
KEN menghentikan laju sepedanya tepat di depan pos security. Dengan sangat lemah, dia bergerak turun dan langsung menghadap seorang penjaga yang keluar dari pos penjagaan seraya tersenyum.
“Un’tuk Kha, ma'sihk (untuk Deka, terima kasih).” Biasanya Ken akan berbicara sedikit lebih lama dengan si penjaga, tapi kali ini sekedar untuk menyebut nama adiknya, dia harus mengeluarkan tenaga yang banyak.
Satpam yang sudah mengenal Ken cukup lama itu menatap heran remaja di depannya tersebut. Wajah Ken sangat pucat dengan bibir yang membiru, ketika bersentuhan dengan tangan Ken waktu mengambil kotak bekal, kulit Ken begitu dingin seperti es. Keringat pun sangat banyak di pelipis si laki-laki muda.
“Kamu baik-baik saja, Nak? Lebih baik istirahat sebentar, sepertinya kamu sedang sakit.”
Ken menggeleng lemah nyaris tak terlihat, dia akan meringis diam-diam ketika neyeri luar biasa di luka perutnya terasa. Melihat ke segala penjuru, berharap Deka keluar dan bisa bertemu satu sama lain. Akan tetapi, harapan tetaplah harapan, makanan yang Ken bawa pun tidak semua dimakan adiknya. Ken berbalik, meraih pegangan sepeda dan hampir limbung jika tidak ditangkap oleh security tadi.
“Ken! Kamu sakit?” Ken menggeleng, kembali tersenyum dan tetap berusaha menaiki sepedanya.
‘Deka, makanlah yang banyak. Aku harus pergi sekarang. Belajar yang rajin, dek.’
Ken berhasil mengayuh kembali sepedanya, mati-matian menahan erangan kesakitan saat luka di ulu hati semakin sakit dan perih. Sepeninggal anak itu, si satpam terbelalak melihat tetes-tetes cairan merah di sepanjang jala. Tubuh penjaga itu menegang dan dia langsung berlari masuk ke area sekolah mencari Deka. Dia harus melakukan sesuatu sebelum terjadi hal yang lebih buruk dari tetes-tetes merah di aspal itu!
...[][][]...
DEKA mengomel di tengah lapangan basket yang mulai sepi karena sebagian temannya sudah pergi ke kantin. Dia sengaja tidak ke kantin, bukannya tidak membawa uang saku, tapi dia mengharapkan Ken membawakannya makan siang. Entah kenapa, Deka sangat ingin Ken datang dan membawakan bekal. Dia lapar sekali. Satpam tadi akhirnya tiba dengan napas tersengal-sengal, langsung menyerahkan kotak berisi makanan yang Ken bawa pada Deka.
“Kakakmu menitipkan ini tadi, Deka. Tapi ada yang aneh, Ken mungkin sedang terluka, ada darah di—”
“DEKA!”
Belum sempat satpam tadi menyelesaikan kalimatnya, Ayu memanggil Deka dari luar lapangan sambil melambai. Tentu Deka akan lebih memilih gadis itu daripada mendengarkan kabar mengenai Ken.
“Nak, sebaiknya kamu temui kakakmu sekarang. Dia terlu—”
“Pak, lebih baik Anda kembali saja ke pos. Saya ada urusan yang lebih penting. Untuk makanannya, terima kasih banyak.”
Deka berlari sambil membawa kotak bekalnya menuju Ayu. Satpam tadi menghela napasnya dan menggelengkan kepala, sedikit tahu permasalahan yang selalu ada di antara Ken dan Deka. Ken akan menitipkan makan siang Deka pada si satpam jika si bungsu sedang dalam keadaan marah atau tidak ingin diganggu. Itu sudah biasa terjadi, jadi satpam tentu tahu sifat Deka seperti apa jika sudah menyangkut kakaknya itu.
...[][][]...
‘MAKAN yang banyak, dek. Kamu harus tetap sehat dan kuat. Aku bahagia bisa jadi kakakmu, meskipun sebenarnya kamu nggak pernah menginginkan itu.’
‘Jangan buang makanannya. Itu bekal terakhir yang bisa kubawakan untukmu.bTumbuhlah dengan baik, dek.’
‘Jika ini akan jadi hari terakhirku bernapas, aku ingin melihatmu sekali lagi, lalu meminta maaf karena belum bisa jadi saudara yang sempurna untukmu, dan juga...’
‘...berterima kasih karena udah tercipta jadi adikku. Dasar anak nakal, makanlah yang banyak agar tumbuh tinggi seperti atlet, mimpimi pengen jadi atlet basket, kan?’
Ken mengayuh sepedanya terus tanpa memikirkan darah yang menetes. Darah itu berbaur dengan oli rantai sepeda, membuatnya lebih licin dan bisa saja dikayuh lebih mudah. Hanya saja, Ken nyaris tidak bisa merasakan kakinya. Semua mungkin akan berakhir hari ini, tapi ada kesenangan tersendiri yang terasa; dia berhasil membawakan makan siang untuk adik tersayang.
‘Ada banyak hal yang ingin kusampaikan padamu, Deka. Tapi rupanya, waktu nggak cukup mendukung.’
‘Ingatlah saat-saat di mana kita sekeluarga bermain. Saat itu, kamu sangat menggemaskan—maaf, aku tahu kamu nggak suka disebut begitu.’
‘Deka, adikku yang paling lucu. Jangan sedih jika ada yang pergi darimu, karena pada dasarnya, nggak ada yang akan sesetia itu menemani sampai akhir hayat. Selalu ada yang pergi lebih dulu di dunia ini.’
‘Persaudaraan ini begitu sulit kufahami, terlalu banyak kesedihan yang kulalui hingga mampu menikam jantungku kapan pun. Aku sering berpikir untuk mengakhiri hidup, tapi tetap nggak sanggup...’
__ADS_1
‘...aku nggak sanggup jika harus meninggalkanmu dengan kematian hanya karena alasan sepele, Deka.’
‘Janjiku saat kita kecil dulu untuk bisa melindungimu... Apa aku berhasil?’
Jika hidupnya tidak dibutuhkan oleh si adik, mati pun Ken terima. Amanah dari sang Mama telah Ken sampaikan dengan baik meski sedikit terlambat. Untuk Deka; semoga adiknya itu tetap jadi orang yang disayangi dan dicintai setiap orang.
‘Tapi sekarang aku rela. Sangat ikhlas jika harus mati demi melindungi nyawamu yang berharga.’
‘Tetaplah hidup, adik kecilku. Semoga kita berjumpa lagi dalam kehidupan yang lebih bahagia.’
‘Jika Allah memberikan kehidupan ke-2, kita sekeluarga akan ke taman bermain dan naik bianglala lagi.’
‘Dan saat itu terjadi, mungkin aku bisa melindungmu...
'...sekali lagi.’
[][][]
REMAJA dengan rambut lebat itu melahap makanan siang dengan perasaan gembira, sebab ditemani gadis berparas jelita yang kebetulan dia sukai. Ayu hanya diam seraya menonton Deka yang makan tanpa menjeda kunyahan.
“Yu, kamu mau bilang apa tadi? Kelihatannya serius sekali.”
Akhirnya makan siang remaja yang sudah berusia 18 tahun itu usai. Ayu terlihat gugup, tapi sebuah genggaman hangat dari Deka membuat wajah si gadis merona malu.
“Bilang aja apapun itu, pasti aku dengerin.”
“Ini...” Terlihat satu keraguan di wajah cantiknya, “tentang Kak Ken, Deka.”
Seketika genggaman Deka mengendur dan hilang sama sekali. Ayu menghela napas, sudah tahu sikap Deka akan berubah dingin jika menyangkut Ken.
Ayu mengangguk, ekspresinya sedikit lebih serius. "Aku mau ngelurusin permasalahan beberapa hari lalu.”
Ayu berujar berdehem sekali untuk mengurangi nadanya yang bergetar. “Aku dan Kak Ken nggak punya hubungan apa-apa, kami hanya berteman dan—”
“Ya, ya, ya. Semua gadis akan bilang begitu, tentu aku tahu. Karena gadis akan mudah malu jika ketahuan pacaran.”
“Jangan potong ucapanku, aku nggak suka!"
Deka mendengus sebal tanpa mengangguk.
"Foto-foto yang kamu perlihatkan padaku itu memang benar, aku dan kakakmu pernah keluar berdua lalu ke tempat indah. Aku akui tempatnya sangat indah dan—”
“Wow.” Deka berujar datar, “kalian pasti senang, aku kagum banget.”
“Terserah.” Ayu berdecak, rasanya ingin sekali meninggalkan Deka, tapi tekad sejak awal ingin meluruskan kesalahfahaman saat ini. “Aku keluar bersama kak Ken karena dia mengajakku.”
Deka langsung menoleh menatap Ayu, kemudian mendengus tidak suka. Ayu diam-diam tersenyum geli, lalu melanjutkan, “kamu nggak tahu apa yang kami lakuin, Deka. Kak Ken mengajakku keluar buat beli hadiah ulang tahunmu.”
Perkataan Ayu itu membuat kedua belah bibir Deka terbuka tanpa ada kata yang keluar.
“Kak Ken mengenalmu sangat baik, Deka. Tapi dia nggak tahu apa yang kamu suka sebagai hadiah. Aku setuju, sangat senang karena tahu apa yang kiranya kamu butuh dan suka sebagai hadiah ulang tahunmu. Kak Ken antusias banget, nggak pernah kulihat dia sebahagia itu sebelumnya. Kamu tahu? Dia bahagia, karena sebentar lagi adik tersayangnya akan berulang tahun."
__ADS_1
Ayu kembali tersenyum, kali ini bukan senyuman geli melainkan senyuman tulus saat melihat raut Deka yang tiba-tiba berubah.
“Kak Ken adalah kakak yang didambakan semua orang di dunia, Deka. Kakak yang peduli dan mau berkorban untuk adiknya, itu lebih penting daripada kakak yang egois dan selalu mengutamakan diri sendiri daripada saudaranya yang lain. Kak Ken pernah cerita kalau dia sangat ingin pergi ke pasar malam, tempat yang dulu sering kalian kunjungi saat masih kecil bersama keluarga. Kak Ken janji akan menjagamu lebih baik dari sebelumnya, melindungi dari bahaya apa pun supaya kamu nggak sakit. Kak Ken juga ingin jadi salah satu yang menjadi penerima potongan kue bagi orang istimewa ketika kamu berulang tahun, Deka.”
“Dan aku nggak mengabulkannya, Yu.” Deka berujar pilu dan terlihat hampir menangis.
Ayu mengangguk, “aku tahu, karena kamu nggak ngizinin dia bergabung.”
“Gimana kamu bisa tahu sedetail itu tentang Ken?”
Ayu menghela napasnya, beralih memandang hamparan rumput liar di taman tempat mereka berada saat ini.
“Kak Ken sering bercerita, Deka. Tapi tenang aja, nggak ada hal buruk yang dia ceritain tentangmu. Kak Ken begitu kagum karena kamu bisa bermain basket dengan lihai, dia sering memintaku merekammu di video saat kamu berlatih basket. Dia bilang ingin belajar basket supaya kamu mau mengakuinya sebagai saudara. Kak Ken yakin kalau dengan cara itu, mungkin kamu bisa nerima dia."
Deka mulai merasakan sesak di dada, bahkan Ken meminta videonya bermain basket? Sampai sejauh itu Ken ingin menjadi saudaranya yang diakui? Deka ingat dulu meminta Ken untuk memiliki kemampuan bermain basket seperti saudara teman-teman setimnya yang juga jago. Deka ingin kakak yang dia miliki juga pintar melakukan olahraga tersebut.
“Tapi Kak Ken bilang dia nggak bisa bergerak terlalu lihai karena suatu penyakit, sampai sekarang aku nggak tahu penyakit apa itu. Kuharap dia memberitahumu, Deka.”
“Penyakit?” Perasaan Deka berkecamuk, “penyakit apa?”
Ayu hampir menangis memandang Deka, sejauh itukah persaudaraan Deka dan Ken sampai penyakit kakak sendiri pun tidak Deka ketahui?
“Aku nggak tahu...” Ayu berbisik lirih, air mata gadis itu tidak lagi tertampung, menetes jatuh dan terserap rok seragamnya.
“La—lalu, dia cerita apa lagi tentangku?” Tanya Deka, berusaha membuat Ayu tidak menangis lagi.
Ayu tersenyum senang, “banyak, Deka. Nggak ada hari tanpa bercerita tentangmu. Kak Ken mau kamu bahagia meskipun dia menderita. Kamu tahu? Aku selalu nangis setiap kali dia ke sekolah kita dan dihina olehmu serta teman-teman. Aku ngerasa sangat bodoh karena nggak punya keahlian membela.”
Percuma saja, air mata kesedihan tetap saja jadi kesedihan dan akan turun saat waktunya tiba. Kesedihan itu semakin besar terasa saat mengingat-ingat kembali masa-masa menyakitkan yang Ayu lihat dalam diri Ken. Kenapa lelaki itu begitu kuat, sementara hari-harinya tidak berjalan dengan mulus? Deka sendiri menunduk dalam, membiarkan air mata mengalir deras dari kedua matanya yang sembab dengan cepat. Sekali lagi dia meyesal telah meyakiti saudaranya itu, Ken sudah berharap besar dan banyak padanya, tapi dengan lihai Deka merusak semua harapan dan mimpi itu.
“Deka...”
Ayu memanggil dengan suara parau dan pelan, tatapannya tampak sendu dan penuh permohonan. Dia menggenggam tangan Deka.
"Jika punya waktu, sempatkanlah pergi ke taman bermain bersama Kak Ken. Setidaknya dia punya kenangan indah lagi seperti saat kalian masih kecil dulu. Kak Ken berkorban banyak hal, jika nggak bisa membalas kebaikan-kebaikan itu, setidaknya buat dia tersenyum dan kuat menjalani hidup.”
Ayu berdiri, membuat Deka mendongak dengan wajah basah dan hidung memerah. Mata Deka membulat sempurna saat dengan tiba-tiba Ayu merunduk dan mengecup lembut dahinya.
“Itu yang harus kamu tahu, Deka. Aku senang karena kamu cemburu, itu berarti cintaku nggak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, sangat.”
Setelahnya Deka seorang diri, Ayu pergi dari taman itu. Air mata menjadi pengantar, merasa lega setelah semua yang terpendam akhirnya lolos semua dari mulut. Ayu berharap, setelah ini kehidupan Ken sedikit lebih baik, dan pernyataan cinta tadi. Semoga Deka juga benar-benar cinta padanya.
‘Kak Ken, maafin aku. Cuma itu yang bisa aku lakuin buat kamu,' Ayu tersenyum dan menghela napas setelah mengusap semua air matanya.
Srett! Gadis itu hampir jatuh ketika bertabrakan dengan siswa lain. Matanya membola ketika mendapati Bian dengan tampilan berantakan. Hidung lelaki itu berdarah meski terlihat sudah mengering, rambutnya pun acak-acakan. Darah bahkan menodai kedua tangan sampai ujung baju. Apa hidung bisa berdarah sebanyak itu, ya?
“Bian, kamu nggak apa-apa?”
“Nggak, nggak, aku nggak membunuhnya. Aku nggak bersalah. Nggak... Nggak...” Bian berlalu sambil terus mengucapkan kata-kata yang sama. Ayu menyipitkan mata, mulai merasa tidak tenang.
Gadis itu berjalan lagi, bergelut dalam pikirannya sendiri perihal masalah baru. Bian membunuh? Apa itu benar? Siapa yang dia bunuh dan penyebabnya apa? Lalu darah yang ada di hidung, kedua tangan serta bajunya, apa itu semua darah orang yang dia bunuh? Oh tidak, apa Bian akan sangat kejam? Dia memang nakal dan pembawa masalah di sekolah, bahkan melebihi Deka yang juga lumayan menjadi trouble maker, tapi... Membunuh? Kali ini, Ayu tidak akan bisa tenang setelah melihat penampilan Bian yang memang tidak wajar, ditambah lagi dengan semua ucapan yang tidak karuan tadi.
__ADS_1
'Terlalu mencurigakan.’
...[][][]...