja itu pingsan adalah senyum tulus Bunda dan beberapa teman seasramanya yang berdatangan. Kepanikan melanda hati Deka serta semua yang ada di sana, tapi semua berharap apa pun yang akan terjadi nanti tetap baik-baik saja dan mendukung kehidupan yang akan dilalui Ken.
Miris, Ken lagi-lagi menyembunyikan 1 rahasia lain, perihal kenapa dia pingsan secara tiba-tiba. Dia berharap penyesalan yang Deka rasakan saat ini bisa mengubah sikap si bungsu.
__ADS_1